
Keberadaan Dimas membuatku tidak leluasa. Pikiranku tambah senewen, dia cerewet dan selalu ingin tahu tentangku kehidupanku.
"Dimas, tidak ada yang istimewa untuk dibicarakan aku mau istirahat." ulangku berkali-kali berharap dia mengerti.
Dimas hanya tersenyum simpul serta membiarkan aku mengoceh. Dia duduk di sofa di dalam kamarku sambil mata nya tertuju sama ponselnya. Sungguh sangat tidak sopan, membuatku mati kutu tidak bisa berkutik.
"Kau tidak sopan dan seenaknya masuk ke dalam kamarku. Aku tidak senang dengan sikapmu." ketus suaraku.
"Diamlah, tidak usah cerewet, aku tidak tertarik padamu. Disini aku sebagai pembantu untuk wara wiri jika kamu butuh sesuatu."
Apa yang harus dilakukan sama orang sebandel Dimas? akhirnya aku punya ide untuk membuat dia tidak betah di kamarku.
"Dimas tolong ambil air putih panas, kamu tidak keberatan bukhan?! Nanti taruh di atas meja."
"Oke, aku tidak keberatan...." jawabnya ngeloyor keluar.
"Ini airnya, tapi panas sekali untuk apa sih?" tanyanya heran.
"Sendoknya mana?" tanyaku pura-pura kaget. Dia keluar, selang beberapa lama dia datang membawa sendok.
"Ini sendoknya....."
"Trimakasih, mana gulanya? tolong gulanya di ukur setengah sendok teh, cepat dikit supaya airnya tidak keburu dingin." kataku pindah duduk ke sofa.
Dimas cepat keluar kemudian datang membawa setoples gula pasir.
"Ambil teh hijau merk Delima." kataku sambil mengaduk air di gelas.
"Sebenarnya kamu mau bikin teh atau kau ingin membuat aku bodoh." kata nya kesal tapi tetap keluar mencari teh.
"Aku kasihan padamu yang bolak balik dari tadi, makanya aku bikinin teh." kataku ketika dia datang membawa segelas teh dengan wajah cembrut.
"Ternyata kau genius, padahal baru aku mau ajarkan cara membuat teh manis." kataku datar.
__ADS_1
"Kau sengaja membuat aku bolak balik dasar licik." katanya langsung minum teh yang dia bawa.
"Semoga kau tahu betapa bodohnya dirimu berada di kamarku." kataku menohok.
Dia tidak berkata apapun dan keluar dari kamarku. Aku tersenyum penuh kemenangan. Aku bangun mengunci pintu. Lega rasanya ketika orang yang tidak aku inginkan lenyap dari kamarku.
Aku tidak mengerti pemiikiran ibu, sehingga dengan gampangnya menerima Dimas untuk menjagaku di kamar, bagaimana kalau aku diperkosa oleh Dimas, apa ibu tidak berpikir sampai kesana. Akupun tertidur ketika otakku sudah lelah memikirkan beban hidup.
Matahari sudah condong ke barat ketika suara pintu di ketuk dari luar. Aku turun perlahan-lahan dari tempat tidur, kemudian membuka pintu kamar. Ibu tersenyum manis di depanku, dan nyelonong masuk.
"Kita ke dokter di Ubud, malam ini juga." kata ibu memandangku.
"Ya bu, tapi apakah dokternya praktek?" tanyaku ragu.
"Prakteklah." kata ibu menyalakan lampu kamar. Dia juga menutup korden.
"Aku mau mandi bu."
"Ya...ibu tunggu di luar."
Dalam hati aku juga mengaguminya, dia jantan dengan kaos warna hitam yang lengannya sedikit ketat dan menonjolkan otot lengannya. Aku pura-pura cuek.
"Kau cantik sekali, seperti orang ningrat yang berpendidikan dan kaya raya." kata Dimas berdiri membantu aku duduk.
"Walaupun tidak berkelas tapi penampilan tidak kalah dengan orang yang mengaku ningrat."
"Sayang sekali, di keluarga kami hanya orang ningrat yang bisa jadi menantu."
"Baguslah, semoga kau dapat istri yang segolongan." kataku tulus.
