
Keesokan harinya aku pulang bersama Yudha dengan selamat. Terus terang aku merasa curiga kepada Yudha yang biasanya marah dan mengamuk jika ada yang berani mengangguku. Ini Yudha adem ayem saja mengetahui aku di perkosa. Ini sangat konyol, tidak masuk akal.
"Katanya kamu mau lapor polisi, tidak jadi?" pancingku setelah aku berada satu mobil dengannya.
"Kemarin aku mau melapor, tapi urung. Banyak yang harus di pertimbangkan. Rasa malu, nama tercemar, image nya pasti jelek sekali. Ribet."
Benar juga, kalau aku bermasalah pasti Yudha juga kena. Biarpun aku belum resmi menikah tapi kami sudah punya anak dan itu sudah rahasia umum. Semua tahu itu. Jalan satu-satunya pura-pura menikah dengan pak Lukas.
"Aku akan menikah dengan pak Lukas, kalau ini syarat dari orang itu. Tolong minta fotonya dari penjahat itu, semua yang berkaitan denganku. Lenyapkan semua."
"Itu pasti, kasus ini harus dirahasiakan supaya tidak bocor ke orang lain." kata Yudha.
"Aku serahkan padamu. Aku mau pulang kangen sama Sean, aku juga mau bicara dengan pak Lukas supaya urusannya cepat selesai."
"Berarti aku harus ikut denganmu, aku juga harus mendengar dan apa isi perjanjian yang akan dibuat. Pak Lukas seorang pengacara, salah sedikit kata-katanya akan bisa dimanfaatkan nantinya."
"Isi surat perjanjian sudah ada di luar kepala, kamu tidak boleh ke pavillion."
"Kenapa aku tidak boleh kesana, aku harus tahu sampai dimana hubungan mu dengan pak Lukas. Jangan sampai perjanjian ini jadi bumerang."
"Nanti aku suruh Heny vidioin semuanya, percaya padaku, tidak akan melenceng dari skenario kita."
"Aku kurang percaya padamu." gerutu Yudha.
"Tapi aku tidak mengizinkan kau kesana apalagi menginap."
"Apa yang kau sembunyikan, jangan membuat aku ngamuk."
"Itu rumah ibu Swari, aku disana hidup gratis. Tidak enak kalau ngajak kamu disitu, apalagi kamu suka membuat ribut."
"Oke, tapi tiap hari kau harus datang ke rumahku. Kalau tidak, aku nekad datang ke pavillion."
"Ya kalau sempat, kau juga pasti kerja." kataku cepat, malas berdebat dengan Yudha. Cemburunya besar, giliran aku di perkosa dia fine-fine saja, malah dia ikut menggasakku. Aneh!
Akhirnya Yudha mengarahkan mobil menuju rumahnya. Sepanjang jalan aku diam dengan banyak pikiran. Sampai di rumahnya aku dipaksa turun.
"Aku langsung pulang kasihan Sean." tolakku.
__ADS_1
"Sebentar saja, tidak ada satu jam." katanya memaksa aku turun dari mobil. Terpaksa aku turun, Yudha menggandeng tanganku menuju kamar. Mata para pembantu menatap ku penuh arti. Apalagi bibi.
Aku tidak tahu harus bagaimana menyikapinya. Serba salah. Begitulah Yudha, dia tidak akan bisa lepas dari bayanganku. Biarpun seratus wanita mengelilinginya, cintanya hanya pada ku, dia tetap akan kembali kepadaku.
Sering aku mencoba untuk melawan kata hati dan menggiring openi negatif kepada Yuda, tapi selalu saja aku kembali pada Yudha. Dengan banyak alasan dan pertimbangan, saat ini aku menurut apa maunya Yudha.
"Aku berharap kau terus tinggal disini. Kita lupakan masa lalu dan mulai dengan harapan baru." bisik Yudha kala kami sedang memadu kasih.
"Semoga ucapanmu bisa di percaya, janjimu selalu palsu. Habis Dhevalee cewek mana lagi kau bawa ke kamar ini. Aku tidak percaya denganmu."
"Tidak ada keinginan untuk mencari wanita lain, aku semakin tua. Keinginan ku hanya menikah dan punya anak."
"Nanti kita menikah, bersama-sama mengurus Sean." kataku melepaskan pelukan darinya. Tapi dia menarikku lagi dan ******* bibirku.
