
Dua minggu aku terkurung di pavillion gara-gara gugatan pra peradilan yang akan bergulir minggu depan ini. Jenuh tentu saja, tapi ada Sean membuat aku terhibur. Walaupun tidak ke boutique aku bisa bekerja dari rumah.
Menurut pak Lukas aku adalah saksi kunci, korban yang terancam akan di bunuh. Takut tentu saja, karena pernah mengalami percobaan pembunuhan. Aku memikirkan Yudha, tentu dia sangat takut dan berharap tidak di penjara.
"Tookk...tookk...tookk." suara ketukan pintu membuat aku menyeret kakiku untuk membuka pintu utama. Aku agak heran kenapa sepi. Biasanya Heny dan PRT suka berkeliaran disini. Tapi hari ini mereka kemana?
"Ada apa pak?" aku kaget melihat pak kardi di depan pintu dengan keringat memenuhi wajahnya.
"Nona Luna, Sean jatuh bibir dan dahinya berdarah." kata pak Kardi dengan wajah khawatir.
"Biasa anak kecil pak Kardi, dimana dia sekarang?"
"Dia dilarikan ke rumah sakit."
"Apa? siapa yang mengajak ke rumah sakit, kenapa dikasi." suaraku meninggi karena kaget.
Mereka malah baru bilang, harusnya minta persetujuan padaku. Aku cepet mengambil kunci mobil dan dompet. Aku berlari ke depan.
"Nona...nona...bawa motor saya supaya tidak macet." kejar pak Kardi sambil menyerahkan kunci motor. Aku
menyambar kunci motornya.
"Hati-hati di jalan nona." aku cuma mengangguk. Aku takut anakku di culik.
Lari NMAX itu sangat kencang, aku biasa touring di L A, jadi tidak masalah bawa motor atau mobil, aku sudah biasa ngebut. Aku punya keyakinan bahwa Heny nembawa Sean ke rumah sakit terdekat, bisa saja ke klinik langgananku.
Sampai di klinik P. Asih aku bergegas turun dari motor dan setengah berlari menuju bagian informasi. Saking buru- burunya aku menabrak orang. Aku oleng, untung ada tangan memelukku. Setelah aku menoleh siapa orang yang menolongku jantungku berdebar keras.
Mata kami bertemu dan aku cepat sadar dan berlari, untung klinik sepi, ada satu dua suster bolak balik.
"Lunaa...." dia berteriak memanggilku, dadaku berdebar kencang.
Aku mencari toilet, baru kakiku melangkah masuk bajuku sudah ditarik dari belakang. Dalam sekejap tubuhku sudah berada di pelukannya.
"Mau lari kemana, ke ujung dunia pun aku akan temukan." bisiknya.
Aku berontak, tapi tubuhku di dorong ke tembok dengan tangan berada di atas kepala. Dalam sepersekian detik bibir ku telah di jajah oleh bibir Yudha. Tanpa jeda dan berlanjut....
"Kebiasaan nyosorr....." kataku menarik nafas berusaha melepaskan diri dari pelukannya.
__ADS_1
"Apa kau tidak bisa memakai pakaian yang sopan?" tanyanya sambil menekankan aset nya ke tubuhku.
Seketika badanku meremang. Sialan tubuhku tidak bisa diajak kompromi. Baru aku menyadari aku hanya memakai tank top dan celana pendek dari jean serta sandal jepit.
"Anakku. ..." kataku nenolak tubuhnya, tentu aku sulit bebas dari tubuhnya yang kekar.
"Anak kita." bisiknya seraya membuka jas nya dan memakainya ke tubuhku. Aku diam saja saat dia nengecup bibirku.
"Namanya Sean perkasa, ganteng seperti ayahnya." katanya tersenyum.
"Dari mana kau tahu?" tanyaku heran.
"Mana kau tahu anakmu jatuh dari stroller, karena kau asyik pacaran dengan Dimas. Pantesan kau ingin sekali memenjarakan ayahnya Sean supaya kau bebas dengan Dimas."
Degg!! aku terdiam dan perlahan melangkah mengikuti dia menuju UGD. Kami saling mengunci bibir dengan pikiran masing-masing. Aku meliriknya ketika ponselnya terus berdering, tidak satupun panggilan itu dia jawab.
