PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
GELOMBANG ASMARA


__ADS_3

Akhirnya aku di gelandang lagi ke kandang iblis. Aku semakin muak ketika melihat nyonya Hanun berada di beranda. Melihat kami datang dia langsung menamparku.


"Plaakk...plaakk..." aku terhuyung hampir jatuh karena nyonya menendangku juga. Untung tuan berada di belakangku dan menyangga tubuhku.


"Hanun, kurang ajar kau. Apa yang kau lakukan!!" bentak Yudha marah.


"Aku melakukan tugasku sebagai nyonya disini. Apa kau membelanya?"


"Aku membela yang lemah. Sebagai nyonya apa pantas kau ditiru?"


"Maksudmu apa? tumben kau mendikte aku. Jangan-jangan ada ****** di sekitarmu."


"Kalau aku ingin dari dulu aku bisa mencari selingkuhan. Aku masih sabar dengan tingkahmu yang tidak patut di tiru."


"Jadi kau baru tahu kalau aku bejat, begitu maksudmu. Semenjak babu ini disini aku merasa kau berubah, jangan-jangan kau doyan babu."


"Tutup mulutmu, pergi kau dari hadapanku."


"Ini rumahku juga. Jangan harap kau bisa mengusir aku seenaknya."


"Sabar-sabar, berantem terus, mandi semua sudah malam." suara bibi terdengar keras. Aku digandeng sama bibi pergi ke belakang.


"Kenapa nona kabur?" aku sudah tahu bibi akan bertanya begitu.


"Aku ingin bebas, pulang kerumahku. Kalau bibi tidak datang aku pasti sudah ketemu dengan temanku."


"Diam dulu untuk sementara, supaya nona tahu kejelasannya."


"Ke jelasan apa bibi?"


"Mandi dulu. Mulai sekarang kamu tidur di sebelah kamar bibi."


"Aku mandi bi." kataku masuk ke kamar


Aku menarik nafas panjang berusaha melepas beban di dada. Dalam sebuah keluarga ada saja masalah, jika tidak ada yang mengalah masalah itu akan menjadi besar dan berlarut-larut. Tampaknya tuan tidak berani atau sungkan menegur istrinya dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.


Selesai mandi aku malas ke dapur untuk bertemu dengan nyonya Hanun. Apalagi mereka sedang perang dingin. Lebih baik aku merebahkan diri, merangkai mimpi siapa tahu besok lusa aku bisa bebas.


"Ceklekk" suara pintu terbuka membuat aku membuka mata dan kaget melihat Yudha sudah masuk ke kamar.

__ADS_1


"Tidak makan?" tanyanya tanpa menolehku.


"Keluarlah, aku tidak ingin membuat masalah baru disini. Aku sudah cukup menderita atas ulahmu." sahutku sambil memskai masker dan menutup keoalaku.


"Makanlah, aku tidak ingin kamu mati kelaparan di rumahku."


"Aku disini sebatas babu, jadi mengertilah kalau kita ada batasan yang tidak boleh di langgar."


"Hemm...maksudnya apa ini. Kau ngapain ke kamar babu ini?" nyonya Hanun sudah berada di ambang pintu, dia menyeringai sinis memandang Yudha.


Kami berdua kaget melihat kehadiran nyonya Hanun. Aku cepat berdiri menunduk, dadaku berdebar merasa bersalah meladeni Yudha di kamarku.


"Aku harap kau mengerti posisimu sebagai babu, budak belian, jangan coba-coba ingin menjadi ratu."


Aku menelan ludahku untuk menenangkan pikiran yang berkecamuk ingin menyahut. Tidak hanya di sinetron saja, rupanya di kenyataan ada juga sifat wanita yang seperti iblis. Untuk menghentikan ocehan istrinya, Yudha menyeret istrinya supaya keluar. Tetap saja terdengar makiannya yang tidak pantas di keluarkan oleh seorang sosialita yang terhormat dan kaya raya.


Sangat lega rasanya setelah kedua iblis itu keluar dari kamarku. Rasa laparku tiba-tiba muncul. Perlahan aku keluar dari kamar menuju dapur. Terdengar ribut-ribut dirumah utama. Barangkali nyonya dan tuan sedang bertengkar. Biarlah...mereka cocok sama- sama pecundang.


"Bibi, aku bantu beresin. Bibi istirahat dah." kataku ketika melihat bibi duduk di meja makan.


"Sudah datang ya, baru bibi mau nyusul ke kamar, sini makan. Sayurnya masih banyak, tuan dan nyonya makannya dikit mungkin lagi marahan.'


"Apa mereka memarahimu?" tanya bibi mengambil piring makan untukku.


"Tuan tidak marah, nyonya yang memakiku. Aku sudah kebal dengan makiannya yang itu-itu saja. Aku rasa nyonya sakit jiwa, tidak mendapat kasih sayang dari kecil. Orang seperti nyonya tumbuh di keluarga broken home. Ayahnya selingkuh, ibunya melarikan diri mengejar laki-laki lain."


