
Hari begitu cepat berlalu, aku merasa sangat sunyi jika Yudha meninggalkan aku bekerja. Sebenarnya aku malu jika semua orang, atau pembantu di rumah, sering menggunjingkan aku, mereka bergosip dan mengatakan aku adalah selingkuhan Yudha. Mereka tidak salah tapi aku merasa malu dan hina.
Tanpa bisa menolak hasratku saat ini dan ntah sampai kapan, aku menuruti kata hatiku dan perintah Yudha. Siapa yang di untungkan? akupun tidak tahu dan tidak pefuli, karena perasaan cintaku telah menutup mata hatiku tentang penderitaan istri pertama.
Sering aku mendengar atau membaca sakit hatinya istri pertama ketika di selingkuhi. Dan umum akan mengutuk pelakor tanpa tahu latar belakang kenapa menjadi pelakor.
Tentu saja perasaanku maju mundur, kadang senang kalau sedang berada di pelukan Yudha, kadang sedih ketika ingat nasib menjadi pelakor. Begitu seterusnya.
Semenjak ada Yudha nomor ponselku diganti, aku merasa terisolasi. Tante Dessire dan Dhevalee tidak pernah lagi menelponku. Begitu juga Dirga, mereka srolah lenyap. Sungguh bingung hidup dengan Yudha, serba di larang.
Sebulan tanpa aktivitas membuat aku senewen. Ingin sekali aku keluar rumah sekedar putar-putar keliling kota, atau ke pantai melihat sunset atau sun rise. Akhirnya aku turun, bibi langsung menyapaku dengan sopan.
"Nona mau kemana?"
"Aku mau keluar, bosen aku di kurung." jawabku cemberut.
"Tidak boleh nyonya, tuan akan marah pada kami kalau terjadi masalah."
"Aku ingin ke salon creambath, ini juga tidak boleh...." ketus suaraku.
"Nona silahkan tunggu di atas, dua puluh menit lagi orang salon akan datang." kata bibi tetap sopan.
Matilah aku. Tidak kusangka bibi pintar bagaimana caranya aku keluar.
"Bibi aku ngidam muter-muter, aku bosan di rumah."
"Nona ini ada telpon dari tuan." kata bibi menyodorkan ponselnya. Aku mengambil ponsel bibi dengan mangkel.
"Hallo...."
"Tunggu aku satank kita akan keliling muter-muter." suara Yudha terdengar mesra.
"Aku maunya sendiri, aku ingin bebas. Sudah sebulan aku terkurung disini."
"Tidak boleh, musuhmu sedang mengintaimu dan Dirga mencarimu seperti orang gila. Sabarlah."
Karena aku diam akhir nya Yudha vidio call dan mengatakan dia akan pulang cepat. Tidak tahu apakah aku senang, karena perasaanku terasa hampa.
Akhirnya aku naik ke atas, aku berjala melintasi koridor dan seyiap kamar aku buka. Tapi semua terkunci termasuk bekas kamar Dhevalee. Tiba-tiba aku di kagetkan oleh suara orang berlarian. Ketika aku menoleh, dua orang polisi yang berjaga di bawah telah berada di depanku dan mereka memegang tanganku.
"Maaf nona cepat masuk ke kamar nanti ada orang yang melihat nona."
__ADS_1
"Aduhhh...padahal aku cuma keliling sebentar tidak mungkin ada yang melihat." kataku geram.
"Tuan memarahi saya nona."
"Tuan tidak ada, kalian keterlaluan."
"Maaf nona saya terpaksa membawa nona ke kamar." katanya.
Pasrah!! akupun kembali ke kamar dengan lelah. Rasanya jarum jam lama sekali berputar, aku jenuh tidak punya aktivitas. Setelah tidur bangun, tidur bangun akupun mandi, sudah mau magrib. Selesai mandi aku berdandan untuk mengajak Yudha pergi.
Aku duduk di balkon sambil berkhayal, tempo hari Yudha pernah berkata bahwa rumah ini sudah dia beli dari tante. Jadi tante dan om tidak mungkin datang. Apa mungkin? tante tidak senang sama Yudha.
Suara pintu dibuka membuat aku menoleh. Rupanya Yudha datang. Aku berdiri menyongsongnya dan dia menghampiriku dengan tangan terbuka lebar.
"Aku merindukanmu sayank." katanya memeluk dan mencium keningku.
"Apa kita jadi muter-muter?" tanyaku manja.
"Jadi donk, tapi kita tidak usah turun dari mobil, kita keliling melihat keramaian."
