PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
DILEMA


__ADS_3

"Maaf pak, kalau bisa tolong Yudha di bebaskan. Saya akan membayar lebih."


"Luna, semua biaya pengacara di tanggung ibumu."


"Haa...ibu siapa? Aku anak haram tidak punya ibu, apa pak Lukas salah orang."


"Yaelah...ibu Swari itu khan ibu kau."


"Owh, kirain siapa. Aku kebetulan bertemu dengannya, dia mengajakku tinggal dirumahnya, dia baik denganku dan akupun menganggapnya ibu." kataku. Pak Lukas hanya tersenyum.


"Kau tahu apa yang aku inginkan untuk mu sayank..aku hanya ingin membuat kau bahagia."


"Trimakasih pak, dengan melepaskan Yudha dari hukuman saya akan bahagia."


"Terima cintaku, aku akan melepaskan Yudha. Tapi bila kàu menolak, aku tidak jamin Yudha akan lepas."


Mendengar omongan pak Lukas aku jadi gusar. Apa dia kira aku wanita murahan. Dasar laki-laki setan.


"Aku bukan wanita yang bapak pikirkan aku bisa membayar pakai uang dan uang itu bisa pak Lukas pakai beli perawan."


"Luna kau cepat emosi, aku tidak merendahkanmu, aku ingin menikah denganmu."


"TIDAK!! Hanya Yudha yang aku cintai." sahutku tegas. Semoga dia mengerti dengan penolakanku ini.


"Kau tahu Luna, wanita lain juga memohon supaya aku nembebaskan Luna. Apapun yang aku minta dia bakal memberikannya. Sayang sekali aku tidak ingin menyentuhnya."


Aku terdiam, aku merasa wanita itu adalah Anna. Perempuan murahan dan tidak pernah kapok.


"Kenapa pak Lukas tidak mau menerima tawarannya? aku rasa pak Lukas tidak rugi."


"Kasus ini berat, kecil kemungkinan Yudha lolos dari jerat hukum, tapi jika kau mau nenjadi istriku aku jamin Yudha bisa lolos."


"Aku tidak bisa mencintai orang lain selain Yudha. Pikirkanlah, mungkin aku bisa menyerahkan tubuhku tapi cintaku tetap untuk Yudha seorang."


"Cinta akan datang seiring berjalannya waktu. Aku ingin menikah denganmu, kau tidak cinta padaku tidak masalah."


"Pak Lukas aku tidak siap dengan jawabanku, karena ini diluar dugaanku. Aku mau pulang dulu. Trimakasih atas pertolonganmu." kataku lugas.

__ADS_1


"Silahkan, apa kamu tidak mau minum."


"Tidak, trimakasih." sahutku lalu berdiri.


"Luna, aku tahu hidupmu tidak jauh dari penderitaan. Karena kau tidak berani keluar dari lingkaran setan itu." kata pak Lukas ikut berdiri.


"Seandainya aku bisa tentu dari dulu aku sudah menjauh pak. Tidak ada laki-laki lain yang aku cintai." kataku tegas membuat pak Lukas menarik nafas panjang.


"Aku sabar menunggumu. Apa karena aku miskin kau tidak mau denganku?"


"Aku tidak pernah berpikir sampai kesitu, mungkin karena aku sendiri sudah kaya. Tapi banyak orang meragukan kekayaanku, karena aku numpang di rumah ibu Swari.Tapi itu sah-sah saja. Aku tidak peduli."


"Jangan pikirkan orang lain, berjalanlah sesuai kemampuanmu. Hidup itu jalani tidak untuk ditangisi." kata pak Lukas.


"Aku akan numpang di mobilmu. Tiap hari naik ojol capek juga."


"Bapak mau langsung ngantor? saya antar sampai tujuan pak."


"Trimakasih cantik." kata pak Lukas keluar dari ruang tamu.


Aku kembali duduk untuk menunggu pak Lukas. Aku mengambil ponsel dan membukanya. Banyak sekali panggilan dari Yudha.


Begitu salah satu chat dari Yudha.


Aku tidak ingin membalas, ntah kenapa aku malas saja. Wanita mana yang mau menyerahkan uang dan dirinya asal Yudha bebas. Hanya Anna. Tapi kemarin Yudha datang dengan bau parfum mewah, aku rasa Anna tidak mampu membeli parfum semahal itu.


