
(POV YUDHA)
Tidak bisa aku bayangkan perasaanku bisa bertemu kembali dengan Luna. Tidak habis-habisnya aku bersyukur kepada Tuhan atas anugrahnya. Aku sengaja membiarkan pikiran Luna berkecamuk dan bertanya-tanya. Luna terlihat semakin cantik dan tambah sexy. Aku tahu dia masih mencintaiku.
Dengan kehilangan satu Villa, mobil dan rumah, aku bisa menceraikan Hanun. Alot dan banyak ancaman dari begundal yang disewa Hanun. Berkat pak De beserta jajarannya aku bisa lepas dari Hanun. Saat itu bibi datang menghampiriku sambil menangis, dan minta maaf atas tingkah laku Hanun selama ini.
"Bibi aku minta maaf kalau selama ini aku tidak bisa membimbing Hanun." kataku setelah putusan cerai keluar.
"Tidak apa-apa tuan, bibi tidak marah, Hanun pantas mendapat ganjaran atas kelakuannya selama ini."
"Aku tidak menelantarkannya bi, semua yang dia minta aku sudah penuhi."
"Sekarang ini bibi hanya minta supaya tuan bisa membawa nona Luna ke rumah ini. Bibi sangat rindu kepadanya."
"Sekarang belum bisa bi, Luna belum mau denganku, tapi aku sudah bertemu dengannya. Dia bekerja di boutique. Aku masih mencari cara untuk membawanya kesini."
"Syukurlah tuan, bibi berharap semoga non Luna mengerti bahwa tuan sangat mencintainya."
"Aku juga berharap begitu." kataku penuh harap.
Hari ini aku berencana membawa bibi ke boutique, apapun yang terjadi aku harus menikahi Luna. Sekian lama aku menunggu saat seperti ini, berharap rencanaku akan berhasil.
Setelah dia menjadi istriku aku berencana akan melaporkan saudara papa Luna ke polisi. Supaya tidak berlarut-larut masalah ini. Karena pak De belum pulih betul, aku tidak bisa berdiskusi problem yang menimpaku selama ini.
Lagipula aku harus memberi jeda beberapa bulan setelah perceraianku dengan Hanun.
"Mari tuan sudah siang." kata bibi membuat lamunanku buyar. Aku kaget melihat bibi sudah rapi dengan pakaian baru.
"Bibi mau kemana?" tanyaku heran.
"Ke rumah nona Luna, bibi kangen sekali. Semoga nona Luna ingat dengan bibi."
__ADS_1
"Tapi aku tidak menjamin kalau Luna mau bertemu dengan bibi, dia sangat benci kepadaku gara-gara Anna."
"Makanya jadi orang harus setia tuan, hargai diri sendiri supaya orang lain bisa menghargai tuan. Kalau nona Luna sakit hati niscaya dia akan benci juga sama bibi."
"Aku terenyuh dengan kesedihan yang Anna tampilkan, sehingga aku tidak sadar kalau aku terperosok kedalam permainannya."
"Tuan terlalu gegabah dan kurang tegas, tidak peka dengan akal licik wanita zaman sekarang. Semoga Anna tidak hamil."
"Mana mungkin bisa hamil bi, wajah Luna selalu membayangiku, sehingga aku tidak mampu menggauli wanita lain, selain Luna."
"Syukurlah kalau begitu semoga Anna berhenti memburu tuan. Seharusnya tuan bertobat, berhenti berprilaku yang tidak baik. Buat apa tuan sukses dalam bisnis, sedangkan dalam membina rumah tangga hancur." ucap bibi menasehatiku. Kata-kata bibi selalu benar dan masuk akal.
"Aku akan menikahi Luna." kataku menyambar kunci mobil.
"Mari kita ke boutique mencari Luna." kataku menuju garasi.
Bibi mengikutiku dengan senyum sumbringah. Aku membantu bibi naik ke mobil karena agak tinggi. Ini mobil Luna dan aku menyukainya. Apapun yang Luna punya aku menyukainya, aku sangat terobsesi dengannya.
Aku memacu mobilku dengan kecepatan sedang. Macet total dimana mana. Mobil berjalan seperti keong, Bali semakin ramai saja, apalagi Covid sudah hilang sehingga bule di jalan banyak sekali. Aku merasa seperti berada di luar negeri saja. Yang memenuhi jalanan rata-rata bule.
