PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
BISNIS ONLINE


__ADS_3

Air mata yang mengalir membuktikan bahwa aku dalam keadaan tidak baik. Bibi dan Heny cukup paham. Tanpa berkata Heny menggendong Sean yang tiba-tiba menangis, dan bibi membawa tas bayi mengikutiku keluar dari kamar bayi menuju garasi.


Yudha berdiri mematung melihat kepergianku. Aku menghapus air mata berusaha tegar. Pengusirannya ini akan aku ingat dan aku berjanji dia akan menyesali tindakannya.


"Hati-hati di jalan non... tenangkan diri dulu. Mungkin tuan lagi stress." kata bibi sendu.


"Trimakasih bi." aku memeluk bibi. Heny menyodorkan tissue basah untuk menghapus air mataku.


Aku akan kembali menuju pavillion. Tidak habis-habisnya penderitaan ini menghampiriku. Kenapa orang lain happy-happy saja sedangkan aku selalu menangis?


Apa aku tidak jodoh dengan Yudha atau ini kutukan dari Hanun karena aku berada di antara balada perkawinannya Seperti orang bilang perbuatan jahat akan mendapat karma buruk. Benar sekali. Kini aku mendapat karma buruk semenjak jatuh cinta dengan Yudha Harusnya aku pergi jauh tanpa peduli dengan Yudha.


"Nona, belanja bulanan keperluan Sean dan rumah tangga sudah harus beli." kata Heny membuyarkan lamunanku.


"Kita ke Mall Babys sekalian. Setelah itu baru ke toserba." kataku cepat. Aku lalu mengambil lajur kanan menuju kota.


"Nona, lupa membawa stroller. Terus gimana nona, Sean lagi bobo."


"Tidak apa-apa beli baru saja. Atau kita beli stroller dulu, perlengkapan yang lain belakangan."


"Siap nona, Sean sudah tidur."


Mobil melaju menuju pusat kota, aku memilih Mall yang tidak terlalu jauh, mengingat sebentar lagi maghrib. Selama aku bersama Yudha, aku tidak punya penghasilan dan semua biaya hidup Yudha yang menanggung. Dia memberikan aku black card. Kartu ini minimal saldonya 100 juta.


Walaupun uang yang ada di ATM miliaran aku tidak ingin berpoya-poya. Aku boros karena membeli kebutuhan anak. Sampai di toko stroller aku langsung memilih barangnya supaya cepat selesai. Tapi lacur, Black card yang aku banggakan di blokir oleh Yudha.


"Maaf nyonya, ATM di blokir, nyonya bisa hubungi call center bank, atau menggunakan CS Digital." kata kasir toko mengembalikan kartu ATM ku.

__ADS_1


"Tidak usah pak, maaf saya tidak jadi beli." kataku menahan malu. Terlihat penjualnya kecewa.


"Heny kita ke mobil, tuan memblokir ATM nya. Mulai sekarang kita harus irit." kataku sedih memandang Sean yang sedang tertidur.


"Jangan khawatir nyonya kalau untuk makan tabungan saya banyak, itu dulu dipakai."


"Trimakasih Heny, aku akan meminjam untuk beli susu."


"Ya nona, jangan sungkan."


Masih ada orang baik disaat aku tidak punya uang. Habis belanja susu, kami langsung ke pavillion.


Langit memerah di ufuk barat sebentar lagi lembayung senja akan berubah menjadi gelap. Aku merasa sedih dan hampa. Dengan perasaan hancur dan kecewa aku memacu mobil sampai di parkiran ibu Swari.


Aku menutup mobil dengan cover otomatis. Mungkin aku tidak akan naik mobil dalam waktu lama karena bensin naik dan uang tidak ada. Cukup naik ojol kalau mau keluar. bathinku.


Ini terakhir!! aku nekad akan menjauh darinya. Aku mengingat satu persatu perlakuan Yudha yang membuat aku semakin ingin putus hubungan dengan manusia itu.


Jika aku kebetulan bertemu dengannya aku akan sekedar menyapa. Sakit hatiku tidak terkira. Tahu begitu aku tidak mau mencari pak Lukas, biar saja dia di penjara sampai membusuk.


Tapi kalau dia di penjara kasihan Sean, jiwanya akan labil setelah dia besar. Jika dia tahu kalau papanya pernah di penjara pasti dia akan terguncang.


