
Ternyata, Pangeran Khalied yang Zahra temuin saat dia tersadar adalah Badra, jelmaan genderuwo penguasa Istana Alas Amarta.
Kedatangan Pangeran Khalied yang sesungguhnya ke istana itu untuk menyelamatkan Zahra membuat Badra menjadi marah.
Alhasil, terjadilah pertarungan sengit antara Pangeran Khalied dan Badra karena memperebutkan Zahra.
"Gadis itu milikku. Aku yang lebih dahulu mendapatkannya, Bocah jin yang Cantik...!" kata Badra. Wajahnya menyeringai memamerkan gigi - giginya yang bertaring besar dan panjang.
"Kau mendapatkannya dengan cara menculiknya dariku. Apa kau tak melihat tanda yang kuberikan pada gadis itu. Kau berani menculiknya, berarti kau mau berurusan denganku. Karena gadis itu sudah dipinang olehku.!" bentak Pangeran Khalied.
Badra tertawa mengejek mengerikan. Mentertawakan ucapan Pangeran Khalied yang dia anggap lelucon.
"Tanda yang mana..? Aku tak melihat adanya tanda pada gadis itu. Kamu mau mencoba menipuku, wahai makhluk jin yang sombong.!" seru Badra.
Pangeran Khalied memang tidak menandai Zahra secara khusus. Dia hanya meninggalkan mantra saja di tubuh Zahra yang berfungsi sebagai perlindungan bagi gadis itu dari gangguan makhluk seperti Badra.
Itulah sebabnya, Badra merasa kepanasan ketika menyentuh Zahra.
Pangeran Khalied tak ingin menandai Zahra seperti layaknya kebanyakan makhluk jin lainnya karena dia ingin menjaga kesucian Zahra sebelum menikah. Dia ingin Zahra menyerahkan dirinya dalam keadaan suci tak tersentuh.
"Baiklah, kita tentukan saja, jika aku yang menang, gadis itu milikku. Aku akan menjadikan dia ratu di istana ini. Tapi jika aku kalah, kau boleh mengambilnya berikut istana ini." ucap Badra dengan tenang.
Badra adalah sosok Penguasa Alas Amarta yang pilih tanding sebenarnya. Dia amat di takuti oleh penduduk setempat dan juga makhluk tak kasat mata yang mendiami daerah di sekitar tempat itu.
__ADS_1
Maka dari itulah, kedua pengawal Pangeran Khalied tadi tak mampu menandingi kesaktian Badra sehingga Zahra dapat di rebut dengan mudah oleh Badra.
Pangeran Khalied sebenarnya gusar karena Zahra dijadikan bahan taruhan oleh Badra. Akan tetapi, dia tak ada pilihan lain selain menerima taruhan genderuwo itu.
Jika tidak, maka Zahra tidak akan bisa keluar dari tempat itu dalam keadaan hidup.
"Aku tak takut padamu, Badra. Akan aku terima tantangan kamu. Tapi kamu harus memegang janji, jika tidak maka kau dan istana ini akan aku ratakan dengan tanah! " kata Pangeran Khalied.
"Hahaha, terdengar sombong. Tapi aku suka. Baiklah.. tunggu apa lagi. Seranglah aku sesuka hatimu, hai Bocah Ingusan..!" ejek Badra kepada Pangeran Khalied.
Marahlah Pangeran Khalied mendengar ejekan Badra. Dia pun menyerang Badra dengan serangan yang bertubi-tubi.
Akan tetapi, tak satupun dari serangan Pangeran Khalied itu yang mengenai tubuh Badra. Penguasa Alas Amarta itu sangat tangguh.
Berkali-kali, pedang Halilintar Pangeran Khalied menyambar tubuh Badra. Akan tetapi, tubuh Badra seolah-olah kebal dan sambaran halilintar itu seperti hanya mainan saja bagi Badra.
Melihat hal ini, Zahra mulai cemas. Dia takut Pangeran Khalied berhasil dikalahkan oleh Badra, genderuwo itu.
"Kak, istighfar. Ingatlah akan kekuatan Sang Pencipta. Jangan sombong dan menganggap enteng lawan. Jangan pula terbakar amarah. Karena kemarahan adalah kelemahan. Jangan kalah oleh makhluk itu. Aku mengharapkan kakak berhasil. Ingat, janji kakak..!" kata Zahra.
Pangeran Khalied tertegun mendengar kata - kata yang diucapkan Zahra. Kekasihnya itu mengingatkan dirinya agar tidak sombong dan meremehkan lawan.
Betapa dirinya telah salah karena sudah meremehkan genderuwo itu. Akibatnya dia pun nyaris dapat dikalahkan oleh genderuwo itu.
__ADS_1
"Astaghfirullahalazim, maafkan hamba ya, Allah. Sombongnya hati atas kehebatan diri yang tak seberapa membuat hamba meremehkan lawan di depan mata." ucap Pangeran Khalied.
Berkali-kali Pangeran Khalied mengucapkan Istighfar dan takbir. Memohon ampun kehadirat Allah atas kekhilafan dirinya. Dan memuji Allah atas pemilik kekuatan semua makhluk.
Tanpa disadari oleh Pangeran Khalied, setiap istighfar dan juga takbir yang dia ucapkan telah melemahkan Badra.
Genderuwo penguasa Alas Amarta itu menjadi geram karena sepertinya serangan yang dia lancarkan untuk Pangeran Khalied menjadi berbalik menyerang dirinya sendiri.Setiap serangan - serangan dirinya seolah-olah seperti cermin, memantul ke dirinya sendiri.
Sampai suatu ketika, Pangeran Khalied mengeluarkan jurus Halilintar untuk yang kesekian kalinya.
Kilatan cahaya Halilintar di langit menyambar Tubuh Badra. Tubuh genderuwo Penguasa Alas Amarta itu pun terpental jauh ke belakang dengan luka bakar yang menganga di tubuhnya.
Badra tak bisa bangun lagi. Seluruh organ tubuhnya dari leher hingga ke kaki tidak mampu lagi dia gerakkan. Serangan Pangeran Khalied benar-benar dahsyat.
Sadarlah Badra bahwa dia sudah dikalahkan oleh bocah ingusan itu. Bocah itu yang dia anggap enteng karena masih terlihat muda, ternyata pilih tanding.
Zahra bersorak dan melompat kegirangan atas kemenangan Pangeran Khalied. Dia tanpa sadar melompat dan berlari memeluk Pangeran Khalied.
"Kak, alhamdulillah, kakak akhirnya berhasil mengalahkan genderuwo itu. " seru Zahra senang.
"Ampun, aku mohon, jangan bunuh aku. Aku mengaku kalah. Sesuai janjiku akan menyerahkan tempat ini. Kamu pun boleh mengambil gadis itu." kata Badra kemudian.
Selesai berkata demikian, secara perlahan - lahan tubuh Badra pun lenyap tak berbekas.
__ADS_1
Pangeran Khalied membawa Zahra ke dalam pelukannya. Semua yang diliat Zahra kemudian ikut hilang tak berbekas.
"Ayo kita pulang, sayang..!" ajak Pangeran Khalied.