Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 164 Panggilan Pangeran Arkana


__ADS_3

Pangeran Khalied dan Zahra menikmati kebersamaan mereka selama beberapa hari di Istana Alas Amarta. Ternyata Zahra merasa betah tinggal di istana itu. Akan tetapi, satu hal yang mengganjal di hatinya, dia belum bilang sama ibunya. Zahra takut membuat sang Ibu khawatir dan mencemaskan dirinya.


"Kau lagi melamun..? Apa kamu merindukan ibumu sayang..?" tanya Pangeran Khalied sambil mencium pucuk kepala Zahra.


Zahra menganggukkan kepalanya. Dia tak bisa berbohong, jika saat ini memang dia sangat merindukan ibunya. Sudah beberapa hari ini dia berada di istana Pangeran Khalied. Dia takut ibunya akan merasa cemas dan mencari - cari keberadaan dirinya dan juga suaminya itu.


"Kalau begitu, ayo kita ke rumah ibumu sekarang..!" ajak Pangeran Khalied. Pangeran tampan dan gagah itu mengulurkan tangannya untuk mengajak Zahra pergi ke rumah ibunya sekarang juga.


Zahra menerima uluran tangan suaminya itu dan dalam hitungan detik, keduanya menghilang dari istana Pangeran Khalied. Beberapa saat kemudian, dia dan suaminya itu sudah muncul kembali di depan rumah ibunya.


"Assalamu'alaikum..!" Zahra mengucapkan salam.


"Waalaikum salam, Zahra..!" pekik Ibu Suryati. Dia sama sekali tak menyangka jika yang datang itu adalah putri dan menantunya yang dia cari - cari selama ini.


"Astaghfirullahalazim, akhirnya kamu kembali, nduk. Kemana saja kalian selama ini. Ibu sangat khawatir memikirkan kamu dan suamimu. Mengapa kalian pergi nggak bilang - bilang, nduk." kata Ibu Suryati sambil menangis dan memeluk Zahra.


"Maafkan kami, Bu. Soalnya Zahra dan suami perginya buru - buru dan spontan. Nggak ada persiapan. Semua serba dadakan." ucap Zahra.


"Ya, sudah. Yang penting kamu dan suami kamu selamat. Nggak kurang sesuatu. Ibu sudah bersyukur. " kata Ibu Suryati dengan raut wajah gembira.


Zahra jadi amat merasa bersalah karena sudah membuat ibunya khawatir dengan dirinya. Demikian juga halnya dengan Pangeran Khalied. Dia tak menyadari jika yang dia lakukan sudah membuat ibu mertuanya itu merasa cemas. Maklum saja, ibu mertuanya itu tidak mengetahui asal usul dirinya.


"Saya mohon maaf, bu. Karena membuat ibu merasa khawatir. Malam itu kami perginya buru - buru, jadi lupa kasih kabar ibu. Lagi pula, di sana tempatnya jauh dan terpencil. Tak ada sinyal. Jadi kami tak bisa menghubungi Ibu." kata Pangeran Khalied.


Sebenarnya memanglah benar perkataan Pangeran Khalied itu. Mana ada sinyal internet dan data di dunia jin. Keluarga mereka kebanyakan berkomunikasi dengan bantuan ilmu telepati. Yaitu penguasaan ilmu komunikasi ala keluarga Pangeran Hasyeem.

__ADS_1


Jadi masing-masing dari mereka menggunakan ajian sepih Angin dan ilmu rogoh sukma jika ingin berkomunikasi secara langsung dengan jarak jauh.


"Nggak papa Nak, Ibu sudah merasa lega dan senang jika kalian berdua selamat dan dalam keadaan sehat - sehat saja." ucap Ibu Suryati.


Ngomong - ngomong masalah komunikasi, Pangeran Arkana baru saja mengabarkan bahwa dirinya sedang memburu seorang genderuwo yang selalu menggangu dan mengusik Kania. Genderuwo itu adalah makhluk gaib yang terlibat perjanjian ghaib dengan kedua orang tuanya Kania. Walaupun sudah dikalahkan oleh Pangeran Arkana, tetapi tetap saja masih mengganggu Kania di dalam mimpi dan tidurnya gadis itu.


