PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
KEMBALI TERPURUK


__ADS_3

Selesai mencuci aku cepet-cepet menuju kamar dan mengambil semua bajuku yang berada di kamar mandi. Aku memilih kamar di sebelahnya kamar Yudha. Mencari aman saja, siapa tahu nyonya datang lagi.


Malam ini aku sedang duduk berdua di teras depan bersama bibi bercerita ngalor ngidul, bibi lebih banyak bercerita, sepertinya hidupnya lebih banyak variasi dari padaku.


"Kata tuan nona adalah orang yang harus dijaga dan dilayani, tapi kenapa nyonya itu memaki nona dan ...."


"Dulu aku dibeli sama nyonya dan menjadi pembantu di rumahnya. Tapi tuan malah membawaku kesini, aku di sandra dan dijadi kan' budaknya. Mau lari tidak bisa, karena tuan tidak memberi uang. Aku merasa seperti tahanan."


"Tega sekali ibu nona menjual anaknya, harganya lebih murah dari harga sembako."


"Dia bukan ibu kandungku, tapi dia sangat baik memungut ku, kalau tidak ada mereka mungkin aku sudah meninggal."


"Maksudnya dia orang tua angkat nona?"


"Aku pernah disiksa ole orang dan di lempar ke lembah di lereng gunung. Ibu inilah dan suaminya menyelamatkan aku."


"Astaga...pantas rambut nona cukurannya aneh. Aku juga melihat nona tidak seperti pembantu biasanya, malah nona terlihat seperti bule. Lebih baik nona jangan memakai masker dan krudung. Kalau ada waktu luang saya akan anterin nona ke salon untuk potong rambut."


"Aku tidak pede kalau tidak menutup rambut, sudah agak panjang sekarang, tinggal aku rapiin. Kapan-kapan aku ke salon."


"Siapa yang jahat itu, laporin saja ke polisi, kalau di diamkan tambah ngelunjak."


"Biarin dulu, mereka berbanyak, aku trauma kalau ingat kejadian itu."


"Sabar non, Tuhan maha pengasih, asal nona selalu berbuat baik, semua kebaikan akan berbalik kepada nona. Ada hukum tabur tuai. Siapa yang jahat akan menerima karma buruk, dan yang berbuat jahat akan menerima karma buruk."


Aku terhenyak, selama ini aku dan tuan Yudha sudah berbuat dosa, aku menjadi pelakor, walaupun hati kecilku berontak, tapi tetap saja aku berdosa.


"Bibi apakah seorang gadis jika dipaksa melayani suami orang ikut berdosa?" tanyaku ingin tahu. Bibi menatapku tajam, dia tidak menjawab sepatah katapun, sampai terdengar suara mobil memasuki rumah. Aku tahu itu suara mobil tuan.


Aku berdiri bersamaan dengan bibi. Kami ke depan, ternyata ada nyonya Hanun. Tuan dan nyonya berjalan mesra. Wajahku memerah dan jantungku berdetak kencang. Kenapa aku merasa gundah begini?


"Ehh..babu, bawa koper turun, letakan di kamar tuan!" perintah nyonya menunjukku.


"Ya nyonya...." sahutku berjalan ke mobil. Aku melihat tuan acuh padaku, dia malah memamerkan kemesraannya dengan istrinya. Aku merasa marah karena terjebak di dalam lingkaran hasratnya.


"Nona, saya mau membuatkan tuan dan nyonya minum, nona yang membawakan kopernya ya?"

__ADS_1


"Ya bi...."


Menjadi pekerja kasar lebih sulit dari pada, pekerja kasar yang tiba-tiba duduk di belakang meja pakai dasi. Aku merasa telapak tangan menjadi kasar, sampai kuku terus aku potong karena sering patah. Belum lagi bau badan yang biasa wangi berubah menjadi apek, karena mandi tanpa sabun. Tragis sekali. Aku yakin Tuhan menghukum diriku.


"tookk...tookk...tookkk.." aku mengetuk pintu karena nyonya menyuruh menaruh koper di kamar.


"Masukkkk....." teriak nyonya membuat aku ragu membuka pintu. Jangan-jangan mereka anu. pikirku. Tapi aku tepis pikiran buruk itu dan tetap masuk.


"Permisi." kataku menunduk, takut melihat mereka. Ntah apa yang mereka perbuat.


"Rapikan sekalian di almari!!"


"Sayank, biarkan babu ini keluar supaya kita konsentrasi." aku dengar bajingan itu berbicara kepada nenek sihir itu.


"Biarin, jangan dikasi enak. Gelandangan seperti dia mana ngerti kerja, tahunya makan saja." ketus suara nyonya.


Sabar.. sabar...aku yang biasa tegas dan sedikit prontal sekarang hanya bisa menelan sakit hati. Aku menahan air mata yang hampir jatuh. Rasanya ingin sekali melempar isi koper ini ke wajah kedua manusia sombong itu.


Aku cepat-cepat menata pakaian nyonya Hanun, lalu keluar tanpa permisi. Hampir aku membanting pintu, untung aku cepat sadar bahwa perjalananku masih panjang, karena musuhku semua masih merajalela.