Hari terus berganti, sekarang hampir sebulan aku sudah pergi dari rumah Yudha. Kini aku tahap mencari jati diri. Melupakan Yudha sangat sulit, tapi itu harus dilakukan. Hidup sendiri rupanya lebih nyaman walaupun cuma makan sepotong roti.


Tanpa bantuan keuangan dari Yudha membuat aku lebih tegar menjalani hidup ini. Sekarang aku bisnis online kecil-kecilan supaya bisa makan. Aku iseng membuat parcel dan aku upload di Instagram, ternyata animo publik lumayan besar. Kebetulan masyarakat disini sering mempergunakan parcel sebagai hantaran setiap hari raya. jadi hampir setiap hari ada pemasukan.


Persidangan sudah mulai, Yudha masih menjadi saksi, belum naik menjadi tersangka. Sepanjang persidangan Dimas hampir tidak pernah datang lagi kesini, aku tidak tahu kenapa, apa karena pak Lukas. Aku juga merasa lebih nyaman tanpa adanya Dimas.

__ADS_1


Aku tidak peduli dengan semua itu. Yudha juga tidak berusaha datang dia mencoba mendekatiku lewat pak Antonius sebagai pengacaranya. Dia minta supaya aku mencabut gugatanku Jika bisa, dari dulu aku sudah lakukan, aku tidak mengerti caranya.


"Nona Luna sebagai seorang ibu dari putranya Yudha, dan sekaligus orang terdekat tuan Yudha, saya mewakili tuan memohon dengan sangat supaya nona sudi mencabut gugatan ini." kata pak Antonius tempo hari.


"Aku sudah mendekati pak Lukas dan minta supaya merubah isi BAP kata pak Lukas tidak bisa. Nanti mungkin ada peninjauan kembali saat Yudha banding ke Makamah Agung."


"Aku mengerti itu, maksudnya supaya tuan Yudha tidak menjadi tahanan di Polda. Nona harus mengerti bahwa tuan Yudha adalah pembisnis besar dan sangat terganggu dengan masalah ini."


"Tuan Antonius, aku sangat mengerti Yudha itu siapa. Jadi katakan kepada client anda, jangan cepat emosi dan hati-hati dalam berbisnis. Jika dia punya hati nurani dan mengembalikan hak saya dengan sportif masalahnya akan berbeda."


"Nona Luna kebaikan tuan Yudha sudah banyak, dia mengangkat nona dari keterpurukan."


"Wow...jadi, pikiran tuan Yudha begitu? Jadi saya harus membalas budinya. Oke, saya akan lakukan." kataku dengan mata berkabut. Aku menahan supaya air mataku tidak jatuh. Aku juga cepat emosi semenjak pulang dari LA.


Itulah perbincanganku dengan bapak Antonius. Mungkin dengan menjadi istri pak Lukas bisa membebaskan Yudha. Bathinku.


Biasanya sebelum diadili Yudha akan mendekam di sel Polda. Inilah yang dia takutin, karena banyak awak media yang akan meliput. Mungkin dia takut nama baiknya tercemar. Bukankah dia bisa memakai uang jaminan supaya tidak ditahan dan patuhi larangan tidak bepergian keluar kota? Yang membuat aku senang ke tujuh saudara papa sudah ditahan.


"Nona akan ke polisi hari ini?" tanya Heny sambil menggendong Sean.


"Ya Heny, aku agak pagian pergi, takut macet.Disamping itu supaya bisa mengantar parcel ke rumah sakit. Kalau Joy datang membawa keranjang parcel tolong terima dan susun di ruang keluarga."


"Siap Nona." sahutnya. Heny cepat mengerti dan sigap bekerja. Dia bukan saja sebagai baby sitter dia juga sering memberi nasehat jika aku berkeluh kesah dengannya.


Beginilah aku setiap hari, membeli bahan parcel yang sudah di request oleh pelanggan, dan mengantarkannya sampai di tempat dengan mobil kalau partai besar, tapi bila satu atau dua parcel aku cukup memakai ojek online.


Selesai mengantar parcel aku langsung ke pengadilan. Aku memakai outfit of the day yang sopan dan elegan. Cantik, sexy tentu saja, apalagi sekarang aku semakin langsing karena jarang ngemil irit uang jajan. Setiap hari ngemil buah dengan cara beli buah yang reject.

__ADS_1


****


__ADS_2