"Aku akan datang ke sana, Pangeran Arkana. Tunggu aku, aku mau izin dulu kepada istri mungilku itu." jawab Pangeran Khalied setengah berbisik sambil tersenyum. Padahal tadi wajahnya sempat meringis dan menangis.


"Baiklah, Paman. Aku menantikan kedatangan paman. Aku minta bantuan paman untuk masuk ke dalam mimpi Kania dan bertemu genderuwo itu. Karena malam ini adalah malam jumat ke tiga belas sejak Kania di ganggu oleh genderuwo itu. Malam ini adalah malam penentuan. Jika genderuwo itu sampai bisa menyentuh Kania, maka gadis itu akan hilang selama - lamanya di bawa genderuwo itu ke alamnya. Selama ini aku selalu menggagalkan rencana genderuwo itu untuk menyentuh Kania karena aku sudah memagari tubuh Kania dengan jimat perlindungan di tubuh Kania, Paman." kata Pangeran Arkana.


"Bagus, aku akan ke sana sekarang juga. Hati - hati Pangeran Arkana. Jaga dirimu baik - baik. Salamu alaikum..!" kata Pangeran Khalied sambil mengakhiri telepatinya. Karena Zahra sudah masuk ke dalam kamar mereka.


"Kakak bicara dengan siapa..?" tanya Zahra.


Zahra bergidik ketika membayangkan makhluk tinggi besar dan hitam itu. Dia jadi teringat dirinya sendiri yang beberapa waktu lalu juga mengalami nasib yang sama seperti Kania.


"Apakah kamu tak keberatan jika kutinggal sebentar saja untuk menolong Pangeran Arkana..?" tanya Pangeran Khalied kepada Zahra.


" Samaa sekali, tidak. Pergilah. Aku juga masih rindu sama ibu. Jadi aku mau tinggal dulu di sini untuk beberapa hari." kata Zahra.


"Hmm, apakah itu suatu pertanda jika Ratu Zahra akan sudi tinggal di istanaku? " tanya Pangeran Khalied dengan wajah yang berseri - seri.


Zahra menganggukkan kepalanya.


"Seorang istri itu tempatnya berada di. sisi suaminya. Karena ladang pahala baginya adalah suami dan juga anak - anaknya." kata Zahra.

__ADS_1


Pangeran Khalied tersenyum manis mendengar ucapan Zahra. Dia segera memeluk dan mencium istrinya itu dengan perasaan bahagia dan terharu.


Sungguh, dia tak salah menjatuhkan pilihan kepada Zahra sebagai pendamping hidupnya di antara semua gadis yang berlomba-lomba untuk mengejar cintanya. Zahra adalah gadis yang istimewa. Dan dia amat mencintai gadis itu.


"Sayang..!"


"Ehmm, iya Kak.."


"Aku minta sekali dulu sebelum pergi.. " bisik Pangeran Khalied.


"Ehmm, iya.. " angguk Zahra sambil memejamkan matanya karena lidah Pangeran Khalied sudah menari-nari di tengkuknya.


Tak lama kemudian, yang terdengar di kamar itu hanyalah dengus napas yang saling memburu berpacu dalam gairah Pangeran Khalied dan Zahra yang panas membara. Sampai akhirnya pekikan tertahan Zahra dan erangan Pangeran Khalied yang mencapai klimaksnya mengakhiri permainan panas itu.


"Sayang, aku pergi dulu. Jaga dirimu baik - baik. Aku segera kembali." kata Pangeran Khalied.


"Baik, kakak. Hati-hati..!" kata Zahra kemudian.


Cup....


Pangeran Khalied melabuhkan ciuman di bibir dan kening Zahra, lalu kemudian menghilang dari hadapan Zahra. Pangeran Khalied pergi meninggalkan istrinya itu untuk menemui Pangeran Arkana.


Nah, bagaimana nasib Kania. Apakah genderuwo itu berhasil menyentuh dan membawa Kania pergi. Nantikan lanjutan ceritanya.


jangan lupa like dan votenya, ya. 🙏🙏🙏. Sehat selalu buat readers aku.

__ADS_1


__ADS_2