PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
BERGETAR HATIKU


__ADS_3

Ntah kenapa ibu sangat menyayangiku, sampai boutique nya aku yang disuruh mengurus, ibu memilih di rumah bersama anakku dan baby sitter. Bapak sudah boleh pulang karena berangsur membaik. Semenjak bapak di rumah induk rumah ibu terlihat selalu ramai. Ada polisi juga menjaga. Aku sendiri jarang ke rumah induk, takut ada yang kenal.


Pagi ini aku sudah siap-siap pergi ke boutique, biasanya boutique ibu agak ramai karena ada di pusat kota dan sudah terkenal, menjadi langganan para sosialita.


Sepanjang aku bekerja di boutique aku memakai pakaian yang menutupi seluruh badanku dan terlihat hanya mataku saja. Walaupun pakaian itu membuat aku kegerahan tapi aku harus tahan. Lagi pula AC membuat aku lebih nyaman.


Aku memacu mobil Jazz merah ini dengan kecepatan sedang. Ibu yang meminjamkan mobil ini, dia memilih mobil paling murah di garasinya. Ibu dan Dimas tidak percaya aku bisa naik mobil. Padahal ada Lexus di garasinya. Tapi aku mensyukuri ibu percaya pada ku dan membimbing aku bekerja.


Selama ini Ibu tidak tahu kalau aku pengalaman menjadi Manager dan aku Owner Hotel G.H dan beberapa Villa di Kuta. Aku juga tidak mau terus terang, hanya bapak yang tahu, keteranganku di pakai acuan untuk mengajukan gugatan. Semoga pak De cepat pulih hanya dia harapanku.


Sampai di boutique aku disambut oleh Sri dan yang lainnya.


"Nona, tadi ada telpon dari nona Anna, dia mau membeli gaun malam untuk pesta ultah pacarnya."


"Sri, kalau nanti dia datang tolong di layani. Saya mau melayani nyonya Rosa, kita bagi-bagi tugas. Karena hari ini banyak pelanggan ingin baju musim panas." kataku memandang Sri.


"Nona, Bali terus panas sepanjang tahun, maksud nyonya Rosa bagaimana?"


"Baju musim panas itu artinya baju mini dari kain yang tipis atau brokat berlapis."


"Yaelah, aku baru mengerti." kata Sri tersenyum. Aku juga sebelumnya tidak tahu. Tahu setelah sering mendapat orderan. Kalau di luar negeri memang ada baju musim panas atau musim dingin.


Tamu pertama adalah nyonya rosa, yang terkenal tajir, tapi tidak sombong. Perbedaan wanita kaya sungguhan, bicaranya sopan, tidak nyinyir dan memakai pakaian branded. Wanita OKB pakaian glamour, nyinyir, main tunjuk-tunjuk saja, mencari pengakuan supaya orang tahu dia kaya.


"Silahkan masuk nyonya, pilihlah sesuai selera anda. Semua barang up to date, baru datang dari luar negeri." kataku kepada nyonya Rosa.


"Bu Swari tidak ada lagi?"


"Bapak masih sakit untuk sementara saya dipercaya untuk mengurus disini."


"Pantes banyak pakaian branded, seleramu bagus juga."


"Trimakasih nyonya."

__ADS_1


Aku sedang berbincang-bincang dengan nyonya Rosa ketika mendengar suara ribut-ribut di ruangan fitting. Rupanya ada OKB atau orang kaya baru mau beli baju. Setumpuk gaun tidak cocok katanya. Semua di coba berantakan banget.


"Maaf nona, semua pakaian yang nona coba itu adalah model terbaru. Kami jarang stok pakaian lama, semua pakaian lama berada di Toko ibu yang berada di pasar. Jika nyonya mencari harga murah ada disana, dengan harga miring."


"Pakaian ini aku tidak selera, bagiku uang tidak masalah, pacarku adalah pembinis sukses." katanya sombong.


"Maaf nona bisa di bantu?" tanyaku menghampirinya. Dia nemandangku remeh. Aku merasa pernah melihat wajah ini tapi dimana. Familiar banget.


"Carikan aku baju yang sesuai untuk di pakai pesta ultah pacarku."


"Gaun disini kebanyakan agak terbuka dan khusus untuk yang bodynya agak ramping, jika nona ingin menutupi bagian perut yang sedikit buncit pakai cardigan yang banyak modelnya." kataku memilih gaun hitam dengan cardigan rajut yang panjang.


Melihat bodynya yang semok, agak sulit memilih gaun. Dengan terpaksa akhirnya dia memilih dua puluh gaun, cardigan, blazer serta sepatu high heels.


"Aku tidak membeli semuanya, aku akan beli setelah pacarku melihatnya dan menyetujuinya."