Sampai di boutique aku menyuruh bibi pergi mencari Luna.
"Bibi, kalau bertemu Luna katakan bibi ingin bertemu dengan anaknya. Aku ingin bertemu juga. Hanya bibi harapan ku untuk mendekati Luna."
"Semoga saja Luna bisa di perdaya, masalahnya bibi lama tidak bertemu dengannya, jadi agak ragu."
"Berdoa bi, supaya Luna luluh hatinya." kataku turun dari mobil.
Sudah aku prediksi bahwa Luna sangat hati-hati bertindak. Perasaannya dengan bibi masih sama. Aku masuk ke ruangan Luna, ada Sri disana berdiri, ketika aku datang dia keluar. Luna sedang duduk di sofa bersama bibi, biasalah saling pelukan meluapkan kesedihan.
Luna masih seperti dulu, welas asih dan peduli. Dia tidak memakai kerudung, mungkin dibuka karena ada bibi. Kecantikannya mempesona, membuat aku ingin memelukku.
__ADS_1
"Siang nyonya Luna." kataku membuat mereka berdua kaget. Aku ikut duduk di sofa. Wajah Luna seketika dingin melihatku. Hati ini langsung down, aku merasa misiku pasti gagal.
"Maaf apa saya boleh duduk disini?" tanyaku basa basi, padahal pantatku sudah mendarat disofa. Istilahnya sudah pewe. Luna tidak menjawab, dia hanya melirikku sepintas.
"Ambil minuman di kulkas supaya otakmu dingin." kata Luna menyindirku. Aku merasa katanya kasar, sabarr.
"Kalau terus kau kaku dan tidak mau mengerti dengan perasaanku dan perasaan anak kita, selamanya kita tidak menemukan kedamaian."
"Kau bicara dengan siapa, maaf saja aku sudah menjadi istri orang."
"Luna kau kira aku bodoh, aku sudah selidiki kau belum menikah bahkan berpacaran kau tidak mau. Aku ini calon suamimu jangan mengelak, kita jodoh dan itu takdir."
"Kenapa baru srkarang kau menyelidiki aku, kenapa tidak dari dulu disaat aku butuh perlindungan?"
"Apa salahku disini, kenapa kau lari waktu itu. Kau pikir aku dalam keadaan baik-baik saja ketika kau tinggalin. Kau pikir aku tidak berkeliling mencarimu."
"Stop!! kenapa aku pergi, karena kau sebagai laki-laki tidak tegas. Kau lemah. Saat kau memperkosaku kau tetap bersama istrimu tanpa mau mengerti perasaanku. Kau pikir aku wanita murahan yang seenak perutmu mempermainkan aku. Kau bajingan!!"
"Dengar sayank, aku perlu proses. Aku lambat menyadari bahwa kaulah jodohku. Aku mencintaimu, hanya kau." kataku dengan tulus.
"Mulutnu manis, terus Anna apa. Dia mengaku hamil kepadaku. Kau pikir aku tudak sakit hati melihat keakrabanmu dengan Anna. Kau seenaknya berbuat mesum dengan Anna tanpa ingat aku." Luna emosi, wajahnya memerah, matanya menatspku marah.
Ya Tuhan, aku sangat mencintainya. Aku yang salah dan sering merasa curiga padanya. Kadang aku berpikir dia bergantian dengan laki-laki lain. Aku berdiri menariknya ke pelukanku. Aku melihat bibi bangun dan keluar dari ruangan. Aku biarkan tangan Luna memukul dadaku, dia mencaciku sepuasnya.
"Sayank, pukulah aku. Aku mengaku salah, aku pantas mendapat semua ini. Asal kau tahu, hanya kau yang bisa menghidupkan jiwaku. Aku cinta padamu Luna."
Luna menangis di dadaku, aku belai rambutnya dan mengecup keningnya. Baru kusadari bahwa ada perbedaan antara aku memeluk Luna dengan Anna atau Hanun istriku. Luna sangat wangi, menggairahkan dan ngangenin.
"Luna!! Drama apa ini, begini tingkahmu selama ini? Sungguh memalukan!!"
Suara itu menggelegar dan membuat pelukan kami terlepas. Aku memandang pria itu tidak senang.
__ADS_1
*****