PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
KETIKA YHUDA PULANG


__ADS_3

(POV YUDHA)


Setelah tiga hari berada di luar kota, aku kini pulang dengan kerinduan yang memuncak. Terkadang aku bertanya dalam hati kenapa aku harus rindu kepada babuku, apa aku sudah gila. Apa istimewanya seorang Luna. Tinggi, kurus, kulit dekil, rambut aneh, bau badan alami. nilai pasti sudah lima puluh.


Tapi kalau istriku, tubuh montok, kulit bersih, wajah cantik, bau tubuh wangi. Aku beri nilai tujuh puluh lima, cocok sekali dan aku jatuh cinta padanya.


Tapi Hanun semakin hari membosankan, hambar, apalagi kalau bicara, membuat hati panas saja dan kelakuannya memalukan.


"Tuan sudah sampai." kata pak Salman sopir kantor membuyarkan lamunanku.


"Tolong bawa kopernya masuk." perintahku.


"Tuan, saya naik gojek saja pulangnya."


"Ya, tapi minum atau makanlah dulu." kataku membuka dompet mengambil uang untuk pak Salman.


"Maaf tuan, saya langsung pulang saja." kata pak Salman mengambil uangku.


"Ya pak, taruh saja kopernya disini."


Aku heran kenapa sepi sekali, bibi kemana, kenapa tidak ada yang menjaga gardu depan. Biasanya scurity nya berjaga di depan.


"Bibi...bibi..."


"Luna...luna..."


Aku heran kenapa seperti tidak ada orang, tapi pintu gerbang terbuka. Perasaanku menjadi tidak enak. Aku setengah berlari ke kamar Luna. Kosong! aku buka almarinya, ternyata bajunya masih ada. Aku agak tenang.


Aku kembali ke depan menuju kamarku dan menarik koper membawanya masuk. Perlahan aku membuka koper, disana ada baju untuk Luna, aku membeli baju tertutup untuknya. Aku berpikir dari pada dia selalu memakai masker, lebih baik aku beliin dia gamis bercadar, jadi diapun tidak mengumbar auratnya. Kira-kira begitu nama baju yang dari atas kebawah tertutup dan hanya matanya terlihat. Kalau aku salah sebut supaya dimaafkan.


Aku sebenarnya malas menghubungi Hanun, aku ingin yang pertama aku lihat adalah Luna. Tapi khayalanku untuk bergumul dengan babu itu terpaksa tertunda. Semua penghuninya hilang ntah kemana.


"Hanun kau dimana?" akhirnya aku menghubunginya juga, padahal Hanun bukan prioritas utamaku. Aku akan mencari informasi kemana orang dirumahku.


"Sayank, kapan datang? kamu pasti kangen padaku ya?"


"Tadinya aku kangen, tapi mendengar suara cowok di dekatmu aku menjadi mual."

__ADS_1


"Jangan negatif thinking sayank, tidak ada siapa-siapa disini. Aku sekarang kesana ya." Aku mendengar suara sssttt kemudian senyap.


"Tidak usah datang, tetaplah bersama brondongmu, bila perlu naikin gajinya."


Tadi aku satu pesawat dengan teman bisnisku, dia bercerita tentang sepak terjang istriku dan dua teman wanitanya. Hanun istri yang aku cintai itu sering datang ke club nya dengan seorang atau dua orang cowok. Dan akhir-akhir ini semakin sering datang. Duhh. malunya. Seolah aku tidak bisa mendidik istri. Wajahku terasa di tampar mendengar berita itu. Jalan satu-satunya aku harus memblokir semua ATM dan kartu kredit nya.


"Tuan, maaf saya baru datang..." suara bibi membuat aku melempar ponselku ke atas kasur dan keluar menemuinya.


"Bibi datang dari mana?" tanyaku heran, disitu ada kedua scurityku juga, aku tidak melihat Luna.


"Kami bertiga mencari nona Luna." degg!! suara bibi seperti godam memukul dadaku. Kakiku mundur selangkah.


"Apakah Luna kabur?" tanyaku hati-hati.


"Setelah tuan berangkat keluar kota tiba-tiba nyonya Hanun datang memaksa minta surat-surat penting, tapi saya keukeuh tidak memberi kuncinya. Ketika itu nyonya agak marah dan sempat memaki Luna." kata bibi berjeda.


"Lanjutin bibi." kataku penasaran.


"Nyonya juga memerintahkan saya dan Luna untuk mengambil durian di mobilnya. Saat itu nona hampir semaput mencium bau durian. Akhirnya nyonya curiga dan mengira Luna hamil. Terjadi perang mulut waktu itu, nyonya mengancam akan menyiksa nona kalau ketahuan hamil. Pak Koming disuruh menelpon bidan, tapi telpon tidak diangkat."


"Diangkat bibi...hanya saya bohong, saya takut kalau nona beneran hamil dia bisa di bunuh oleh nyonya..." kata pak Koming sambil menunduk.