"Kita berangkat, tapi sebelumnya kita menengok bapak di kantor. Apa bapak mau ikut atau masih lembur di kantor."
"Ya bu, berarti kita ke kantor dulu." kata Dimas memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Aku duduk dengan ibu, tapi aku mau mengumbar siapa diriku. Ada ketakutan jika ibu Swari mempunyai maksud tertentu. Bagiku tidak mungkin ibu Swari berbuat sebaik ini jika tidak punya maksud tertentu.
__ADS_1
"Kau akan melahirkan di ubud, disitu ada klinik bersalin Internasional gratis yang di kelola bule. Bukan karena gratisnya tapi karena kau aman disitu. Tidak bakal ada yang mengganggumu atau merebut anakmu."
"Jauh sekali." gumam ku.
"Kau banyak musuh, kita sembunyi dulu, setelah aman baru kembali."
"Melahirkan itu banyak resiko lebih baik kamu banyak istirahat dan dalam keadaan sehat lahir bathin." Dimas ikut berkomentar, aku melihat dia mencuri pandang lewat kaca spion. Walaupun keadaan mobil gelap.
Tidak lama kami sampai di kantor psk De. Owh..aku baru tahu ternyata kantor pak De ada di tengah kota dan lumayan besar. Aku melihat banyak mobil dan motor masih terparkir disana.
"Luna apakah kamu mau turun melihat kantor pak De. Sepertinya masih ada client."
"Aku di mobil aja bu, takut ada yang kenal."
"Kalau begitu ibu turun dengan Dimas, kamu baik-baik disini ya."
"Ya bu..." jawabku pendek.
Aku mengambil HP "kroak" ku yang di hadiahkan oleh Yudha waktu dulu. Dia pasti bingung untuk menelponku karena aku sudah ganti kartu. Kenapa cintaku begitu besar kepada Yudha? Berapa kali aku ingin melupakannya tapi tidak bisa. Tanpa terasa mataku berkabut, air mataku bergulir jatuh. Aku sungguh merindukannya.
Aku merubah caller ID dan memakai private number. Kemudian aku nekad menghubungi Yudha, aku ingin mendengar suaranya saja. Lama juga dia tidak mengangkat ponselnya.
"Hallo...hallo...." aku dengar suara Yudha, air mataku semakin deras.
"Sayank, aku tahu itu kamu. Kamu berada dimana...pulanglah aku sangat merindukanmu..." suara Yudha terdengar gemetar
Aku menghapus air mataku berusaha tenang. Beberapa kali aku menarik nafas untuk menenangkan diri. Lebih baik aku pulang dan menanyakan kepastian hubungan kami selanjutnya.
Ketika mataku memastikan ibu dan Dimas belum keluar dari kantor pak De, aku sontak kaget. Ponselku langsung aku matikan. Yudha keluar dengan seorang wanita berpakaian merah yang seronok. Mataku tambah melotot melihat wanita itu memeluk pinggang Yudha.
Air mataku kembali membanjir, walaupun aku melihat Yudha menepis tangan wanita itu, tapi pikiranku sudah terkontaminasi dengan hal negatif. Aku membuka ponselku, tanganku gemetar mengambil gambar penampakan yang berada di depan mata. Aku mengambil berkali-kali gambar Yudha dengan wanita itu. Hasilnya tidak jelas, orang lain tidak akan tahu siapa yang ada di photo itu, tapi Yudha akan mengerti.
Dengan kemarahan yang meluap aku mengirim hasil photo itu. Aku melihat Yudha memperhatikan ponselnya dan wajahnya celingukan. Aku yakin dia akan berjalan ke setiap mobil. Kalau Yudha jeli, dia akan mencari mobil yang mesinnya hidup, kemungkinan besar ada orang di dalamnya. Yudha memeriksa setiap mobil atau orang-orang yang lewat.
__ADS_1
Ketika Yudha melangkah ke mobil ku, ibu dan Dimas juga melangkah ke mobil. Mereka tidak bertegur sapa antara Dimas, Ibu dan Yudha. Aku pastikan mereka tidak saling kenal. Yudha menghentikan langkahnya untuk datang ke mobil karena Dimas dan Ibu duluan masuk mobil.
*****