
Tindakan Dimas yang mengajak ku pulang membuatku bingung, karena tidak ada ibu di rumah seperti yang dia bilang. Rumah ibu sepi. Akhirnya Dimas terus terang juga bahwa aku ditunggu di kantor pak De.
"Kau ke kantor pak De, kita sudah di tunggu." kata Dimas dengan sorot mata tajam.
"Mana ibu, bagaimana keadaan pak De?" tanyaku menghentikan langkahku.
"Tidak ada ibu atau siapapun yang ingin kau temui. Saat ini hanya ada aku yang kau harus ikuti perintahku."
"Aku tidak mau, emangnya kau siapa?"
"Orang yang akan menolongmu. Aku dan rekan ditunjuk oleh pak De untuk melanjutkan perkaramu sampai tuntas. Mulai hari ini kasusmu akan kami buka kembali. Jangan membuang-buang waktu terlalu lama. Pak De memberi kuasa kepada kami, beliau tidak bisa melanjutkan perkara ini dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Kau harus bisa diajak bekerja sama supaya masalah ini cepat di selesaikan." kata Dimas percaya diri.
"Bagaimana keadaan pak De dan ibu?"
"Kau tidak perlu tahu." kami mengurus semua keperluannya.
Walaupun ragu-ragu aku tetap mengikuti Dimas ke kantor pak De. Aku naik mobil sendiri tidak mau numpang di mobil Dimas. Sampai di kantor pak De, Dimas mengajakku masuk ke ruangan rspat. Saat aku masuk sudah ada rekan pak De yang menungguku. Aku malu menjadi perhatian mereka.
"Selamat sore nona Luna, silahkan duduk. Kamu pasti sudah kenal dengan kami semua, aku dan rekan-rekan akan melanjutkan perkara yang pak De sedang kerjakan. Ini murni perintah dari pak De, ini surat perintah dari beliau." kata pak Lukas menyodorkan map biru yang berisi selembar surat perintah kerja.
"Pak Lukas dan rekan, saya pribadi tidak akan mempermasalahkan siapa yang di tunjuk oleh pak De, asal sesuai khazanah hukum yang berlaku." kataku tegas. Aku tidak ingin ada permainan disini.
"Kami bergerak atau bekerja dibawah pengawasan pak De, kamu jangan curiga kepada kami nona." kata pak Winarno menatap ku. Aku tersenyum tipis dan mengedikkan daguku.
"Aku tidak perlu menjawab apapun tentang hukum di negara kita, itu sudah umum. Aku hanya hati-hati saja. Masalah ini sudah setahun lebih, aku ekstra hati-hati selama ini sampai aku bertemu pak De." kataku diplomatis.
"Oke, nona Luna, kami semua dibawah petunjuk pak De jangan ragu kami kerja dengan konsisten, adil sesuai jalur hukum. Sekarang tolong nona ulang kembali dari awal kejadian yang nona alami, jangan di kurangi atau ditambahkan. Real."
"Siap pak Lukas." kataku mencoba percaya, karena mereka menjual nama pak De.
"Silahkan Dimas merekam semua pembicaraan nona Luna."
"Ya Pak Lukas. Luna kau masuk keruanganku, tolong Yuly siapkan semuanya."
Akhirnya aku Yuly dan Dimas duduk di ruangan Dimas. Yuly mulai menata alat perekam dan sebagainya.
"Nona Luna duduk disini." kata Yuly menyuruh aku duduk di depan Dimas.
"Tenangkan dirimu, jangan grogi dan takut, aku ada disampingmu. Kalau kamu sudah siap aku mulai akan menanyakanmu." kata Dimas. Aku merasa sikap Dimas berubah lebih baik dari sebelumnya
__ADS_1
"Coba kau ceritakan seluruhnya siapa dirimu, aku ingin tahu." Dimas mulai mau menginterview ku.
"Bukannya pas pristiwa saja, biodataku khan sudah ada." sanggahku.
"Garis besarnya saja, nanti pada saat menceritakan kejadiannya baru kamu cerita sedetil-detilnya. Yuly silahkan keluar." kata Dimas.
Aku mulai bercerita dengan cara bertutur. Mengingat masa-masa sulit pada saat aku menjadi anak ibu kompyang, terus dijual dan diperkosa Yudha, membuat mataku berkabut. Anehnya Dimas bangun dan mengelus punggungku. Selesai merekam ucapanku. Dimas menyimpan flashdisk di filling cabinet.
"Sabar Luna, itu masa lalu. Aku tidak tahu bahwa kau sangat menderita selama ini." hibur Yudha.