"Pak Koming tidak ada aneh-aneh sama Luna khan?!" aku menatap scurity ku dengan curiga.


"Astaga, tidak terbesit dalam hati saya untuk berselingkuh tuan, saya hanya kasihan karena sama-sama orang rendahan."


"Jangan mendekatinya...." kataku samar.


"Siaapp tuan."


"Lanjutin ceritanya bibi." kataku menatapnya.


"Akhirnya nyonya punya inisiatif memakai test pack. Karena apotiknya jauh, nyonya sendiri yang membeli naik mobil. Waktu itu saya tidak bisa berpikir jernih, ancaman nyonya membuat saya memutuskan untuk melepaskan nona Luna lewat jalan belakang. Ganjarannya kami bertiga dapat hukuman dari nyonya......: bibi berhenti bicara karena mendengar suara mobil datang.


Aku tahu Hanun yang datang, tidak tergerak hatiku untuk menyongsongnya seperti biasa. Jauh di lubuk hatiku ada perasaan marah kepada Hanun yang mengakibatkan Luna pergi.


"Sayank, ada apa ini? aku tahu kalian lagi mengadukan babu yang kabur."

__ADS_1


"Kenapa kau marah dengannya, memang kau tidak punya rasa empaty. Hilangin sifat aroganmu." kataku meradang.


Perasaanku kacau memikirkan keadaan Luna. Sudah tiga hari berarti dia kabur, tanpa uang sepersenpun. Mataku mulai berkabut, menahan pedih dihati. Aku tidak bisa membayangkan kalau ada yang jahat atau ada yang memperkosanya.


"Apakah kau menghamilinya?" tanya Hanun dengan suara tinggi."


"Berhentilah menuduhku, kau tahu aku impoten, lagi kau ngomong kutampar kau." ketus suara Yudha, dia mendadak muak melihat istrinya yang jahat.


"Bibi dan kalian berdua, cari Luna sampai dapat. Aku tidak ingin mendengar ocehanmu lagi. Cari sampai ketemu!!"


"Yudha, apa maksudmu, ada hubungan apa kalian berdua aku jadi curiga."


"Pergilah kau ke pelukan pacarmu, aku sudah bosan dengan sandiwaramu."


"Kau pilih babu itu atau aku istri sahmu."


"Pergilah, aku mau istirahat." kataku masuk ke dalam. Aku mau rebahan sejenak sebelum mencari Luna. Kecil kemungkinan kalau Luna bisa aku temukan.


"Sayank, maafkan aku." teriak Hanun memelukku dari belakang. Tangis palsunya mengalir deras. Aku menepis tangannya berusaha lepas dari pelukannya.


"Hanun pergilah, kau membuatku marah. Sudah lama aku menahan kecewa atas perbuatanmu yang murahan."


"Maafkan aku sayank, mulai sekarang aku akan berubah. Kita akan program bayi tabung. Jangan marah padaku sayank."


"Jangan membuat aku main tangan, aku sudah bosan sama perempuan ****** sepertimu. Lihat lehermu, semua merah akibat ulah pacarmu." aku mendorong Hanun supaya keluar dari kamar ku. Tapi dia tidak menyerah dan menubrukku.


"Hanun, mungkin dulu aku akan lunak dengan rayuanmu, sekarang aku mau muntah, apalagi bau keringat brondongmu masih melekat di badanmu."


"Sebegitunya kau mengatakan ketidak senanganmu padaku, dasar buaya. Ketika ada perempuan baru di hatimu, kau langsung berceloteh dan mengatakan aku ******. Oke, kita perang. Aku bersumpah akan membawa babumu dalam keadaan sudah menjadi mayat!!"


"Enyah kau brengsek!!" bentakku mendorong prempuan itu keluar. Darahku mendidih. Baru aku merasa dipermainkan sebagai seorang laki-laki. Harga diriku jatuh jika mendengar gunjingan orang tentang sepak terjang istriku.


"Yudha, kau yang buaya. Kau palsu, kau bajingan." terdengar teriakan Hanun di luar kamar. Aku mendengar dia marah-marah kepada bibi dan scurity ku.


Aku tidak peduli dan memilih ke kamar mandi supaya otakku dingin setelah bisa mengeluarkan unek-unekku selama ini. Aku menjadi benci kalau mengingat Hanun. Kalau tidak melihat bibi, sudah aku tendang tubuh mesumnya.


Aku keluar setelah mendengar suara mobil Hanun menghilang. Masih ada bibi dan kedua scurity ku. Bibi aku lihat menghapus air matanya. Aku kasihan kepada orang tua itu yang selalu salah di mata Hanun.

__ADS_1


Dulu bibi adalah pembantu di rumah orang tua Hanun, ntah bagaimana ceritanya bibi di hamili oleh bapaknya Hanun. Sayang sekali bayinya meninggal dunia. Demi membalas sakit hatinya Hanun selalu menyiksa bibi sampai sekarang.


*****


__ADS_2