
Keributan tidak bisa di elakan lagi, aku menutup wajahku dengan bantal guling. Nyonya seperti kerasukan setan ingin mencakar wajahku.
"Jangan munafik, sudah jelas suamiku mengaku datang dari sini, kenapa kau menutupi. Kau pikir bisa mengalahkan pesonaku. Ngacalah supaya kau tahu keburukanmu yang tidak layak di pertontonkan." makinya.
"Hanun hentikan!! jangan semena-mena." teriak Yudha di balik pintu. Pintu kamarku sengaja di kunci dari dalam oleh nyonya. Yudha menggedor-gedor dari luar sambil ngoceh. Bibi sibuk menenangkan nyonya.
"Maaf nyonya, jika nyonya tidak senang sama saya, lebih baik saya pergi dari sini." kataku dengan kepala berdenyut.
"Enak saja kau ngomong, sampai kapanpun kau tidak boleh pergi, karena aku telah membelimu!!"
"Bibi, ajak manusia ini ke mobil."
"Mau di ajak kemana dia?"
"Aku mau ajak ke rumah besar, supaya dia tahu rasanya kelaparan, disini bibi terlalu memanjakannya."
"Aku pernah merasakan apa yang dialami Luna. Disiksa, dinistakan, sampai aku tidak bisa membedakan siang dan malam."
"Jangan mengungkit masa lalumu disini, bagaimanapun pelakor itu salah dan wajar di siksa atau diracun."
"Tidak semua wanitanya yang bersalah, bisa karena ulah laki-laki yang bejat. Hidup yang benar dan wajar niscaya akan membawa berkah. Jika nyonya menganggap Luna salah yang mengancam pernikahanmu cari solusi lain untuk memperbaiki rumah tanggamu. Jangan suka menyiksa orang, hilangkan kebiasaan itu."
"Aku tidak akan membiarkan siapapun yang berani menggoda suamiku. Aku bersumpah akan menyiksanya sampai mati di tanganku. Aku tidak akan meniru ibuku yang bodoh, yang di selingkuhi malah pasif dan bunuh diri."
"istighfar...nyonya, jangan sampai salah ucap. Tidak selamanya yang nyonya nilai baik itu benar." bibi mengingatkannya.
"Aku tidak peduli nasehatmu, selama ini hidupku sudah makmur, yang menjadi kendala kebahagiaanku, hanya anak." kata nyonya Hanun lirih.
Dia akhirnya keluar juga dari kamar setelah bosan mengoceh. Di luar kamar dia lagi bersitegang dengan suaminya.
"Dasar buaya, akal sehatmu sudah lenyap makanya sampai babu kau dekati. Jika salah satu temanku tahu, kau ngerayu babu, jatuh prestise ku, dimana ditaruh mukaku. Harusnya kau bangga punya istri sepertiku, sabar menemanimu walaupun kau impoten, mandul, keras kepala."
"Tidak ada dokter yang mengatakan aku mandul, aku tidak mampu memenuhi nafkah, bathinku padamu karena ada sebabnya. Semua berawal dari perselingkuhanmu."
"Hahaha...apa? selingkuh? jangan percaya dengan pengaduan orang kalau kau tidak melihat sendiri." nyonya Hanun tertawa menutupi kekagetannya.
"Aku memang tidak melihat langsung karena aku sering diluar kamar saat kau rendezvous dengan pacarmu." kata Yudha menohok.
Degg!! nyonya Hanun terdiam, aku merasa dia kena mental mendengar perkataan Yudha. Tidak bisa di bayangkan kalau wajah nyonya berubah muram.
"Kenapa baru kamu katakan?" akhirnya nyonya Hanun bertanya hati-hati.
"Karena aku mencintaimu, aku berusaha memaklumi kesalahanmu, sayang efek dari perbuatanmu aku menjadi impoten. Otak bawah sadarku tidak bisa menerima perbuatanmu."
"Maafkan aku yank, aku berbuat begitu karena ingin mempunyai anak, buat apa kaya kalau tidak punya anak."
"Banyak cara untuk mendapatkan anak, tidak dengan cara menyakiti hati suami." bibi ikut nimbrung.
Aku merasa bibi adalah seseorang yang dekat dengan mereka, seorang pembantu tidak mungkin berani memberi masukan atau mengajari nyonya. Aku tidak peduli, kepalaku sangat pusing.
__ADS_1
"Kamu pergilah ke rumah besar, setelah aku sembuh aku akan kembali kesana. Biarkan aku disini menyepi."
Aku ingin muntah mendengar omongan Yudha. Dasar penipu, buaya. rutukku dalam hati. Apa semua lelaki begitu? meybe!!
"Aku akan membawa babu itu ikut serta."
"Tidak usah nyonya, Luna anak kampung dia tidak mengerti apapun. Bibi mau ngajari dia memasak dan yang lainnya. Setelah dia pintar bibi antar dia kesana."
"Benar itu sayank, biar Luna disini dulu. Kamu tidak ingin kan jika dia mencuri barangmu?" Yudha ikut mempertahankan supaya aku tetap disini.
"Itu akal bulusmu sayank supaya kamu bisa masuk kamarnya." sanggah nyonya hanun tersenyum sinis.
"Jika aku ingin, tidak babu incaranku tapi kamu. Jangan berpikiran negatif. Pulanglah." kata Yudha berharap istrinya mau pergi.
"Baiklah, aku tunggu kedatanganmu." kata nyonya Hanun setelah lama berpikir.