"Aku tidak apa-apa semua sudah berlalu, aku hanya ingin memenjarakan mereka." kataku geram.
"Aku sudah menyelidiki semua asetmu. Bisnismu dalam keadaan sehat dan yang mengambil hasilnya Yudha. Pak Cakra dan saudaranya menggadaikan semua asetmu dengan harga cukup murah. Mereka menghamburkan uang yang di dapat, seperti OKB." kata Dimas kembali duduk di kursinya.
"Aku tahu itu, makanya aku lari dari rumah Yudha yang baru. Ternyata Yudha kerja sama dengan paman Randu." kataku.
"Apakah laki-laki yang ada di boutique ayah dari Sean?"
"Dia mengatakan sangat mencintaiku dan dia ingin menikahiku. Seharusnya aku memberi kesempatan untuknya."
"Kau percaya dengan mulutnya. Karena kau kaya dia jadi mempertahankan dirimu. Coba kau miskin orang itu tidak mungkin peduli padamu."
"Tapi dia mencintaiku."
"Aku tidak peduli." ketus suaraku.
"Pantesan kau dibilang pelakor oleh Anna, rupanya ini pemicunya. Terakhir Anna mengadu padaku dia hamil."
"Kau menghamilinya? Karena Yudha tidak mungkin bikin anak dengan Anna."
"Rupanya kau mencintainya, makanya kau membelanya."
"Aku tidak senang sama Anna yang semena-mena dan murahan."
"Kau cemburu." kata Dimas menyeringai.
"Aku benci sama Anna, titik!!"
"Anna berbuat begitu karena rayuan dari Yudha. Dia sekretaris Yudha, tiap hari bertemu pasti membuat mereka saling jatuh cinta. Anna cantik, sexy... siapa yang tidak tergiur dengan Anna."
__ADS_1
"Apa kau membela Anna? kau di campakan olehnya?"
"Aku yang mencampakan dia karena banyak menuntut." kilahnya.
"Kau maunya bikin anak saja dengan Anna, tapi tidak mau bertanggung jawab. Jelaslah dia marah dan mencari yang kaya dan bodoh seperti Yudha."
"Yudha harus menikahinya."
"Mana Yudha mau, di dalam perut Anna ada anakmu, Yudha tahu itu."
"Lihat saja nanti aku bisa membuat Yudha mengikuti perintahku."
"Aku tidak yakin, Yudha adalah orang yang di kelilingi orang pintar, jadi dia tidak mungkin kena tipu muslihat Anna atau tipu muslihat kalian berdua." kataku sedikit bohong.
"Lihat saja nanti, biarkan Anna bersama Yudha, kita mulai penjajakan." kata Dimas menatapku.
"Selesaikan perkara ini supaya aku bisa hidup sendiri." kataku berdiri, mau keluar dari ruangan Dimas. Tapi Dimas menahanku, dia tersenyum memberi sebuah bungkusan cantik kepadaku.
"Luna, ini untuk Sean. Baru bisa memberi padahal sudah dari dulu tersimpan di laci ku."
Modus!! Mengapa Dimas baru baik kepadaku, setelah Dimas tahu bahwa aku orang kaya.
"Trimakasih Dimas." kataku keluar dari ruangan Dimas.
Setelah aku di cerca pertanyaan dan menyerahkan bukti-bukti terkait aku boleh pergi. Dengan langkah gontai aku menuju ke pavillion di belakang. Tanpa aku sadari Dimas nengikutinya.
"Kenapa kau membuntutiku?" tanyaku menoleh ke belakang. Dasarnya memang aku kurang senang kepada Dimas.
"Aku akan terus mengawalmu, takut terjadi sesuatu kepadamu seperti pak De. Kau adalah saksi utama, korban yang harus dilindungi."
"Kalau begitu aku akan menyewa polisi atau bodyguard."
"Jangan melibatkan orang lain. Pak De saja kena ancaman perbunuhan dan mobilnya hancur."
"Terus harusnya bagaimana?" tanyaku tidak mengerti. Demi keamanan aku bisa menyewa polisi.
"Aku yang akan menjagamu 24 jam."
"Dimas jangan ngacau, mana mungkin pembunuh takut dengan orang yang tidak membawa pistol. Aku juga tidak mau merepotkanmu." pungkasku.
__ADS_1
"Aku akan menyembunyikan kau sampai gugatan selesai, orang-orang jahat itu diadili semua." kata Dimas bersemangat. Biasanya Dimas ini julid dan sinis kepadaku. Mendadak baik. Moduss.
****