PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
TERLELAP


__ADS_3

Satu persatu aku gunting pohon hias yang ada di pekarangan luar. Kalau pohonnya tinggi pak Simon membantuku memotong ranting yang tidak berguna. Aku dan dua scurity saling bantu merspikan tanaman di teras depan.


"Pak Komang, tolong di pangkas pohon nusa indah, setelah itu kita rehat." kataku kepada pak Komang.


"Nona, sudah punya pacar belum?" tanya pak Komang memandangku.


"Aku kira kau istri bos, ternyata kau juga pembantu. Boleh donk aku merayumu." kata Pak Simon sambil melempar senyum manis kepadaku .


"Jangan menggodaku pak, aku sudah punya anak dan suami." jawabku bohong.


"Itu lebih bagus, sedikit tanggung jawab dan sudah pengalaman. Melamar pekerjaan cari yang sudah berpengalaman."


"Sama saya saja nona masih muda, jamin orisinil, tok cer."


Aku tidak menjawab candaan mereka, mataku melihat Yudha mengintinp kami dari balik tembok. Suara scurity itu sangat keras sambil tertawa-tawa. Keringat membasahi wajahku dan seluruh tubuhku.


"Ini tissue nona, aku ke dapur mengambil minum." kata pak Simon. Aku mengangguk, memang sangat haus, tenggorokan rasanya kering.


Aku sedang menyapu ketika mendengar tibut-ribut di dalam rumah. Pak Koming berlari ke dalam, aku tetap menyapu malas kepo, paling tuan sama nyonya berantem. pikirku. Biasa suami istri modern banyak atributnya, suka berantem gak jelas. Si istri berdandan menor supaya terlihat paling wah di antara wanita yang lain.


Pekerjaanku selesai bertepatan dengan tukang sampah yang datang. Mereka turun dan menaikan sampah ke mobil, aku nyapu terakhir. Lega rasanya melihat pekerjaan beres dan rapi. Setelah itu aku masuk ke dalam rumsh langsung menuju dapur.


Aku kaget ketika sampai di dapur, pak Koming dan Pak Simon sama-sama terlihat wajahnya bengkak dan sudut bibirnya berdarah. Yudha berada tidak jauh sambil mengepalkan tangannya. Aku melihat ada kemarahan dan pertengkaran.


"Luna, kerjaanmu sudah selesai?" tanya Yudha menatap tajam padaku.


"Sudah tuan." jawabku kesal. Saat itu aku tidak memakai masker mulut karena sudah basah. Wajahku terlihat merah seperti kepiting rebus, aku yakin tuan akan marah kepadaku.


"Rupanya kau sudah puas dirayu sama dua buaya ini. Dasar wanita rendahan, gampang dijamah." Yudha mulai mencaciku. Ini penyebabnya sehingga kedua scurity itu babak belur.


"Mereka hanya bercanda." jawabku datar.


"Tapi kau senang di rayu, manusia tidak punya harga diri. Lagi sekali aku melihat kau haha hihi dengan mereka aku tebas leher kau. Jangan main-main kerja disini, kalau masih ingin digaji."


"Baik tuan...." jawabku cepat. Aku ingin iblis ini keluar dari dapur supaya aku bisa minum, haus banget.


"Bawa makanannya ke pos, kalian disana makan, aku ingatkan jangan membuat aku marah." geram suara Yudha. sambil memegang pipinya kedua scurity itu maju mengambil makanan yang sudah disiapkan oleh bibi.


"Trimakasih tuan...." kata mereka lalu keluar dari dapur.

__ADS_1


"Sayank, aku duluan berangkat, sopir sudah menungguku." kata nyonya Hanun nongol di pintu. Wajahnya terlihat datar.


"Pergilah....:


"Daaa sayank, sampai jumpa lagi." kata nyonya Hanun, lalu pergi.


Biasanya mereka sangat mesra, tumben nyonya bersikap dingin, apa karena tidak dapat jatah. Tadi malam aku dengar mereka ribut lagi, masalahnya tuan letoy, tidak bisa memenuhi kewajibannya. Mungkin karena pernah diselingkuhi istrinya, jadi dibawah sadarnya tuan menolak kemesraan itu.


"Kau, mandi sana!!" perintahnya kepadaku.


ĺ


Tidak di perintahpun aku akan mandi, tapi sebelumnya aku mau pindah kamar dulu ke belakang di samping kamar bibi. Disitu khusus kamar pembantu. Tujuanku adalah menghindar dari Yudha, sebelum aku lebih jauh terjerumus. Aku takut jatuh cinta padanya dan menyukainya terlalu sangat.


Menghindar itu yang terbaik, fatal akibatnya kalau aku sampai menyukai suami orang, karena aku punya sifat, cinta satu laki-laki, aku akan posesif yang mungkin akan membuat pasanganku merasa terkekang. Itu salah satu yang membuat aku menolak banyak lelaki.


"Mau pindah kemana?" tuan Yudha sudah berada di ambang pintu. Matanya tajam menatapku yang baru habis mandi.?


