PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
CINTA ITU MASIH ADA


__ADS_3

Aku keluar dengan pakaian pertama, cantik, sexy, elegan. Sudah terbayang Yudha akan berdiri. Tentu saja aku menggoda imamnya dengan cara berlegak lenggok dan mengumbar paha mulusku di depannya. Rasain.


Wajah gantengnya terlihat berkeringat, dia yang mencari penyakit, sekarang aku buat pikiran mesumnya memenuhi otaknya. Aku tahu hasratnya mulai mengalir. Dia menatapku lekat-lekat. Baru gaun yang ketiga dia sudah berdiri dan masuk ke ruanganku. Putri, Ida dan Sri kaget ketika Yudha nongol di depan kami.


"Nyonya Luna, kita harus bicara." kata Yudha tanpa basa basi. Dia melihat ketiga karyawanku sambil sesekali melirikku. Dia melonggarkan dasinya seolah lehernya ke cekik.


"Maaf pak, bicara apa ya. Kebetulan pemiliknya ada disini, jika mau bicara langsung saja ke pemilik boutique." kataku pura-pura bego.


"Mbak bertiga mohon pengertiannya, saya mau bicara face to face dengan nyonya Luna."


Mereka bertiga menoleh padaku, aku sendiri tidak mau menjadi pelampiasan hawa nafsunya. Sudah kapoklah. Enak aja, sampai anaknya lahir dia tidak mencariku. Dia orang kaya, apa sulit nya menyewa detektif untuk bisa melacak keberadaanku.


"Tidak boleh ada yang keluar. Jika pak Yudha ingin bicara padaku silahkan bicara saja, mereka juga harus tahu." kataku acuh.


"Mbak, maaf ya kalau kalian tidak keluar saya akan mengembalikan semua gaunnya." ancam Yudha.


"Owh...." terpaksa mereka keluar. Dan aku mau ikut keluar gimana, belum buka gaun, licik banget Yudha.


"Aku juga mau keluar." gerutuku.


"Tidak ingin pulang?" tanyanya mendekatiku. Ntah bagaimana bibir nya sudah ******* bibirku. Hum...


"Yudha!! anda salah alamat, jangan coba-coba menyentuhku." kataku emosi. Jantungku berdebar kencang, aku mengakui sentuhan bibir Yudha membuat seluruh pori-pori tubuhku terbuka.


"Apa harus aku paksa sayank, hanya kau yang bisa membuat gairahku memuncak." dia kembali memeluk dan mendorongku ke tembok. Aku merasa gairahku meluap, tapi aku tidak mau bodoh lagi. Aku cepat mendorongnya.


"Untuk apa kau memaksa istri orang?" kataku tajam. Matanya langsung terhujam padaku. Dia marah.


"Jangan main-main denganku. Katakan lagi sekali supaya aku bebas mengambil anakku." ketus suaranya, aku melihat matanya memerah, rahangnya mengeras.

__ADS_1


"Aku ini istri orang, apa kurang jelas, siapa yang sudi dengan pecundang sepertimu. Pergi dari hadapanku."


"Oke, trimakasih." katanya berbalik dan keluar dari ruangan. Aku tidak menyangka dia cepat pergi.


Aku bengong dan cepat-cepat ganti pakaian. Aku membuka gaun yang aku pakai dan kembali memakai kerudung dan baju panjang. Tentu saja aku ketakutan, jangan-jangan Sean diambil oleh Yudha. Tapi Yudha tidak tahu dimana Sean berada.


Baru keluar dari ruangan fitting aku bertemu Ibu dan kedua temannya.


"Luna kita ke sebelah dulu ada yang ibu mau bicarakan." kata ibu mengajak aku ke ruang tamu.


Biasanya ruangan ini di peruntukan tamu emerald. Tamu emerald adalah tamu yang memiliki Asset Under Management minimum Rp500 juta. Biasanya tamu ini menaruh uang disini paling sedikit 500 juta.


"Silahkan duduk nyonya." ibu mulai mempersilahkan tamunya duduk, aku mengambil air mineral di kulkas dan menaruh di atas meja.


