
Daun pintu terbuka tiba-tiba membuat mataku silau karena ada sinar masuk. Aku tidak peduli siapa yang datang. Rasa sedih dan kehilangan mengharu biru dihatiku. Aku merasa terperosok ke dalam jurang yang dalam dan tidak bisa bangkit lagi.
"Dari kemarin tuan tidak menyentuh makanan, tolong makanlah sedikit. Bibi tidak mau melihat tuan sakit. Kasihan Sean putra tuan, dia masih membutuh kan seorang ayah." suara bibi terdengar sendu. Aku malas menjawabnya.
Hidupku sudah hancur kehilangan Luna aku tidak menyangka begini jadinya. Pak Lukas ternyata licik juga. Dia nekat menikahi Luna padahal sudah aku katakan Luna sedang hamil. Apa yang harus aku lakukan supaya Luna kembali, kecuali aku bisa membawa Sean. Jika Sean bersamaku pasti Luna sering datang. Ini ide yang masuk akal.
"Tuan bangunlah, sarapan dulu. Bibi mau membersihkan kamar sekalian mengganti sprei."
"Bibi kita akan ke rumah Luna untuk mencari Sean, aku tidak mau anakku di asuh bandot tua itu."
"Sean masih bayi, hanya mamanya yang paling pantas mengajaknya. Kita belum pernah mengajaknya nanti malah menangis terus."
"Aku tidak mau tahu, bibi harus ikut denganku mencari Sean."
"Makanya nona Luna jangan diusir. Tuan terlalu gegabah, sekarang nona sudah ada yang menyayangi dan mencintai, tuan sudah telat. Semoga nona bahagia bersama pak Lukas."
"Bibi, doain supaya dia cepat pisah."
"Tidak boleh julid tuan, bibi sayang sama nona Luna."
"Orang begitu disayang, dia tega meninggalkan anak dan suami demi laki- laki lain."
"Tuan kalau bicara tidak mau melihat diri sendiri, dulu tuan sering menyakiti nona Luna. Lebih baik tuan pergi ke orang suci supaya tuan menemukan jadi diri."
"Bibi, kau aku anggap ibuku, tapi kau membuat aku kesel. Aku tidak rela Luna menikah, aku mencintainya."
"Biarkan nona bahagia, jangan diusik lagi hidupnya, dari dulu dia sengsara."
Bibi selalu membela Luna. Dengan jalan sempoyongan aku menuju kamar mandi. Banyak sekali kata-kata yang melintas di otakku, kata-kata menohok yang siap aku lontarkan di depan Luna. Aku ingin Luna mengerti, tadi maunya cuma menjebak pak Lukas, tapi Luna malahan suguhan menikah.
__ADS_1
Kirain perjanjian di atas kertas saja, malah menikah beneran, mengundang Gubernur dan Bupati. Pusing kepalaku jadinya. Aku buru-buru mandi. Selesai mandi aku sengaja memakai pakaian yang di beli Luna.
Parfum punya Luna. Aku berharap Luna tergiur oleh penampilanku yang menawan. Kemudian aku mengajak bibi naik mobil Lamborghini.
"Sampai disana bibi harus kelihatan sedih. Katakan bibi mau mengasuh Sean." printahku mengultimatum.
"Ya tuan...."
Aku memacu mobil dengan kecepatan sedang. Bibi berada disampingku dengan dandanan sedikit menor. Aku tahu dia dulu pembantunya orang tua Hanun, tapi di perkosa oleh papanya Hanun dan menjadi wanita simpanan. Sebagai ibu tirinya Hanun, bibi berani menasehati Hanun dan aku. Bibi juga orangnya baik dan sayang sama Luna. Itu yang membuat aku senang sama bibi.
"Kita sudah sampai, kita langsung ke rumah pak De." kataku turun dari mobil.
"Lupa membeli oleh-oleh." kata bibi menoleh padaku.
"Tidak apa-apa." kataku berjalan menuju rumah pak De.
Selama ini aku adalah idola banyak wanita cantik dan kaya. Seorang pembinis muda yang bertangan dingin. Kaya raya dan penuh pesona. Semua orang tua ingin menjadi mertuaku. Tapi aku hanya bisa bertekuk lutut kepada Luna, wanita yang tidak pernah terlintas dalam pikiranku.
