
Perutku sudah semakin besar, aku hari ini akan periksa ke klinik tempat aku bersalin. Aku juga akan memilih class kamar dan dokter. Yudha memaksa mengantarku, seharusnya dia bekerja tapi dia menunda pekerjaannya dan memilih pergi menemaniku ke Klinik.
"Sayank, bagaimana perasaanmu? aku sendiri merasa sangat bahagia. lagi sebulan kita sudah menimang bayi." kata Yudha memecahkan keheningan ketika aku berada di mobil. Aku hanya tersenyum manis. Otakku lagi fokus memikirkan orang-orang jahat yang bermulut manis di depan, tapi di belakang menikamku.
"Tidak terasa sudah lama kita bersatu, aku sangat senang, inilah bahagia yang sejati. Aku merasa di awan ketika tahu kau hamil. Waktu bibi meyakinkan kau hamil aku menangis dan sujud syukur. Tidak sia-sia aku bekerja selama ini." sambung Yudha lagi.
"Aku juga bahagia, kau harus bekerja halal untuk di warisi kepada anakmu." ucapku santai.
"Anak kita sayank, aku orang paling jujur di dalam pekerjaan." katanya tersenyum tipis.
"Jujur itu penting sepahit apapun masalah yang dipendam." sahutku.
Tidak terasa kami sampai di klinik sekitar jam sepuluh empat puluh lima menit. Ramai tentunya. Aku menunggu di area tunggu. Yudha mencari teman dokternya, aku sendiri duduk sambil melihat-lihat Instagram dan mencari pengacara handal.
Walaupun aku tidak punya bukti ketika berada di jurang bersama sopir, setidaknya ada saksi ibu kompyang dan suaminya. Aku terus mengingat kejadian demi kejadian yang pernah aku alami.
"Mau priksa nona?" suara lembut seorang wanita setengah baya menyapaku. Aku menoleh kesamping tersenyum ramah.
"Nama saya Luna, saya mau priksa, mbak sendiri mau priksa."
"Panggil mbak Swari saja. Saya disini sudah langganan. Rencana mau sewa rahim saja, saya sendiri sudah putus asa 15 tahun belum punya anak." ceritanya.
"Sabar mbak, semoga saja lancar." kataku tulus.
"Trimakasih. Betewe...suaminya kerja dimana?"
"Bisnis kecil-kecilan mbak, cukup uang dapur saja." jawabku malu, karena yang diomongin adalah suami Hanun bukan suami aku. Tidak ada rasa bangga, malah takut Yudha di kenal.
"Kalau suami mbak kerja dimana?"
"Dia pengacara, sibuk terus. Banyak menangani bule." jawab mbak Swari bangga. Akhirnya dia bercerita tentang suaminya yang banyak memenangkan kasus hukum.
Pucuk dicinta ulam tiba, aku langsung minta nomer ponselnya.
"Mbak kebetulan sekali, saya akan menghubungi bapaknya. Saya punya masalah yang perlu penanganan hukum. Tapi saya bingung karena tidak punya uang untuk menyewa pengacara apa mbak bisa merekomendasikan saya kepada bapak?"
"Gampang itu, kalau masalahnya goal kamu bisa memberi upah sesuai perjanjian. Lebih baik Luna bicara langsung dengan suami saya supaya lebih jelas. Saya sendiri tidak pernah ikut campur dengan pekerjaan bapak."
__ADS_1
"Apa mbak Swari punya bisnis sendiri?"
"Saya punya boutique. Jadi istri harus punya penghasilan sendiri,
"Nanti sampai di rumah saya calling mbak." kataku menerima kartu nama suaminya.
"Main ke boutique, saya kasi diskon."
"Kapan-kapan mbak, saya pasti kesana." kataku.
Aku permisi kepada mbak Swari saat Yudha datang mengajakku masuk. Seorang suster melayaniku, kami masuk ke ruangan dokter. Yudha duduk di kursi di depan meja dokter, aku sendiri bersama suster.
"Silahkan naik nyonya." kata suster membantu aku naik ke brankar.
Suster mulai mengukur tekanan darah, jantung dan dokter memeriksa lewat USG.
"Sayank, lihat detak jantung bayinya." bisik Yudha kegirangan.
Detak jantung normal, berat badannya juga normal. Bagus semua. Sedang asyik-asyiknya aku, Yudha dan dr. Alex membahas perkembangan bayi kami, tiba-tiba Hanun masuk. Dia kaget melihatku, aku dan Yudha juga kaget.
