
Rencana tinggalah rencana, aku tidak berdaya saat malam tiba. Berpura-pura sakitpun tidak ada gunanya. Aku tidak mengerti apa yang membuat tuan Yudha melampiaskan kemarahannya kepadaku, bagaimana kalau saat kejadian itu bibi yang berada di sampingnya. Apakah bibi akan mengalami tragedi sepertiku, aku jadi tidak mengerti. Nasibku memang sial.
Yudha bergegas memakai baju, menyuruh aku berpakaian dekil yang biasa aku pakai di rumah nyonya Hanun.
"Kita akan pulang, kau jangan membuat nyonya curiga tentang hubungan kita, aku sangat mencintai istriku. Semenjak hubungan kita aku tidak bisa berhubungan dengan istriku, ntah kenapa aku menjadi letoy, tidak berguna tapi kalau bersamamu aku sangat jantan." tuturnya tanpa aku minta.
"Kalau kamu mencintai istrimu kenapa harus melibatkan aku, disini aku adalah korban pelecehanmu. Aku akan mengatakan kepada istrimu jika kau memperkosaku dan setiap hari menggumulimu."
"Luna, berhenti bicara, jika nyonya sampai tahu, dia akan memecatmu dan bisa juga dia melaporkan kita ke polisi, kita akan di penjara."
"Bukan aku yang di penjara tapi kamu." kataku sebel.
"Kalau begitu kau tinggal disini saja, biar aku saja yang pulang, aku akan katakan kau melarikan diri."
"Terserah, hanya satu keinginanku yaitu lepas darimu dan pulang ke orang tuaku."
Mungkin Yudha malas meladeniku, dia pergi ke kamar dan mengambil kopernya. Aku memandang gerak gerik tubuhnya yang sempurna, aku akan memberi penilaian 99 kepada dirinya. Ganteng dan jantan. Jika dia suamiku aku pasti bahagia, sayang dia suami orang aku menjadi terpuruk. Nasib yang paling aku benci adalah menjadi pelakor.
Tiba-tiba masuk scurity yang menjaga di depan dan seorang wanita setengah tua.
"Kau aman disini, ada penjaga, pembantu dan anjing herder. Mereka ini akan menjaga mu, jangan coba-coba melarikan diri." kata Yudha memperkenalkan dua orang scurity, seorang pembantu dan anjing herder yang terus menggonggong.
"Perkenalkan, saya Parminto dan teman saya Paijo dan ini blacky anjingnya."
"Saya Bibi Iyem." kata seorang wanita setengah baya menatapku ramah.
Aku hanya mengangguk. Aku juga pembantu merangkap pelakor. bathinku. Bagaimana jika mereka tahu siapa diriku. Mereka pasti kecewa.
Sebelum Yudha keluar rumah, dia mendekat dan menyeretku ke kamar. Dengan ganas dia nenciumku, seolah akan pergi lama. Dia memelukku erat.
"Kau tidak boleh pergi, tunggu aku disini, setiap hari aku akan kesini." bisiknya.
"Aku tidak janji, aku juga punya kehidupan sendiri." ketus ku membuat Yudha menatap tajam. Ponselnya terus berdering, aku yakin itu pasti dari istri tercintanya.
"Jangan berani melawanku jika kau ingin selamat. Sampai istriku tahu masalah kita, aku akan membunuhmu. Cintaku sangat besar kepada istriku, aku tidak peduli dia selingkuh atau tidak."
"Cinta tidak perlu di ucapkan, tingkah lakumu tidak mencerminkan bahwa kamu mencintai istrimu. Kalau kamu tetap selingkuh tentu akan membuat rumah tanggamu hancur."
"Aku selingkuh karena tidak sengaja, kalau istriku selingkuh karena sengaja." pungkas nya sambil melepaskanku dari pelukannya.
__ADS_1
"Terserahlah kamu menilai aku gimana, aku malas berdebat." katanya mengecup keningku. Dia keluar dari kamar sedangkan aku mengurung diri di kamar.
Aku merebahkan diriku di tempat tidur dan menatap langit-langit kamar. Otakku bepikir keras supaya bisa keluar dari sini. Yang pertama harus aku lakukan berteman dengan kedua scurity, bibi dan anjing blacky.
"Tookk...tokk..tookk..." aku turun dari tempat tidur dan membukakan pintu. Bibi berada di depan pintu menunggu perintahku.
"Nona, saya menunggu perintah."
"Bekerjalah yang biasa bibi kerjakan, bersih-bersih, masak, cuci strika. Kalau masak secukupnya. Kita berempat bi, tuan paling makan di kantor."
"Saya masak saja dulu ya, ini sudah siang."
"Terserah bibi." jawabku mengikutinya ke dapur. Dulu, tidak pernah terbesit dalam benakku untuk belajar masak. Semenjak aku menjadi gelandangan aku jadi ingin tahu cara masak. Minimal cara bikin nasi goreng.