"Selamat pagi ibu, bapak....." sapaku ketika melihat mereka duduk di lantai di teras depan. Ternyata ada putraku Sean yang berlatih berjalan. Sean merengek ketika melihatku. Waduhh... senangnya. Padahal dulu aku jarang menggendongnya. Apa ini naluri seorang anak.
Tanganku langsung meraih tubuhnya yang kecil. Rasa memiliki tiba-tiba menyelinap dalam jiwaku. Aku baru menyadari bahwa aku sudah memiliki anak yang patut aku lindungi dan aku perjuangkan haknya.
"Hehe...pagi nak Yudha, kebetulan sekali. Dari kemarin bapak tunggu kenapa tidak muncul."
"Aku tidak enak datang dan merasa di buang oleh Luna. Dia tidak mau memaafkan ku dan memilih menikah dengan pak Lukas, padahal dia lagi hamil muda." kataku pilu sambil memeluk Sean. Pak De dan ibu Swari saling pandang.
"Katanya kau yang menyuruh Luna menikah supaya bisa bebas."
"Aku lebih baik di penjara pak De. Sebelum menikah Luna dilarang ke rumahku. Pernah Luna ke rumah, tapi Lukas mengirim begundalnya, Luna dipaksa pulang dan aku ditangkap oleh begundalnya, diringkus hampir dipukul Pokoknya extrime sekali. Sampai Luna putus asa dan sering menangis."
__ADS_1
"Sampai begitu? Ibu tidak tahu, kirain kamu yang menganjurkan supaya Luna menikah dengan Lukas."
"Lukas tergila-gila dengan Luna, berapa kali Luna diajak menikah tapi Luna tidak mau. Akhirnya Lukas bilang akan memenjarakanku seumur hidup dan menakut-nakuti Luna, sehingga Luna berinisiatif menerima dengan terpaksa Lukas. Padahal Luna sangat menderita menikah dengan Lukas. Aku takut Luna bunuh diri."
"Ibu kira semua baik-baik saja. Kamu yang sabar Yudha, tidak menyangka kalau Luna sedang hamil. Kasihan Luna." suara ibu bergetar sedih.
"Ibu dan pak De, tolonglah aku supaya Sean bisa aku asuh. Hanya dia harapan satu-satunya. Sampai Sean diambil Lukas hancur hidupku."
"Menurut hukum ibunya yang harus mengasuh, karena Sean masih bayi, lagi pula kalian belum menikah. Lukas itu pengacara pintar, kau akan kalah berdebat dengannya." ucapan pak De membuat hatiku terkoyak.
"Aku harus bagaimana pak De, dari dulu Luna diajak menikah selalu tidak mau, banyak sekali alasannya. Padahal waktu itu aku baru memberikan hadiah rumah, tiba-tiba dia lari tidak pulang, aku sampai putus asa mencarinya."
"Waktu itu dia tinggal di pavillion kami. Pertama biasa saja, lama-lama ibu merasa Luna adalah anak ibu yang ibu buang di depan rumah orang 22 tahun lalu. Akhirnya diam-diam kami tes DNA ternyata hasilnya positif. Sampai sekarang kami belum memberitahu Luna, karena pertimbangan emosional." kata bu Swari membuat aku kaget, tidak ada kemiripan sama sekali dari tekstur tubuh bu Swari dengan Luna.
"Ohh..aku tidak menyangka, aku ikut bahagia Luna masih punya seorang ibu tapi aku rasa masalah ini di safe dulu dan cari moment yang baik untuk memberitahu Luna."
"Ibu belum tahu karakter Luna tapi sepanjang ini baik, belum tentu dia mau mengakui ibu. Bisa saja dia prontal dan malah benci sama ibù."
"Lebih baik tunda dulu." kata ibu sambil menarik nafas.
"Nanti bapak yang ngomong kepada Luna dan Lukas supaya kamu bisa mengasuh Sean." kata pak De.
"Trimakasih pak De."
Kami menghentikan pembicaraan karena ada pak Lukas dan Luna yang datang. Saat Sean melihat mamanya dia langsung menangis.
"Sean...sayank..." Luna meraih Sean dari gendonganku. Aku merapatkan diri ke tubuh Luna saat menyerahkan Sean. Tidak lupa aku kecup pipi Luna. Tentu perbuatanku ini membuat mata Luna membulat.
****
__ADS_1