
Aku membuka mataku, sinar matahari masuk melalui pintu balkon yang tidak tertutup rapat mengusik tidurku. Aku membuka mataku setengah, dengan masih menguap aku memandang sekitar kamar dalam keadaan setengah sadar. Aku duduk bersandar di kepala ranjangku. Hari ini adalah hari sabtu yang berarti aku tidak perlu ke kantor. Dengan malas aku bangun dari tempat tidur, berjalan dengan sempoyongan menuju kamar mandi.
Aku sudah terbiasa bangun pagi, tapi akhir-akhir ini aku sangat malas. Apa ini bawaan bayi atau karena aku sering kemaleman tidur, gara-gara sering di teror lewat SMS dari orang tidak di kenal. Aku tidak mengerti, kenapa aku merasa sendiri dan merasa orang lain tidak peduli padaku, walaupun dia peduli itu pasti ada maunya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mandi, akupun menyelesaikan ritual mandiku. Diriku bukan tipe gadis yang suka berlama-lama berada di kamar mandi. Aku keluar dari kamar mandi berjalan menuju walk in closet. Aku merasa bengong karena pakaian yang ada di almari sangat banyak dan berwarna. Aku melihat merk nya semua merk branded.
Pasti tante menaruhnya, dia sangat perhatian padaku. Aku mengambil pakaian bumil warna abu-abu. Sambil menyisir rambut aku melihat mataku sembab. Kepalaku menoleh kearah pintu yang diketuk,
"Luna, sudah waktunya untuk sarapan." suara Dhevalee terdengar renyah.
"Iya Dheva, aku akan turun." jawabku langsung berjalan keluar kamar. Aku berjalan gontai di lorong rumah yang besar dan bergaya modern. Rumah besar ini selalu sepi karena hanya tinggal aku, Dheva dan pembantu yang ada. Bisa jadi hatiku juga sepi.
Saat menuruni tangga, aku langsung melihat meja makan yang sudah penuh dengan menu sarapan. Dhevalee duduk sambil menatapku. Aku duduk di kursi paling kanan dekat aquarium.
"Selamat pagi, sayank." sapaku menatap Dhevalee.
"Selamat pagi bumil." jawabnya sambil mengambil kentang goreng, telur dadar dan steak ayam, lalu mengambil segelas air jeruk.
"Kau mau kemana hari ini Dheva, kau ingin berlibur ke suatu tempat?"
"Aku ingin pulang hari ini, orang tua dan jodohku mau datang."
"Pulang? terus aku bagaimana." aku mengulangi ucapan Dheva dengan kening berkerut. Dheva mengangguk mantap.
"Ya, aku ingin menunjukkan pada papa dan mama bahwa aku disini baik-baik saja. Aku bisa hidup tanpa seorang pria. Mereka terlihat tidak percaya dan menganggap diriku berbohong. Kamu tahu kan, aku sangat tidak suka dianggap berbohong, walaupun aku sebenarnya bohong."
Aku terkekeh geli mendengar ucapan Dhevalee yang kocak.
"Baiklah, semoga berjodoh." kata ku lalu mulai menyantap sarapanku.
"Kau tidak usah takut disini, ada polisi bergantian jaga dan banyak pembantu. Tante Dessire sangat memanjakanmu, dia banyak bikin perubahan. Kau aman. Jika terjadi sesuatu segera hubungi kami, okay?"
"Harusnya aku ikut denganmu supaya aku tahu calon suamimu." gumam ku.
"Kau cocok disini bersama hantu." Dhevalee melihatku tertawa, dia ingin menakut-nakuti aku dengan cerita hantu.
__ADS_1
Selesai makan Dhevalee masuk ke kamarnya dan menyeret kopernya.
"Bibi panggil pak Man di depan suruh angkat koperku." teriak Dhevalee.
"Ya nona." tidak berapa lama pak Man datang tergopoh-gopoh.
"Nona, koper yang mana di angkat." tanya pak Man sopan.
"Yang ini pak Man, tolong taruh di bagasi mobil, sekalian nyalakan mesin mobilnya."
"Siap nona." kata pak Man menyeret koper Dhevalee turun.
"Aku akan sering menginap disana, selalu akan merindukanmu." bisikku memeluk Dhevalee.
