
You know me the best. You know my worst, see me hurt, but you don't judge. Aku mencerna setiap lirik 8 letters, lagu ini menyerap seluruh syarafku dan membuatku terkapar dalam kesedihan. Aku rindu Dhevalee, rindu masa lalu.
Waktu tidak bisa mundur, aku harus bangkit berusaha dari nol. Orang yang aku harapkan untuk menolongku masih dalam keadaan sakit. Pak De terkapar menunggu pemulihan. Kata ibu sudah dua kali pak De terancam mau dibunuh, untung ada perawat yang tahu, untuk itulah Ibu memindahkan bapak ke RS. Bhayangkara, langsung minta perlindungan dari aparat.
Aku sendiri sudah kembali ke Pavillion milik ibu. Anakku menjadi penghibur yang bisa membuat ibu tertawa. Aku berusaha bangkit dari keterpurukan. Dimas yang terlalu sombong berharap aku melupakan Yudha, ayah biologis putraku. Lalu memberikan Sean Yudha Perkasa kepada Ibu. Aku rasa mulut Dimas kurang di sulam supaya diam.
"Katanya Yudha sudah beristri, kenapa harus dikejar. Mending cari yang single walaupun kau pernah melahirkan tapi bodymu masih sexy." kata Dimas mulai nyinyir. Dia senang sekali nempel denganku. Apa dia tidak punya kerjaan lain, selain memelototi gerak gerikku.
"Aku tidak mengejar siapapun, karena aku tidak butuh. Berhentilah bermimpi untuk merubah prinsipku dan mencoba membelokkan hatiku ke pelabuhan lain. Aku sudah terlanjur mencintai satu orang, walaupun itu membuat aku hancur. Tapi untuk memulai yang baru, sorry aku tolak. Dan aku tidak mau jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya." kataku menatap Dimas tidak senang. Dia pikir dirinya siapa, ngatur- ngatur diriku.
"Aku hanya menyarankan saja, tapi ucapanmu bullshit. Aku sering melihat dan mendengar seorang wanita bicara begitu, setelah ada pria tajir melintir dia menjilat ludahnya sendiri."
"Tidak apa-apa jilat ludah sendiri, ngapain kau urusin emangnya kau rugi. Jangan usil." kataku sewot, kesel aku sama Dimas yang sombong.
"Wanita macam kaulah yang suka jilat ludah sendiri."
"Woii...aku ini wanita mahal dan punya prinsip hidup. Bila kemalangan demi kemalangan menimpa diriku itu sudah karmaku. Yang penting bagaimana aku menyikapi hidupku kedepannya." nada suaraku meninggi.
"Hahaha...mahal darimana, melihat pria naik Lamborghini kau langsung berdebar, apa lagi kalau kau tahu asetku, kau bisa tremor dan stroke...."
"Songong kali kau, aku tidak peduli dengan pria sepertimu, biar kau tahu aku lebih baik dengan pria tidak punya yang penting setia." kataku kesel. Aku berdiri mau pergi tapi dia menjegal jalanku.
"Tidak ada pria setia, salah satunya adalah cowok yang lari ketika kau bunting."
"Dia bukan lari akulah yang lari."
"Tidak usah banyak ngibul, tidak laku. Kau cocoknya kerja di cafe atau one night love with me, aku akan membayarmu banyak." dia nyengir.
Mataku membulat memandang wajah nya. Pria ini ganteng tapi "plakk...." aku tidak menjaga emosiku. Dia mendelik tidak menyangka jika aku menamparnya.
"Bajingan...." desisku marah.
__ADS_1
"Kau yang murahan!!" bentaknya kasar.
"Pergi kau dari hadapanku." ketus suara ku. Dia menyeringai sinis.
"Kau yang pergi ******. Tanya sama ibu siapa diriku, kau adalah benalu di keluarga ini.Jika bukan karena ibu yang menolongmu kau mungkin sudah menjadi santapan anjing liar. Aku akan membalas tanparanmu dengan cara melemparmu ke club malam."
"Lempar aku secepatnya, aku juga lempar kau ke penjara. Dengar Dimas, aku tidak takut dengan kau." kataku
tidak peduli ocehannya dan masuk ke dalam menemui ibu. Darahku naik ke ubun-ubun, kesel sekali aku dengan manusia itu. Tumben aku menemukan pria lamis sepertinya. Manusia tidak punya attitude.
