
Setelah pak Lukas melepaskanku dari dekapannya dia membelai rambutku.
"Dari pertama aku melihatmu aku sudah tertarik denganmu. Terus aku mendengar cerita pak De tentangmu aku tambah bersimpati. Aku menerima tawaran pak De untuk menolongmu." kata pak Lukas berjeda, dia menunggu reaksiku.
"Supaya kau mengerti, aku bukan pria yang ujug-ujug ingin memperistrimu. Aku sudah tahu siapa kau, sifatmu, aku mempelajari semuanya. Sampai aku yakin kau adalah wanita yang layak mendampingiku." sambungnya.
Aku tetap diam bukan tidak mendengar ocehannya, tapi karena aku merasa bersalah mau berciuman dengan pria ini. Aku marah kepada diriku sendiri yang lemah tidak berdaya.
"Sayank kita ke kantor, Dimas sudah menelpon. Aku harap kita bisa bersatu dan melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih tinggi. Ini adalah permulaan, tidak yang terakhir." kata pak Lukas.
Seperti kerbau dicocok hidungnya aku menurut. Mobil kami menyusuri jalan raya yang ramai menuju kantor pak De. Sepanjang perjalanan aku terdiam, dia terus mengoceh, beda sekali dengan penampilannya di kantor.
Sampai di tempat parkir aku kaget karena sudah banyak mobil terlihat. Yang membuat aku takut ketika mataku melihat mob Lamborghini Yudha. Aku nervous ketika masuk kedalam kantor, banyak mata menyorot dan salah satunya ada Yudha.
Aku merasa di telanjangi oleh sorot mata mereka, apa yang mereka pikirkan? pada saat yang sulit itu Yudha bangun dan memeluk aku tanpa mengindahkan pak Lukas yang berada disampingku.
"Sayank, putra kita terpaksa aku ajak, tadi terus menangis minta mamanya." kata Yudha dengan suara yang agak keras. Kemudian aku diajak ke rest area.
"Maafkan aku." kataku dengan air mata mengalir tanpa bisa dicegah. Aku memeluk Yudha dan merasa bersalah.
"Tidak apa-apa sayank, maaf aku harus ke pengadilan." kata Yudha melepaskan pelukannya dan pergi dengan pak Antonius kuasa hukumnya.
Aku lunglai menyikapi tingkah Yudha yang pura-pura sabar. Perasaanku sangat tidak enak, aku tahu itu palsu tidak sesuai dengan tatapannya yang membunuh.
"Kita berangkat. Yudha dan kelompok nya adalah musuhmu, ingat itu." pak Lukas menghampiriku.
"Kenapa mereka kesini, bukankah dia lawanku?" kataku heran juga.
"Mencari akulah, mau bicara. Aku tidak mau membantu Yudha sepanjang kau tidak mau menjadi istriku."
Kembali aku merasa terperosok. Sulit sekali aku melakukan sesuatu yang tidak aku ingini. Aku tertekan dengan pelecehan yang pak Lukad lakukan.
__ADS_1
"Tenangkan dirimu, kalau kau ragu mengungkapkan kejahatan, penjahat akan merajela."
"Ya pak trimakasih." aku mengangguk dan membiarkan pak Lukas menyetir mobilku. Melihat pakaiannya yang branded dan cara mengemudi mobil yang luwes, aku tidak yakin dia orang miskin seperti omongannya.
Aku memang buta hukum dan tidak mengerti apapun, mungkin Yudha juga sama. Ternyata pak Lukas mengajak aku ke Polda dan melapor kepada polisi. Aku kira mereka bisa melapor tanpa kehadiranku. Katanya harus aku yang melapor sebagai penggugat.
Sebagai pengacara yang di tunjuk oleh pak De, pak Lukas sangat protect. Aku sendiri merasa nyaman disisinya kala berhadapan dengan polisi.
"Kenapa nona baru melapor, peristiwa ini sudah lebih dari setahun." kata pak polisi menatapku.
"Saya dalam keadaan tertekan dan takut luar biasa. Disamping itu saya tidak punya siapapun."
"Apa kamu tidak punya teman satupun?"
"Punya pak. Saya punya teman akrab dua orang. Namanya Valeria dan Dhevalee. Valeria sudah meninggal dan Dhevalee masih hidup. Tapi saya kehilangan kontak Dhevalee sudah agak lama."