"Bibi dulu bekerja dimana?" tanyaku basa basi.
"Ikut bule, sekarang bulenya sudah keluar negeri gara-gara, dua tahun saya istirahat. Untung cepat dapat kerja."
"Ya bi, sulit cari kerja, karena banyak yang kena PHK. Hanya hotel kuat yang masih buka selebihnya pada tutup."
"Apa nona dulu kerja di hotel?"
"Bi, aku ke kamar dulu mau ngerapiin baju, nanti aku balik lagi."
"Ya nona."
Aku masuk kamar dan merapikan tempat tidur, baru hari ini aku ingin membuka almari dan merapikan bajuku yang tidak seberapa. Kalau mengikuti perasaan ingin sekali aku membiarkan baju Yudha berarakan di atas meja. Tapi aku tidak tega, aku rapiin juga.
Setelah menyapu bersih, aku membawa baju kotor ke cucian. Baru masukin baju ke mesin cuci aku dengar ribut-ribut di depan. Aku menyelinap kesamping dan naik ke kursi mengintip dari lubang longster. Aku kaget melihat nyonya Hanun datang marah-marah di gonggong anjing.
"Dimana pelakor itu, kalian jangan sembunyikan." teriaknya marah. Dadaku berdebar keras, jangan-jangan yang disebut pelakor aku. bathinku. Tapi benar juga.
Aku turun dari kursi, menghampiri nyonya Hanun. Dia kaget melihatku. Tentu dia kaget karena aku memakai baju lusuh, kepalaku memakai krudung untuk menutupi rambutku yang sudah mulai tumbuh panjang dan tetap memakai masker wajah. Walaupun bekas luka sudah menghilang aku tetap menutupi tubuh mulusku dengan jarik.
"Hee babu, ternyata kau ada disini. Rupanya kau lari dari rumahku dan sembunyi disini." teriaknya marah.
"Waktu itu saya mau pulang ke rumah orang tua, terus bertemu tuan......"
"Jadi suamiku yang membawa kamu kesini,?"
__ADS_1
"Ya nyonya, terus...."
"Terus kau disini menjadi babu begitu, berarti kau tahu selingkuhan suamiku." suara nyonya Hanun meninggi. Ternyata nyonya tidak tahu bahwa pelakor itu adalah aku, dia mengira ada orang lain. Padahal aku mau terus terang tentang tabiat suaminya.
"Tidak ada pelakor nyonya." kataku datar.
"Kalau tidak ada pelakor kenapa dia bisa pindah kesini berhari-hari. Kenapa dia dingin kepadaku dan sikapnya semua berubah."
"Seseorang akan berubah jika ada sesuatu yang membuatnya berubah. Nyonya harus intropeksi diri."
" Hahaha...jadi kau nyalahin aku, siapa dirimu yang berani mendikteku, kau adalah gembel yang aku beli."
"Terserah nyonya saja, saya sudah mengingatkan jika suami nyonya pasti tahu sesuatu sehingga dia merasa tertekan."
"Jangan sok tahu, babu tetap saja babu... kelas rendahan. Saat ini aku percaya padamu, jika suatu hari nanti suamiku kedapatan berselingkuh kau aku pecat." katanya tandas.
"Maaf nyonya, aku tidak bisa menjamin suami nyonya, saya tidak berhak melarang dia berselingkuh. Lebih baik nyonya sendiri yang mencoba memperbaiki hubungan nyonya dengan suami atau nyonya yang berhenti....."
"Stoopp!! lancang mulutmu, kau ingin menjatuhkan harga diriku, dasar budak." pekik nyonya Hanun dengan wajah memerah. Matanya melotot melihat ke arahku.
"Siapapun yang ada disini, jika melihat suamiku dengan perempuan lain, laporkan padaku." kata nyonya Hanun melihat satu persatu ke arah kami.
"Ya nyonya."
Nyonya Hanun keluar dengan langkah lebar, anjing herder yang berada di kandang terus menggonggong, untung tidak di lepas.
"Bagaimana ceritanya nyonya bisa masuk?" tanyaku kepada kedua scurity.
"Tiba-tiba dia memaksa masuk dan memaki kami saat di larang masuk.
"Besok-besok kunci pintu gerbang jika dia datang lagi kecuali tuan memberi izin."
"Ya nona." kata mereka ragu-ragu. Aku tahu otak mereka penuh tanda tanya, karena tadi nyonya Hanun memakiku dengan marah dan mengatakan aku babu.
Aku kembali ke cucian, dadaku masih berdebar tidak menentu. Bagaimana jika nyonya tahu akulah pelakor itu, mungkin nyonya akan pingsan. Berarti aku harus waspada bila perlu aku berganti kamar tidur.
******
TUAN YUDHA
__ADS_1