"Ya nona, kemana kami bawa pakaian ini? nanti karyawan saya yang akan mengantarnya." kataku sopan.


"Aku ingin kau yang mengantar, karena aku tidak percaya kepada karyawan yang tidak mengerti mode dan tidak becus." tukasnya.


Semua baju kami masukan ke paper bag. Aku akhirnya menyuruh Sri tetap di boutique sedangkan aku pergi dengan Putri dan Ida. Kami mengikuti kemana perginya wanita itu. Tadi aku lupa bertanya siapa namanya. Aku memacu mobilku dengan kecepatan sedang, rupanya wanita itu memakai sopir.


Eehh ternyata masuk kesebuah kantor. Paper bag yang berisi pakaian dibawa oleh karyawanku, aku cuma menjinjing tas yang berisi sepatu. Bagiku wanita ini sombong sekali, semua karyawan yang berpapasan dengannya tidak mau membalas sapaan. Siapa sih pacarnya?


Akhirnya dia masuk ke sebuah ruangan aku dan karyawanku juga masuk. Sontak aku kaget, mataku melotot melihat Yudha duduk di kursi dan di peluk oleh wanita itu. Ternyata ini pacar Yudha.


"Sayank, aku sudah membawa banyak gaun, tolong dipilih yang mana cocok aku pakai." katanya manja. Yudha tidak bergeming, dia menepis tangan wanita itu yang memeluknya.


Hatiku teriris melihat pemandangan di depanku. AC yang dingin tidak bisa membuat hatiku sejuk. wajahku merah membara, nafasku memburu. Ternyata cintanya Yudha sebatas kata-kata merdu. Tidak berbekas, seperti air di daun talas. Aku sangat cemburu dan ingin melemparkan paper bag ini, tapi aku berusaha menahan marahku.


"Anna aku lagi bekerja, sopanlah sedikit, ada orang. Pakaian apapun yang kau pakai akan cocok saja."


"Lihat donk sayank, aku akan memakainya satu persatu." Yudha terpaksa bangun dan duduk di kursi setelah di desak oleh Anna. Aku gemetar ketika Yudha tiba-tiba memandangku. Tapi aku yakin dia tidak akan mengenalku karena mataku saja yang terlihat.

__ADS_1


"Silahkan duduk, kalian pasti haus, minumlah." kata Yudha ramah.


"Hai kamu, bantu aku memakai gaun." kata wanita yang bernama Anna itu memanggilku.


Anna membawa aku ke balik kelambu, dimana terdapat sofa panjang tempat istirahat. Pikiran negatif menguasai otakku. Aku seolah melihat Yudha dan Anna saling berpelukan diatas sofa. Mataku merah menahan marah, sehingga aku tidak konsentrasi dan tanganku tremor.


"Mbak, jangan gemetaran gitu. Tumben lihat pria ganteng." Anna meledekku.


Aku tidak menyahut takut suaraku di kenal oleh Yudha. Kami keluar dan Anna memakai gaunnya dan berputar- putar bak peragawati di depan Yudha. Mata laki-laki itu terus menatapku, bukan menatap Anna. Aku berdoa supaya dia tidak mengenaliku.


"Mbak minum dulu." Yudha bangun dari duduknya dan menyodorkan segelas air mineral yang sudah diisi pipet.


"Sayank, jangan terlalu baik, dikira kamu naksir dia. Nanti kalau dia haus ngambil sendiri." Anna protes.


"Ambilah!!" kata Yudha menatap mataku. Aku cepat mengambilnya, tapi jari manisku yang berisi cincin pemberiannya sengaja dia tarik. Cuma sebentar, tapi itu membuat dia tersenyum penuh arti.


"Sayank lihatlah yang mana bagus?" tanya Anna menggoyang tangan Yudha yang berada di sampingku.


"Mana saja." Jawab Yudha pendek.


"Nona atau nyonya, siapa namamu, supaya aku gampang menulis di cek. Aku tidak bawa uang tunai."


Aku menghampiri putri dan berbisik,


"Putri tolong layani dia." Putri


mengangguk.


"Maaf tuan, pakaian yang mana akan diambil." tanya putri.


"Aku akan mengambil semua pakaian ini. Semua yang kalian bawa aku ambil." kata Yudha menatapku. Aku menunduk dan menyembunyikan jari manisku yang memakai cincin.


"Sayank... Benarkah ini, aku sangat mencintaimu. Aku terharu sayank." Anna menghambur memeluk Yudha.

__ADS_1


Aku mundur selangkah, sungguh aku tidak kuat melihat kemesraan mereka. Akhirnys aku memilih duduk di sofa sambil mengalihkan pandanganku ketembok.


*****


__ADS_2