PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
AKU PERGI (POV YUDHA)


__ADS_3

Mata pak Lukas memandang tajam padaku. Aku memang kalah umur tapi aku adalah owner dari beberapa perusahan, jadi aku tidak takut akan tatapannya yang tidak senang. Itu baru kecupan di pipi, besok lusa aku akan meniduri Luna supaya Lukas tahu siapa sebenarnya aku.


"Sayank...ada ibu dan bapak." kata Lukas berusaha menarik perhatian Luna.


Tanganku cepat memegang ujung bajunya. Aku merasa konyol dan childish. Luna menghampiri ibu dan bapak, aku tetap berada di belakang Luna. Aku melirik Lukas, wajahnya memerah.


"Pagi ibu, pak De...senang bisa ketemu kembali. Aku kira pak De dan ibu menginap di rumah sana. Ternyata kalian pulang toh...."


"Selesai perhelatan kami pamit, Sean menangis minta mamanya, kami ajak pulanglah. Tidak enak mengganggu penganten baru." seloroh pak De membuat wajahku panas.


"Aku yang akan mengajak Sean." ketus suaraku.


Otakku mendidih, tapi aku berusaha tenang. Luna yang aku buntuti membiarkan ujung bajunya aku pegang. Dia pasti tahu, mungkin dia takut kalau aku ngamuk.


"Aku tetap yang mengasuh Sean, kau sibuk kapan bisa mengasuh. Aku ibu rumah tangga akan dirumah sepanjang hari. Jangan membuat anak kita bingung." kata Luna bijak.


"Sayank, kau tahu aku tidak bisa hidup tanpa Sean, kau sudah punya yang di perutmu. Jadi tolong aku mengajak Sean."


"Yudha, sebaiknya kau menjauh dari istriku. Luna sudah punya kehidupan baru bersamaku. Aku bisa mengasuh Sean tanpa campur tanganmu. Jika kau ingin silahturahmi untuk melihat anakmu aku akan beri kesempatan." suara Lukas yang berat membuat semua diam. Tapi aku tidak takut.


"Luna hanya mencintaiku pak Lukas dan Sean anakku, kau tidak punya hak bicara apapun."


"Sebelum aku menikahi Luna, kau boleh berkata begitu. Tapi setelah aku menikahi Luna, kau tidak punya hak untuk mengurus kehidupan Luna. Tolong hentikan tingkah konyolmu yang memalukan." kata pak Lukas menohok.


Mendidih hatiku mendengar ocehan Lukas. Aku menunggu respon Luna, tapi kali ini pak De yang bicara. Pak De berdiri dan mengajak kami keruang tamu.


"Tenangkan diri kalian, kita ini saudara. Yudha harus bisa menerima dengan lapang dada kepergian Luna, begitu juga Luna, supaya bisa menempati diri. Sekarang kau sudah menjadi istri Lukas, jadi tinggalkan kebiasaanmu bersama Yudha." tegas pak De.

__ADS_1


Luna seolah malu dan menarik bajunya menjauh bersama Sean. Mukaku terasa ditampar oleh omongan pak De, aku malu dan hancur. Perasaanku mencelos, tanpa dapat aku tahan, air bening keluar dari sudut mataku.


"Maafkan aku Yudha, mungkin kita tidak berjodoh. Sebaiknya kita mencari jalan masing-masing. Bukan aku tidak mencintaimu, tapi aku akan menjauh dari kehidupanmu. Terlalu banyak sakit yang aku tampung setelah jatuh cinta padamu. Aku berdoa semoga kau bisa berbahagia dengan pilihanmu." kata Luna menoreh kembali hatiku yang luka. Aku bersandar di sofa dengan perasaan terkalahkan.


"Dibalik masalah ada hikmahnya, semoga dengan kejadian ini kau menjadi pribadi yang lebih baik. Bapak tidak bilang kau tidak baik, kau hanya lupa membuang rasa egoismu dan belajar menghargai wanitamu serta lebih pengertian. Karena diluar sana banyak orang yang menunggu wanitamu. Penyesalan tidak ada gunanya, nasi sudah menjadi bubur." kata pak De sambil menyodorkan tissue kepadaku.