"Aahh nona, jangan berpikiran negatif kepada nyonya, aku jadi sedih." ucap bibi menunduk.


"Jangan dibawa ke hati omonganku, aku cuma becanda. Semoga saja tuan akur sama nyonya supaya saya bisa bebas."


"Tidak kenapa, mari kita makan." kata bibi.


Kami makan dalam diam. Bibi memang pintar masak, tapi makanannya tidak semewah kalau di rumahku. Malah boleh disebut sederhana. Aku tidak tahu seberapa kayanya keluarga ini, yang aku rasanya penampilan nyonya sangat up to date, barang branded semua.


"Bi aku tidur sama bibi ya, aku takut tuan datang. Disini ada nyonya, aku tidak ingin hal memalukan terjadi."


"Sempit nona, tuan tidak mungkin datang ke kamar nona."


"Semoga saja tuan waras tidak mengganggu ku. Aku ingin tidur nyenyak malam ini." kataku lirih. Benar-benar hari ini sangat melelahkan.

__ADS_1


Selesai beresin dapur aku dan bibi pergi ke kamar. Bibi memeriksa kamarku, aku tidak mengerti untuk apa bibi berbuat begitu. Seperti Intelijen saja, biba mondar mandir tidak karuan.


"Bi ada apa, untuk apa bibi membuka almari memeriksa semua yang ada disini. Apa bibi curiga padaku dan juga menuduhku mencuri disini."


"Bibi cuma mencari obat tidur yang tuan letakan disini, jangan sampai kamu yang menemukannya, siapa tahu kamu gelap mata dan meminumnya."


"Aku tidak segitunya bibi, kalau ada obat aku pasti kembaliin." kataku merebahkan badan ku di ranjang. Tanganku meraba sesuatu di bawah bantal. Benar saja ada empat biji tablet.


"Rupanya obatnya ngumpet disini. Aku minta satu bi, supaya cepat tidur." tanpa menunggu persetujuan bibi, aku sudah menelan satu obat.


"Heleeh.. diminum juga, sisanya berikan pada bibi."


"Trimakasih bi." kataku mengembalikan obat itu ke bibi. Aku berusaha memejamkan mata dan membiarkan bibi keluar sendiri. Badan ini meriang dan perasaanku tidak nenentu. Terlintas wajah Yudha yang ganteng di pikiranku. Ingin sekali aku memeluknya dan menciumnya habis.. aku sangat gemes....


Badanku semriwing, tidak tahu karena apa, dua kali aku pernah mengalami sakit begini. Napsuku menggelora tidak tertahan. Saat aku memerlukan sentuhan Yudha, laki- laki itu datang dan berdiri disisi tempat tidur. Aku tidak bisa mengendalikan diriku, serta merta menarik badan Yudha ke pelukanku.


"Aku sudah tidak tahan..." bisikku mesra. Pria itu tersenyum, dia memelukku perlahan ciuman mendarat mesra. Aku terbius oleh permainan Yudha, dia betul-betul membuat kelenjarku berdenyut. Kita lebur jadi satu dalam asmara yang menggelora. Ntah berapa kali aku terpekik di dalam puncak kenikmatan yang menggebu dan terakhir aku menyudahi.


"Kau tidak boleh pergi dari sisiku, kita saling membutuhkan. Aku puas bersamamu belum pernah aku mengalami nikmat seperti ini." kata Yudha sambil membersihkan tubuhku di kamar mandi.


"Aku berjanji tidak akan pergi." sahutku ringan. Yudha tahu omongan ku dipengaruhi oleh obat, jadi dia tidak begitu peduli.


"Aku jatuh cinta padamu." kataku mencumbunya kembali. Yudha dengan senang menyambut kebinalanku dibawah shower di kamar mandi.


Selesai mandi aku terkulai lemas di tempat tidur. Aku membiarkan Yudha mengecup bibirku kemudian dia pergi.


"Sampai ketemu besok." bisik Yudha lalu keluar dari kamar. Aku menggeliat letih berusaha menutup mata.


Antara sadar dan tidak aku nendengar pintu kamar di buka kasar, kakiku seolah ada yang menarik kasar. Aku sulit membuka mataku, lemas dan sangat mengantuk.


"Dasar perempuan ******, buka matamu." teriak nyonya sambil menampar wajahku yang terhalang bantal.


"Ngantuk nyonya." gumamku membuat nyonya tambah marah. Aku berusaha membuka mataku, dalam keremangan lampu kamarku


"Ada apa ribut-ribut, ini masih malam." bibi datang ke kamarku.


"Babu ini menyekap suami orang." teriak nyonya Hanun mau menamparku.


"Nyonya, tidak mungkin tuan disini, saya ada di sebelah. Lagian Luna dalam keadaan sakit, saya habis kasi obat." jelas bibi menghentikan tangan nyonya Hanun yang ingin memukul ku.

__ADS_1


*****


__ADS_2