PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
DIMAS RAHYUDA


__ADS_3

Sebulan aku sudah kabur dari pelukan Yudha. Rindu? itu pasti dan sangat nenyakitkan. Rasanya ragaku separuh hilang. Aku tahan semua derita yang menyelimuti hati. Kadang aku cemburu melihat Yudha di layar TV jika sedang meresmikan anak perusahannya. Selama ini belum pernah terdengar gosip murahan yang mengaitkan dirinya dengan seorang wanita. Tapi aku selalu berpikiran negatif padanya. Aku sangat cemburu dan berusaha tegar, menelan penderitaanku.


Duduk sendiri di balkon sambil minum jus adalah rutinitasku setiap hari semenjak aku menghuni Pavilion bu Swari. Aku merasa di manjakan, ibu Swari tampak over bersikap padaku. Aku tidak tahu apa yang diinginkannya.


Seperti hari ini dia berpesan supaya aku berdandan secantik mungkin, karena akan ada yang datang padaku. Ibu akan membawa seorang pemuda ganteng untuk mewakili setiap kemauanku.


"Maksudnya apa ibu, aku tidak butuh pria. Aku mencintai satu laki-laki, bagaimanapun jahatnya dia padaku, aku selalu memaafkannya. Aku tidak bisa melabuhkan cintaku pada orang lain." kataku berusaha meyakinkan ibu bahwa saat ini aku tidak butuh siapapun kecuali Yudha.


"Tidak boleh sesumbar, seorang wanita pasti butuh lelaki, itu hal wajar jangan malu-malu kucing."


"Aku beda, hanya Yudha yang ada dihatiku. Tidak segampang itu menggantikan kedudukan Yudha di hatiku. Aku tidak pernah berpikir dia itu siapa." pungkasku sedih.


"Luna lihat dulu orangnya belum apa-apa kau sudah menolak. Aku tidak tahu Yudha itu seperti apa, tapi melihat kau mati-matian mencintainya, ibu yakin kau di guna-guna."


"Buat apa dia mengguna-gunai aku bu. Dia itu ganteng, kaya dan sempurna. Istrinya cantik, sosialita dan modern. Aku berada di antara dia dan istrinya karena takdir yang tidak bisa aku elakan."


"Ahh...kalau dia sempurna kenapa dia memperkosamu. Itu namanya loser, laki-laki buaya." kata ibu tidak mau kalah.


"Itu takdirku bu dan aku sekarang dan seterusnya akan mencintainya."


"Walaupun dia masih rukun dengan istrinya? kau akan tetap mencintainya? Dia juga tidak berusaha mencarimu, sudah tidak peduli denganmu. Kau hanyalah butiran debu di ujung sepatunya, tidak berarti dan terlempar saat dia berjalan. Jangan mencintai pria beristri, resikonya banyak." kata ibu berapi-api.


"Yudha pasti mencariku tapi tidak ketemu denganku, bagaimana kalau ibu menghubunginya?"


"Jangan mencari penyakit, selama ini kau sudah sakit dan termehek-mehek gara-gara banyak masalah, ngapain ibu menghubungi Virus yang jelas- jelas akan membuat kamu sakit."


Aku hanya bisa tersenyum jika ibu mulai menjelek-jelekan Yudha. Aku bisa apa. Harusnya aku tidak peduli, tapi gimana lagi, kupingku panas kalau mendengarnya. Setelah dia bosan cuap-cuap ibu mendekatiku dan berkata lembut sambil membelai rambutku.


"Luna sebentar lagi orangnya datang,


Ibu harap kau bersikap manis dan tidak mengecewakan." kata ibu lalu keluar, mungkin mau menyambut tamunya.

__ADS_1


"Ya bu..." jawabku pendek, tapi aku tidak beranjak ke kamar mengganti baju atau menambah polesan di wajah. Aku tetap duduk santai di sofa panjang tanpa ingin kelihatan wahh.... aku malah ingin kelihatan buruk di depan pria yang di gadang-gadang oleh Ibu.


Sedikitpun tidak tergetar hatiku menunggu bujangan yang akan nongol. Tidak menunggu lama ibu dan seorang pemuda datang di hadapanku.


"Ini anak ibu yang tempo hari ibu ceritakan, namanya Luna." kata ibu tersenyum manis. Aku terpaksa berdiri dengan susah payah karena perutku sudah besar.


"Namaku Dimas Rahyuda, masih keturunan ningrat. Umurku 27 tahun, Sarjana Hukum." katanya songong.


"Silahkan duduk Dimas. Maaf aku duduk bersandar, perutku rasanya begah." ucapku seraya duduk di sofa panjang.


