
Perasaanku sedikit lega, karena sudah ada titik terang, siapa yang membawa Sean. Aku tidak tahu pasti, masalah Yudha sama Anna sudah sampai dimana. Apa Yudha sudah memberi uang atau memenuhi janjinya untuk menikahi Anna. Aku yakin Anna hanya ingin menakuti-nakuti Yudha supaya Yudha cepat menikahinya.
Sampai di rumah Yudha, aku dan yang lain bergegas turun dari mobil. Pak komang membawa koperku masuk ke rumah.
"Nona koper taruh dimana?"
"Ruang tamu saja, aku pasti tidak bisa tidur kalau anakku belum pulang."
Aku melihat Yudha berdiri di ambang pintu dan memerintahkan pak Komang untuk membawa koperku ke kamarnya. Aku cepat datang dan berkata.
"Aku tidur di ruang tamu, tadinya aku malas menginjakan kakiku disini atau menginap, tapi karena anakku aku datang lagi kesini."
"Dia tidak menculik Sean, hanya ingin pendekatan." kilah Yudha memandang ke lain tempat.
"Makanya cepat kau bayar 500 juta padanya atau nikahi dia, aku tidak mau anakku dijadikan jaminan. Aku akan bersabar menunggunya, jika anakku tidak segera di kembalikan aku akan menyuruh polisi menangkapnya." kataku dingin.
Aku melihat wajah Yudha pucat, aku yakin dia menyesal berhubungan dengan Anna. Susah meyakinkan lalat kalau bunga lebih wangi daripada sampah.
"Kita masuk kedalam, aku ingin bicara seluruhnya padamu. Siapa tahu ini kesempatan terakhir untukku bisa bicara denganmu."
"Bicara di ruang tamu saja aku jijik melihat tempat tidurmu tempat kau pakai mesum sama Anna." kataku tegas. Yudha menyanggupi.
Aku melangkah menuju ruang tamu, aku kaget melihat beberapa makanan mewah dan kue ulang tahun berada di atas meja. Tadi pagi ruang tamunya sepertinya biasa saja, kapan Yudha menyulap ruang tamu ini menjadi mewah.
-Happy birthday my love, I love you so much-
Sebaris tulisan itu membuat aku linglung. Pertahananku seolah mau jebol ketika mata Yudha berkaca-kaca memeluk ku lembut. Dia mengecup keningku. Tidak lebih.
"Semoga dengan bertambahnya umurmu kau menjadi semakin bijak dan bisa memaafkan kesalahanku dengan tulus." katanya lalu menyuruh aku duduk di kursi yang sudah dia siapkan. Dia berdiri dan mengambil beberapa gambarku dengan camera.
__ADS_1
Seketika mataku berkabut, semenjak percobaan pembunuhan itu aku telah melupakan hari lahirku. Saat inipun aku sulit tersenyum, Yudha tidak menuntut ku untuk tersenyum atau memakai gaun yang dia borong di boutique bu Swari. Dia meletakan hadiah itu diatas meja, beserta sertifikat asetku dan kartu Deposit serta surat kuasa untuk mengelola perusahan Yudha Perkasa.
"Tadi pagi aku ingin menjemputmu, tapi baru masuk ke temost parkir ibu Swari aku melihat Sean terjatuh. Sebenarnya sku mempersiapkan cincin untuk melamarmu, sekarang aku urungkan. Bukan karena aku tidak mencintaimu tapi aku memberi kamu kebebasan saat aku di penjara." kata Yudha serak.
Dia menunduk dan menghapus air matanya yang bergulir jatuh. Akupun tidak bisa menahan haru dalam situasi ini. Bagaimanapun jauh di lubuk hatiku aku masih mencintainya. Aku mencoba menenangkan diri tidak terhanyut dalam kesedihan, dengan cara terus mengingat perselingkuhannya dengan Anna.
"Hemm...trimakasih Yudha, ini betul- betul surprise. Aku menyukainya. Semoga kau sehat selalu, panjang umur dan berbahagia."
"Mungkin kau bingung mencari kata- kata yang pas, harusnya aku yang mengucapkan seperti apa yang kau ucapkan." kata Yudha mendekatiku.
"Apa kau tidak ingin menuangkan minuman untukku." bisik Yudha tepat di belakang telingaku.
