PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
BERSEMBUNYI


__ADS_3

Menceritakan masa kecil sampai masa dimana aku menjadi korban percobaan pembunuhan membuat hatiku perih. Aku menangis pilu, yang membuat aku tambah menangis karena mbak Swari tiba-tiba memelukku ikut menangis.


"Sabar-sabar Luna, aku tidak tega mendengar penderitaanmu." kata mbak Swari sesenggukan. Dia lebih heboh kalau menangis daripadaku. Suaminya sampai geleng-geleng kepala.


"Luna lanjutkan ceritanya, bapak lagi ngerekam, kalian berhenti menangis." suara pak De menyadarkanku.


"Maaf pak..." kataku sambil menghapus air mataku dan memperbaiki duduk. Mbak Swari langsung berdiri dan keluar dari ruang tamu.


"Lanjutkan Luna, minum dan tenangkan pikiranmu dulu. Semoga lancar apa yang kita rencanakan."


Aku melanjutkan cerita tadi setelah agak tenang. Pak De kembali merekam sampai sampai tuntas. Rasanya plong setelah semua unek-unekku keluar.


"Sekarang kau mau pulang atau bagaimana?" tanya pak De setelah merekam ceritaku.


"Diam kamu disini, di belakang ibu punya tempat kost elite. Kamu bisa tempati salah satunya." kata mbak Swari ikut nimbrung.


"Mulai sekarang panggil aku ibu, karena aku yang akan merawatmu disini." sambung mbak Swari. Aku heran dan menatapnya penùh tanya.


"Kamu kenapa mah, kalau mau nolongin orang dibicarakan dulu, ini manusia bukan benda yang bisa di taruh seenaknya."


"Luna mau disini tinggal sama ibu, setelah urusannya selesai kamu boleh pergi. Kamu tinggal di kost belakang."


Aku tidak menyangka dapat penawaran bagus, tentu saja membuat hatiku lega dan senang.


"Aku sangat bertrimakasih atas kebaikan ibu dan bapak, padahal kalian belum kenal siapa aku, berani menawarkan fasilitas kepadaku."


"Ibu percaya kamu orang yang pantas kami tolong, jika di kemudian hari kamu jahat pada kami itu urusanmu dengan Tuhan. Kami berbuat atas inisiatif sendiri tanpa berpikir akan dibalas dengan kebaikan atau kejahatan. Semua di dorong oleh rasa manusiawi kami."


"Maah ...sudah kamu pikirkan yang terburuk, jangan sampai niat baikmu hanya karena emosi sesaat mendengar cerita Luna. Bukankah kamu sering mengajak orang yang hampir nasibnya sama dengan Luna, setelah lama mereka kau usir dan menuduh mereka selingkuh denganku."


"Paa..ini beda, aku betul-betul merasa cocok dengan Luna, aku punya chemistry dengannya."


"Terserah kamu, yang jelas aku sudah ingatkan. Jangan terulang lagi pristiwa yang dulu-dulu." pak De wanti-wanti.

__ADS_1


Aku tidak mengerti apa yang terjadi tapi aku bisa menyimpulkan bahwa bu Swari cepat merasa kasihan sama penderitaan orang. Tergerak hatinya untuk menolong orang, tapi dia ingin orang yang dia tolong bisa mematuhi atau umpan balik.


"Sebelum kalian pindah ke ruang kerja makan dulu. Ini sudah siang, Luna pasti sudah lapar." kata bu Swari tersenyum.


"Luna, bapak takut di kemudian hari kamu di tuduh selingkuh dengan bapak. Ibu biasa begitu, ujung-ujung nya orang diusir. jika kamu berkenan diam di tempat kost kami, kamu harus sabar dan jangan merasa terpaksa. Kami akan sangat bahagia, seolah kami menantikan cucu yang akan lahir." kata pak De menatapku.


"Begini saja, jangan aku diberi tempat cuma-cuma, aku punya uang untuk membayar kost, asal aku jangan diusik. Aku butuh privasi, aku bersembunyi disini dari orang-orang yang ingin mrncelakaiku."


"Tidak Luna, kau jangan membayar. Ibu tidak punya keturunan, jadi ibu ingin mengajak kau dan anakmu kelak sebagai pengganti." kata Ibu Swari berharap. Dia mengajakku bangun dari tempat duduk.


"Mari Luna kita makan dulu."


"Trimakasih bu, mari pak."


Kami pindah ke ruang makan, aku heran melihat menu yang disajikan. Sederhana tapi sepertinya enak. Tempe bacem, ayam bakar, udang asam manis, telor gulung, sayur urap, sambel trasi. Hemm... bu Swari mengambil piring melayaniku dan suaminya. Aku merasa malu dan terharu, ingat mama.


"Makan yang banyak supaya sehat."


