PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
DUA PERAMPOK


__ADS_3

(POV YUDHA)


Tanganku mendadak tremor melihat kondisi pak De. Aku berdoa dalam hati demi kesembuhannya. Ada rasa takut kalau terjadi sesuatu yang terburuk. Ada penyesalan kakau tadi tidak mengantar pak De pulang. Aku sesak nafas saking sedihnya mengingat pak De yang terkapar tidak sadarkan diri.


"Maaf pak, bapak anaknya?" tanya seorang perawat mendekatiku.


"Saya temannya, sebentar lagi istri nya datang." jawabku.


Aku sering memakai jasa pak De, tapi aku tidak tahu istrinya atau keluarga yang lain. Aku hanya bisa memberitahu Yuly sekretarisnya kalau ada spa-apa.


"Bos, bagaimana bapak?" tanya Yuly yang datang tergopoh-gopoh.


"Ada di UGD, aku sudah ke bagian administrasi sebagai penanggung jawabnya."


"Trimakasih bos, atas bantuannya, aku masuk dulu." kata Yuly lalu masuk ke bagian emergency. Aku memilih duduk di kursi tunggu disamping UGD, ramai sekali. Maklum ini rumah sakit umum, tentu sangat ramai.


Kata dokter kepala pak De terbentur keras, padahal ada airbag. Sistem kerja airbag di mobil pak De tidak berfungsi. Ketika terjadi tabrakan keras harusnya terdeteksi, sensor mobil biasanya langsung mengirimkan sinyal supaya airbag mengembang. Tapi ini tidak, aku jadi curiga.


Sekitar satu jam aku menunggu di bangku samping, Yuly akhirnya datang bersama pria, kalau tidak salah laki-laki itu berada di luar kantor pak de saat Luna menelponku.


"Bos, Ibu sudah datang bos boleh pulang untuk istirahat. Nanti kalau ada apa-apa saya telpon bos. Tolong doanya juga ya bos." kata Yuly tersenyum.


"Syukurlah, semoga bapak cepat sembuh ya."


"Trimakasih bos."


Aku berjalan menuju tempat parkir, badan terasa lelah sekali. Malam semakin merangkak, aku terus berdoa supaya pak De cepat sembuh. Aku takut terjadi sesuatu, takut kehilangan sosok yang bijaksana seperti pak De. Apalagi kasus perceraianku hampir finish. Semua masalah ada di pak De.


Dengan lesu aku naik ke mobil. Lagu Talk dari why don't we mengalir riang mengiringi aku pulang. Aku memacu mobilku dengan kecepatan sedang. Pikiranku melayang kemana-mana, aku merasa ini bukan kecelakaan biasa.


Dari barang yang disita polisi tidak terdapat flashdisk, padahal benda itu pak De masukan ke kantong bajunya. Apakah Anna yang berbuat jahat? Tapi untuk apa. Rasanya tidak mungkin. Anna tidak punya mobil, bisa juga kecelakaan biasa. Mungkin pak De mengantuk.


Ponselku bergetar hebat, aku melihat nomor Anna tertera di layar. Ponsel sudah tersambung ke Bluetooth mobil dan aku mendengar suara Anna yang menangis.


"Ada apa Anna, jangan bikin masalah lagi. Hari ini aku sudah puyeng."


"Bos aku mau nginap semalam saja di rumah bos, tuan rumah sudah menutup pintu gerbangnya."


"Terus pembantu dan anakmu dimana? Lagian baru jam sepuluh malam, tidak mungkin di gembok."

__ADS_1


"Anak dan pembantu saya ada di kampung pak, saya tinggal sendiri disini."


"Aku tidak bisa mengajakmu kesini, kamu sewa losmen untuk semalam nanti aku transfer uang." kata Yudha mematikan hubungan telpon sepihak.


Ada-ada saja. Saat pikiran sedang kacau ban mobil tiba-tiba kempes. Untung aku tidak ngebut, aku menepi dan berhenti di tempat terang. Aku mencari layanan service online 24 jam. Heran juga Ini mobil canggih dan anti peluru, tidak mungkin segampang itu bisa kempes kecuali di rekayasa. Pikiranku jadi penuh curiga.


Paling kesel kalau mobil kempes malam hari, aku merebahkan tubuh sambil mendengar kan lagu playlist mobil. Ketika bangun aku melihat tiga bayangan laki-laki kekar mendekat. tapi sebelum dia sampai ke mobil, mobil servise oline keburu datang.


