
Rasa kasihan itu selalu ada, haruskah aku mengurungkan niatku melapor atau menggugat Yudha. Bagaikan buah simalakama. Bagaimanapun juga Yudha akan kena pasal berlapis, dari pemerkosaan sampai mengambil aset yang bukan miliknya. Tidak ada yang bisa ditutupi, walaupun tidak mengaku penyidik akan menemukan barang bukti yang berada di tangan Yudha. Dia menguasai aset itu.
Aku menyerahkan semua kepada pak De dan rekan. Biarlah mereka yang menangani aku sudah cukup lama menunggu niat baik Yudha. Sekarang baru Yudha sadar, dia pasti panik. Aku ingin mrmberi dia pelajaran hidup supaya tidak menggampangkan segala persoalan.
"Aku ingin memanggil orang ini." kata Dimas menoleh ke arahku. Saat ini aku anakku dan Heny baby sitterku serta Dimas sedang duduk di lobby.
"Siapa yang kamu maksud?" tanyaku datar. Keberadaan Dimas di pavillion ini membuat aku kurang senang dan risih. Kakau dulu dia sering datang dengan gaya songongnya dan suka julid serta merendahkan aku. Tapi semenjak dia tahu aku owner Hoteh G.H dan Villa serta aset yang lain, Dimas berubah menjadi baik. Dia sering membawa mainan untuk Sean atau makanan untukku.
Dimas berdiri dan mendekat padaku. Dia memperlihatkan foto Yudha yang berada di kantor polisi. Tentu aku ksget, tapi aku pura-pura cuek seolah tidak terpengaruh.
"Kau tidak bertanya kenapa dia berada di kantor polisi."
"Itu bukan urusanku, aku punya jalan sendiri, dia juga begitu. Dalam hal ini apapun yang dia perbuat tidak ada hubungannya denganku. Jika kau bercerita aku akan mendengarkan dari orang terpecaya."
"Bagus!! ternyata kau membencinya, benar dugaanku bahwa cintamu sudah lenyap kepada Yudha. Aku akan memberimu support untuk menjalani hidup baru." kata Yudha duduk di sofa sebelahku.
"Trimakasih, tapi aku lebih enjoy kalau hidup sendiri."
"Aku mengerti, saat ini memang kamu bisa berkata begitu, karena orang yang kamu cintai telah mengecewakanmu. Tapi suatu hari nanti kamu akan butuh seseorang yang bisa diajak berbagi, yang bisa melindungimu dan yang kamu ajak bernostalgia di masa tua."
"Meybe...aku tidak yakin perasaanku karena aku sangat sulit jatuh cinta."
"Oke, kita akan lanjut ghibah, kita akan menceritakan Yudha. Seorang owner real estate yang pengecut dan bodoh." kata Dimas sambil tertawa ngakak.
"Bagus, silahkan mulai." kataku seolah cuek.
"Yudha berada di kantor polisi karena dia hampir menjadi tersangka penculikan, untung ada aku disitu sehingga dia bisa di selamatkan dari tuduhan itu."
"Emangnya dia ngapain, tidak mungkin dia menculik orang."
"Dia itu janjian sama Anna mau ke bar untuk hura-hura. Sial baginya, pada saat dia berada di tempat kost Anna, dia ditangkap polisi ternyata sebelum Yudha sampai, si Anna sudah pingsan gara-gara mau diculik orang."
"Ngapain polisi tangkap dia, harusnya penculik yang ditangkap." suaraku ketus membayangi Yudha tidur dengan Anna.
"Pencurinya keburu kabur dia bilang namanya Yudha, itu alasannya ketika Yudha datang langsung dibekuk polisi dan diamankan."
"Hahaha....mana ada penjahat nyebut namanya, kemudian penjahat balik lagi ketempat korban. Skenarionya kurang bagus."
__ADS_1
"Kau pikir aku bohong, ini real."
"Aku tahu ini benar, lanjutkan. Saat ini aku akan menjadi penilai."
"Aku senang melihat kamu tertawa, kamu hampir tidak pernah tertawa selama disini, aku padamu." Dimas menatapku.
"Lanjut Dimas, tidak ada "aku padamu" Itu gombalanmu dengan wanita murahan yang menginginkan receh darimu. Kau tahu kenapa aku jarang tertawa, karena Yudha selalu membuatku menangis. Dunia telah mentertawakanku, jadi kegembiraanku terpaksa aku sembunyikan." jawabku asal.
"Aku berharap kau bahagia, bisa menemukan lelaki idaman seperti aku. Ganteng, kaya, ningrat dan calon pengacara sukses hahaha... mari kita lanjut ghibah."
"Dan penipu!!" sahutku cepat.