Aku tersenyum senang seketika aku mencium pipinya. Yudha membalas dengan melabuhkan bibirnya dengan lembut. Aku membalas ciumannya. Kami saling berpagutan ketika suara ponsel Yudha mengusik kami.
Yudha mengambil ponselnya dan melihat di layar, vidio call dari istrinya. Aku cepat menghindar dan Yudha menuju balkon.
"Sayank, kita mendapat undangan dari pak Randu, anaknya menikah."
Deeggg! aku kaget ketika nyonya Hanun menyebut pak Randu. Itu paman jahatku. Dengan seksama aku terus mencuri dengar.
"Kapan dia mengundang kita, koq dia tidak memberitahu aku, padahal tadi ketemu waktu rapat." kata Yudha selanjutnya.
"Aku tidak tahu, surat undangannya Dewi yang mengantar ke rumah, kita harus datang. Bukankah asetnya dia sudah serahkan semua. Betewe.. sayank kamu ada dimana?"
"Di rumah teman."
"Aku tidak percaya, coba lihat dimana itu. Aku curiga."
"Hanun hubungan kita sudah putus, aku bebas mau berada dimana dan dengan siapa."
"Aku tidak mau cerai, aku mau bunuh diri dan menulis surat terbuka tentang dirimu yang letoy." ancam Hanun.
"Hanun berhentilah bertingkah, cintaku sudah punah terhadapmu." kata
__ADS_1
Aku melihat Yudha menutup ponselnya kemudian menaruh di nakas. Dadaku bergetar tidak karuan mendengar percakapan Yudha dengan istrinya tentang paman Randu.
Siapakah Yudha ini? bathinku mulai curiga. Kenapa dia dekat dengan paman Randu, bahkan rapat dengan paman. Seingatku paman tidak punya bisnis besar.
"Sayank, aku mandi dulu. Tunggu ya." kata Yudha tanpa ekspresi. Dia menuju kamar mandi. Aku mengangguk lalu duduk di depan meja rias.
Aku belum bisa menyimpulkan kenapa Yudha tidak bercerita bahwa dia dekat dengan saudara papaku. "ting" notif dari ponsel Yudha berbunyi, aku iseng mengambil ponsel Yudha, membaca chat di layar depan.
- Malam bos, maaf baru bisa sms. Saya mau undang bos sabtu depan, anak saya diambil oleh keluarga pak Samuel, tolong sempatin datang. Trimakasih bos- tulis paman Randu.
- mengenai aset Luna yang bos ambil dari kami tolong realisasinya-
-Trimakasih bos- tulis paman Randu.
Aku cepat menghapus sms dari paman Randu, aku tidak ingin Yudha tahu ada sms dari paman. Aku berdiri dan pindah duduk di sofa. Hatiku tidak karuan setelah tahu bahwa Yudha menikam ku dari belakang. Dia bersekongkol dengan semua saudara papaku untuk menguasai hartaku.
"Sayank...jadi pergi?" Yudha sudah rapi keluar dari kamar mandi. Pria ini sangat ganteng dan menawan hati. Semakin aku dekat dengannya, aku semakin mabuk kepayang.
"Jadi donk, kapan lagi kita bisa menipu orang. Mumpung masih muda. Kaya itu nomer satu, biarkan orang lain mati yang penting kau hidup." sindir ku sambil tertawa kecil.
Tidak aku sangka pria yang aku cintai ini ternyata musuh dalam selimut. Seperti ular pithon yang mengukur tubuh tuannya setiap hari sebelum di telan hidup-hidup.
"Maksudmu apa?" tanya Yudha heran.
"Aku ingat istrimu, kapan lagi nipu dia." sahutku sekenanya.
"Aku bukan menipunya, kita sudah pisah. Jangan khawatir. Aku tinggal memberi harta gono gini beres sudah."
"Harta siapa rencananya akan dikasi? jangan-jangan harta dapat dari merampok."
"Mana ada harta dari merampok, semua murni hartaku."
"Syukurlah, supaya Hanun tidak ikut berdosa makan harta orang lain." karaku sinis. Yudha memandangku.
"Yank, apa kau tahu sesuatu?" tanyanya menatap tajam padaku.
"Aku di dalam sangkar setiap hari seperti tahanan, mana mungkin aku tahu sesuatu. Nomor ponselku sudah kau patahkan, aku betul-betul seperti tahanan kelas berat."
"Kau tahanan cintaku, sayank." Yudha memelukku dengan gemas.
Aku pasrah saja atas perlakuan Yudha yang mesra. Mungkin akulah yang harus seperti ular, membiarkan Yudha dengan kelakuannya padaku dan aku menunggu untuk memenjarakannya.
__ADS_1
*****