PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
DITANGKAP POLISI


__ADS_3

(POV YUDHA)


Aku melompat bangun memperhatikan vidio yang dikirim oleh Luna. Dadaku bergemuruh marah, aku tahu Luna di kirimi vidio syur oleh Anna. Luna pasti tidak menonton habis, dia termakan oleh permainan busuk Anna. Kalau saja mata Luna jeli kala menonton, dalam setiap adegan panas itu, disitu akan terlihat janggal. Mataku merem tanpa reaksi, alias lemas dan tertidur.


Aku yakin saat itu aku mabuk berat. Jadi kalau Anna mengatakan aku menggaulinya itu tidak benar. Anna hanya menempelkan tubuhnya ke tubuhku. Tidak terjadi gerakan apapun. Aku akan membiarkan Luna berpikir untuk sementara waktu, dia akan tahu bahwa aku tidak melakukan perbuatan senonoh dengan Anna.


Otakku berputar mencari solusi supaya Anna tidak menyebarkan vidio atau gambar porno ke medsos. Baru kali ini aku merasakan kebencian yang luar biasa kepada Anna. Penyesalan tidak ada gunanya, nasi telah menjadi bubur.


Kasihan Luna, aku tidak marah kalau di blokir, ini murni salahku. Semakin hari aku tahu dan belajar dari pengalaman hidupku sendiri. Tidak semua orang bisa dipercaya dan tulus membantu atau mencintaiku. Contohnya Hanun dan Anna, mereka hanya ingin prestise dan uang. Hanya Luna mencintaiku dengan segenap jiwanya.


Kadang Luna kasar, cemburuan yang hampir menjurus ke over protektif. Dulu aku kurang nyaman dengan sikap dan sifatnya yang moody. Setelah aku banyak mengenal wanita, hanya Luna yang the best. Tanpa pamrih dan setia.


Aku meraih ponselku dan mencoba menghubungi Anna. Mungkin jalan yang akan aku tempuh bisa membuat Anna mengurungkan niatnya untuk menyebarkan aibku.


"Hallo!!" suara Anna melengking, aku tahu dia sengaja marah untuk mencari simpati padaku.


"Maaf yang kemarin, aku tidak kontrol diri. Situasi yang membuat aku marah padamu." kataku lembut mengkambing hitamkan situasi.


"Kau tega membuatku menderita, kau tahu aku tidak makan dari kemarin. Anak kita juga puasa di dalam perutku."


"Kau boleh memilih restoran mana saja, nanti kita bertemu disana." jawabku muak.


"Sayank..love you. Aku sangat surprise, miss you ayank."


"Aku akan memilih Rock Bar untuk pertemuan kita saat ini. Kita akan minum sepuasnya sampai pagi."


"Oke, aku akan menjemputmu nanti malam, dandan yang sexy ya."


"Ya sayank jangan telat." kata Anna mesra.


Setelah berbasa basi sedikit aku menutup ponselku. Aku berdoa dalam hati supaya Anna bisa menjauh dari kehidupanku.


Aku mengambil ponsel cadangan, ponsel ini biasa aku pakai urusan rancu yang tidak memerlukan notif atau peralatan canggih yang bisa di akses. Aku menghubungi seseorang yang biasa menerima evil job.


"Hallo." suara berat mr. Killer terdengar sangau. Aku terbayang dengan hidungnya yang dulu pernah robek. Setahuku sudah di operasi.

__ADS_1


"Aku butuh tangan dinginmu untuk membuang wanitaku. Tidak untuk dibunuh, aku hanya ingin flashdisknya saja. Tentukan nominal mu."


"Oke, aku harus tahu siapa dia dan dimana kalian akan bertemu."


Akhirnya aku chat mr. Killer dan mulai jabarkan tujuanku. Aku juga tidak ingin mr killer melakukan kekerasan yang menyebabkan penderitaan bagi Anna.


Pukul 22.00 wita, aku keluar dari kamar dengan berpakaian seadanya. T-shirt hitam dan celana jean belel. Aku memilih memakai jeep wrangler untuk menjemput Anna. Aku menenangkan diri dan berusaha santay sambil memutar playlist musik. Suara The Weeknd's dengan lagu call out my name menghibur diriku.


Sampai di kilo meter sepuluh aku mengambil ponsel cadangan dan menghubungi mr. Killer supaya mulai berjalan. Tapi tidak ada jawaban, aku sudah 3 kali menelponnya, tetap tidak ada jawaban. Aku mulai curiga dan mobilku menepi. Aku membuka ponsel dan mematahkan kartunya, lalu kartu itu aku buang. Pirasatku sudah tidak enak, biasanya tidak pernah begini.


Aku melanjutkan perjalanan, aku ingin tahu apa yang terjadi. Sebelum aku sampai di depan kost Anna, terlihat sebuah ambulance dan 4 orang pria menggotong tubuh seorang wanita kedalam ambulance. Apa yang terjadi?