Aku juga duduk di samping ibu, walaupun sesekali mataku melirik ke luar lewat kaca jendela. Aku berharap melihat Yudha, hatiku ketar ketir kalau Yudha beneran mengambil Sean.


"Nyonya mira, nyonya Anggun, ini anak saya Luna yang saya bicarakan tadi. Dia akan mengurus boutique ini dalam waktu lama. Jadi jika nyonya mau kesini langsung berurusan dengan dia, siapa tahu anak kita berjodoh." kata ibu serius.


"Aman, diajak baby sitter, Sean sangat anteng. Seperti yang saya katakan Luna sudah punya putra dari laki-laki tidak bertanggung jawab." kata ibu memandang kedua temannya. Kenapa ibu harus berkata begitu, seolah ibu ingin menjualku.


"Begitu ya, memang banyak laki-laki begitu. Sayang sekali, anak saya masih perjaka, saya rasa bu Swari cari duda saja." kata nyonya Anggun tersenyum tipis.


Jlebb!! Ibu langsung kena mental. Hahaha..... aku tertawa dalam hati. Tidak semua orang bisa menerima janda di rumahnya, apalagi janda yang sudah punya anak. Aku bersyukur kedua nyonya itu menolak keinginan ibu. Aku sendiri tidak tersinggung atau sedih. Semua orang punya hak untuk menolak atau menerima.


"Bu Swari saya tidak merendahkan anak ibu, tapi saya tahu selera anak saya." kata nyonya Mira memandang ke arahku. Aku diam tidak terpengaruh ucapannya, bagiku tidak penting. Orang bebas menilai.


"Saya juga minta maaf sama Bu Swari, jangankan ibu mau memberi saya boutique ini, saya di kasi Villa bakalan menolak. Anak saya sudah punya pacar kaya raya, lulusan luar negeri." ucap nyonya Anggun.


Aku kasihan melihat wajah ibu yang pucat, ntah kenapa ibu sangat bernafsu menyuruh aku menikah. Lagi pula apa haknya atas diriku. Aku diam di rumah ibu bukan berarti aku membuang harga diriku dan harus menurut semua perintah ibu.

__ADS_1


"Ibu.. aku minta maaf jika aku salah, saat ini aku tidak punya keinginan untuk menikah lagi. Sekarang ini yang aku pikirkan hanya putraku. Lagi pula aku sudah punya Sean." kataku mencoba menenangkan hati ibu.


"Memang seharusnya begitu jangan memikirkan laki, apalagi suami orang. Pikirin anak dan masa depannya." kata nyonya Mira menatapku. Mungkin aku harus bersyukur karena memakai krudung. Jadi wajahku yang menahan malu bisa aku sembunyikan.


"Sudah lama menjanda Luna?" tanya nyonya Anggun.


"Ada setahun." kataku gugup, aku belum menikah, bagaimana bisa berstatus janda. Ibu diam saja, hasrat untuk menjodohkan aku dengan anak-anak temannya sirna sudah.


"Yach..hati-hati bawa diri, banyak laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Jangan cepat tergiur kalau melihat laki-laki ganteng dan kaya."


"Trimakasih nyonya." kataku tetap sopan. Aku juga mengerti yang di ucap kan nyonya Mira.


"Luna, ibu mau pulang kalau ada pelanggan yang minta kamu fitting baju, jangan menolak. Pembeli itu raja."


"Ya bu maaf yang tadi." kataku. Aku tidak mungkin menjelaskan siapa Yudha sebenarnya.


"Bu Swari, kapan-kapan calon mantu saya mau ajak kesini, mudah-mudahan dia dapat libur."


"Semoga bisa nyonya, siapa tahu cocok dengan desain disini." sahut ibu lalu berdiri.


Mereka keluar menuju tempat parkir. Sebenarnya aku ingin pulang untuk memastikan keberadaan Sean. Aku sedikit tegang ketika aku mencoba menelpon baby sitterku.


"Hallo nyonya ada apa." kata baby sitter ku tenang.


"Bagaimana keadaan Sean?" tanyaku was-was.


"Dia lagi tidur, apa nyonya mau melihatnya?"


"Tidak perlu, yang penting dalam keadaan aman." kataku tenang.

__ADS_1


****


__ADS_2