"Hanun ini klinik, kecilkan suaramu!!" bentak Yudha kesal.
"****** kau tidak tahu malu merebut suami orang, dasar babu!!"
"plokk....plokk." cepat sekali tangan Hanun menampar wajahku. Belum sempat aku berpikir dia menendang kursi yang aku dudukki. Setelah aku jatuh dia menjambak rambutku dengan kuat. Aku tidak bisa melawan, air mataku berderai menahan sakit dan malu. Aku berusaha keras melindungi perutku.
"Hanun!!" Yudha menampar istrinya dan menyeretnya kebelakang. Aku melihat sekilas Yudha dan satpam susah payah meladeni istrinya yang mengamuk. Caci maki di lontarkan kepadaku
Aku mengambil masker dan berlari keluar klinik untuk mencari ojek online. Untung ada Taxi, aku langsung stop dan naik ke Taxi. Yudha pasti sibuk menangani kebringasan istrinya. Aku tidak mau menjudge dan menyalahkan Hanun. Dia berhak sakit hati, marah kepada Yudha melihat suaminya membawa pacar yang sedang hamil.
"Maaf, saya antar kemana nyonya?" tanya sopir hati-hati melihat wajahku dan penampilanku sangat berantakan. Aku bingung menjawabnya, rasa tidak percaya kepada orang-orang terdekat menyelimuti hatiku.
Siapa yang harus di percaya, Yudha saja bisa bersekongkol dengan saudara papaku. Apalagi yang lain.
"Nyonya kemana saya harus antar?"
"Owh..maaf pak, ke Renon saja." jawabku ketika ingat mbak Swari. Aku menyebut alamatnya. Mungkin aku harus berdiskusi dengan pengacara.
__ADS_1
Taxi mengambil lajur kanan, aku berusaha menyisir rambutku dengan qjari tangan dan menggulung asal. Sekitar sepuluh menit Taxi sudah sampai di depan rumah mbak Swari.
Setelah membayar ongkos Taxi aku masuk dan memencet bell. Aku pikir rumahnya bakalan ada satpam yang di depan jaga. Pintu gerbang terbuka, seorang wanita tua tersenyum dari balik pingtu.
"Cari siapa?"
"Ada mbak Swari bu?" tanyaku sopan.
"Silahkan masuk, dia baru datang."
"Trimskasih bu." akhirnya aku masuk ke rumahnya. Halamannya luas dengan beraneka pohon bunga yang tumbuh rimbun. Rumahnya biasa saja, tapi besar gaya minimalis modern. Lebih condong mengambil struktur tembok dari batu alam.
"Waduhh...Luna mari masuk baru saja di omongin, panjang umur. Siapa yang mengantar kesini?"
"Taxi mbak, suami kerja." jawabku asal.
"Kenalkan ini suami saya." seorang laki-laki berumur srkitar 55 tahun tersenyum ramsh kepadaku.
"Saya Luna pak." kataku mencakupkan kedua tangan di dada.
"Panggil saya pak De saja." ucap psk Dedy Gunarsa ramah. Kami akhirnya duduk bertiga di ruang tamu.
"Maaf pak De dan mbak saya kesini untuk minta tolong memecahkan kasus saya. Selama ini saya nenahan diri untuk mencari pengacara, disamping belum ada uang, saya ragu memilih pengacara yang qualified. Istilahnya, saya takut dipermainkan."
Pak De tersenyum mengerti, mbak Swari bangun mengambil air mineral di kulkas tamu.
"Silahkan minum, air putih saja untuk ibu hamil."
"Trimakasih mbak." aku langsung minum, dari tadi haus sekali. Aku baru merasa lega ketika air itu membasahi kerongkonganku.
"Haus ya, udaranya panas sekali." kata mbak Swari menyodorkan tissue basah. Aku mengusap keringat yang berada di wajah.
"Luna, bapak sudah banyak menolong orang, ada yang dengan cuma-cuma ada juga yang membayar. Untuk kamu bapak akan pertimbangkan. Kapan ada uang baru bayar. Coba ceritakan dari awal permasalahan yang kamu alami, jujur, jangan ada yang dilewatkan."
Setelah merasa sreg memilih pak De untuk menjadi lawyer ku, barulah aku mulai bercerita panjang lebar.
****
__ADS_1