Pemuda ini parasnya ganteng, kulit sawo matang, mata hitam tajam dan suaranya berat berwibawa. Aku tidak mau membandingkannya dengan Yudha, bagiku Yudha adalah the best, selalu yang terdepan. Aku juga tidak mengerti, kenapa penilaianku kepada pria itu begitu. Apa karena dia yang pertama kali menembakkan rudalnya kepadaku. Mungkin saja, karena aku sering mengkhayal dan menginginkan nya lagi....


"Sudah berapa bulan?" tanyanya lalu duduk di sebelahku, dihalangi meja bukan satu sofa denganku.


"Delapan bulan, sudah hampir brojol." jawabku. Aku yakin dia menanyakan usia kehamilanku.?


"Silahkan minum Dimas ibu mau ke rumah dulu." kata ibu menaruh jus dan minuman ringan lainnya.


"Luna, baik-baik sama Dimas orangnya baik dan sopan. Kamu tidak mungkin kecewa dengan pilihan ibu." bisik ibu di telingaku.


"Ya bu trimakasih."


Ibu ada-ada saja, biasanya aku betah duduk sendiri sekarang malah merasa terusik. Apalagi mata Dimas terus mencuri pandang. Ngapain harus mencuri, pandang saja sepuasnya, asal jangan jatuh cinta padaku. Itu pasti aku tolak. Suwear!!.


"Aku akan tinggal disini." katanya datar. Aku cepat membuka ponsel pura-pura balas chat, padahal aku mau merekam apa yang dia katakan.


"Maksudnya tinggal disini itu bagaimana?"


"Disini ada dua kamar, aku yang di sebelahnya. Jangan khawatir aku tidak akan mengganggumu. Aku hanya menunggui kamu kalau kamu kesakitan. Disini aku di sewa untuk menjagamu dan menjadi sopirmu. Tidak ada maksud lain, anggap aku ini pembantumu."


Ohh..baru lega hatiku, kirain dia punya keinginan lain. Ternyata cuma sopir. Tidak apa-apa kalau begitu.

__ADS_1


"Syukurlah kau tidak tertarik padaku. Aku senang kau menjadi kakak ku saja. Semoga omonganmu tidak berubah."


"Aku tidak pernah bohong, aku sulit jatuh cinta dengan orang lain."


"Sama, aku juga sulit jatuh cinta. Aku yakin ibu sudah bercerita panjang lebar tentang siapa diriku. Jadi aku tidak perlu cerita lagi. Yang aku garis bawahi dalam cerita ibu bahwa aku sangat mencintai bapak biologis calon bayiku, itu tidak akan bisa berubah seumur hidupku."


"Namanya seorang ibu pasti ingin yang terbaik buat putrinya. Aku salut kau bisa mencintai orang yang sudah jahat padamu, dia menghancurkan hidupmu. Aku juga setuju kau pergi darinya, dia itu suami orang, tidak pantas gadis cantik sepertimu bersanding dengan lelaki brengsek sepertinya. Orang akan bergunjing kau merebut suami orang. Apa kata dunia..... lebih baik mencari yang bujangan dan baik hati dan tidak sombong."


"Tapi dia mencintaiku, saat ini pasti sedang mencariku."


"Kamu masih polos rupanya, tidak mungkin seorang Yudha mencintai gadis sepertimu. Walaupun cantik, sexy, tapi kamu masih kelas bawah levelmu rendah, tidak ningrat, tidak bersekolah dan bekas pembantu."


Bibirku tersenyum tipis mendengar ucapan pria ini. Aku baru ingat bahwa waktu ceritaku di rekam bapak, ibu tidak ada, jadi ibu mendengar garis besarnya saja. Tapi tidak apa juga aku malah senang, semoga dengan begitu Dimas ada penghalang jika dia ingin menjalin hubungan denganku.


"Cinta tidak mengenal kasta, tahta, ataupun yang lain. Cinta akan datang semau gue tidak bisa di elakan." kataku mencoba membantahnya.


"Benar sekali, cinta yang keren pondasinya kuat, cintamu tidak kuat karena datangnya dari hasil paksaan."


"Dimas, aku rasa cinta semua sama, keren dan memabukan."


"Hahaha...ternyata kau bisa sewot. Setiap orang boleh menilai cinta dengan kaca mata masing-masing, aku tidak marah dan harusnya kau juga tidak marah."


"Perbincangan kita tidak bermutu. Lebih baik di hentikan saja, aku mau istirahat silahkan kau pergi ke rumah utama." kataku setengah mengusir.


"Apapun yang kau lakukan dan kau katakan aku tidak akan pernah marah. Mari aku bantu kamu ke kamar." katanya bijaksana.


"Aku bisa sendiri." jawabku menepis tangannya yang mencoba menyentuh lenganku. Dia bandel dan tetap saja memapahku ke kamar.


*****


Dimas

__ADS_1



__ADS_2