"Nanti Dhevalee kami akan panggil sebagai saksi." kata polisi.
Mama masih punya tradisi kuno bahwa keperawanan harus dipersembahkan hanya kepada suami. Hukumnya wajib. Takdir berkata lain. Aku yang merasa mampu menjaga diri terpaksa menelan pil pahit. Rasa bangga terhadap diriku yang bisa melampui godaan hidup ketika berada di luar negeri menjadi porak poranda. Yudha memperkosaku dan mengklaim tubuhku sebagai miliknya. Aku terjajah.
Kini kekuatan dan kebanggaanku sebagai orang paling setia, kepada pria yang aku cintai itu kembali mengalami krisis. Aku secara intens membiarkan rayuan pak Lukas mengalir ke otakku. Bibirku yang biasa hanya di sentuh oleh Yudha, tadi pagi sempat menjadi bulan-bulanan pak Lukas tanpa berani menolak.
Pukul. 15.30 wita aku dan pak Lukas baru bisa pulang. Untung pak Lukas minta di antar sampai di kantor. Kalau sampai ke rumahnya, aku tidak tahu kejadian apalagi yang akan menimpa diriku.
"Aku tidak bisa mengajak kau makan, aku ditunggu oleh client di kantorku. Kau langsung bisa pulang, harusnya aku mengantar kau pulang. Tapi aku tidak bisa, maaf kan aku."
"Tidak apa-apa pak, trimakasih."
"Tidak usah takut masih sore. Asal kau ingat semua perangkat di mobil, bisa kau "klik" tergantung kebutuhanmu. Disini sudah ada panduannya. Jika kau terancam bahaya klik no.4, kau akan terhubung dengan polisi."
"Baik pak aku akan mengingatnya." jawabku.
__ADS_1
Akhirnya kami sampai di depan kantor law firm, me & patner. Pak Lukas menghentikan mobil, tangan kirinya menyambar bahuku. Dan bibirnya ******* bibirku. Sangat cepat dan terlatih.
"Aku mencintaimu camkan itu." katanya saat dia melepaskan diriku. Aku terdiam. Dia turun dari mobil dengan enggan. Aku mengambil alih kemudi. Dia menunggu dan melambaikan tangannya.
Aku memacu mobilku tanpa gairah. Lagu zevia, if depression gets the best of me mengalun lembut membuat hati ini empty. Aku baru ingat waktu di kantor pak De, Yudha mengatakan bahwa Sean ikut dengannya, tapi dimana dia?
Pikiran yang kalut membuat aku lupa bertanya akan keberadaan Sean saat itu. Sebenarnya aku takut membuka ponselku, takut mendengar kemarahan Yudha.
Aku turun dari mobil setelah sampai di rumah Yudha. Kaki rasanya berat melangkah. Aku tahu Yudha duluan datang, mobilnya sudah ada di garasi. Dadaku berdebar takut. Aku berpikir Lebih baik aku langsung kebelakang melihat Sean.
"Luna mau kemana?" tiba-tiba Yudha sudah di belakangku. Kakiku gemetar.
"Aa.. aku mau melihat Sean." kataku membalikan badan.
"Masuk ke kamar." katanya dingin.
Aku berusaha tenang dalam ketakutan yang melanda jiwa. Langkahku pelan masuk ke kamar. Tapi baru saja aku masuk kamar tangan Yudha melayang ke pipiku, " PLAAKKK"
Tanganku reflex memegang pipiku. Air mataku langsung meloncat keluar. Aku menahan sakit di pipi dan hatiku. Tidak menyangka Yudha menamparku. Dia beberaoa kali selingkuh aku tidak menamparnya.
"Pelacur!! Berapa kau dibayar oleh Lukas. Sifatmu tidak berubah. Aku salah menilaimu. Kau tidak ubahnya seperti ibumu." bentak Yudha sambil menendang kursi.
"Aku benci wanita murahan seperti kau. Lebih baik aku memelihara wanita lain dari pada wanita sepertimu."
"Maafkan aku...." kataku lirih, tapi Yudha menarik rambutku.
"Pergi kau dari rumahku, kau tidak layak berada disini. Kau tidak ubahnya seperti Hanun."
"Trimakasih...." hanya itu yang bisa aku ucapkan dan keluar dari kamar Yudha.
"Silahkan bawa anak itu aku yakin itu bukan darah dagingku." makinya sambil melempar aku dengan sepatu.
__ADS_1
****