"Sayank, tolong pasang dasi calon suamimu. Biasanya teman yang pasang." pak Lukas sudah muncul di hadapanku memberi dasi padaku.


Aku terpaksa berdiri dan menerima dasi itu. Dengan dada berdebar aku berada dihadapannya, desiran nafasnya menyapu wajahku. Tanganku menjadi gemetar. Mata pak Lukas menatapku tajam, saat tanganku mengalungkan dasi, bibir pak Lukas mendarat tipis di pipiku. Aku kaget, dan menarik wajahku.


"Lanjut Luna, umurmu sudah 22 tahun. Aku kelipatannya, jadi anggap aku abangmu. Sesama saudara tidak boleh malu-malu." kata pak Lukas menunggu dengan sabar. Aku tidak menyangka dia jenaka juga.


Aahhh...akhirnya aku bisa memasang dasinya. Aku menarik nafas lega. Kami kemudian keluar menuju mobil.


"Maaf pak, apa saya menyetir atau bapak?" tanyaku sopan.


"Kau saja, aku ingin menatap wajahmu dari samping sepuasnya."

__ADS_1


"Owh...." aku serasa keselek buah kedondong.


Aku merasa terjebak dalam situasi romantis yang diciptakan oleh pak Lukas. Saat aku duduk di jok mobil dia tiba-tiba mengecup pipiku. Setelah mobil melaju dia mengambil tangan kiriku dan menciumnya. Kemudian dengan pongahnya dia melingkarkan tangan kanannya di bahuku. Tidak menyangka, aku betul-betul mati gaya. Harus aku bagaimana. Kalau aku menolak Yudha nanti di penjara.


"Aku memanggil sayang di tempat umum boleh?" tanyanya meremas tanganku.


"Tidak boleh panggil sayang, biarpun kita berdua."


"Jika kita berdua aku akan memanggil mu lebih mesra lagi. Aku tidak tahan lama-lama denganmu, hasratku naik ke ubun-ubun. Aku ingin menikah denganmu."


Aku mendengar nafasnya mulai tidak teratur, dia tampak gelisah. Gila ini pak Lukas, nafsunya tinggi.


"Yank menepi sebentar." perintahnya. Aku perlahan menepikan mobil di depan Toserba.


"Bapak mau beli minum?" tanyaku menoleh padanya.


"Aku ingin menciummu." aku kaget.


"Jangan pak, ingat saya istri Yudha saya tidak mau selingkuh. Memberi uang saya mau. Kenapa wanita yang datang pada bapak itu ditolak. Dia juga ingin minta Yudha bebas."


"Aku MENCINTAIMU. Apa kau mengerti kata-kata itu? Aku bukan type laki-laki bajingan yang bisa tidur dengan sembarang wanita kecuali orang yang aku cinta." ketus suara pak Lukas.


"Pak saya mau beli minum siapa tahu bapak haus."


"Tidak usah!!" katanya dengan wajah merah. Aku jadi takut menyinggung perasaannya. Terpaksa aku diam menunduk.


"Kau tidak tahu siapa yang kau ajak berhadapan. Aku sulit jatuh cinta dengan seorang wanita, jika sekali aku mencintainya, biarpun dia anak pejabat aku akan jabanin." katanya lantang. Aku diam mengkerut, sungguh mati aku takut sama pak Lukas daripada sama Yudha.


"Jika kau menolak aku akan memeluk dan menciummu di depan Yudha. Dia tidak berhak melarang karena dia tidak punya hak dengan dirimu. kalau dia marah aku tinggal masukin dia ke sel. Selama ini kerjanya hanya membuat kamu sengsara."


"Saya mohon kepada pak Lukas, jangan mempersulit saya. Selama ini saya sangat hati-hati bertindak untuk menjaga kehormatan saya dan Yudha. Jangan sampai martabat Yudha jatuh karena sikap saya yang rendah."


"Antar aku pulang." katanya dingin.


"Ta..tapi pak." aku tidak melanjutkan perkataanku.


Bibir pak Lukas sudah menjajah bibirku dengan lembut. Aku pasrah menerima perlakuannya supaya Yudha di selamatkan. Lagipula aku takut dia marah lalu mengambil jalan pintas.

__ADS_1


Menyadari perlawananku yang tidak berarti membuat Pak Lukas tambah berani. Dia tidak saja sekedar mencium satu kali terus berhenti, tapi dia terus menerus menambah seakan tidak puas.


*****


__ADS_2