Mata Yudha mendelik, peduli setan, aku tidak takut padanya. Dia diam, aku cepat menyuruh melanjutkan ceritanya.
"Kau tahu Yudha wajahnya pucat pasi waktu di tangkap polisi, aku merasa dia sangat takut dan dia kehilangan keberanian serta kata-kata. Maklum, dari kecil dia menjadi anak manja, tidak kekurangan apapun. Jadi menghadapi masalah ini dia langsung ciut hahaha..."
"Apa kamu kenal dengan Yudha?"
"Siapa tidak tahu keluarga Perkasa, semua orang tahu karena mereka kaya dan berpengaruh. Mereka juga ribuan menyerap karyawan, sayang sekali di dalam urusan wanita Yudha gagal."
"Syukurlah, kau tahu berapa Anna di kasi ganti rugi supaya mau berdamai 500 juta. Dan Yuda juga menanda tangani surat perjanjian akan menikahi Anna. Bukankah itu hal yang hebat."
Ada yang tergores dihatiku, sakit. Tapi aku menyunggingkan senyum, pura- pura ikut senang.
"Apakah dalang penipuan ini kamu dan Anna atau ada orang lain yang ikut membekingi rencana yahud ini." kataku pura-pura tidak terpengaruh dengan gosip sialan ini. Dimas terdiam.
"Sebenarnya aku tidak terpengaruh jika kamu atau Anna membodohi Yudha. Aku malah senang mendengarnya." sambungku.
"Aku cuma menjadi saksi saja, semua itu ide Anna."
"Kamu mengambil uang dari Yudha, sedangkan Anna menjadi istri Yudha. Cocok sekali, 500 juta kau pakai apa?"
"Menikahimu."
"Kaget aku. Yudha jangan mencari pacar atau istri janda sepertiku yang sudah punya anak. Mungkin kamu bisa menjadi suaminya, tapi menjadi ayah dari anakku kau tidak akan sanggup."
"Jangan banyak alasan, aku tahu kau tidak mau membuka hatimu karena kau pengecut, pikiranmu sempit dan merasa terpuruk."
__ADS_1
"Biarkan aku sendiri menata hidupku. Aku ingin tahu rencana selanjutnya yang akan kalian lakukan kepada Yudha."
"Kami akan menagih janji, maksudnya Anna. Karena dia yang menjadi korban."
"Aku rasa Yudha tidak sebodoh itu bisa saja dia membayar 500 juta tapi untuk menikah pasti dia tidak mau."
"Dia sudah menanda tangani surat bermeterai mana bisa mangkir."
"Yudha bisa mencari pengacara hebat, orang dia kaya dan pengacaranya bisa meninjau kembali pelaporan yang dibuat oleh Anna dan kawan-kawan. Siap-siap saja kau berada dibalik jeruji besi." kataku tertawa.
"Kau salah Luna, sebelum dia sadar jeruji besi sudah menunggunya, karena kasusnya denganmu membawa dia berada di hotel prodio."
"Harapan tidak semua bisa menjadi kenyataan. Adakalanya dia hanya bisa menjadi angan yang tanpa kita tahu tidak bisa masuk dalam genggaman.
Kita juga tidak pernah tahu harapan mana yang akan menjadi kenyataan."
"Aku yakin kami bisa memenjarakan Yudha dan mengambil asetmu."
"Dimas, disini bukan Yudha saja, om, paman, tante, mereka semua telah melanggar hukum. Orang ini aku ingin kasi pelajaran, supaya mereka kapok bagaimana tersiksanya berada di balik jeruji besi."
"Tentu semuanya, aku lebih condong menyebut nama Yudha karena aku benci melihat manusia itu."
"Katakan kau cemburu karena Anna menghempaskanmu dan Anna memilih Yudha. Kau kecewa?"
"Prasangkamu salah, Anna hanya sebagai ujung tombak untuk mendapatkan fulus."
"Aku tidak percaya jika kau tidak cinta, aku melihat ada luka di matamu. Kau kecewa karena sebentar lagi Anna menjadi istri Yudha yang kaya raya dan anakmu yang berada di dalam perut Anna menjadi anak Yudha."
"Aku tidak peduli, aku juga mendapat uang 500 juta dari Yudha. Aku bisa foya-foya dengan uang itu."
"Kau bisa membeli tubuh perempuan, tapi cinta Anna tidak bisa kau beli hahaha.... kau hanya pecundang bagi Anna, kau nista Dimas."
"Supaya kau tahu, Anna hanya cinta padaku, tidak ada laki-laki lain dalam hatinya. Tapi aku bersumpah akan membalas dendam perlakuan Yudha kepada Anna."
Perbincangan kami putus saat Dimas mendapat telpon dari Anna.
*****
__ADS_1