
Pangeran Khalied merasa amat sangat bersalah telah membuat Zahra sampai ketakutan setengah mati.
"Zahra... bangun...! Maafkan aku. aku ttak bermaksud untuk menakutimu. Zahra.... bangunlah..!" Pangeran Khalied benar - benar kelimpungan karena Zahra yang belum juga siuman.
Sebenarnya, Zahra sudah siuman sejak tadi. Akan tetapi gadis itu tidak langsung membuka matanya. Dia masih takut akan apa yang tadi dia lihat. Benarkah makhluk tadi adalah jelmaan Khalied.
Zahra memang sudah mengetahui bahwa Khalied berasal dari bangsa jin. Akan tetapi, sungguh dia tak menyangka bahwa seperti itulah wujud asli Pangeran jin itu. Wujud Asli Pangeran Khalied berbentuk beast.
"Zahra, sadarlah. Aku mohon sadarlah. Maafkan aku. aku tak bermaksud untuk menakutimu." suara Pangeran Khalied terdengar seperti memelas.
Zahra pun tak tahan juga untuk tidak membuka matanya. Mudah - mudahan saja, Khalied tidak berwujud seperti itu lagi.
"Kak...!" panggil Zahra lirih. Gadis itu berusaha untuk menggapai kepala Pangeran Khalied yang tertunduk sedih di hadapan Zahra.
Pangeran Khalied mengangkat wajahnya ketika mendengar suara Zahra.
"Zahra, .. kau sudah sadar. Oh.. syukurlah, ya Allah. Akhirnya kamu sadar juga. Tadinya aku sangat cemas sekali." kata Pangeran Khalied sambil memeluk Zahra.
"Jangan pernah lagi muncul di hadapanku dengan wujud kamu seperti itu. Aku sangat takut, Kak." kata Zahra.
"Maafkan aku, aku tadi hanya bermaksud untuk bercanda dan menggodamu." kata Pangeran Khalied.
"Becandamu nggak lucu, Kak. Kau tahu tadi aku rasanya ingin melompat keluar jendela saking takutnya."
__ADS_1
"Tapi mengapakah saat di bukit Malaikat, ketika kamu melihat para penjaga istana ayahku yang wujudnya seram dan menakutkan, kamu tidak merasa ketakutan?" tanya Pangeran Khalied lagi.
Zahra terdiam, iya.... benar juga. Saat itu dirinya dan Pangeran Khalied pergi ke Bukit Malaikat. Dan di sana dia melihat berbagai penampakan seram dari penjaga pintu gerbang istana, tapi tak satu pun di antara mereka yang membuatnya ketakutan. Apa karena saat itu dia sedang bersama Khalied. Bisa jadi demikian, pikir Zahra.
"Mungkin saat itu aku bersama kakak. Sehingga aku tak merasa takut.. " kata Zahra.
"Bisa jadi..." kata Pangeran Khalied. "Lalu sekarang apakah kamu masih takut padaku..?" tanya Pangeran Khalied lagi. Dia tersenyum menggoda Zahra dan mengangkat sebelah alisnya ke atas.
"Tidak, aku tidak merasa takut. Karena aku sudah tahu, jika makhluk itu hanyalah kamu saja.." kata Zahra tersipu malu dan mencubit lengan kokoh Pangeran Khalied yang sedikit berbulu itu.
"Aku ingin mengajakmu jalan - jalan malam ini." kata Pangeran Khalied.
"Jalan - jalan..? Kemana..?" tanya Zahra.
Zahra menggelengkan kepalanya. Dia tak pernah seperti itu. Jalan - jalan ..? Kapan terakhir kali ibunya mengajaknya jalan - jalan. Rasanya sudah lama sekali.
"Aku tak pernah jalan - jalan.. " ucapnya sedih.
Apakah kamu ingin pergi sekarang. Ayolah...ini tak akan lama.?" ajak Pangeran Khalied kemudian.
"Tapi bagaimana caranya kau akan mengajakku..Kau saja tak terlihat oleh orang lain." tanya Zahra bingung.
"Aku terlihat jika aku ingin terlihat oleh orang lain. Jika tidak, maka aku tidak akan terlihat oleh siapapun. Bahkan olehmu.." kata Pangeran Khalied.
__ADS_1
"Benarkah, kalau begitu, mari kita pergi sekarang..!" ajak Zahra.
"Ayo..! Apakah kau sudah siap sekarang..?" tanya Pangeran Khalied.
"Aku mau ganti baju dulu, kak. Baju aku tak layak pakai.. " kata Zahra.
Namun belum gadis itu beranjak dari tempatnya berdiri, baju yang melekat di tubuhnya sudah berubah bentuk. Kini dia sudah memakai pakaian yang baru dan indah. Lengkap dengan hijab yang senada dengan warna pakaian Zahra.
Zahra memandang takjub ke arah dirinya. Gadis itu langsung berlari ke depan kaca untuk melihat tampilan dirinya. Aduhhh..... cantik sekali. Zahra sampai pangling melihat dirinya sendiri.
"Ayo, nanti kita kemalaman..!" ajak Pangeran Khalied.
"Pangeran itu sudah berdiri di depannya dan meraih tangan Zahra.
Dalam sekejap mata, tubuh keduanya menghilang dari kamar Zahra. Mereka kemudian muncul tak jauh dari tempat keramaian. Tentu saja di tempat yang tak terlihat oleh orang lain.
Sepanjang jalan, semua menatap ke arah Zahra. Sehingga membuat Zahra merasa heran. Akan tetapi, Zahra kemudian menyadari bahwa bukan dirinya yang menjadi pusat perhatian orang - orang itu, terutama kaum hawa akan tetapi Khalied.
Menyadari hal itu, membuat Zahra balik merasa kesal. Huh.... kenapa mata semua wanitan itu tak mau lepas dari Khalied.
Sampai suatu ketika. Seseorang memanggil Pangeran Khalied. Pangeran Khalied heran mengapa di dunia manusia ini ada manusia yang mengenalnya selain Zahra dan ibunya.
"Kamu Pangeran Khalied, bukan..? Mengapa kau tak mengenaliku.." tanya seorang gadis cantik berwajah oriental.
__ADS_1
"Mei Fang..!!" tanpa sadar Pangeran Khalied mengucapkan nama itu.