PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
TEMAN MAKAN TEMAN


__ADS_3

Sudah banyak orang rupanya, kursi belakang hampir penuh. Aku mencari tempat duduk di pojok. Aku kesini ingin bertemu Dhevalee. Sekarang dia akan menjadi saksi. Aku duduk diam menunggu Dhevalee dengan dada berdebar. Waktu seakan lama berjalan.


Aku kangen sekali dengannya, sudah hampir setahun tidak bertemu. Terakhir kami bertemu di rumah tante Desirre. Waktu itu Yudha membeli rumah itu dan di hadiahkan kepadaku. Aku tidak tahu bagaimana nasib rumah mewah itu sekarang dan siapa yang tinggal disana.


Pukul 10.00 tepat aku melihat seorang wanita masuk berjalan disamping bibi dan Yudha. Ada pak Antonius kuasa hukumnya juga. Karena ada Yudha aku menahan diri untuk menghampiri Dhevalee.


Dhevalee duduk bersama saksi lain, yaitu bibi. Sedangkan Yudha seharus nya tidak datang, tapi dia ada disini. Aku berpikir karena ada bibi. Aku menatap Yudha dengan perasaan galau. Ada benci, cinta, rindu, kecewa menjadi satu.


Aku melihat Dhevalee tetap cantik, agak kurus, lebih dewasa. Karena umur nya lebih tua dariku. Matanya selalu melihat Yudha, aku tahu dia pasti grogi sepertiku. Bibi juga kelihatan pucat.


Aku berusaha tetap memakai masker untuk menutupi wajahku dari incaran awak media atau orang yang aku kenal.


Persidangan mulai, bibi banyak berucap, jujur, apa yang dia tahu. Saat pernyataan Dhevalee sebagai saksi, aku banyak kecewa, pernyataannya banyak yang berubsh-ubah dan cenderung memojokan aku serta membela Yudha.


"Saya memang temannya Luna tapi sekarang tidak pernah bertemu kembali. Seingat saya Luna anak haram, mendapat harta kekayaan dari ibu angkatnya. Tidak pernah tuan Yudha memperkosanya, itu terjadi karena suka sama suka. Jika tuan Yudha memegang sertifikatnya Luna, karena mereka pernah serumah. Dulu pernah Luna mencintai tuan Yudha. Tuan Yudha orang kaya raya tidak mungkin akan merampas harta milik orang lain." kata Dhevalee di awal.


Dhevalee sebagai saksi yang meringankan mampu membuat aku terpana. Tapi tidak apa-apa, mungkin Yudha sudah mendoktrin Dhevalee supaya meringankan Yudha. Namun heran saja kala Dhevalee menyebut anak haram, intonasi suaranya seolah mengejek. Setelah selesai memberi keterangan Yudha diam-diam mengacungkan jempol kepada Dhevalee. Seolah mereka akrab sekali.


Hari ini sudah selesai keterangan dari Dhevalee dan bibi. Semua orang bubar hanya aku masih duduk menunggu bibi dan Dhevalee. Mereka serempak menoleh ke belakang saat aku berdiri. Aku membuka masker dan tersenyum kaku. Tentu saja mereka kaget melihatku berada disitu.


"Selamat siang Dhevalee, tumben bisa bertemu denganmu, apa "temanmu" tidak memberi nomer ponselku untukmu, atau kau sengaja melupakan diriku." tanyaku melirik Yudha.


Aku alergi menyebut nama Yudha, lebih baik aku bilang teman. Mereka tentu mengerti. Aku yakin Yudha sudah mengadu kepada Dhevalee bahwa aku berselingkuh dengan pak Lukas.


Mereka diam. Dhevalee kulihat gugup langsung memelukku. Aku kaget karena bau parfum Dhevalee mirip dengan bau parfum di tubuh Yudha waktu lehernya merah-merah kena kiss mark. Otakku bersilancar curiga.


"Bagaimana keadaanmu sayank." ucap Dhevalee.


"Aku baik-baik saja. Kapan datang dari luar negeri?" aku iseng menebaknya.

__ADS_1


"Hampir sebulan, hari minggu siang." katanya membuat aku sesak nafas. Bukankah waktu itu Yudha di jemput oleh seseorang yang mengaku karyawannya.


"Lama juga, aku baru ingat, waktu itu leherku kena ulat gatal, semua merah Ternyata Bali itu kecil." sindirku.