Aku terperangah dan bangun dari kursiku. Mataku tidak melihat minuman lain selain Campain dan Red Wine.
"Kau jangan minum Yudha, nanti kalau Sean pulang baru kita minum." janjiku. aku menuju kulkas tamu mengeluarkan air putih. Aku membuka botol itu dan meminumnya setengah, setelah itu aku memberikan padanya.
"Boleh gak kuenya nanti aku bagiin untuk PRT ..... " tanyaku. Yudha tidak menjawab karena ada telpon untuknya.
"Anna, kau jangan main-main. Polisi akan mengepungmu jika kau menahan anakku!!" kata Yudha duduk di samping ku. Tangannya melingkar memelukku.
"Aku akan ke rumahmu asal kau ingat janjimu. Jika kau tidak menepati janji mu, aku juga akan melaporkanmu. Pembicaraan kita sudah aku rekam."
"Jangan banyak mulut kalau kau ingin selamat. Bawa kesini anakku."
"Aku yakin anak ini adalah anak Dimas dan wanita itu. Wajah anak ini mirip dengan wajah Dimas. Aku meragukan ini anakmu, karena kau tahu kau sakit."
"Bersti kau tahu kalau aku sakit, jadi tolong jauh dari hidupku."
Aku tidak begitu tertarik dengan percakapan mereka yang tidak bermutu dan cenderung saling menghujat. Aku mau bangun tapi tangan kiri Yudha menarik pinggangku dan aku jatuh di pangkuannya.
__ADS_1
"Mau kemana sayank..." katanya mematikan ponselnya.
"Mau menunggu anakku." kataku, menepis tangannya.
"Aduuhhhh....." dia berteriak, aku baru sadar telapak tangannya sakit.
"Maaf...maaf...." kataku mengelus tangannya. Aku tidak jadi keluar dengan lembut tangannya aku letakan di pahaku. Sesekali aku mengecup pipinya supaya dia terhibur.
"Sakit sekali ya." kataku melihat tangannya yang diperban. Dia tidak berkata hanya menatapku. Saat aku menempelkan wajahku dengan tangannya terdengar suara ribut-ribut di luar. Aku mendengar teriakan.
"Apa itu?" tanyaku berdiri.
Yudha juga ikut berdiri. Kami buru- buru keluar. Apa yang aku lihat? Anna berdiri di halaman menggendong Sean. Dia tetiak-triak memanggil bibi.
"Anna, kau manusia setan. Beraninya kau menculik anakku." teriakku emosi. Dia kaget melihatku apalagi ada Yudha Aku berlari mengambil anakku. Tapi dia mempertahankan Sean. Bibi datang bersama yang lain.
"Dasar ******, sini bawa Sean!!" bibi ikut berteriak dan merebut Sean dari gendongan Anna. Sean menangis jerit. Tanganku mendarat di wajah Anna dua kali sehingga Sean bisa terlepas, bibi dan Heny cepat menangkap Sean. Kembali tendanganku mengentuh tubuh Anna.
"Pelakor, aku akan adukan kau ke polisi kau telah menganiaya orang tidak berdaya." pekiknya sambil memegang pipinya. Yudha menghampiri kami dan mengusirnya.
"Anna pergi kau dari sini jangan terus membuat masalah."
"Harusnya aku bunuh kau brengsek!! Makiku emosi. Enek aku melihat wajah mesumnya.
"Yudha kapan kita menikah?" tanyanya pongah lari memeluk Yudha. Sungguh tidak tahu malu dan menyesatkan.
"******!! Dengar ya, sampai dunia kiamat kau tidak bisa menikah. Kau tahu kenapa? karena Dimas sudah mengaku bahwa janin yang kau kandung itu adalah hasil hubunganmu dengan Dimas. Selama ini kalian sudah merencanakan drama palsu tentang penculikan dirimu supaya bisa menjerat Yudha." kataku sinis.
Anna kaget dan Yudhapun kaget. Serta merta Yudha mendorong Anna sampai jatuh. Kemudian dia berbalik mencari bibi dan mengambil Sean. Sepintas aku melihat Yudha menggendong Sean yang sedang minum Susu.
__ADS_1
"Hahaha...pintarnya kau bicara untuk menutupi perselingkuhanmu dengan Dimas. Ceritamu absurd, aku muak mendengarnya." kata Anna berusaha bangun di bantu sopirnya.
*****