Aku melihat mereka saling berbicara dan kemudian tiga orang laki-laki itu pergi. Aku keluar dari mobil menemui dua orang tukang servise online.


"Malam pak, yang mana ban mobilnya kempes?"


"Yang belakang pak, tukar saja dengan serepnya pak."


"Ya...saya buka dulu."


"Maaf pak yang tadi itu siapa?" tanyaku iseng.


"Kelompok pengacau, itu penjahat kambuhan yang sangat di takuti di masyarakat."


"Ohh....kenapa mereka kesini?"


"Nama saya pak ngurah, kalau bapak mau diganggu oleh kelompok mereka bilang sama saya. Mereka sudah pernah babak belur."


"Syukurlah mereka sudah pergi, saya tadi ada perasaan was-was, kadang orang-orang begitu perlu di kasi pelajaran supaya tidak mengganggu masyarakat." kataku.


"Ini nomer telepon saya, kalau mereka berani macam-macam telepon saya."


"Trimakasih pak Ngurah." kataku menyimpan nomer telponnya.


Kami saling berbincang-bincang, dan mereka meyakini bshwa mobil ku sengaja di buat kempes. Aku baru tshu mobil ini ternyata canggih, ada black box tersembunyi yang merekan semua yang terjadi di mobil.


Selesai ganti ban aku kembali memacu mobilku menuju restoran cepat saji. Baru terasa lapar, badan juga penat sekali. Bayangan pak De melintas di benakku. Orang tua itu sangat baik padaku dan kepada orang lain, tapi kenapa orang tega mencelakainya.


Memasuki rumahku aku dihadang oleh scurity. Aku membuka kaca mobil dan bertanya,


"Ada apa pak Made?"


"Ada nona cantik yang memaksa masuk dan dia sekarang duduk di teras."

__ADS_1


"Siapa namanya?"


"Nona Anna."


Uuhh...dadaku langsung bergemuruh kesel. Prempuan ini bandel dan tidak tahu malu. Aku tidak begitu senang dengan wanita pemburu yang banyak ikut campur dalam keseharianku.


Turun dari mobil aku sudah melihat Anna menghampiriku. Pakaiannya sexy sekali. Tentu aku tambah curiga, katanya tidak bisa masuk ketempat kostnya, kenapa pakaian sudah ganti.


"Bos, maaf mengganggu." katanya menghapus air matanya.


"Ada apa Anna aku sedang banyak masalah jangan tambahkan lagi."


"Saya hanya ingin menumpang tidur semalam saja, saya tidur di ruang kerja saja tidak apa-apa."


"Ya masuklah, kamu tidur di ruang kerja saja." kataku kesal.


"Maaf sekali lagi pak ngerepotin, nasib saya memang sial, hanya orang baik yang mau menolong saya..hiks..hiks.."


"Berhentilah menangis Anna, aku antar ke ruang kerja. Jangan coba-coba mengambil apapun yang berada disini." kataku agak ragu, tapi aku percaya sama Anna.


Semua surat-surat berharga sudah tersimpan di filing cabinet dan terkunci rapat. Tidak mungkin Anna bisa mengambil, kunci tersimpan di tempat aman di kamarku.


Aku meninggalkan Anna sendirian disana, tidak lupa aku meletakan burger diatas meja.


"Makan burger ini kalau kau lapar dan minum ada di kulkas dinding." kataku menaruh burger di atas meja.


"Trimakasih bos." kata Anna menghapus air matanya.


Selesai mandi aku langsung rebahan pikiranku tidak tenang mengingat Anna tidur di ruang kerja. Aku turun dari ranjang membuka pintu kamar dan menuju ruang kerja. Aku kaget pintu ruang kerja terbuka lebar.


"Anna ada apa ini?" aku melihat Anna tidak sadarkan diri. Dengan pelan aku mengangkatnya dan membawanya ke kamarku.


"Anna sadarlah...." kataku sedih.


"Ohh..kepalaku sakit tadi di getok orang. Mereka berdua datang merampok, aku ketakutan."


"Siapa yang datang, aku tidak mendengar teriakanmu." kataku panik.


"Aku tidak sempat berteriak, penjahat itu aku lihat memaksa masuk." suara Anna lirih. Aku bersyukur Anna tidak di apa-apain dan dia selamat.

__ADS_1


****


__ADS_2