"Tante sudah chat aku, kamu tidak boleh kemana-mana, berbahaya!!"
"Uhh..malas dah." sebel aku jadinya.
"Tapi kamu janji akan kesini tiap hari nemani aku khan?!" sambungku lagi.
"Ya, jaga dirimu baik-baik, jangan lupa makan." pesan Dhevalee.
"Rupanya tante banyak uang, semua di rombak. Kemarin sofa di ganti, gudang di bersihin semua barang Valeria di buang. Aku pikir mereka akan merenovasi rumah." kata Dhevalee.
"Mungkin tante sudah kaya lagi." kataku tidak peduli.
Ketika aku berjalan dengan Dhevalee seorang polisi yang berjaga di depan lari menghampiriku.
"Nona jangan keluar rumah." katanya sopan.
"Aku cuma mengantar nona Dhevalee sampai disini saja." pungkasku.
"Walaupun sampai disini, juga tidak boleh nona, nanti saya bisa dimarah atasan." kata polisi itu sopan.
"Tunggulah pak, setelah temanku pergi aku akan masuk ke dalam." kataku sebel.
__ADS_1
Setelah Dhevalee pergi aku kembali ke rumah, aroma lavender dari Calmic memenuhi ruangan. Aku menyukainya. bisikku dalam hati. Sepertinya tidak begitu buruk, ide tante Dessire malah menyenangkan. Apalagi menghirup udara pagi dari balkon kamarku, terasa segar. Cuaca di kota ini memang agak panas, tapi malamnya selalu sejuk, tidak seperti di pusat kota yang mengharuskanku untuk mengenakan pendingin ruangan karena setiap hari udara sangat panas bahkan saat hujan sekalipun.
Ponselku berdering, dengan cepat aku mengangkatnya. Tertera nama di layar Dirga.
"Luna, kamu dimana? aku datang kerumah tante, tapi disana ada polisi jaga dan mengatakan kamu sudah pindah."
"Memang benar aku pindah, aku lagi berlibur keluar daerah." jawabku sekenanya. Aku tidak mau Dirga datang kesini.
"Kenapa kamu pergi sendirian? kita kan sudah berjanji untuk pergi kemanapun harus berdua."
"Astaga Dirga, aku tidak berpikir sampai begitu. Aku mencari nyaman saja. Kepingin jalan sendiri."
"Dimana kau sekarang, diam disana aku akan mencarimu."
"Dirga, maafkan aku, sepertinya aku mau sendiri disini." kataku mematikan ponsel.
Disamping aku tidak begitu senang dengan Dirga, polisi di depan juga menyarankan supaya tidak menerima tamu dan harus menukar nomer handphone. Aku merasa tante terlalu mengkhawatirkan keadaanku.
Aku menuju ke kamar, aku buka lebar jendela yang menuju balkon, angin semilir membuat aku mengantuk. Baru mau rebahan suara pintu diketuk dari luar membuat aku menyeret kakiku menuju pintu.
"Bibi ada apa?"
"Untuk camilan nona, supaya kandungannya sehat." kata bibi sopan.
"Ya silahkan masuk." aku merasa aneh, bibi terlalu memanjakan aku. Dia membawakan segala macam buah, rujak dan cemilan lain. Kereta makanan aku suruh taruh dekat balkon. Karena aku tidak biasa ada makanan dalam kamar.
"Trimakasih ya bi."
"Sama-sama nona."
Aku mengambil biscuit dan minum susu dan beberapa buah. Setelah itu aku rebahan lagi. Sampai saat ini Yudha belum menghubungiku, aku sangat benci dan sekaligus rindu padanya. Tapi biarlah, anggap ini semua sudah nasibku. Aku mulai tertidur.
Ntah berapa lama aku tertidur ketika bangun, lampu kamar sudah menyala. Aku merasa aneh karena jendela terkunci dan cemilan berubah menjadi makan malam.
Berarti bibi yang suka datang kesini membuka atau menutup jendela. Ingin aku laporkan kepada polisi depan, itu menyalahi aturan mengganggu privasi orang.
__ADS_1
Tapi bagaimana jika yang suka datang kesini adalah hantunya Valeria karena barang-barangnya dibuang semua? ngerii!!.
*****