
Langkahku gontai. Aku tidak bisa mengekspresikan perasaanku saat ini. Gara-gara kehadiran Yudha aku jadi galau. Pria itu seenaknya menciumku, sampai aku sempat terbawa arus. Kesal sekali kalau ingat itu. Harusnya aku tampar wajahnya atau aku tendang lututnya, tapi semua itu aku tidak lakukan. Malu kalau Yudha tahu bahwa aku masih membutuhkannya.
Di depan mataku dia dipeluk dan di kecup oleh Anna, aku tahu tidak mungkin cewek seberani, itu kecuali sudah pernah diajak tidur. Mungkin selama ini Anna menjadi gula-gula Yudha. Kesel jadinya kalau membayangi itu.
"Nona saya duluan." kata Putri dan yang lainnya sambil melambaikan tangan. Aku juga melambaikan tangan.
"Hati-hati di jalan." kataku naik ke mobil. Semua sudah pulang, tinggal aku saja. Mobil ini terlalu kecil bagiku harusnya aku minta mobil yang dibawa Yudha. Rubicon itu mobilku hadiah dari tante Dessire.
Aku menoleh ke jendela mobil ketika merasa ada yang mengetuk pintu dengan kasar. Kaget, rupanya Anna dan sopirnya. Segera aku membuka pintu mobil.
"Turun kau brengsekk!!" Anna langsung menyambutku dengan bentakan kasar. Ada apa lagi, aku yakin ini sekitar rasa cemburu.
"Bicara yang sopan, kau tidak tahu berhadapan dengan siapa?"
"Hahaha...aku berhadapan dengan wanita busuk yang mencoba menggoda calon suamiku." katanya
lantang.
Aku melihat kesekitar, tidak ada orang kecuali sopir yang mengantarnya. Jika aku menamparnya terekam cctv.
"Apakah tidak sebaliknya, suamiku yang kau rayu setiap saat, tapi maaf rayuanmu tidak mempan. Karena dia cuma mencintai aku." kataku tetap tenang. Dia terdiam dan menatapku lama.
"Siapa kau!!" pekiknya marah.
"Ibu dari putranya Yudha!!" kataku tegas. Dia tampak kaget.
"Tidak mungkin karena Yudha...." Anna menggantung omongannya. Berarti Yudha pernah mencoba dengan ****** ini, tapi pusakanya off. Kasihan banget.
"Apa kau inginkan dari suamiku, harta?" tanyaku sinis. Aku seolah berada di awan. Aku merasa menang, tapi jauh di lubuk hatiku kecemburuanku meledak. Aku membayangkan Yudha memeluk dan melakukan adegan maksiat dengan Anna.
"Rebutlah dia kalau kau bisa!!" sambungku dengan suara tinggi. Kemudian aku naik ke mobil. Aku tidak mau emosiku terpancing dan memukul nya. Sopirnya merekam semua kejadian itu. mengambil gambar kami yang sedang bertengkar.
"Aku tidak peduli kau siapa, Yudha akan menjadi milikku. Kau tahu di perutku juga ada anaknya Yudha." katanya menonjolkan perutnya. Ohh... Aku hampir menamparnya, tapi aku tahan. Omong kosong apa ini.
"Buktikan dengan tes DNA." kataku sarkas. Aku menyembunyikan marahku dan berusaha menyimpan sakit hati, benar atau tidak omongannya aku tetap dibakar cemburu.
__ADS_1
Tanpa peduli makiannya aku naik ke mobil. Peduli setan!! Gerutuku kesal. Dari kaca spion aku melihat Anna naik ke mobil. Mungkin mereka ingin mengejar mobilku. Aku memacu mobil tambah cepat, bukan karena Anna mengikuti, tapi karena aku takut Yudha mengambil anakku.
Pukul 17.35 wita. Aku baru sampai di rumah. Lega hatiku melihat sopir Anna tidak bisa mengejar mobilku. Ternyata mobil Yudha tidak ada di tempat parkir. Disini tempat parkir luas sekali karena di belakang rumah banyak kamar kost, memang sengaja di buatin tempat parkir mobil dan khusus sepeda motor.
Lampu rumah di rumah ibu sudah menyala, masih terlihat banyak tamu, apalagi pak De sudah pulih dari sakit, walaupun masih dalam pengawasan dokter dan perlindungan polisi.
Aku bergegas menuju pavillion. Rasa khawatir tidak bertemu dengan bayiku sirna sudah. Baby sitterku berada di lobby menyambutku. Sean merengek ketika melihatku. Aku langsung menggendongnya.
