PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
BERTEMU DHEVALEE.


__ADS_3

Nyonya Hanun naik ke mobil, untung dia memakai mobil Mini Cooper, jadi bisa main seruduk. Bibi mengajak Luna ke kamar dan mengganti baju.


"Tenanglah nona, kamu lewat saja jalan belakang, tinggal naik Taxi ke rumah teman." kata bibi membantu Luna memakai daster.


"Baiklah bi."


"Suruh antar sampai di rumah teman. Ingat masker wajah dan topi. Rambut ikat saja supaya tidak gerah."


"Cepatlah keburu nyonya datang. Ini uang lima ratus ribu, bawa saja."


"Ya bibi, kenapa bibi baik kepadaku?" tanyaku ingin tahu.


"Astaga, cepat sedikit nanti bibi cerita. Jangan lupa kasi khabar."


"Trimakasih bi..,." kataku lari ke belakang. Dadaku berdebar ketakutan ketika keluar dari rumah Yudha. Aku cepat memanggil gojek yang sedang mangkal dibawah pohon chery.


"Bang gojek antar sampai Kuta."


"Baik mbak silahkan naik."


Aku sengaja memilih parkiran Kuta untuk transit, setelah itu aku mencari mobil Taxi menuju rumah Dhevalee. Perjalanan ini tidak memakan waktu lama, sekitar sepuluh menit aku sudah sampai di depan rumahnya. Disini one gate, jadi scuritynya di depan doang. Setelah membayar gojek aku memencet bell beberapa kali.


"Siapa?" seorang wanita melongok dari pintu depan. Aku tersenyum karena sudah kenal dengan bibi gendut.


"Bi..buka pintunya aku Luna."


"Ahh?? nanti dulu..." bibi langsung ngacir ke belakang. Lama juga aku menunggunya. Melihatku dia langsung lenyap, bibi gendut memang suka becanda.


Akhirnya pintu gerbang terbuka, orangnya tidak ada. Aku tahu ini pintu otomatis, aku yakin Dhevalee berada di control CCTV dan mengawasi aku.


"Dhe...jangan nongkrong di CCTV keluar kau apa kau tidak kangen sama aku." teriakku. Setelah menunggu lama pintu gerbang baru dibuka.


"Luna, apakah itu kau, atau hantu?" Dhevalee keluar bersama bibi. Aku membuka masker dan topi. Rambutku yang belum rapi aku ikat karet gelang.


"Aku hantu kuyang mau gigit kau." kataku menyeruak masuk. Lega rasanya bisa bertemu Dhevalee.


"Apa kau tidak ingin memelukku Dheva." kataku menatapnya. Dia tampak ragu-ragu.


"Tidak, aku belum yakin ini kau...." jawabnya takut-takut. Aku melangkah keruang tamu dan duduk di sofa.


"Jangan ada yang tahu kalau aku datang, aku ingin ketemu Valeria juga. Aku kangen sama kalian. Kalian enak-enak di rumah, tapi aku menderita hampir mati."


"Kau tetap bengong Dheva, gak ada niatan ngasi aku minum atau makan." kataku berdiri. Bibi gendut mundur dan mengambil sebotol air mineral.

__ADS_1


"Minumlah nona."


"Trimakasih bi aku haus sekali. Diluar sangat panas."


"Aku tahu ini kau Lun.." Dheva memelukku tidak bisa aku lukiskan dengsn kata-kata betapa terharunya hatiku saat ini bisa bertemu dengan teman sejatiku. aku tidak tahan menahan tangis.


"Dheva, aku hampir mati ...." hanya kata itu yang terucap saat aku membiarkan air mata ini tumpah ruah. Kami menangis bersama.


"Aku mencarimu siang malam dan mengira kamu sudah mati, karena ada jazad wanita di mobilmu yang terbakar. Sebagian rumah mu dan garase terbakar. Ke tiga mobilmu juga terbakar. Ada jazad di salah satu mobil mu."


"Apa Polisi datang?" tanyaku menatap Dhevalee yang semakin cantik.


"Ada Polisi tapi aku tidak tahu sampai dimana urusannya, karena sudah ada saudara bapakmu yang menangani. Aku saja hampir bertengkar dengan mereka karena aku menyuruh menyelidiki kajadian itu. Public percaya bshwa yang meninggal itu kau, sudah menjadi abu juga."


"Aku kangen sama Valeria.." ucapku lirih menghapus air mata.


"Ceritalah apa yang terjadi, tapi sebelumnya makan dulu." kata Dhevalee menyodorkan tissue basah, ini pertemuan yang sangat aku nantikan. Tidak menyangka bisa lepas. Aku bersyukur kepada Tuhan telah dimudahkan jalanku.


"Nona Lun, aku sedih melihatmu. Beda sekali nona sekarang, kelihatan sangat pucat." bibi gendut ikut menangis dan mengomentari penampilanku yang lusuh.