Saat makan pikiranku melanglang buana keliling. Tidak bisa aku elakan bahwa kerinduanku dengan Yudha mengaduk jiwa. Begini rasanya jauh dari Yudha, biasanya aku selalu berada di dekatnya. Memadu kasih dan bercerita tentang masa depan anak. Alangkah tersiksanya mencintai suami orang. Aku jungkir balik cemburu dan memikirkannya, tapi dia enak-enak pelukan sama istrinya. ASEM!!.


untung aku cepat mengetahui Yudha dengan keluarga papaku menjalin hubungan baik, aku mulai hati-hati berbicara dan mengungkapkan isi hatiku. Ada yang mengganjal di dada. Senyum manisku berubah datar dan tipis, aku mulai berpikir lari dari rumah mewah itu. Syukurlah aku menemukan ibu Swari.


Ketika aku menemukan orang seperti ibu Swari dan pak De, akupun sangat bersyukur. Semoga orang-orang baik di sekitarku diberi kesehatan dan banyak rejeki.


"Masalah itu jangan dipikirkan nanti kamu botak, cari solusinya. Kerjakan apa yang bisa dikerjakan." kata pak De menyadarkan aku dari lamunanku.


"Benar itu Lun, kamu tinggal bantuin bapak untuk mengenali siapa-siapa saja yang menjadi dalang percobaan pembunuhan."


"Baik bu, aku tidak sabar melihat orang-orang jahat itu berada di balik penjara." kataku emosi.


Saking antusiasnya menolong aku, bu Swari ikut membantu menyiapkan format surat, dokumen prosedural, yang akan diajukan kasusnya ke pengadilan dan akan berkorespondensi dengan otoritas kehakiman. Dia sangat bersemangat dan mensupport aku dengan kata-kata meyakinkan.


Matahari sudah condong ke barat ketika pak De baru menyadari wajahku pucat. Aku sampai kelelahan tanpa berani berhenti membantu pak De.

__ADS_1


"Berhentilah bekerja, kamu harus istirahat. Biarkan karyawan nanti menyelesaikan di kantor." kata pak De membuat aku heran. Kirain ini kantornya. Disini cuma ruang kerja saat pak De libur.


"Kalau begitu kita ke kamar, ibu sudah siapkan tempatnya." kata bu Swari sambil mencoel lenganku.


"Kemana kita bu?" tanyaku ragu. Ibu Swari membuatku curiga. Saking banyaknya yang pura-pura baik tapi menikam di belakangku, membuat aku takut terlalu cepat mempercayai kebaikan orang. Apalagi orang yang baru aku kenal.


"Pelayan sudah menyiapkan kamar untukmu, kita kesana yuk."


Setelah berpamitan dengan pak De, aku mengekor di belakang bu Swari. Jauh juga ke belakang. Ternyata disini ada ratusan kamar kost mewah. Aku di ajak ke pavilion yang mewah di sebelah kanan.


"Duduklah, kamu akan nyaman disini." kata bu Swari ketika kami sudah berada di ruang tamu. Aku melihat kulkas tamu yang penuh berisi minuman ringan, susu dan air mineral.


"Luna kamu tinggal disini, siapapun tidak bisa menemukanmu. Kamu akan dilayani oleh dua orang pembantu, dan ada sopir yang akan mengantar kamu kemanapun kamu mau." bu Swari membuat aku terharu. Benarkah ibu ini baik atau sama seperti yang lain?!


"Ibu aku akan membayar perbulan, aku ada uang." kataku menatapnya.


"Simpan dulu uangnya, ibu sudah pengalaman dengan istri yang lari dari rumah, setelah di cek ATM nya, semua sudah di blokir hahaha...."


"Benar juga bu, siapa tahu aku juga di blokir. Jika aku di blokir aku akan berhutang, nanti sekalian aku bayar." jawabku tertawa kecut.


"Kamu tidak boleh membayar apapun, mulai sekarang kamu anak ibu. Anggap aku ini ibumu, walaupun cerewet tapi baik."


"Hahaha...ibu belum tahu sifat saya, setelah tahu nasi yang sudah ada diperut saya ibu akan sebut dan semua akan di ungkit." kataku tertawa.


"Pengalaman ya, apa ibu Hanun mengungkit apa yang kamu pernah makan? aku ingin tahu yang mana namanya ibu Hanun."


"Lidah tidak bertulang, ngomong tidak bayar pajak. Yang penting aku sakit hati dia akan senang."


"Dia juga sakit hati atas ulah suaminya yang selingkuh denganmu, apalagi melihat kamu hamil."


"Kasihan juga dia, tapi biarin. Akibat ulahnya aku malu ke klinik lagi. Untung tidak ada yang mengambil gambarku dan memasukan ke sosmed." kataku mengingat kejadian itu. Selalu ada untung di antara kesialan.


****

__ADS_1


__ADS_2