"Sudah.. Sudah...aku mau pulang kau bekerjalah."
"Jangan melarangku membuat anak kedua, warisan kita banyak, kalau anak satu, takutnya poya-poya."
"Banyak alasan!!" kataku membiarkan Yudha kembali menindihku.
Air hangat dari shower membasahi badanku, segar. Maunya cepat-cepat mandi, tapi Yudha mengangkat tubuhku dan mandi bareng ini menjadi bergairah karena Yudha membuat aku melenguh tanpa henti.
"Trimakasih sayank untuk pagi ini. Aku mencintaimu, ntar malam lagi ya." kata Yudha ketika aku sedang memakai baju.
"Idiihhh...badanku terasa remuk."
"Tapi kau menikmatikan?!" kata Yudha genit. Aku tersenyum tipis.
"Aku pulang ya, sampai ketemu." Kataku mengecup bibirnya. Matanya berkabut melepasku, dasar cemen. Seperti aku mau hilang saja.
Ada rasa berat saat aku melangkah pergi dari rumah Yudha. Kenyataan hidup yang menghadangku lebih berat. Hari ini aku harus berhadapan dengan pak Lukas. Tidak ada pilihan lain.
Aku memacu mobilku dengan kecepatan sedang. Pagi ini jalanan ramai tapi tidak sampai macet. Orang yang biasanya membawa mobil lebih memilih memakai motor, alasannya harga bensin naik. Ironis!!
Sampai di tempat parkir ibu Swari, aku melihat ada mobil Dimas terpakir. Aku berjalan santai menuju pavillion.
"Kemana kamu baru datang!" tiba-tiba Dimas menegurku. Dia berada di lobby dengan wajah masam.
__ADS_1
"Cari angin..." sahutku sekenanya.
"Dari kemarin pergi itu kau bilang cari angin, jangan mengada-ada. Kau pikir aku anak kecil yang bisa kau bohongi?"
"Karena kau sudah dewasa aku bohongi, kalau anak kecil aku akan jujur."
"Dengan siapa kau rendezvous? langgananmu atau pak Lukas."
"Pak Lukas, aku akan menikah dengannya. Setelah lama menimbang aku memutuskan akan menerima lamarannya. Dia baik dan matang." kataku berdiri di depannya. Aku melihat kebencian dari sinar matanya.
"Kalau boleh aku nasehatkan jangan menikah dengan pak Lukas. Umurnya dua kali lipat denganmu."
"Aku malah mencari yang matang, orang yang membuat aku nyaman dan setia padaku. Pak Lukas mencintaiku, lama kelamaan akupun juga akan mencintainya."
"Up to you, menurutku sebaiknya ksu selidiki siapa pak Lukas, jangan asal menyetujui. Kenapa dia tidak menikah selama ini, apakah dia duda atau masih punya istri. Pastikan itu."
"Aku akan selidiki." kataku ringan. Aku tahu Dimas merekam percakapan kami, untuk apa? perbincangan kami tidak ada menjelekan orang lain."
"Maaf Dimas aku akan masuk ke dalam, kalau kau mau minum teh atau sarapan mampir saja."
"Trimakasih Luna aku mau ke kantor saja." ucap Dimas lalu pergi.
Alangkah senangnya berada kembali di rumah. Sean merengek menyambut ke datanganku. Mataku berkaca-kaca menyadari betapa rindunya Sean tidak melihatku seharian. Problem hidupku terlalu rumit.
"Nona apa yang terjadi kemarin, apa pelanggannya mempersulit nona?"
"Lebih dari itu, aku tidak bisa bercerita karena berbahaya. Mulai sekarang kalau ada yang minta parcel mahal serta mencurigakan, kita pakai jasa ojol untuk mengirimnya. Aku kapok dengan kejadian ini."
"Nona, apa dia memperkosamu?"
"Tidak segitunya, aku bisa melawannya atau berteriak kencang." kataku bohong. Heny menunduk, aku menjadi curiga.
"Apa kau memikirkan sesuatu tentang aku, kau jangan menutupi."
"Itu nona, mungkin asumsi saya salah. Tapi warna merah di leher nona karena apa?" kata Heny hampir berbisik. Reflek tanganku memegang leherku.
****
__ADS_1