"Ada apa Luna, wajahmu masam begitu kau berselisih sama Yudha?" tanya Ibu ketika aku sudah berada di hadapan beliau. Mataku melirik kepada bayiku yang di gendong baby sitter.
"Ibu Dimas itu siapa." tanyaku pelan ingin tahu. Ibu kaget menolehku.
"Dia lagi magang mau cari S.2 dan mau membuka kantor pengacara. Keren ya." kata ibu bangga.
"Aku kira dia ada hubungan saudara dengan ibu, ternyata cuma magang."
"Tapi sikapnya padaku berbanding terbalik, dia menilai aku seperti wanita lacur yang menggrogoti ibu, seperti benalu. Aku sakit hati dihina olehnya. Siapa yang mau bernasib malang sepertiku."
"Sabarr, biasanya Dimas tidak pernah bertutur kata kasar, mungkin dia emosi dengan perkataanmu atau ada hal lain yang membuat dia tersinggung. Selama ini dia baik-baik saja.
"Apakah kau tertarik padanya?" kata ibu menatapku. Mata tua itu menyelidik, berusaha menyelami perasaanku.
"Maaf bu levelnya terlalu tinggi, aku tidak mau padanya."aku menolaknya.
"Dia memang dari keluarga berkasta dan kaya, ibu tidak tahu orang tuanya punya apa. Selama ini dia selalu naik mobil."
"Kalau aku nyari suami tidak mau yang seperti dia, biarpun tidak kaya yang penting kerja, uang bisa di cari."
Kami terdiam saat Dimas nyelonong masuk. Aku tidak mau menatap wajahnya, manusia bebal yang tidak tahu malu.
__ADS_1
"Dimas, lihat babynya, ayo belajar gendong bayi. Kamu pasti belum pernah gendong bayi." kata ibu berharap Dimas mengambil bayinya.
"Tidak bu, ini bayi mahal nanti jatuh." kataku cepat menggendong bayiku supaya tidak di ambil oleh Dimas.
"Luna, suruh Dimas gendong supaya dia belajar." kata ibu memaksa.
"Suruh saja gendong boneka kalau mau belajar."
"Bu saya juga tidak minat gendong bayi yang statusnya tidak jelas." ketus suara Dimas.
Ibu terdiam, darahku mendidih ingin mencekik leher manusia setan itu. Bayiku menangis keras mendengar suara keras Dimas.
"Nyonya saya yang gendong." baby sitterku mengambil bayiku dan menjauh, aku juga ikut keluar.
"Dimas bicara jangan ngawur, ibu merasa dia anak ibu yang dulu ibu buang di depan rumah orang." samar- samar aku mendengar suara ibu. Terus aku mendengar ibu menangis.
Lebih baik aku menyingkir, aku tidak mau mencampuri urusan ibu dengan Dimas. Terserah mereka menilai diriku. Jika ibu mau mengusirku, aku tidak masalah aku akan pergi. Tapi aku rasa itu tidak akan terjadi karena ibu datang menghampiriku dengan mata sembab.
"Luna, apa benar kau menampar pipi Dimas, dan Dimas tidak membalas."
"Itu baru aku gampar bu, besok-besok kalau aku lagi di lecehkan kakiku akan menendangnya." kataku sengit.
"Itu bisa di visum, jangan sembarang memukul orang tidak baik, nanti kamu di laporkan ke polisi."
"Sudah bu jangan sering mendengar omongan Dimas, pikirkan bapak. Aku juga ingin menengok bapak, aku sudah sehat bu."
"Nanti sabtu atau minggu kamu bisa ikut pergi bersama Dimas, ibu yang jaga Sean di rumah."
"Aku bisa kesana sendiri, tanpa harus bersama Dimas."
"Jangan melihat jeleknya orang, lihat baiknya. Sewaktu kau ke rumah sakit dia yang mengantar, saat bapak sakit dia yang sering jaga." ibu berusaha membela Dimas. Aku pikir Dimas banyak bicara dengan ibu.
__ADS_1
*****