PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
MENCARI BUKTI


__ADS_3

Ketika bell pintu berdenting aku cepat- cepat membuka pintu. Aku langsung menghambur kepelukan Yudha. Dia juga memelukku dengan erat. Aku menangis di dadanya.


"Ayo kita ketempat tidur ceritakan dari awal. Supaya aku bisa melaporkan ke kantor polisi." kata Yudha, kemudian dia mengunci pintu.


"Kita cerita di ruang tamu saja." protesku. Aku takut Yudha memukulku.


"Aku ingin tahu dan mencari bukti. Bau parfum atau rambutnya, apa saja bisa sebagai bukti. Siapa tahu ada jejak bukti yang ditinggalkannya, baju atau sepatunya."


"Mana foto yang kamu maksud?" tanyaku penasaran.


"Kita periksa seluruh kamar, aku yakin masih ada foto lain." kata Yudha.


Kami masuk ke dalam kamar. Aku mengambil selimut yang teronggok di lantai. Aku kaget ada foto yang jatuh. Yudha mengambil foto itu. Astaga, aku menutup mataku ketika melihat foto mesum diriku.


"Sepertinya kau senang terlihat dari foto ini. Berarti kau tidak di perkosa."


Akhirnya aku bercerita dari awal ketika aku sampai disini. Yudha membelai rambutku dan berusaha menenangkan diriku. Aku menghapus air mataku dan menyusupkan kepalaku ke dada Yudha.


"Kalau kau bukan istriku aku sudah laporkan kejadian ini. Aku sangat marah dan cemburu." katanya duduk dipinggir tempat tidur.


"Apa kau tidak jijik menyentuhku? Semua tubuhku isi bercak merah." kataku membuka piyamaku.


"Astaga, hanya orang gila yang bisa melakukan ini." kata Yudha meraih tubuhku dan membawa ke tempat tidur. Yudha membelai rambutku dengan sedih. Aku merasa hina di depan dia.


"Sabar ya sayank, kau pasti sangat terguncang. Aku yakin ini ulah musuh kita. Kita menginap disini dulu, besok aku nenghubungi temanku yang polisi. Takutnya mobilmu diisi bom, kita perlu team gegana." katanya mengecup bibirku.


"Kau tidak jijik menciumku?"


"Tidak, aku mencintaimu, kau ibu dari putraku, mana bisa aku jijik." katanya. Aku tidak percaya kepadanya, tapi aku juga tidak protes.


"Kau pasti menunda marahmu dan akan memukulku atau menghinaku nanti di saat kau marah."


"Tidak sayank, aku ingat waktu aku memperkosamu, waktu itu aku tidak peduli. Sekarang aku akan menebus kesalahanku itu." kata Yudha mulai menanggalkan pakaiannya.


Saat ini aku tidak mau melawan, aku membiarkan Yudha menguasai tubuh ku. Dia begitu liar membuat aku mabuk kepayang. Yudha seperti kuda yang terpacu, kuat dan konsisten. Aku melayang terbuai dalam hasrat yang menggebu, sampai lupa problemku. Aku menyadari Yudha memanfaatkan kesempatan ini. Aku tidak peduli dan ikut lebur menjadi satu.

__ADS_1


"Sayank, kita membersihkan diri dulu. Perasaanku tidak enak, aku mau keluar melihat mobilku." kata Yudha saat kami berada di kamar mandi.


"Aku ikut yank." rengekku ketakutan.


"Kamu disini saja. Aku akan memesan makanan untuk kita. Ingat beri khabar Heny bahwa kamu tidak bisa pulang. Suruh tutup pintu siapapun tidak boleh masuk, biarpun itu Dimas atau pak Lukas."


"Jangan lama aku takut sendiri disini sekalian lihat mobilku di lobby."


"Sebentar saja." kata Yudha buru-buru.


Aku duduk di sofa, aku takut kalau orang yang punya kamar datang. Tapi jika dia datang aku akan memukulnya.


"Deesssrrrr......" ponselku bergetar. Aku melihat ada chat masuk. Tidak ada nomer pengirim.


-Jika kau mempersulit sidang aku tidak segan-segan menyebarkan fotomu di sosmed -


- Siapa kau bajingan, kau pengecut. Kalau berani tunjukan dirimu -


Tulisku dengan tangan gemetar. Dadaku berdebar dengan amarah yang meluap.