Sampai di UGD aku melihat Sean sudah tertidur berada di gendongan Heny. Aku langsung mengambil alih Sean dari Heny.
"Bagaimana dia..."
"Maaf nona saya yang bersalah." kata Heny ketakutan.
Setelah dokter mengizinkan Sean pulang aku keluar dari klinik. Biayanya semua ditanggung oleh Yudha.
"Heny kau bonceng aku atau aku bonceng kamu, aku membawa motor pak Kardi."
"Kalian boleh saling bonceng, sini bawa anakku. Kau tidak kasian, anak sakit kau ajak naik motor." kata Yudha dengan wajah masam. Aku jadi serba salah.
"Heny, ini kunci motornya aku mau naik mobil. Hati-hati di jalan."
"Baik nona.."
Akhirnya aku ikut Yudha menuju mobil. Dia tidak naik Rubicon, dia naik mobil Lamborghini. Terpaksa aku duduk di sampingnya.
"Sean minum susu apa?" tanyanya ketika kami sudah sampai di jalan.
"Susu ibu...kau tidak usah ikut campur mengurusi anakku. Urus saja Anna selingkuhanmu."
"Buka jas nya, mungkin anak kita haus." kata Yudha tidak terpengaruh dengan ocehanku. Aku melihat Sean membuka mata dan merengek. Aduh bagaimana ini, aku tidak bawa dot.
__ADS_1
"Kasihan Sean, dia menangis mirip anak sapi."
"Anak sendiri di bilang mirip anak sapi gimana sih, pemali tahu." ketusku.
"Kalau kau tahu itu anakmu kenapa kau kasi susu sapi? terus susumu untuk Dimas begitu?!"
"Diam mulutmu kalau tidak tahu apapun, aku tidak semurah kau, dasar bajingan, buaya darat." semprotku. Aku marah dan ingin menendangnya. Panas.... sungguh mati aku membara.
"Anaknya menangis gimana sih." katanya menepikan mobilnya.
"Aku gendong Sean, kamu buka jas nya. Cepat dikit."
Walaupun dengan mulut cemberut aku menuruti perintahnya. Dia memandang dengan seksama ke dadaku. Kesel banget. Setelah Sean pewe mobil mulai melaju. Sesekali Yudha melirik dengan senyum genit.
"Aku bukan menuruti perintahmu, aku cuma kasihan Sean. Aku sudah ada yang punya."
"Aku tahu, setiap saat dia datang ke kamarmu. Mana mungkin perintahku berharga, sudah ada Dimas." katanya sambil tangan kirinya mengelus rambutku.
"Ciss..jangan pegang-pegang, kau pikir aku tidak tahu kau mau menikahi Anna. Kau juga memberi Anna uang 500 juta sebagai uang damai. Kau setan, aku benci kau." teriakku. Aku baru sadar ketika Sean menangis.
"Duhh...bikin Sean kaget saja, tidak boleh berantem kalau ada anak, nanti berpengaruh dengan jiwanya."
Aku lalu sibuk menenangkan putraku yang terus menangis. Sampai aku tidak sadar bahwa mobil masuk ke rumah Yudha. Setelah berhenti baru aku sadar. Bibi langsung menyambutku.
"Nona... aduhh.. mimpi apa semalam bisa ketemu bocah bsguss...." bibi langsung mengambil Sean yang masih menangis dan menggendongnya.
Aku tidak enak hati dan menyerahkan Sean. Sepertinya bibi sudah di kontak oleh Yudha. Yang nembuat aku tambah kaget Heny sudah berada disitu.
"Maaf nona saya langsung kesini karena tahu, nona pasti diajak kesini oleh tuan."
"Apa kalian sekongkol?"
"Tidak nona ini firasat.." pungkas Heny tersenyum. Yudha sibuk menerima telpon, tidak mungkin mengganggunya Melihat aku seolah bingung bibi lalu berkata,
"Nona boleh pulang, biarkan cah bagus disini. Ini juga rumahnya." kata bibi tidak mau melepaskan putraku. Bibi dan Heny malah menjauhiku dan pergi ke belakang.
"Aku mau bicara tentang apa yang kau tuduhkan padaku. Supaya kau tidak salah persepsi." kata Yudha menarik tanganku ke kamarnya.
****
__ADS_1