PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
MELAHIRKAN


__ADS_3

Ketika berita duka yang di sampaikan oleh Yuly kepada ibu aku langsung terhenyak. Ibu menjerit histeris, Dimas menenangkannya. Tidak ada sepatah katapun yang bisa aku ucapkan kecuali berdoa dan menangis. Aku berpasrah kepada Tuhan, supaya pak De selalu dalam lindunganNYA.


Baru kemarin pak De mengatakan bahwa kasus hukumku akan di buka, sekarang sudah terjadi mala petaka.


"Ibu pulanglah dengan Dimas, aku bisa sendiri disini. Aku khawatir terhadap keadaan pak De." kataku terisak.


"Kamu tidak apa-apa khan? ada dokter, perawat juga. Kalau ada apa-apa pencet bell saja." pesan Dimas.


"Pergilah jangan khawatir, aku bisa sendiri disini." kataku tulus. Aku memeluk ibu yang terus menangis, perasaanku ikut hanyut, aku bersedih.


Itulah hidup kadang susah, kadang senang. Setelah kepergian Ibu dan Dimas aku berusaha intropeksi diri kenapa setiap aku akan menemukan titik bahagia, selalu saja ada halangan.


Aku merebahkan diri di ranjang, berharap bisa tidur, tapi mataku tidak bisa merem, bayangan Yudha dengan wanita lain melintas di kepalaku. Darah ku berdesir, rasa cemburu meloncat ke ubun-ubunku. Aku kesel sekali tapi mau bagaimana, aku hanyalah gula- gulanya Yudha, tidak lebih.


Mencintai suami orang adalah tindakan yang paling bodoh terjadi dalam hidup ku. Tidak gampang membuang cinta seperti membuang sampah, lalu bersih tidak berbekas. Cintaku seolah telah terpahat rapi dihati sehingga untuk membuangnya aku perlu kurasan air mata yang banyak. Perlu pengorbanan lahir bathin dan aku tidak mampu melakukan.


Setelah capek memikirkan tentang hidup akhirnya aku tertidur. Berharap khayalan menjadi kenyataan.


Pagi-pagi aku sudah di bangunkan oleh suster, aku disuruh mandi air hangat dan periksa rutin. Cuaca di Ubud yang selalu dingin membuat tubuhku sedikit menggigil. Aku harus mandi besar karena jam sepuluh siang aku akan menjalani operasi caesar. Memikirkan mau di operasi aku agak nervous. Takut, itu pasti.


Ini hari ke lima aku berada di Klinik Heart, hampir semua dokternya bule dan kliniknya tidak begitu besar tapi nyaman, bersih dan semua ramah. Rasanya hanya aku yang melahirkan hari ini. Tidak begitu banyak orang yang datang.


"Permisi nyonya." suster Maria masuk ke kamarku. Seperti biasa dia akan menanyakanku dan memberi support supaya aku tidak takut dalam melahirkan.


"Apa saya perlu menunggu keluarga saya?" tanyaku pelan.


"Nyonya izin operasi sudah ditanda tangani." kata suster maria ketika aku mengeluh tentang keluarga yang tidak kunjung datang.


"Kapan saudara saya datang?"


"Kami berkomunikasi virtual dan semua beres. Nyonya tenang saja."


Aku mengangguk mengerti. Sekarang zaman canggih tentu mereka melalui cyberspace untuk komumikasi.


"Tapi aku merasa suster belum bertanya padaku." kataku heran saja. Tidak mungkin ibu tahu nama panjangku dan Yudha.

__ADS_1


"Sudah nyonya, kalau tidak salah namanya Ibu Swari dan Bapak....."


"Tidak, itu salah." potongku cepat. Rupanya ibu Swari baik padaku karena ingin menguasai anakku.


"Tapi...tapi...."


"Maaf suster, tolong direvisi, itu nama orang tua saya. Mungkin ibu saya salah mengerti, dia dalam keadaan bingung, masalahnya bapak terkena musibah tabrak lari." kataku meyakinkan.


"Maaf nyonya, tolong identitas nyonya dan suami, KTP saja." kata suster itu menunggu.


Aku bisa memberi indentitasku, tapi Yudha bagaimana? aku tidak mungkin manyatakan aku single parent karena akan menjadi tanda tanya dan suster akan menghubungi ibu kembali.


"Suster nanti saya kirimi via whatsapp." kataku cepat.