"Oh permata hatiku, jantung hatiku... mama kangen...." aku memeluk buah hatiku dengan haru. Gemes banget.
"Heny, apa ada tamu yang datang?" tanyaku menatap Heny baby sitterku.
"Tidak ada nona, bahkan tuan Dimas juga tidak datang. Ibu memang lagi sibuk, banyak tamu dari luar kota." kata Heny heran, karena aku tumben menanyakan tamu yang datang. Biasa nya aku acuh. Disini berderet kamar kost, ada 100 kamar dan pavillion ada dua. Apartement ada 10 unit. Ramai, tapi pengaturannya bagus tidak saling berhadapan.
"Aku mau mandi dulu, kalau sudah sepi kita akan menengok pak De." kataku menyerahkan Sean.
"Ya bu, tapi ibu makan dulu. Bibi tadi membawakan rantangan dari ibu Swari."
Kalau mengikuti perasaan ingin sekali aku beristirahat, tidur seharian. Serta melupakan apa yang terjadi. Hari ini badanku betul-betul lelah. Aku banyak masalah. Kemarin bapak berpesan, supaya hari ini aku datang.
"Mau kemana, jangan bilang kau akan ke rumah ibu. Dari pagi banyak client dan tamu, jadi tolong mengerti, jangan lagi mengganggu pak De." suara itu keluar dari mulut Dimas yang datang dari rumah pak De.
"Kemarin pak De ......"
"Pak De tidak menyangka hari ini banyak orang datang, jika kau memaksa kesana berarti kau tidak punya otak." potong Dimas.
"Aku akan menghubungi ibu, bahwa aku tidak jadi datang."
"Tidak usah kau hubungi, ibu dan bapak pasti tidak enak dan akan menyuruh kau datang."
"Ya sudah kalau begitu." sahut ku tidak enak hati.
"Kau merebut calon suami orang?" tanya Dimas. Pertama aku tidak mau menanggapi omongannya, aku berlalu dan duduk di ruang tamu. Tapi dia terus mengikutiku dan ikut duduk di sofa. Matanya menatapku minta jawaban.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu." kataku malas. Dia membuka ponselnya dan menunjukan insta story instagram Anna, aku melihat Anna berteriak kalap kepadaku dan mencaci maki dengan sebutan pelakor. Hahaha....komentar berhamburan menyalahkan prlakor.
__ADS_1
Aku tidak terpengaruh, tidak ada orang akan mengenalku selain ibu, pak De, Dimas, Yudha dan baby sitterku.
"Kenapa emangnya? aku tidak merasa melakukan sesuatu." kataku tenang.
"Bullshits!! Tidak ada api kalau tidak ada asap. Jadilah orang baik dan jujur jika ingin di senangi orang."
"Apa yang harus dibicarakan, kenal saja tidak dengan orang itu. Melihat dari penampilan wanita ini, jangan-jangan dia yang pelakor."
"Aku kenal dengan Anna, cantik, agak liberal sih, tapi dia paling anti sama suami orang. Memang kehidupannya suka-suka, untuk ngerebut cowok orang dia pantang."
"Apa dia bekas pacarmu yang dia tendang?"
"Aku yang menendangnya."
"Hahaha...katamu cewek baik, ngapain ditendang? Apa dia tidak ningrat dan tidak level denganmu?"
"Itu salah satunya, dia bekas salome, aku cari yang vrigin. Ningrat, punya atittude, dari keluarga berada.
"Hahaha...cewek vrigin tidak mau denganmu, kamu cocoknya nenek- nenek bangkotan." ledekku.
"Jangan menghina, mulutku bisa lebih sadis kalau menghinamu." semburnya kesal. Aku tambah tertawa melihat orang sombong seperti dia marah.
"Supaya kau tahu bahwa aku tidak pernah terpengarùh oleh hinaan atau orang-orang yang julid padaku."
"Jelaslah karena derajatmu rendah dan biasa bergaul dengan orang kampung."
Astaga!! sombongnya orang ini. Aku dari dulu tidak pernah respek dengan Dimas. Orangnya memang ganteng, tunggangannya Fortuner terbaru, dia dari keluarga ningrat, mantap banget. Sayang aku tidak tergiur.
"Maaf Dimas aku mau istirahat, jika kau mau pulang silahkan." kataku cepat berdiri.
"Kau mengusirku? jangan-jangan tuduhan Anna benar. Kau adalah pelakor kelas teri." Yudha juga berdiri.
"Kau tahu pintu keluar??"
"Tidakk, aku hanya tahu pintu masuk!" kata Yudha pergi.
__ADS_1
*****