- Brengsek!! Bajingan kau, aku laporkan kau ke polisi -


-Cepat laporkan supaya aku bisa menyebar fotomu. Ingat satu lagi BEBASKAN YUDHA sampai dia di penjara aku akan membunuh anakmu juga -


Gigiku gemerutuk saking marahnya membaca pesan itu. Aku tidak tahu harus bagaimana menyikapi masalah ini. Aku hanya bisa menangis menahan sedih. Untung Yudha cepat datang aku merasa lega.


"Ada apa lagi?" tanyanya menatapku.


"Aku merasa antek-antekmu yang membuat ulah. Dia menginginkan supaya aku membebaskanmu. Bisa saja pengacaramu atau suruhanmu yang lain." kataku emosi.


"Sabar..sabar, jangan gampang emosi menyikapi masalah begini. Ini sistim adu domba supaya kita saling curiga. Jika dalam keadaan tenang kita akan mendapat jalan keluar."


"Jalan keluar apa, aku dari dulu tidak mengerti hukum. Jika aku tahu sudah aku bebaskan kau. Tidak perlu banyak trik begini."


"Sekarang kau bisa membebaskan aku asal kau mau, tapi kau tidak mau. Mungkin itu yang membuat orang lain marah kepadamu dan terjadilah masalah ini."

__ADS_1


"Orang itu siapa? kau, Dhevalee, pengacaramu atau ada wanita lain lagi." suaraku tinggi.


"Bisa saja perbuatan tadi dari kubumu, misalnya pak Lukas yang sangat mencintaimu, Dimas yang setia menunggumu atau orang lain yang mencari keuntungan dengan kejadian ini."


"Orang yang kau sebut tidak punya kepentingan, tuduhanmu ngawur dan tidak masuk akal."


"Dengar Luna, aku ingin bebas tapi kalau syaratnya kau harus menikah dengan pak Lukas aku tidak mau. Aku sudah siap di penjara. Aku yakin cintamu tidak mungkin luntur kepadaku, keluar dari penjara aku bisa menikahimu." kata Yudha lirih suaranya terdengar tercekat. Aku jadi kasihan.


"Tapi jika aku di penjara pak Lukas tidak mempunyai peluang untuk menikahimu. makanya dia membuat rekayasa ini." sambung Yudha.


Aku tidak tahu dan otakku mau pecah memikirkannya Aku ragu dengan omongan Yudha.


"Mungkin ini ulah Dhevalee, temanku yang durhaka, dia bisa merebutmu dari sisiku tanpa merasa bersalah. Sifatnya jahat. Hanya yang punya sifat begitu bisa melakukan ini padaku."


"Dhevalee sudah pulang kenegaranya. Tidak mungkin dia berbuat ini, kami sudah putus. Dia sudah insyaf dan tidak mungkin kembali lagi." pungkas Yudha.


"Semoga dia tidak kembali. Dia itu bukan teman tapi musuh dalam selimut." kataku dengan gusar.


"Maafkan aku dan maafkan juga Dhevalee." kata Yudha memohon.


Dia menghampiriku dan mengajak aku ke ruang tamu. Aku duduk dengan rasa marah, karena aku berpikir semua kejadian ini berpangkal dari ulah Yudha dan kawan-kawannya. Yudha menuju kulkas dan mengambil dua botol minuman ringan.


"Minumlah." kata Yudha menyodorkan air mineral. Aku mengambilnya dan langsung menghabisinya.


"Terus sekarang harus bagaimana?. Mengingat waktu akan terus berjalan sedangkan aku malu kalau fotoku akan tersebar."


"Orang ini licik, tidak satupun wajahnya berada di fotomu."


"Kalau ada, pasti aku sudah laporkan ke kantor polisi. Kau kalau bicara aneh." sahutku ketus.


"Kau dekati pak Lukas katakan kepadanya kau mau menikah asal aku dibebaskan. Kau bertunangan dulu, jangan mau dipeluk atau dicium sebelum menikah. Bikin agreement dulu, nanti kalau ada tanda-tanda kau hamil minta putus saja.


Masuk akal juga, aku mengangguk mau menelpon pak Lukas. Ini salah satu jalan terbaik. Tapi Yudha menghalangi ku dan meminta aku menunda menghubungi pak Lukas.


*****

__ADS_1


__ADS_2