
Rasa syukur itu aku aplikasikan dengan membagikan kue ulang tahun dan minuman ringan kepada semua yang ada. Aku juga minta doa dari mereka supaya aku bisa melewati tahap demi tahap persoalan yang aku hadapi.
"Kalian harus tahu, tidak mudah bagiku untuk melakukan semua ini. Tuan Yudha adalah ayah dari anakku, yang akan menjadi tersangka gara-gara ulah dari saudara papaku." kataku kepada semua pembantu saat kami berkumpul di ruang keluarga. Yudha sendiri tidak ada disini karena dijemput oleh karyawannya. Dia pergi tergesa- gesa tanpa pamit. Aku tidak tahu ada urusan apa.
"Kalau kami boleh minta tolong kepada nona, pertimbangkan lagi tindakan nona. Kami kasihan kepada tuan Yudha dia baik dan sangat memperhatikan kesejahteraan anak buahnya. Kami tidak mengerti masalah hukum, bagi kami tuan pasti tidak bersalah mungkin saja nona Anna yang membuat tuan menjadi begini. Dulu tuan baik-baik saja." kata pak Komang sedih.
"Ya nona, kami benci dengan si Anna lebih baik nona secepatnya menikah dengan tuan." kata Heny disertai anggukan pembantu yang lain.
"Semoga tuan bebas dan bisa dengan mudah melewati semua masalah yang dihadapinya dengan baik." kata bibi pelan.
Aku mengerti kenapa mereka bersedih, dalam masalah ini semua pembantu menyalahkanku walaupun mereka tidak terang terangan mendongkel, tapi aku faham. Mungkin aku harus terus terang kepada pak Lukas, supaya pak lukas mengerti duduk persoalannya. Aku tidak begitu percaya dengan Dimas yang sangat membenci Yudha. Seandainya ada pak De tentu aku tidak begitu khawatir.
"Sudah mau malam saya ingin menyelesaikan tugas dulu. Sepertinya tuan juga sudah datang." kata bibi.
Kami bubar aku menggendong Dimas menyongsong Yudha yang baru datang Aku melihat wajah Yudha pucat dan lelah, tidak ada senyum dari bibirnya.
"Kau sudah datang? Mau makan?" tanyaku. Aku berusaha berdamai dalam hati dan bermanis ria dengannya.
"Aku sudah makan." katanya melewati aku dan Sean, lalu dia masuk ke kamar. Bau alkohol menyergap hidungku. Aku bingung apa yang terjadi? Aku buru- buru ke belakang.
"Heny, kau tidur di kamar bayi dengan Sean ya. Masih ada yang perlu aku jelaskan dengan tuan." kataku kepada Heny yang lagi duduk bersama bibi.
"Ya nona, kami akan menjaganya." kata bibi sambil mengambil Sean dari gendonganku.
Aku kembali masuk ke kamar untuk bertemu Yudha. Perasaanku tidak enak, ada rasa cemburu atau apapun itu namanya. Aku merasa tidak cocok punya pasangan hidup, setiap saat aku di goda oleh pikiran negatif tentang Yudha. Apakah aku over protektif?
"Yudha kau mau mandi?" tanyaku ketika dia kudapati membuka jas nya.
"Ohehh..ya. ." jawabnya gugup.
__ADS_1
"Aku akan membantumu untuk membuka kemejamu, siapa tahu jika kau masuk penjara ini adalah bantuan terakhirku." ketus suaraku. Darahku mendidih ketika melihat bekas lipstik di punggung bajunya dan ada merah- merah di lehernya.
"Jadi benar khan bahwa kau sangat menginginkan aku di penjara."
"Seratus persen benar." kataku menarik kemejanya dengan kasar sampai kancing bajunya lepas dan berantakan di lantai.
"Luna apa-apaan ini!" teriaknya dengan suara tinggi. Dia kaget atas perlakuan ku yang tiba-tiba marah.
"Bajingan kau!!" kataku mendorong tubuhnya, dan melempar kemejanya ke wajahnya.
"Kau kemasukan setan, tiba-tiba mengamuk. Bicara donk, kau sudah tua sudah punya anak. Orang yang belum punya anak saja lebih luwes dan dewasa."
"Jadi kau membandingkan aku dengan perempuan yang kau ajak bergumul tadi. Begitu maksudmu?!"
Tampak Yudha kaget, dia diam sesaat kemudian memelukku. Aku tidak peduli dengan tangannya yang sakit. Aku berontak dan mengamuk.