"Aku..harus pindah ke belakang sebelum perutku melendung." jawabku merapikan pakaianku. Aku harus berani melawannya. bathinku.


"Jangan pindah kalau kau ingin jempolmu utuh. Jika kau nekat aku tidak segan-segan memotong jempolmu."


"Kau menantangku?" katanya masuk ke kamar dan mengunci pintu. Setapak demi setapak kakinya melangkah mendekat.


Darahku langsung ke otak, aku berdiri mengambil gantungan baju dan aku pukul sekuat tenaga. Dia tidak bergeming, tangan nya menangkap hanger dan menariknya kencang. Sehingga tubuhku ikut ketarik dan jatuh ke pelukannya.


"Diamlah!!" bentaknya ketika aku berontak dan berusaha menggigitnya.


"Aku benci padamu, dasar iblis." teriakku membahana.


"Jangan teriak kamar ini kedap suara."


"Aku tidak peduli yang penting aku teriak. Kenapa kau terus memperkosaku, cari wanita lain aku tidak sudi denganmu." Yudha tidak mempan dengan makianku, tangannya tetap bersilancar dan membuat aku sampai kewalahan. Ujung-ujungnya aku kehabisan tenaga untuk memberontak dan tubuhku sudah menjadi mangsa.


"Jangan suka memberontak, kau tidak mungkin menang. Badanmu akan sakit jika kau terus memukul." bisiknya sambil ******* bibirku.


Hari ini aku sampai gemetaran, karena Yudha melampiaskan seluruh kekuatannya Nasibku sangat tragis. Air matakerasa kering karena tefus menangus. Sehabis memakaiku dia pergi begitu saja menuju kamarnya. Aku layaknya seperti pelacur, tidak berharga sama sekali.


Diam-diam bibi menyelinap masuk ke kamarku. Melihat bibi datang aku langsung menghambur kepelukannya.

__ADS_1


"Bibi keluarkan aku dari neraka ini, aku tidak kuat. Lebih baik mati dari pada aku begini terus. Sakit hatiku." rintihku pilu.


"Makanlah, tenangkan dirimu setelah itu kamu berceritalah."


"Aku tidak mau makan, biarlah aku mati."


"Uss..bicara apa ini, makan dulu."


Setelah terus dibujuk aku menenangkan pikiranku dan di ajak keluar menuju dapur. Bibi menyiapkan makanan untuku dan juss.


"Bibi kenapa makananku mewah begini?"


"Supaya tenagamu pulih kembali nona, kalau kamu sakit kapan bisa mewujudkan rencana untuk memperjuangkan hak mu."


"Trimakasih bi..." kataku lirih.


Bibi menemani ku sambil sesekali memberi wejangan arti hidup. Aku merasa dia banyak menelan asam garam kehidupan.


"Bibi juga pernah menjadi bulan-bulanan majikan. Berpindah-pindah juragan. Hidup harus terus dijalani, tidak harus disesali. Seburuk-buruknya kehidupan kita, masih berguna bagi orang lain. Hanya satu yang bisa menolong kita yaitu Sang Pecipta. Jika nona mempercayai adanya Tuhan, nona akan berserah diri padanya, dengan cara mendekati diri menurut kepercayaan nona."


"Aku menyadari selama ini telah lalai." ucapku terus terang.


Selama berada di luar negeri aku cenderung mempraktekan visi hidupku dalam artian berbuat baik, rajin sedekah, menjauhi segala macam yang memabukan. Tidak adanya orang yang membimbing diriku membuat aku lalai, tidak tahu apa yang seharusnya aku lakukan.


"Apa yang bibi ceritakan kepadanya? jangan menganjurkan yang tidak-tidak." suara Yudha membuat aku mengkerut.


Aku cepat keluar dari ruang makan menuju dapur. Menyibukan diri di dapur membuat aku sedikit lega, aku tidak ingin jauh dari bibi. Selesai membersihkan dapur aku langsung ke belakang menuju taman. Disini ada dua gazebo yang berjauhan. Aku memilih yang dekat.


Disini sangat sejuk karena banyak pohon buah yang ribun. Angin sore datang semilir membuat mataku mulai mengantuk. Perlahan aku merebahkan badanku dan menutup mata.


Tangan kekar Yudha mengangkat tubuh Luna dan membawanya ke kamar nya. Sejujurnya dia katakan, bahwa sedikitpun dia tidak ada ketertarikan kepada babunya ini. Hanya saja dia butuh pelampiasan karena bersama istrinya dia tidak mampu. Yudha tidak mengerti kenapa bersama istrinya dia menjadi letoy, tapi kalau bersama babunya dia maha perkasa.


"Apa bibi memberikannya obat tidur?"


"Ya tuan, supaya dia bisa beristirahat lama, saya kasihan melihat dia semakin mengurus dan sering menangis tiap saat."


"Tinggalah bi, biarkan dia tidur disini, nanti juga dia pindah."


"Ya Tuan, tolong dia dijaga. Saya pergi dulu." bibi keluar dari kamar Yudha. Hatinya lega melihat Luna tidur nyenyak.

__ADS_1


*****


__ADS_2