"Main kerumahku Dhevalee kalau kau sempat. Tapi aku yakin kesibukanmu pasti banyak, terlihat dari wajahmu."


"Aku sibuk sekali, kapan-kapan aku kesana. Apa anakmu sudah besar?"


"Aku merawatnya dan memberi asi, tentu sudah sangat sehat. Dulu kau suruh aku menggugurkannya karena kau benci sama ayahnya, untung aku tidak mau hahaha...."


"Jangan ingat yang lalu." protes Dhevalee dengan wajah merah.


"Aku akan lupa setelah aku membuat mereka berada dibalik jeruji penjara!!" kataku tegas. Aku memperhatikan wajah mereka memucat termasuk pak Antonius pengacaranya.


"Aku harap kau menarik omonganmu, jsngan lihat jeleknya saja, ingat kebaikannya juga." kata Dhevalee.


"Maksudmu siapa, tidak ada yang baik. Kaupun mungkin menusukku dari belakang. Sekarang banyak teman makan teman. Tapi jika kau ikut juga menyakitiku, berarti selama ini aku salah berteman denganmu. Valeria adalah teman sejatiku, dia terbunuh karena membelaku." kataku menatap tajam wanita yang membuat darahku naik ke ubun-ubun.


"Hahaha... Santai Dheva. Kau seperti maling yang tertangkap basah. Dimana kau tinggal sekarang Dheva. Apa aku boleh ikut kesana?"


"Maaf Luna, aku pindah-pindah."


"Tidak apa-apa." kataku dengan senyum santai melihat ke arah Yudha. Aku tidak hancur Yudha, kaulah yang akan aku hancurkan. Bathinku.


Aku melewati Yudha, mencari bibi dan memeluknya. Tidak satupun ucapan keluar dari bibir Yudha, wajahnya pucat. Dia berdiri bersandar di tembok dan mencuri pandang.


"Jangan katakan apapun bi, aku tidak akan sanggup mendengarnya. Aku akan tegar dan menjauh." bisikku. Aku melihat bibi menghapus air matanya.


"Sabar nona, bibi hanya sayang padamu." bisik bibi. Aku mengangguk samar.

__ADS_1


"Luna, aku masih seperti temanmu yang dulu." tiba-tiba Dhevalee mendekat dan menepuk punggungku.


"Hahaha...jangan khawatir Dhevalee, kamu bebas. Seseorang jika punya kepentingan dia akan tega makan teman." sindirku.


"Luna, aku minta maaf jika kau tersinggung dengan bicaraku tadi saat sidang. Karena aku ingin Yudha bisa bebas."


"Aku mengerti. Aku juga nendapat info dari pak Lukas bahwa ada seorang wanita yang datang padanya memohon sampai minta di tidurin, sayang sekali pak Lukas jijik dengan wanita pelakor itu. Aku harap kau terus berjuang demi masa depanmu."


Wajah Dhevalee pucat. Dia tahu aku menyindirnya. Aku menatap wajahnya yang cantik. Teman yang dulu aku sayang, kini menusukku dari belakang.


"Berapa putramu Dhevalee?" tanyaku tenang. Aku harus tenang dan tegar. Manusia macam Yudha tidak perlu di kasihi.


"Bikin sering, tapi aku belum beruntung sudah berusaha ke dokter namun tetap nihil."


"Kau yang tidak bisa atau cowok kau yang tidak mampu bikin kau puas, biasanya kau senang produk luar, tumben senang produk pribumi."


"Namanya juga cinta." kata Dhevalee menohok. Serasa hatiku ditusuk belati.


"Hahaha...cinta? bushit." kataku tertawa sinis.


"Bibi aku pulang ya, nanti kita kembali bertemu disini. Kalau bibi kangen dengan Sean bibi boleh datang."


"Ya non...bibi setiap hari kangen dengan kalian." kata bibi sedih.


"Maaf aku duluan, selamat buatmu Dhevalee. Semoga dalam pertemuan yang akan datang perutmu sudah melendung." ejekku sinis. Aku tahu Dhevalee tidak mungkin hamil.


Aku melangkah meninggalkan mereka. Aku menganggap mereka masa laluku. Yudha, Dhevalee dan bibi menatapku.


Tidak ada air mata lagi untuk Yudha, aku bangga bisa tegar dan songong di depan mereka. Kuharap ke depannya aku bisa mandiri dan lebih bijak.

__ADS_1


*****


__ADS_2