"Go to hell." kutukku keluar dari kamar Yudha. Tidak lupa aku membanting pintu, exstra dari kemarahanku.
"Ulang tahun persetan!!" teriakku serta mengambil champagne, aku melepas kertas timahnya, baru saja aku mau membuka lilitan kawatnya Yudha keburu datang meringkusku, merebut botol champagne itu mempertahankan gabusnya supaya tidak muncrat.
"Ini untuk kita minum berdua." katanya pongah, lalu meletakan minuman itu dengan baik.
"Lepaskan, aku benci padamu. Kau brengsek, jangan sekali-kali kau sentuh tubuhku, aku jijik denganmu." teriakku marah.
Yudha terpaksa melepaskanku karena rasa sakit, telapak tangannya kembali berdarah aku terdiam dengan nafas ngos-ngosan karena marah.
Dia duduk di sofa membuka perban yang membungkus telapak tangannya sambil meringis. Biasanya aku kasihan padanya, selalu mengasihinya, tapi kali ini aku TIDAK PEDULI!!.
"Apa wanita murahan yang kau gumuli tidak hati-hati sampai membiarkan tanganmu berdarah, atau kau terlalu bersemangat bergumul dengannya." kataku keluar dari ruang tamu. Aku kecewa dan sskit hati.
__ADS_1
Aku tidak mau ambil pusing dengan manusia itu, serta merta aku lari dan menyambar kunci mobil. Sakit hatiku, aku berlari menuju garasi dan masuk ke mobil Rubicon. Mobil kemudian keluar dari garasi.
Aku melihat dari kaca spion Yudha lari mengejarku sambil memberi kode supaya pak Komang menghalangi ku. Tapi aku tancap gas. Aku ngebut.
Mobil berlari dengan sangat kencang, air mataku mengalir menghalangi penglihatan. Aku memperlambat laju mobil, serta menghapus air mataku dengan ujung lengan baju.
Tiba-tiba aku kaget mendengar alrm bahaya dari mobil. Berarti ada yang mau menembak mobilku dalam jarak dekat. Perasaanku jadi tidak tenang,
Aku jadi bingung langsung menyalakan strobo. Mobilku melesat dan berusaha tetap di jalan utama. Aku bingung memilih, apa aku harus melanjutkan perjalanan, atau pulang ke pavillion, atau ke rumah Yudha.
Walaupun mobil anti peluru tetap saja aku takut. Aku memilih pulang ke rumah Yudha, karena ada putraku juga disitu. Lagi pula besok sudah mulai sidang perdana.
Mobil masih kencang berlari, jalanan memang ramai tapi aku memasang strobo, jadi bebas hambatan. Mataku melihat kelayar pantau yang ada di mobil, terlihat sebuah sepeda motor sport dari tadi mengejar mobilku.
Di lampu merah aku meninggalkan sepeda motor itu, aku yakin mereka berdua tidak berani menembakku di tempat ramai. Pikiranku melayang kepada saudara papaku, aku yakin mereka ingin membunuhku.
Sampai di rumah aku melihat dokter Alex keluar dari kamar Yudha. Ada bibi dan yang lainnya. Bibi berlari ke arahku sambil menangis.
"Syukurlah nona datang, tuan hampir bunuh diri." bisik bibi. Aku diam mematung. Dokter Alex mendekatiku sambil berkata.
"Aku minta sebagai temannya Yudha, tolong jaga Yudha, kau harus sabar, dia sangat stres."
"Maaf dokter, biarkan saja dokter, dia yang berulah. Selama setahun ini saya sudah sangat sabar." sahutku.
"Aku mengerti, sepertinya banyak musuh yang ingin mencelakai Yudha dalam artian supaya hubungan kalian berantakan."
"Itu alasannya saja dokter, kalau dia sudah tahu banyak musuh kenapa tetap mendekati musuh. Dasar manusia gatel, tidak setia, kerjanya selalu menuduh saya selingkuh padahal dia yang selalu selingkuh." kataku kesal.
Dokter Alex adalah orang luar tentu bicaranya terbatas dan akupun tidak obral kemarahan, aku akhirnya mau menengok Yudha di kamarnya setelah dipaksa.
__ADS_1
Setelah aku masuk kamar aku menjadi heran karena tempat tidurnya sudah diganti. Mungkin Yudha berharap supaya aku mau tidur di kamarnya.
****?