"Bibi, biarkan luna bercerita." ucap Dhevalee mengelus rambutku.


"Penampilanku ini sudah mendingan, dulu aku seperti gelandangan, sangat kurus karena kurang makan."


"Aku bisa kesini atas kebaikan bibi yang memberikan uang. Aku tidak mengatakan bahwa Ibu Kompyang yang pertama kali memungutku di jurang, adalah jahat. Mereka suami istri yang baik, tidak ada salahnya dia menjualku seharga dua juta rupiah, karena dia berani berutang untuk mengurusku. Jika dia ingin untung mungkin dia hargai aku lebih mahal."


"Benar juga, bersyukur kamu selamat Lun, aku yakin ini pasti rekayasa keluarga papamu. Tapi sebelum kita lanjut bercerita kamu harus aku ungsikan dari sini." kata Devalee berdiri.


"Kemana kita?" tanyaku ikut berdiri.


"Kau akan menghuni suite room di hotelku."


"Aku tidak mau Dheva, itu terlalu mahal." protesku.


"Bagaimana kalau di hotelmu sendiri atau di Villa. Kau boleh pilih yang teraman."


"Aku ingin bertemu Valeria dulu, setelah itu baru aku pikirkan."


"Bibi, siapapun yang datang jangan di bukakan pintu. Aku tidak akan pulang hari ini. Jangan juga menelponku." pesan Dhevalee kepada bibi gendut.


"Ya Non...hati-hati di jalan."


Aku dan Dhevalee sangat hati-hati keluar dari rumah. Kami naik Fortuner. Sebelum ke tujuan Dhevalee sengaja mutar-mutar dulu di Kuta, untuk mengelabui jika ada yang mengikuti.

__ADS_1


Pemandangan sehabis Corona cukup memilukan. Banyak toko yang masih tutup. Tapi sudah terlihat satu dua bule di jalanan. Sekarang baru terbukti mana pembinis yang kuat dan tidak. Padahal belum ada lima bulan aku menghilang, sudah terasa lama banget.


"Rumah Valeria bukannya di daerah Green Flower, kenapa malah kesini." tanyaku. Aku mengingatkan Dhevalee siapa tahu dia kelewat karena melamun.


"Dia sudah pindah." jawab Dheva pendek.


Kami memasuki kawasan perumahan Bougenvil yang tidak jauh dari pantai Sanur. Masuk kesini juga sangat ketat dan yang menjaga dua orang scurity berbadan tegap. Orang tua Valeria adalah orang Perancis menikah dengan orang Indonesia, pemilik beberapa Club mewah.


Setelah tahu Dhevalee yang datang kami dikasi masuk. Aku menarik nafas saat menginjakan kaki di rumput hijau buatan. Biasalah rumah orang kaya pasti mewah, rumahnya bergaya Mediterania.


"Mari kita masuk." kata Dhevalee menggandeng tanganku. Kami disambut oleh bibi dan mamanya Valeria.


"Luna, ini kau?" tanyanya dalam bahasa Inggris. Kami selalu memakai bahasa Inggris Dia sangat kaget melihatku, sama seperti Dhevalee pertama kali.


"Tante Dessire aku juga pertama kaget melihatnya, ini adalah keajaiban Tuhan. Doa kita telah di kabulkan. Luna bisa kembali dengan selamat." kata Dhevalee menyuruh aku duduk. Kami duduk di ruang keluarga.


"Valeria mana tante?"


"Ada di kamar, nanti setelah bangun pasti dia keluar." kata tante Dessire datar. Aku melihat wajahnya muram.


"Ceritakanlah kejadian yang sebenarnya, kenapa kamu bisa lusuh begini. Rambutmu juga tidak tertata rapi. Tante semakin yakin bahwa dugaan Valeria benar adanya. Dia mengatakan kamu menjadi korban pembunuhan."


"Tadi Luna sudah bercerita panjang lebar, ini aku rekam, tante dengarkan di laptop."


"Kamu jenius Dheva." kata tante Dessire mengambil laptop.


"Tante akan dengarkan, kalian makan dulu. Habis makan kalian boleh temuin Valeria."


"Ya Tante, trimakasih."


Aku dan Dhevalee makan bersama, kami banyak diam. Belum beberapa suap aku sudah muntah.


"Luna, aku yakin kamu hamil. Orang itu harus bisa bertanggung jawab. Enak saja dia niduri kamu tanpa mau dihalalin."


"Aku tidak ingin bertemu dengan manusia itu. Jika aku benar mengandung anaknya, aku lebih baik memberi pelajaran dengan cara menjauhkan dia dengan anaknya."


"Nanti kamu kena sanksi sosial, ribet Lun. Kasi anakmu figur seorang ayah."


"Tidak, aku ingin single parent." jawabku mantap. Dhevalee mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.


"Up to you."


*****

__ADS_1


DHEVALE


__ADS_2