"Sabarlah nona, nanti kalau nona sudah gajian lebih baik nona pergi dari sini." kata bibi menghiburku.


"Aku tidak mungkin digaji bi, karena aku dulu dibeli oleh nyonya."


"Jika nona tidak di gaji, nanti bibi beliin sabun, sampho dan keperluan wanita. Bibi tidak janji semoga bisa membantu kamu keluar dari sini."


"Trimakasih bi..." kataku tulus.


"Mari kita tidur, ingat kunci pintu. Siapapun tidak boleh masuk ke kamar kita, walau itu nyonya, karena kita punya privasi sama seperti mereka. Jika ada yang memanggil kita yang keluar bukan mereka yang masuk." pesan bibi.


"Ya bibi."


Kami menuju kamar masing-masing. Aku sekarang berada tepat disamping kamar tuan. kalau nyonya tahu aku tidur disini mungkin aku digiles pakai ulekan sambel. Harusnya aku tidur di kamar pembantu, bodohnya aku. Tapi aku bersyukur sudah memindahkan semua bajuku dari almari tuan. kalau tuan tahu aku pernah menaruh baju lusuh di almarinya, tidak terbayang kalau dia marah.


Sebelum tidur aku kembali mandi, gerah sekali, berusaha mengilangkan beban dihati. Setelah itu aku berusaha tidur. Antara sadar dan tidak aku merasa tubuhku ditindih oleh benda yang berat. Nafasku sesak. Lambat laun aku merasa ini nyata, bukan mimpi. Aku berusaha berontak, tapi tenagaku kalah. Brengsek...manusia biadab, setan.


"Diam, atau aku bunuh kau!!" ancamnya.

__ADS_1


"Pergi kau bajingan!!" ketusku dengan dada mau meledak saking bencinya.


"Aku tahu kau pakai pelet, hanya dengan kau aku bisa berhubungan."


"Bajingan!! aku akan gigit kau supaya istrimu tahu kau selingkuh." kataku mencari lehernya.


"Gigitlah supaya aku tambah puas."


Malam ini aku kembali terperosok dalam duka, air mataku kembali jatuh. Selalu begitu, kapan ini akan berakhir. Aku menyiram tubuhku dengan air shower yang hangat berharap semua limbah maksiat lenyap dari tubuhku.


Untungnya maniax itu tidak memaksa kehendaknya bermain beronde-ronde. Mungkin karena ada istrinya disini. Tapi darimana iblis itu masuk, padahal aku sudah mengunci pintu kamar. Apa ada pintu rahasia?


Aku naik ketempat tidur dan berusaha menutup mata. Besok aku harus bangun pagi supaya bisa pindah kamar. Jangan sampai nyonya duluan bangun, aku bisa menjadi bulan-bulanannya.


Sungguh sial nasibku, ntah ngidam apa ibuku waktu hamil, sehingga aku se-sial ini. Pagi ini aku bangun pukul 07.45 wita. Aku butu-buru mandi dan keluar kamar. Baru aku melangkah tangan nyonya sudah melayang.


"Plookk...plookk...plookk" sontak aku menjerit dan memegang pipiku. Nyonya sudah berkacak pinggang dengan mata melotot sambil memakiku. Semua nama binatang di kebun binatang ditujukan padaku.


"Kau sudah merasa hebat berani tidur di kamar ini dan bangun siang. Kau pikir siapa dirimu, dasar babu."


"Maaf nyonya, dia tadi malam saya ajak begadang, jadi kemalaman tidurnya." kata bibi membelaku.


"Siapa kau membelanya, biarpun kau sudsh tua, aku tidak hormat padamu. Kamu sama dengan babu ini, malas!!"


"Maaf nyonya, kalau nona tidak senang dengan kerja kami, boleh kami di pecat." kata bibi selanjutnya.


"Jangan belagu? aku sudah banyak rugi mengajak babu ini kesini, membeli dia dari kampung supaya ibunya bisa bayar hutang dan bisa makan. Tapi balasnya sangat menyakitkan." kata nyonya dengan suara tinggi.


Aku tetap berdiri kaku tanpa berani melawan apalagi Yudha datang ikut nimbrung dan mengejekku.


"Makanya nyari babu lihat bibit, bobot, bebet jangan juga mencari jauh di pedalaman, akibatnya begini, dia tidak tahu etika, sopan santun." kata Yudha sambil main ponselnya.


Aku pingin muntah mendengar kata-kata maniax itu. Gara-gara dia menggasak tubuh ku semalaman, aku jadi kesiangan bangun. Aku sumpahin supaya nyonya cepat tahu suaminya berselingkuh. Kesel banget aku. Kapan kedua manusia itu kena batunya.


"Cepat kau kerja, sapu keliling. Pohon yang rimbun kamu pangkas dan bentuk supaya bagus dipandang mata. Jangan mencoba lari dari sini, kalau kau membangkang aku akan menyuruh scurity melempar kau ke kandang anjing." gertak sambel. bathinku. Apa semudah itu aku di lempar. dasar wanita tidsk punya empaty.


*****

__ADS_1


__ADS_2