Tidak bisa dibantah kelakuan Yudha padaku. Setelah sebulan berlalu pasca keributan yang terjadi, perasaan Yudha perlahan berubah. Yudha sangat sayang padaku dan memanjakan diriku. Hampir setiap pulang dari kantor dia membawakan oleh-oleh untukku. Badanku yang dulu kurus dekil kembali berisi.
"Bibi aku mau keluar kota, tiga hari lamanya. Hari ini aku menyewa penata rambut untuk Luna, tolong bibi urus." kata Yudha menarik kopernya.
"Nanti bibi yang urus." jawab bibi mengantar Yudha keluar.
Aku heran kenapa Yudha menyewa penata rambut, aku tidak butuh itu. Yang aku butuhkan adalah pergi dari sini. Menjadi babu disini mengajari aku banyak hal, tetutama penderitaan orang miskin yang kelaparan dan kehausan. Dan menjadi orang tak berdaya ketika disiksa dan diperkosa.
Mengingat itu aku menangis, di antara benci dan dendamku kepada Yudha, aku takut jika suatu hari aku jatuh cinta padanya. Karena seringnya dia minta jatah padaku. Tidak ubahnya aku seperti gadis simpanan yang punya keharusan melayaninya. Ingin aku berontak tapi apa daya.
"Nona, kenapa malah disini, tuan tadi mengharap supaya nona mengantarnya sampai mobil. Tuan lama di luar kota." kata bibi mendekatiku.
"Nona tidak berubah, aku kira sudah jatuh cinta sama tuan. Habis tidak kedengaran menolak atau menangis lagi."
"Air mataku sudah kering, aku biarkan tubuhku di bolak-balik seperti jemuran, habis mau gimana lagi, kalau menolak membuat dia semakin beringas."
"Bibi, aku seminggu ini sering meriang dan mual, kira-kira sakit apa ya."
"Mungkin masuk angin. Kita sarapan dulu, setelah itu baru kerja. Nyonya mau datang, tutup semua tubuhmu."
"Oh ya, aku ke kamar dulu bi." kataku berlari ke kamar dan mengganti pakaian. Biasanya aku memakai daster, seperti bibi. Wajah jarang aku tutup kalau ada Yudha.
Aku kembali ke dapur mulai sarapan bersama bibi. Diam-diam bibi menatapku sambil mengerutkan keningnya.
"Nona wajahmu kelihatan pucat, bibi yakin kamu hamil."
"uhuk..uhuk..." aku tersedak. Mataku melebar menatap bibi.
"Bibi aku takut...." kepalaku menggeleng. Jika ini benar betapa malunya aku. Orang tua angkatku sangat menjunjung tinggi etika hidup. Aku sendiri seorang aktivis yang mengecam pergaulan bebas.
"Kita akan ke bidan."
"Aku takut bi, bagaimana kalau aku hamil?"
__ADS_1
Bibi tidak menjawab, aku mendadak diam ketika suara nyonya Hanun kedengaran. Rupanya nyonya sudah datang.
"He babu, tuan sudah pergi?" nyonya langsung mencariku bukannya bibi.
"Saya tadi ada di belakang tidak tahu kalau tuan pergi. Mungkin bibi yang tahu."
"Ow begitu ya, apa kau menyukai suamiku."
"Tidak nyonya, saya mengerti batasan. Lagi pula tuan bukan selera saya."
"Hahaha...kau terlalu sombong, babu seperti kau tidak mungkin laku, di kasi gratis pun tidak laku."
"Saya lebih senang tidak laku daripada tuan senang sama saya dan membuat saya menderita." ucapku datar.
"Munafik, aku benci dengan kesombongan mu yang tidak berdasar." kata nyonya Hanun sinis.
"Tuan sudah pergi, nyonya datang terlambat, padahal tuan lama menunggu nyonya."
"Aku kesini bukan mencari tuan, tapi mau mengambil surat-surat. Kata tuan suratnya ada di ruang kerja."
"Kenapa setelah tuan pergi nyonya datang, bibi tidak berani memberi izin."
"Bibi berpihak sama siapa sih, semenjak ada babu itu bibi banyak ngatur dan membela Yudha. Aku curiga jadinya."
"Tidak berpihak dengan siapapun, buat apa. Hanya suka ingat saja masa lalu jika nyonya membentakku."
"Itu terus di ulang, Ibuku sudah mati gara-gara kau mengambil tempatnya."
"Ayah nyonya yang memperkosaku."
"Heleehh...alasan saja. Cepat ambil duriannya di mobil, bagi sama scurity." perintah nyonya.
Aku dan bibi ke mobil untuk mengambil durian. Ketika pintu mobil dibuka, kepala ku tiba-tiba pusing dan aku mendadak muntah-muntah. Bau durian membuat aku semaput.
"Nona. nona...ayo ke kamar."
"Nona??...kenapa bibi memanggil babu ini nona? Jangan-jangan dia hamil. Pak Koming telpon bidan."
"Nyonya, dia alergi bau durian, jangan berpikiran aneh-aneh." aku dengar bibi mencoba melindungiku.
"Nyonya belum diangkat oleh bidan." kata Pak Koming.
"Beli test pack. Sampai dia hamil, aku bunuh manusia ini."
Aku berkeringat dingin. Seandainya nyonya tahu yang sebenarnya aku pasti disiksa.
"Sebaiknya nyonya yang beli, tempatnya jauh saya yang menjaganya." kata bibi.
"Diam disini aku yang jalan, jangan sampai dia kabur atau pura-pura pingsan. Suruh buka semua pakaiannya yang kena muntah, dan pakai daster."
__ADS_1
"Ya nyonya..."
*****