PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
(POV) YUDHA


__ADS_3

Darahku tiba-tiba mendidih, istri jalangku yang aku cintai ternyata membuat babuku kabur. Apa istriku memakinya dan menghina di depan teman-teman sosialitanya. Aku benar-benar ingin terbang supaya cepat sampai rumah.


"Tuan Luna kabur, dia hilang!" suara bibi terdengar gemetar di sebrang sana.


"Kabur bagaimana, aku suruh menjaga satu orang saja bibi tidak becus." bentak ku marah.


"Tadi nyonya datang bersama teman sosialitanya, sampai disini kedua scurity dan saya disuruh mengambil buah di kebun belakang. Kita sampai lupa kepada nona Luna. Setelah selesai baru kita tahu nona sudah hilang. Saya tidak memberitahu nyonya karena ada teman-temannya."


Laporan bibi membuat aku sangat marah kepada istriku. Semenjak perselingkuhannya aku jarang bertemu dengannya karena dia berinisiatif tinggal di rumah besar. Aku sangat mencintainya, memanjakannya setiap waktu. Mungkin itu yang membuat dia suka seenaknya menghamburkan uang dan memandangku sebelah mata.


Aku tidak pernah membatasi pergaulannya debgan teman-teman laki-laki nya. Tapi setelah kejadian tempo hari aku langsung kena mental. Semenjak kejadian itu aku tidak bisa memenuhi nafkah bathin kepada istriku. Aku sudah berusaha minum macam- macam obat tapi satupun tidak mempan, malah kalau bersama babu itu aku bagaikan kuda liar.


"Maaf sayank aku tidak bisa melakukannya." kataku untuk pertama kali. Rasanya ingin menangis kepada istriku yang kecewa.


"Makanya jangan suka kelayapan atau di pake diluar." ketus suara istriku.


"Sumpah sayank, aku hanya mencintaimu. Bukankah kamu tahu selama ini hanya kamu satu-satunya yang aku cintai."


"Aku tahu kamu sangat mencintaiku, bukan berarti kamu tidak selingkuh. Cinta dan selingkuh berbeda. Seorang suami tetap skan selingkuh walaupun dia tidak cinta dengan selingkuhannya. Suami selingkuh akan datang kembali pada istrinya. Karena dia cuma iseng."


"Terserah penilaianmu padaku malas berdebat."kataku pergi dari rumah besar dan mulai terbiasa tinggal di rumah kecil. Disini aku merasa nyaman, padahal rumahnya tidak semewah rumah besar.


Aku sangat heran, hanya dengan melihatnya saja hasratku bisa melonjak. Sungguh di luar akal sehat dan aku tidak mengerti. Dalam perjalanan asmaraku segala bentuk wanita cantik pernah mampir ke pelukanku, namun tidak satupun ada yang miskin apalagi dari golongan rendah atau seorang babu. Malah istriku yang paling tidak bermodal. Tapi ntah kenapa wanita dekil ini membuat aku mabuk kepayang. Aku yang membuka segelnya dan aku bangga.


Kadang aku berpikir si Luna memakai pelet, tapi ketika dia kabur seperti sekarang ini aku percaya dia murni ingin bebas. Aku sering terbayang wajahnya yang marah saat di obok-obok. Dulu dia kurus sekali sekarang body nya sexy habiisss....ahh, aku tergoda.


Sudah mau magrib, aku ngebut naik mobil supaya sampai dirumah. Sepanjang jalan mataku jelalatan mencari Luna, siapa tahu ada di pinggir jalan. Apalagi kalau ada yang berkerumun, aku cepat turun dari mobil jangan-jangan dia di tabk motor atau mobil.


Mobil masuk ke pekarangan rumah. Pak Koming, pak Simon dan bibi menyambut kedatanganku dengan wajah kusut. Aku menghampiri mereka.


"Nyonya mana?" suaraku keras tanpa bisa di kendalikan.


"Nyonya sudah pulang tuan, kami tidak berani memberitahu tentang kepergian nona."


"Harusnya dia bertanggung jawab tentang kaburnya Luna, wanita tidak tahu diri." gerutu ku geram.


Aku mengambil ponsel dan menghubungi Hanun. Berkali-kali aku telpon tapi tidak di angkat. Terakhir dia malah reject. Aku membayangkan dia dengan laki-laki lain.


"kriing...kriiing...kriing.." akhirnya Hanun menelponku.

__ADS_1


"Hallo sayank, maaf tadi ponselnya di tas." aku tidak menghiraukan kata-kata Vale, aku fokus mendengarkan suara laki-laki yang berada bersama Hanun.


"Kurang ajar, cepat kau datang!!" bentak ku.


"Sabar tuan, kita cari sama-sama semoga dia bisa ditemukan." kata bibi mengingatkanku.


"Kalian berdua cari ke jalan Dewi Sri, aku sama bibi akan mencari di tempat lain." kataku naik ke mobil.


"Sebelum dia lari apa ada gerak gerik yang mencurigakan?" tanyaku kepada bibi setelah kami berada di mobil.