Setelah ambulance pergi aku memarkir mobilku di pinggir jalan. Aku turun dan bertanya kepada seorang pria yang kost disitu.


"Ada apa pak siapa yang sakit?" tanyaku sopan.


"Tadi hampir terjadi penculikan, untung korban melawan. Penculiknya kabur dan korbannya pingsan." kata orang itu membuat dadaku berdebar. Ada rasa takut dan bersalah kepada Anna. Aku berdoa supaya dia tidak meninggal.


"Bapak siapa?" tanya orang itu menatapku dalam keremangan malam.


"Aahhh...jadi...jadi." pria itu balik badan dan pergi bersama teman-temannya.


Aku heran dengan sikap mereka, ketika aku mau bertanya kepada yang lain seorang polisi memegang tanganku. Aku kaget mencoba menepis tangan polisi itu.


"Maaf pak Yudha, kamu kami tangkap."


"Jangan sembarang menangkap orang, aku baru datang." kataku panik. Aku berpikir Mr. killer sudah bicara dengan polisi. Dia pasti mengatakan bahwa aku otak nya. Matilah awak!!.


"Bicara nanti dengan pengacara anda." kata polisi yang baru datang. Mereka langsung memborgol tanganku.


"Aku membawa mobil, aku bisa naik mobil sendiri ke kantor polisi. Tidak begini caranya, mana surat perintah penangkapan."


"Kami menangkap anda karena masih berkeliaran disini, sedangkan korban anda sudah di rumah sakit." kata polisi itu mendorong tubuhku ke mobil polisi.


Aku bingung harus menghubungi siapa karena sudah malam dan katanya pak De berada di Singapore. Sepanjang jalan pikiranku bingung dan takut, mengingat reputasiku. Harga saham akan anjlok kalau sampai masalah ini di blow up. Betapa malunya aku. Aku juga memikirkan Luna.

__ADS_1


Sepanjang jalab aku berdoa supaya mobil polisi mogok supaya bisa lebih lama sampai di kantor polisi.


Sampai di kantor polisi aku mendadak mendapat harapan. Mataku melihat Dimas di lobby bersama seorang polisi. Tapi Dimas musuhku, tidak mungkin dia mau menolongku. pikirku. Aku bisa mencari pengacara hebat, aku mampu membayarnya. Bathinku.


Aku tetap berjalan mengikuti polisi yang membawaku ke satu ruangan. Disana ada dua orang bapak-bapak telah menunggu, dia menyuruh aku duduk. Polisi itu keluar dan aku di dekati oleh seorang bapak.


"Silahkan duduk pak Yudha, saya dari tadi sudah menunggu bapak. Sebagai orang tuanya saya sangat menyayang kan kejadian ini. Saya orang miskin pak, anak saya ini adalah tulang punggung keluarga."


"Dengan bapak siapa saya bicara, jika memang benar perkataan bapak, saya akan membiayai anak bapak. Saya harapkan bapak mencabut tuntutan bapak, kita damai."


"Saya pak Jaya, saya mau damai tapi saya minta kesiapan bapak untuk memberi biaya kepada kami."


"Itu gampang, bikin hitam diatas putih." kataku senang. Terus terang, saat ini aku takut sekali dengan wartawan atau orang yang mengenaliku.


Tiba-tiba Dimas masuk ruangan. Dia menatapku datar, aku tidak tahu harus berkata apa saat dia mengatakan bapak ini mau damai, asal semua tanggung jawab aku pikul.


"Aku mau asalkan di kemudian hari tidak ada tuntutan lagi."


"Tadi saya buru-buru membuat surat perjanjian ini, untung selesai. Intinya bapak Yudha menyanggupi bantuan matetiil dan immatetiil."


"Saya menyanggupi." kataku tegas.


"Silahkan tanda tangan, kita buru-buru jangan sampai ada wartawan. Bisa berabe. Kalau aku sudah biasa di kantor polisi, tapi kau...." Dimas sengaja menggantung bicaranya.


"Yang mana aku tanda tangani?" tanyaku tidak sabar Polisi datang membuka borgolku. Aku mengibaskan tangan karena kaku.


"Baca dulu sebelum tanda tangan, aku hanya membuat suratnya saja sesuai keinginan mereka."


"Aku percaya." kataku mulai menanda tangani beberapa lembar surat.


Aku buru-buru sekali dan menyetujui 500 juta untuk biaya rumah sakit sampai sembuh. Bapak Jaya puas dan aku senang. Aku bertrimakasih dengan Dimas, saat sku mau meminta nomer rekeningnya, Dimas menolak.


"Aku kebetulan ada disini dan bapak jaya adalah kenalanku, jadi sekalian. Semua isi surat permintaan pak Jaya aku tidak ikut campur." kata Dimas.


*****

__ADS_1


__ADS_2