
(POV YUDHA)
Tidak tahu aku harus bagaimana, cinta ku sangat rumit dan membelit semua syaraf ku. Semenjak ide gila yang aku praktekan pada Luna, dengan cara menyaru menjadi penjahat, membuat otakku terbebani. Aku menyesal telah memperdaya Luna, kalau tidak dengan cara begitu, kebebasan jauh aku raih.
Nasi telah menjadi bubur. Aku gagal merangkum kasih, terlalu terbuai dalam ke egoisan sifatku. Jalan yang aku pilih sangat keliru membuat hatiku tambah terluka. Pak Lukas seolah mengerti jalan pikiranku. Dia menyindir ku habis-habisan dan menuduhku mempergunakan Luna sebagai ujung tombak.
"Kau ganteng, kaya, berwibawa, aku yakin banyak wanita mengidolakanmu. Aku peringatkan supaya kau hati-hati, tindakanmu sudah melampui batas pri kemanusiaan. Luna boleh kau perdaya tapi aku tidak." kata pak Lukas ketika menyerahkan surat bebas bersyarat dari polisi ke padaku.
"Maksud pak Lukas apa, Luna adalah istri saya, walaupun kami belum sah menjadi suami istri, kami sudah punya putra dan kami saling mencintai." pungkasku belum mengerti arah bicara pak Lukas. Aku duduk santai di sofa tamu di kantornya.
"Terus untuk apa kau membiarkan Luna menikah kalau kau ingin pasang badan untuk Luna, itu bentuk ke egoisanmu. Kau hanya mencintai dirimu, bukan Luna. Kau ingin selamat sendiri tanpa memikirkan nasib Luna." kata pak Lukas menohok. Aku tidak terima tuduhannya. Itu menurut pandangannya, pandanganku berbeda.
"Aku bukan predator, jadi jangan ajarkan aku tentang rasa kasih. Tidak ada laki-laki yang mencintai Luna seperti aku mencintainya. Mungkin pak Lukas juga tidak bisa. Dulu Luna jelek dan tidak layak untuk dipandang. Hanya aku yang menyayanginya."
"Bukannya kau gelap mata lantas memperkosanya. Itu untuk pertama kalinya kau bertemu dengannya. Luna berbaik hati memaafkan kelakuanmu yang bar-bar."
Aku dibuat mati gaya oleh omongan pak Lukas, semua yang dikatakannya hampir benar. Seolah dia orang yang paling sempurna di dunia ini. Aku jadi kesal mendengarnya.
"Manusia itu tidak ada yang sempurna, yang membuat aku masih bernafas di bumi ini adalah Luna dan anakku. Aku tidak mungkin bisa memberikan tubuh Luna untuk bapak miliki, apalagi sekarang ini Luna sedang hamil anak kedua." kataku songong membuat pak Lukas diam sesaat.
"Kata Dhevalee ATM Luna kau blokir, dan kau berselingkuh dengannya. Aku sendiri menolak Dhevalee karena sudah ada hati dengan Luna. Padahal aku tahu Luna tidak pernah berpaling darimu. Aku mengacungkan jempol atas kegeniusanmu menipu Luna, aku belum menemukan orang selicik kau!!"
Deegg!! Mengena banget, tulangku terasa rontok. Aku lemas di berondong ucapan yang mematikan. Pak Lukas tanpa permisi membuat perasaanku jungkir balik. Ketakutanku kehilangan Luna mengaduk jiwa. Aku menunduk.
"Maaf, aku selama ini khilaf, tidak ada keinginan untuk menyakiti Luna semua terjadi begitu saja, spontanitas."
Pak Lukas berdiri menuju jendela kaca. Matanya memandang keluar dari balik kaca. Aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Aku merasa kalah telak dalam adu mulut. Mungkin karena pak Lukas lebih tua membuat dia lebih bijak dan bisa mengontrol emosi. Akhirnya aku permisi karena tidak ada yang perlu dibahas.
Perbincangan ini terjadi minggu lalu, aku sengaja dipanggil oleh pak Lukas sebagai orang terdekat Luna, tujuannya hanya ingin tahu seberapa tanggung jawabku kepada Luna. Bagaimana perasaanku dan lain-lain. Pertama perbincangan datar-datar saja. Makin kesini pak Lukas mulai menyindir dan menuduhku. Jalan terbaik angkat kaki tanpa permisi. Gerahhhh....
__ADS_1
Setiap hari aku gelisah dan bersedih memikirkan Luna yang akan menikah dengan pak Lukas. Apalagi Luna mulai mengurangi frekuensi menelpon, SMS denganku. Pak Lukas juga melarang Luna bertemu denganku. Mau marah ke pak Lukas tidak bisa, ini semua ide gilaku supaya aku tidak di penjara. Akhirnya aku nekat SMS Luna, semoga Luna mau menjawab.