"Sepertinya dia anak baik tidak ingin menggoda tuan. Padahal kslsu mau dua bisa, saya pernah melihat wajahnya."


"Aku juga sering melihat " kataku kurang faham. Jika aku menggasaknya maskernya pasti aku lepas, tapi tidak ada yang istimewa.


"Dia seperti bule tuan, cantik sekali."


"Banyak wajah begitu, mungkin ibunya jual barang asongan di pantai kuta, ketemu bule terus hamil, punya anak blasteran."


"Dia juga meminjam ponsel bibi, dia bilang telpon temannya. Bibi kasi ponsel jadul yang pulsanya habis."


"Siapa yang di telpon?" tanyaku ingin tahu.


"Ternyata sebuah hotel bintang lima." jawab bibi membuat aku semakin penasaran dengan wanita ini. Aku pikir dia tidak bisa menelpon. Kata istriku dia di jual oleh seorang ibu yang hidupnya jauh dari layak. Rumahnya di hutan.


"Kita sudah jauh tapi tidak ada tanda-tanda sosoknya kelihatan. Kita lewat jalan mesjid saja bi." kataku memutar.


Perasaanku sangat gundah, aku tidak mengerti kenapa rasa hampa itu merasuki jiwaku. Apa karena aku kehilangan Luna? tapi tidak mungkinlah, rasa sukapun tidak ada. Mungkin karena aku mendengar suara laki-laki di ponsel istriku?


"Haruskah aku menceraikannya?" gumamku.


"Tuan ada bicara? siapa yang mau diceraikan?" tanya bibi membuat aku terperangah..


"Tidak bi, aku lelah menghadapi Hanun."


"Sabarlah, semua ada jalan keluarnya. Jika tuan berani menikahi seorang wanita berarti tuan sudah berani mengambil resiko yang akan di timbulkan oleh pasangan tuan."


"Aku menikahinya karena mencintainya, jika setelah menikah dia menyalah gunakan kepercayaanku, tentu aku berhak mengambil tindakan." pungkasku.


"Bukankah tuan juga melakukan diluar norma, apa bedanya dengan nyonya?"

__ADS_1


"Bibi, itu pelampiasan sesat, mana selera aku dengan wanita dekil yang tidak selevel denganku. Sedangkan Hanun sengaja selingkuh dan mereka berpacaran."


"Saran bibi tuan dan nyonya sama-sama membuang kebiasaan buruk dan kembali bersatu. Siapa tahu nyonya bisa hamil."


"Harusnya dia bisa hamil sudah berapa laki-laki menjadi sparing patnernya."


"Jangan menyalahkan sepihak, tuan harus sabar. Ini cobaan hidup namanya. Lebih baik tuan fokus kepada nyonya, saling maaf- memaafkan."


Bicara sama bibi aku pasti disalahkan, lebih baik mengangguk saja supaya aman.


"Tuan itu nona!!" teriak bibi mengagetkanku. Tiba-tiba darahku berdesir. Aku sangat senang.


Benar juga, wanita itu berada di pinggir jalan seperti menunggu seseorang. Aku berusaha memajukan mobil dan berhenti. Saat ini cuaca sudah agak gelap, sehingga lebih memudahkan bagiku untuk mendekatinya. Rupanya dia tidak begitu fokus terhadap kedatanganku karena banyaknya orang menuju Mesjid.


"Sekali kau bergerak atau berteriak aku tidak segan-segan menyiksamu." ancamku setelah berada di belakangnya. Dia kaget dan cepat berbalik.


Sebelum dia berulah aku memeluknya dan membenamkan wajahnya ke dadaku.


"Diamlah ikuti aku, ada beberapa orang memandang kita." bisikku.


"Aku tidak mau mengikuti perintahmu! kalau kau paksa aku akan teriak." katanya ketus.


"Ada sepuluh polisi yang siap menangkapmu atas tuduhan kau mencuri di rumahku." aku merasa dia kaget.


"Aku benci kau." tangannya memukul dadaku dia pasti kesal padaku.


"Mari kita pulang, sampai dirumah jelaskan kepada polisi bahwa kau ada mencuri."


"Aku tidak sehina itu biarpun aku miskin tapi aku pantang mengambil milik iblis sepertimu."


"Tidak ada maling yang ngaku." sahutku.


Aku tidak meladeni marahnys, dengan memeluknya aku mengajaknya menuju mobil. Sampai di mobil dia memukul dan hampir menggigit lenganku. Aku yakin dia sangat marah dan kesal.


"Diamlah, nanti cari pengacara untuk membela dirimu yang tidak mencuri." kataku menakut-nakutinya.


"Maaf nona, bibi cuma mengikuti perintah tuan. Kenapa nona kabur, bibi habis dimarah gara-gara nona."


"Maaf bi...seandai bibi tidak datang aku pasti sudah ketemu teman."

__ADS_1


Biarpun dia marah tapi aku senang bisa melihatnya kembali. tentu di balik ini aku punya rencana jahat kepadanya.


*****


__ADS_2