Aku menghapus air mataku, inilah hari yang paling menjijikan, hari yang paling aku benci. Bibi hanya bisa menangis tidak berguna.


"Tuan, yang sabar.... Sean masih butuh sosok bapak." ucap bibi sedih. Mungkin bibi takut kalau aku mengambil jalan pintas.


"Yudha, ibu mengerti perasaanmu, ibu tidak akan pernah melarang kau datang menengok Sean, menengok bapak seperti yang biasa kau lakukan selama ini, asal kau tidak membuat masalah."


Aku terdiam seribu bahasa mendengar kata-kata ibu. Semua yang ibu ucapkan harus aku camkan, jangan sampai aku kembali menjadi orang yang memalukan.


"Pak De, ibu, aku mau pulang. Maafkan aku atas ketidak nyamanan ini. Mungkin aku harus pergi sampai hari yang tidak di tentukan. Aku harus intropeksi diri, mulai merubah pola pikirku yang krodit dan sangat egois. Selama ini akulah yang bersalah Luna wanita yang hebat."


"Tidak akan ada wanita lain dihatiku, begitu juga Luna. Dia tidak bisa mencintai orang lain selain diriku, aku yakin itu. Suatu hari nanti aku yakin akan bertemu dengannya lagi."


"Kalian pasti akan bertemu, Lukas sudah mengerti itu, dia orang yang bijaksana. Asal kau tidak membuat masalah baru Lukas akan mengizinkan kau melihat anakmu."


"Sekarang ini aku tidak ingin menambah luka hatiku dengan melihat anakku atau Luna, aku tidak sanggup. Aku akan menyepi dan mencari jati diri supaya jiwaku tidak terombang ambing."


"Apapun boleh kau lakukan, jika itu menurutmu baik."


"Ttimakasih psk De, ibu, aku mohon diri."


Aku dan bibi keluar dari rumah itu dengan perasaan hancur. Rasanya badanku tidak bertulang, lemah dan seperti melayang.

__ADS_1


"Bapak yang mengantar kau pulang nak." kata bapak memegang lenganku.


"Tidak usah, aku masih bisa pak." jawabku menolak niat baik Pak De.


Aku dan bibi naik ke mobil, aku melihat wajah pak De dan Ibu sangat khawatir. Dengan pikiran melayang aku memacu mobil itu dengan kecepatan sedang. Bibi juga terdiam disampingku.


"Tuan sebaiknya tuan ke orang suci, supaya tuan tenang dan bisa melewatkan kehidupan ini dengan semangat baru. Banyak orang yang bermasalah, mereka ke orang suci mencari jati diri."


"Aku tidak ingin melakukan apapun, dulu aku bisa melewati saat Hanun selingkuh. Aku yakin cobaan ini juga bisa aku lewati. Bibi tidak usah bersedih." ucapku untuk menghibur bibi. Aku tidak ingin bibi sedih, karena akulah pelindungnya.


"Dulu ada non Luna, hilangnya nyonya Hanun tidak bermasalah bagi tuan. Kini orang yang tuan cintai pergi, bibi tidak yakin tuan baik-baik saja."


"Benar bi, aku mungkin perlu pencerahan." sahutku tidak bersemangat.


Mobil masuk kerumahku, aku dan bibi turun dari mobil. Kadang aku kasihan melihat bibi yang sudah tua, selalu saja aku ajak masuk dalam masalahku. Semoga bibi sehat. Bisikku dalam hati.


Sampai di rumah aku mengambil koper dan memasukan barang yang aku perlukan. Setelah itu aku keluar mencari bibi. Ternyata bibi melanjutkan tangisnya.


"Bibi jaga rumah untuk sementara, aku mau menenangkan diri." kataku menyentuh bahu bibi.


"Mau kemana, jangan yang tidak-tidak. Bibi tidak punya siapa-diapa."


"Aku keluar negeri beberapa hari. Dan kartu ini kasi Luna." aku menyerahkan black card kepada bibi.


Bibi menerima dua kartu ATM, yang satu untuk bibi setiap hari belanja dan untuk mengurus rumah, sedangkan kartu hitam untuk Luna. Aku menggeret koperku ke luar tanpa menoleh ke belakang lagi.


---TAMAT---

__ADS_1



__ADS_2