- Sayank, aku kangen sama anak dan istriku. Kita ketemuan ya - tulisku.
Aku berharap Luna membalas. Aku tahu dia pasti sibuk mengkhayal jadi ratu sehari. Aku ingin pernikahan itu tidak jadi dan Luna bisa kembali ke pelukanku.
- Maaf aku tidak bisa, aku sibuk - balas Luna. Aku kecewa berat. Bagaimana caranya bertemu?
- Tidak ada yang lebih mencintaimu selain aku. Jangan kau beralasan sibuk. Aku tahu kau takut sama pak Lukas -
- Aku sibuk bikin parcel supaya bisa makan dan beli susu anakmu -
- Elleehh...banyak alasan. Kalau kau tidak mau bertemu aku yang datang kesana. Aku akan perkosa kau di depan pak Lukas -
- Ya dah aku mau - balasnya.
Aku tersenyum dan sangat gembira. Luna ternyata masih mencintaiku. Mana mungkin dia lupa gladiatornya yang perkasa. Aku bersiul dan keluar dari kamar.
Akhirnya dia datang juga aku langsung menyongsongnya dan memeluknya erat. Air mataku bergulir jatuh saking terharunya bisa bertemu dengan Luna. Senyum Luna juga mengembang.
"Sayank, aku sangat rindu denganmu." kataku menggendongnya. Langkahku cepat menuju kamar.
"Maaf pak, saya mau menjemput nona Luna. Saya ada surat perintah dari pak Lukas." suara berat terdengar dari belakangku. Aku kaget dan menoleh. Dengan pelan aku menurunkan Luna.
"Siapa kalian!!" bentakku dengan suara tinggi. Aku merasa terganggu.
"Saya anak buah pak Lukas."
"Ini adalah istri ku, ngapain kalian jemput istri orang." aku emosi banget.
__ADS_1
"Tenang pak, kami berdua hanya menjalankan tugas."
"Tidak ada yang bisa membawa istriku, aku lebih baik di penjaraaa...." teriakku putus asa. Aku tidak bisa membayang kan kalau Luna menjadi istri orang.
"Nona Luna tolong mengerti, calon suami nona sudah menunggu di pavillion." tegas suara pria itu.
"Luna jangan pergi sayank, aku tidak sanggup hidup tanpamu."
"Maaf Yudha aku tidak bisa menjilat ludahku sendiri. Maafkan aku." kata Luna tercekat. Aku melihat ada air bening di matanya, aku tidak butuh dia menangis yang aku butuhkan kehadirannya disisiku.
"Luna sampai kau pergi, aku akan bunuh diri, kau hanya akan melihat jazadku." teriakku mengejarnya. Tanganku di ringkus oleh pria yang satu. Aku berontak tapi tidak bisa.
"Sabar pak, akad nikah tinggal dua hari lagi, selesai akad nikah pak Yudha bisa dengan bebas bertemu dengan nona Luna. Anda bisa ke rumah pak Lukas."
"Brengsek!! kau mengejekku, lepaskan aku, katakan kepada bos kalian jangan sentuh istriku. Aku tidak takut kepada nya. Lawan aku one by one. Beraninya menyuruh orang saja."
"Nanti saya sampaikan pak."
Mataku nanar melihat mobil Luna keluar dari halaman. Hatiku miris. Dengan kasar aku menghentakan tangan pria yang meringkusku.
"Kalian adalah antek-antek si brengsek pergi dari rumahku!!" usirku. Mereka pergi dengan sopan.
Dadaku bergemuruh karena marah, tidak seperti sknario yang aku rancang. Ternyata pak Lukas lebih licik, kurang ajar. Manusia tidak manusiawi, teganya mengambil istri orang. Dasar tua bangka tidak laku. Bandott!.
Aku memakinya dan mengutuknya tanpa henti. Hatiku sakit sekali, aku ingin tsunami datang saat pernikahan nya. Supaya hancur sekalian.
"Tuan masuk ke kamar." suara bibi membuat aku tersadar, aku berbalik. Semua pembantu berada di belakang ku, mereka memandang ke bodohanku.
"Sabar Tuan, semua akan baik-baik saja. Tuan adalah pemilik banyak perusahan tidak sepatutnya bertingkah begini. Level tuan sudah tinggi. Biarlah berjalan sesuai harapan, semoga nona hidup berbahagia."
__ADS_1
Aku menggerakan kakiku masuk kerumah, dengan perasaan duka lara aku masuk ke kamar. Aku menangis seperti anak kecil kehilangan mainannya.
****