Setelah suster pergi aku memakai private number untuk meminta KTP dari Yudha. Aku tidak peduli kalau dia melacak tempat ini.


-Aku butuh KTP mu. Tolong fotonya di kirim cepat!! - tulisku.


-Sayank...aku tahu ini kamu, apa kamu ada di rumah sakit?-jawabnya.


-Aku akan menemukanmu sayank- jawabnya. Duhh...aku gemetar menunggu foto KTP. Tapi foto tidak nongol-nongol. Brengsek nih Yudha.


-Woii...play boy cap kampak, kalau kau tidak kirim aku blok kau dari ponselku- tulisku isi emott orang marah.


-Maaf sayank, KTP ada di dompet, aku tadi ada di ruangan Panji, love you sayank. God bless you always-


Aku cepat-cepat mengirim foto KTP


Yudha ke suster Maria setelah itu, aku blokir. Rasain, aku akan memisahkan kau dengan anakmu. Gerutuku.


Tepat pukul 10.00 wita aku di bawa ke ruangan operasi. Aku berdoa dalam hati supaya semua baik-baik saja. Aku


takut sakali. Bayangan Yudha melintas kembali di benakku, andai saja dia ada disini tentu aku lebih nyaman. Tapi biarlah, memang sudah harus begini. Aku geram dengan Yudha, kalau ketemu mungkin aku cekik orangnya.


Ketika aku sadar yang pertama kali aku lihat adalah langit-langit kamar yang berwarna putih telor asin. Bau karbol khas rumah sakit menusuk hidungku.

__ADS_1


"Kau sudah sadar?" suster Maria masuk ke ruanganku. Aku berusaha menggerakan bibirku yang terasa kaku.


"Kau akan dipindahkah ke ruangan privasi atas permintaan ibumu. Tidak ada yang boleh menengokmu selain orang tuamu. Kamu hanya boleh melakukan hubungan komunikasi Virtual atas pantauan kami. Maaf atas ketidak nyamanan ini."


"Aku akan patuhi semoga tidak ada masalah. Tapi anakku bagaimana?" Saat ini aku hanya ingin melihat anakku, tidak yang lain.


"Dia lahir sempurna, dan sangat tampan, mirip nyonya. Sekarang masih di inkubator. Mungkin besok, nyonya dan bayinya bisa pindah ke ruangan privasi, dokter akan tetap mengawasi kesehatan nyonya dan bayi."


"Trimakasih suster."


Tidak ada yang bisa menahan waktu, dia terus berjalan sesuai kodratnya. Sudah seminggu pasca persalinanku, kini aku tinggal di ruangan besar yang telah di persiapkan oleh klinik. Aku bersyukur persalinanku lancar, dan anakku terlahir sempurna dengan wajah mirip Yudha. Matanya bersinar tajam, itu yang menonjol.


Aku juga mendapat khabar kalau pak De sudah sadar, semoga beliau cepat sembuh dan bisa melanjutkan gugatan kepada om Cakra sekluarga.


Sore ini aku lagi duduk-duduk di teras ketika ibu dan Dimas datang. Wajah Ibu kelihatan lusuh dan pucat. Aku langsung memeluk ibu.


"Bsgaimana khabar bapak?" tanya ku ikut sedih.


"Baik, mana si kecil, ibu kangen sekali."


"Ada di dalam bu, aku ingin jelaskan bahwa aku tidak jadi single parent. Aku tetap memakai orang tua biologis." kataku menatap ibu. Aku melihat wajah ibu berubah, tapi aku pura-pura tidak tahu. Ibu masuk ke dalam. Tinggal aku dan Dimas.


"Selamat Luna, sekarang kau sudah menjadi ibu. Harus lebih sabar dan mau menerima masukan dari ibu, karena ibu lebih berpengalaman."


"Dimas, aku juga ucapkan trimakasih atas segala bantuanmu."


"Seandainya kau dari kasta ningrat aku pasti melamarmu. Sayang sekali, aku bisa menikahimu asal bayimu diasuh oleh ibu, mumpung m²ereka tidak punya anak, dan kita mulai lembaran baru."


"Aku lebih baik tidah menikah asal hidupku tenang." kataku menohok.


"Lidah tidak bertulang apa saja bisa di bicarakan. Yang penting bisa tidak memegang ucapan itu. Jangan assl bicara." kata Yudha sinis.



****

__ADS_1


__ADS_2