
(POV YUDHA)
Seperti ayam makan permen karet, melongo tidak tahu harus berbuat apa. Dalam situasi ini aku tidak mau berbuat apa. Tapi aku akan jelaskan duduk persoalannya. Ini terjadi sudah lama, belum ada setahun.
Waktu aku memberikan hadiah rumah kepada Luna, aku sempat bertemu dengan Dhevalee di notaris. Waktu itu Luna tidak ikut karena tidak enak badan.
Saat bertemu Dhevalee, dia sempat tidak respon saat aku sapa, akhirnya kami tukeran nomer handphone. Aku lupa pertemuan itu karena asyik hidup dengan Luna. Aku merasa bahagia dan sangat mencintai Luna. Apalagi Luna sudah hamil. Saat aku memeriksakan kandungan Luna, musibah itu datang, Luna menghilang karena disiksa Hanun.
Aku mencari kepelosok desa dan ke semua tempat tapi tidak menemukan Luna. Akhirnya aku menghubungi Dhevalee, aku menanyakan keberadaan Luna tapi dia tidak tahu. Aku sangat khawatir dan terpuruk atas hilangnya Luna.
Mungkin karena wajahnya sepintas mirip Luna, membuat aku terhibur bersama Dhevalee. Rasa sedih yang mendalam kehilangan Luna membuat aku terbuai dengan rayuan Dhevalee untuk mabuk. Pertama cuma mabuk selanjutnya Dhevalee minta menginap di rumahku.
Aku yang tidak bisa berhubungan dengan wanita lain selain Luna membuat Dhevalee gigih mengobati aku ke psykolog dan juga sampai ke dukun. Dhevalee mengira Luna main santet, padahal yang membuat aku tertekan karena perselingkuhan Hanun.
Dhevalee akhirnya mencintaiku, dan aku memutuskan tidak mencari Luna kembali. Aku mulai semen leven dengan Dhevalee, dan Dhevalee sangat mengerti kekuranganku. Dia tidak terlalu menuntut. Sampai akhirnya bisnisnya bangkrut, Dhevale pulang ke negaranya.
Untuk mengisi kekosonganku aku beralih ke Anna sekretarisku. Aku tidak pernah mencintai Anna atau Dhevalee. Yang aku senangi dari Dhevalee karena dia memanjakanku walaupun sifatnya kaku. Dan menurut ap?a mauku.
Datangnya Luna kembali beserta anakku membuat aku melepaskan Anna. Disaat aku mulai bahagia karena Luna mau kembali Dhevalee datang dari luar Negeri. Disitulah aku stres berat karena takut Luna tahu, aku takut kehilangan Luna dan anakku, tapi juga kasihan kepada Dhevalee yang mencintaiku dengan tulus.
Aku hanya mencintai Luna dan sangat cemburu saat Dimas menyindirku di kantor pak De bahwa Luna sering tidur dengan pak Lukas dan akan menikah tidak lama lagi. Aku tidak sengaja menampar Luna dan perbuatanku itu aku sesali setiap hari.
Aku menarik semua uang di ATM Luna berharap dia datang karena Luna tidak akan bisa makan tanpa bantuanku, tapi Luna tidak datang. Aku berkesimpulan bahwa Luna sudah dibiayai hidupnya oleh pak Lukas. Apalagi Dimas dengan rajin mengirim foto atau vidio saat Luna bersama pak Lukas.
Aku kemudian mulai tidakp respek ketika pengacaraku memohon untuk mencabut gugatan itu. Luna dengan sombongnya menolak. Fix sudah, aku memilih Dhevalee. Aku juga tidak senang dengan Luna yang sangat cemburu dan pemarah.
Itu argumentasiku kenapa tiba-tiba aku menemani Dhevalee ke pengadilan karena aku gantungan hidupnya. Saat aku bertemu Luna aku kaget, aku kira dia akan memukul Dhevalee. Aku merasa Luna tahu hubunganku dengan Dhevalee dari sindirannya yang selalu memojokkan Dhevalee dan aku.
__ADS_1
Disitulah aku memperhatikan Luna jauh lebih cantik, glowing dan sexy dari Dhevalee. Luna kulitnya putih mulus, Dhevalee coklat tua. Keduanya cantik.
