PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
KEKASIH DIRGANTARA


__ADS_3

Umur seseorang tidak menjamin orang itu terlihat dewasa di dalam menyikapi suatu masalah. Seperti Dirgantara, dia sudah matang punya power di dalam dunia bisnis, tapi menghadapi masalah ku dia nervous. Dia maju mundur sedangkan aku ingin supaya cepat selesai.


Aku malu terlalu membebani om dan tante tentang keuangan. Masalahnya aku punya uang, aku pemegang black card. Kartu ini adalah kartu kredit eksklusif yang hanya ditawarkan bank kepada nasabah berpenghasilan tinggi.


"Aku mengkhawatirkan keselamatanmu. Setelsh kita laporkan mereka akan mencari keberadaanmu dan membunuhmu." kata Dirga menatapku ketika aku mengusulkan membuka rekeningku di bank.


"Sekarang atau nanti di buka kasus ini tetap saja akan membahayakan nyawaku. Itu resiko yang kita harus hadapi, kalau tidak berani menghadapi biarkan mereka mengambil semuanya. Gampang koq."


"Bukan begitu, aku tidak takut menghadapi mereka jika ini masalah pribadiku. Yang aku takutkan keselamatanku. Mengertilah."


"Aku bisa menjaga diri, aku bisa minta perlindungan sama polisi dan aku bisa nenyewa bodyguard."


"Terus kamu pacaran dengan bodyguardmu begitu maksudmu?" Dirga langsung nyeletuk dengan wajah masam.


"Kita tidak tahu kedepannya, siapapun boleh jatuh cinta dengan siapa, tapi aku sulit jatuh cinta. Mungkin kalau aku jatuh cinta kepada seorang lelaki, aku akan nenjadi posesif dan over protective. Aku type wanita jatuh cinta sekali saja." jelasku supaya Dirga tahu batasan.


"Jadi kau tidak tertarik padaku?" tanyanya berharap. Aku menyunggingkan senyum lelah padanya. Apa dia kurang faham maksudku? haruskah aku bicara lebih tegas.


"Maaf pak Dirga saya senang berteman dengan siapapun, tapi saya tidak bisa jatuh cinta dengan siapapun."


"Aku mengerti tidak usah di teruskan, cintamu itu hanya untuk bapak dari calon bayimu!!" suara Dirga meninggi.


Aku terdiam dan menelaah ucapan Dirga, apa ini benar? bukankah aku benci setengah mati pada Yudha? bullshit!!.


"Siapkan file yang tadi aku tanda tangani, kita akan kedatangan tamu. Dia temanku semasa kuliah sekarang sudah menjadi konglomerat." kata Dirga berusaha mengalihkan pembicaraannya tentang kasus ku yang kami perbincangkan.


"Siapa nama majikanmu dulu, aku benci laki-laki bejat begitu. Jika aku ketemu ingin sekali menggampar wajahnya, menembak jantungnya. Manusia itu tidak perlu dikasih hidup." geram Dirga.


"Lupakan saja tidak penting di bicarakan." kataku datar. Ada rasa kecewa ketika Dirga selalu mengulur waktu jika diajak mencari pengacara.


"tookk...tookk...tookk."


Aku berdiri dan membukakan pintu. Bapak Daus bagian engineering dan seorang pria ada dihadapanku.


"Kami ingin berbicara masalah keluarga kepada bapak." kata pak Daus sopan.


"Maaf pak Daus, bapak akan kedatangan tamu. Apa saya boleh mewakili mendengar keluhan bapak, nanti saya menyampaikan kepada bapak Direktur."


"Tidak apa-apa bu masalah ini sangat urgent."

__ADS_1


"Kalau begitu silahkan tunggu saya di ruangan meeting."


"Siaap bu, kami kesana."


Aku masuk ke dalam minta izin kepada Dirga untuk menemui Pak Daus.


"Maaf pak, saya akan ke ruang meeting. Pak Daus sudah menunggu saya disana."


"Padahal aku ingin memperkenalkanmu dengan temanku."


"Lain kali saja, masih banyak waktu." kataku mohon pamit.


Aku naik lift ke lantai tiga, saat aku keluar dari lift aku sepintas melihat Yudha. Karena banyak orang dan semua memakai masker jadi aku tidak begitu awas. Akupun belum yakin apa itu Yuda atau tidak.


Aku masuk ke ruangan meeting menemui pak Daus yang sedang menungguku.


"Selamat siang bu atas kesediaannya..."


"Siang pak daus, saya baru ingat ini pak teguh scuruty ya."