Kelihatan Luna kebih tegar, biasanya dia suka menangis, sekarang dia melihatku malah acuh. Aku seolah tercampakkan. Sedih banget. Aku Menyesal mengusir Luna tempo hari.
Bersama Dhevalee tidak membuat aku puas. Tapi Dhevalee sangat mencintai ku dan tidak pernah menyakiti hatiku. Dia tidak pernah membuat aku marah dan cemburu. Sedangkan Luna selalu membuat aku marah.
Luna disukai banyak orang, kadang gosip datang datang memerahkan wajahku. Dia dikaitkan dekat dengan Dimas serta pak Lukas. Bisa saja gosip itu benar. dia banyak lelaki. Itu yang membuat kesal.
Saat tadi bertemu di pengadilan aku tidak bicara sepotongpun takut salah. Aku membiarkan Luna ngoceh sepuasnya. Malah tadi aku ingin dia menamparku supaya impas.
"Sayank, kau rindu sama Luna? dia sudah melupakanmu. Buktinya dia begitu tegar dan fine-fine saja. Bisa saja pak Lukas menanggung hidupnya, dia tidak mengemis uang kepadamu." kata Dhevalee ketika aku berada di rumah.
"Nona Luna sudah kenyang menderita, saya berdoa supaya dia menikah dengan laki-laki yang setia." kata bibi membuat aku mati gaya.
Bibi sangat sayang kepada Luna dan selalu dia cerewet kalau aku membawa wanita lain ke rumah. Sindirannya membuat aku semakin takut kehilangan Luna.
"Nona Luna adalah wanita baik, setia dan bermoral. Dia pergi karena diusir tuan. Ada orang tega mengusir anaknya." gerutu bibi.
Aku hanya tersenyum mendengar ocehan bibi yang pro Luna.
"Sebelum dia kenal bibi saya juga sayang padanya, aku menganggapnya adik kecil yang suka marah. Siapa sangka kini dia menjadi sainganku."
"Nona, tidak usah bersandiwara, lanjutkan keinginan nona, saya rasa nona Luna sudah lupa dengan kalian." ketus suara bibi.
"Tuan Yudha saya besok izin akan ke rumah nona Luna dan Sean." sambungnya lagi.
"Bi, Luna sudah aku blokir ATM nya, dia pasti sulit hidupnya kecuali dia jual diri. Mungkin juga dia sulit makan."
__ADS_1
"Karena dia tidak punya uang saya harus menolongnya. Saya kasihan Sean, dia anak tidak berdosa dan kini menjadi korban."
Aku diam. Bibi seolah membuka mata hatiku, tidak seharusnya aku blokir ATM Luna. Jika tidak ada uang susupun tidak terbeli. Kenapa aku harus memusuhi Sean. Buat apa bekerja banting tulang kalau anak kelaparan. Bodohnya aku.
"Aku tidak ingin bibi kesana." ucap Yudha. Bibi berdiri dan pergi ke belakang. Dia sangat kesal sama tuannys.
Sudah biasa bibi mengomel dan ujung-ujungnya minta ke rumah Luna. Perasaanku jadi kacau kalau teringat Luna.
"Sayank, kita ke kamar." bisik Dhevalee menyenguh lenganku.
"Pergilah, aku malas sekali." jawabku.
"Aku yakin kau masih mencintai Luna. Buka matamu, Luna sudah bersama pak Lukas."
"Aku jahat sekali telah memblokir ATM luna. Dia sama sekali tidak punya uang. Aku kasihan dengan Sean." keluhku. Aku tidak berpikir sampai disitu.
"Bagaimana kalau aku kerumahnya memberi uang."
"Kita bersama kesana." kataku berdiri.
"Yudha biarkan aku sendiri, aku ingin memohon supaya Luna mau mencabut gugatannya. Luna akan luluh hatinya mendengar permintaanku."
"Dulu dia menurutimu, tapi sekarang belum tentu. Kau berdosa telah mengkhianatinya. Tidak ada yang setega kau."
"Kau juga sama, kita nembuat Luna bersedih. Jika dia tahu perselingkuhan kita, mungkin dia memenjarakanmu seumur hidup."
"Kalau begitu kamu kesana sendiri, bawa uang untuk menyogoknya." kata Yudha.
__ADS_1
*****