"Ya bu, saya pak Teguh. Saya sudah tiga kali mendapat SP atau surat peringatan dari pak Bambang manager scurity. Saya yang bersalah bu, karena sering permisi pulang. Sebenarnya saya sering permisi pulang karena ngurus ketiga anak saya yang terlantar."


"Istri saya tidak kuat miskin, jadi dia pergi dengan laki-laki lain yang lebih kaya.


"Astaga...nanti aku rundingkan dengan pak Dirga. Sabar pak." kataku miris mendengar cerita pak teguh.


"Saya mohon jangan di pecat."


"Begini pak Teguh, pak Teguh boleh minta izin sesuai peraturan dan disiplin kantor. Tapi jika ada masalah di bicarakan dulu sebelum pak Teguh mengambil keputusan. Misalnya pak teguh pergi tanpa izin, dan itu dilakukan terus menerus. Tentu atasan bapak mengambil tindakan. Nanti saya akan bicarakan masalsh ini dengan pak bambang dan pak Dirga." jelas ku.


"Ya bu jangan saya di keluarkan." kata pak Teguh memohon.


Aku memberi beberapa penjelasan supaya pak Teguh lebih mengerti. Karena perusahan ini adalah perusahan raksasa yang gaji dan kesejahtraannya terjamin. Jadi perlu ke disiplinan diri jika mau langgeng bekerja disini.


Hampir satu jam aku membahas masalah pak Teguh akhirnya aku sudahi karena psk Dirga sudah menelponku.


"Pak Daus dan pak Teguh maaf ya, saya tinggal dulu, kapan-kapan kalau perlu sharing ke ruangan saya."


"Trimakasih bu atas wejangannya." ⁵kata pak Daus sopan.

__ADS_1


Aku keluar dari ruangan meeting menuju ruangan pak Dirgantara. Matahari sudah condong ke barat ketika aku masuk ke ruangan pak Dirgantara.


"Baru saja temanku pulang, apa kau tidak papasan dengannya?" tanya pak Dirgantara dengan wajah berawan.


"Ada apa pak, kenapa bapak memandang saya begitu rupa? ada yang aneh di wajah saya."


"Tidak, saya cuma heran kenapa kau tidak ketemu dengannya."


"Kenapa saya harus ketemu?, dia tidak ada berkepentingan dengan saya."


"Bersiaplah untuk pulang, aku akan duluan." kata pak Dirga berdiri.


"Silahkan duluan pak saya masih ada kerjaan. Hati-hati di jalan." aku duduk di belakang laptop.


"Trimakasih." jawab pak Dirga tanpa emosi.


Tadi pak Dirga memandangku aneh. Ada apa ya, apa aķu ada berbuat salah, membuat aku tidak enak hati. Walaupun aku belum begitu lama mengenalnya tapi aku tahu kalau pak Dirga bukanlah orang yang pandai menyembunyikan masalahnya. Dia biasanya curhat kepadaku. Aku yakin tamu tadi membuat dia mengkerut.


"Tookk...tookk...tookk."


Aku beranjak bangun dan membuka pintu. Seorang wsnita cantik berada di hadapanku. Dia tersenyum sinis dengan wajah mengejek kemudian menyenggolku dan masuk ke dalam.


"Mana kekasihku?" tanyanya menatap curiga kepadaku. Dia berjalan ke belakang sampai ke kamar mandi. Mungkin dia berpikir orang yang dia cari ngunpet di toilet.


"Siapa maksud nona?" tanyaku datar. Aku sudah sering melihat wanita sombong yang baru bisa nyetir mobil atau baru bisa beli tas Hermes. Gayanya selangit dengan wajah habis di oplas.


"Siapa lagi cowok yang duduk di kursi ini. Ya Dirgantara lah. Aku tahu kamu sekretaris baru disini, aku ingatkan jangan berani mengambil apa yang aku punya kalau tidak ingin wajahmu disiram air keras."


"Apa yang nona punya supaya saya waspada sebutkanlah satu persatu."


"Dirga adalah calon suamiku dan setengah sahamnya akan menjadi milikku."


"Tolong jaga yang nona miliki karena pelakor zaman sekarang sangat berani dan sadis."


"Aku tidak takut yang setara penampilannya denganmu, aku cuma takut uang perusahan di pakai beliin pelakornya mobil."


"Mobil mah kecil bagi pelakor, Villa, Hotel, itu yang diminta." kataku membuat dia semakin panas. Aku melihat wajah wanita itu memerah tidak senang. Mungkin saat ini dia ingin menampar mulutku.


*****

__ADS_1


__ADS_2