PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
DISEKAP


__ADS_3

Beberapa pakaian menjadi pilihan Yudha untuk ku. Dengan terpaksa aku menerima paper bag yang berisi pakaian dengan berat hati. Tidak biasa aku menerima pemberian seorang cowok, karena aku merasa mampu.


"Aku iklas memberi kenapa kamu harus menolak, ini pemberian majikan untuk pembantu, hal yang wajar. Aku tidak senang melihat pembantu berpakaian dekil, memakai daster lusuh."


"Tentu aku tidak sudi menerima kebaikan darimu. Kau pikir harga diriku seharga baju ini? aku benci denganmu."


"Ho..ho...jadi kau ingin uang, begitu maksudmu?" aku sungguh merasa terhina, dasar kamprett. gerutuku.


"Hanya manusia hina yang menukar kehormatannya dengan uang. Walaupun aku butuh uang untuk kebebasanku, tapi aku tidak sudi menerima sepersenpun uangmu."


"Terus kau minta apa dariku?" tanya Yudha, dia kira pembantunya ini akan sama dengan wanita-wanita lain yang rela menjual dirinya demi kemewahan.


"Aku hanya ingin pulang kerumah ibuku." kataku pelan.


"Gampang itu." jawab Yudha membelokan mobilnya ke rumah mungil.


"Kenapa kesini lagi, jangan memperdayaku!!" teriak ku kesal.


Yudha tidak menjawab aku berteriak- teriak minta bakik. Dia mematikan mesin mobil dan turun dari mobil, aku sungguh benci dengannya dan berharap dia lenyap dari bumi ini.


"Turun, atau aku siksa!!" bentak Yudha ketika aku tidak mau turun. Aku sangat benci, reflek menendangnya. Dengan mudah dia mengelak dan mendekapku saat turun dari mobil. Ingin sekali aku mencekik lehernya. Aku memukul asal kena saat dia makin erat memelukku. Dia setengah menyeret tubuhku dan membawa ke kamar.


"Aku mohon lepaskan aku atau masalah ini aku laporkan ke kantor polisi." gertakku.


"Laporkan aku secepatnya!!" bentaknya dan menyeretku ke kamar. Aku berteriak-teriak dari tadi kenapa tidak ada yang mendengar. Apa tetangga tidak ada penghuni. bathinku.


"Kalau kau terus berteriak dan mengamuk kau akan aku siksa."


"Bunuh aku, lebih baik mati." jeritku.


Yudha tidak menghiraukan jeritan ku, dia merobek bajuku dan melemparku ke kasur. Satu persatu pajaianku dirobek dan dilempar ke lantai. Akhirnya....


"Kenapa harus berontak kalau ini sangat nikmat dan membuat kita melayang?" bisik Yudha di antara deru nafasnya.


Aku terdiam pasrah mengikuti irama yang terlanjur tercipta. Tidak ada yang bisa aku pertahankan semuanya hancur, seperti hatiku saat ini. Aku sudah tidak punya kekuatan untuk membela diri.


"Jangan menyesali apa yang telah terjadi, yang kita lakukan adalah sesuatu yang normal sebagai manusia." kata Yudha di saat semuanya telah selesai. Dia memelukku dari belakang.


"Jangan memelukku aku jijik padamu."

__ADS_1


"Kau cantik, mulus dan sexy habiss...aku tidak akan melepasmu. Kau akan menjadi selirku selamanya."


"Tidak! aku ingin pulang, jangan membuat penderitaanku bertambah."


"Ini rumahku, ajak orang tuamu kesini. Kita akan menjemputnya, aku berjanji akan membahagiakan dirimu."


"Aku tidak mau menjadi pelakor, biarpun aku tidak senang dengan istrimu tapi aku tidak mau menyakiti hatinya." teriaku histeris.


Yudha kembali merengkuhku, otakku saat ini buntu. Ini masalah rumit yang menimpa hidupku. Haruskah aku menyerah atau menolak?


"Kau mau menjadi selirku?" bisiknya mesra. Nafasnya terasa berhembus di leherku, aku merasa lidahnya menjilati leherku.


"Enak di kamu, aku tidak mau nenjadi selirmu. Lebih baik aku lari dari sini jika kamu tidak mau melepaskanku secara baik-baik."


"Sudah enak disini mau kemana lagi, tidak mungkin kamu di terima menjadi pembantu di tempat lain." ketus suara Yudha.


"Mungkin saja di tempat lain nasibku lebih bagus tidak sehina ini, dihargai oleh orang lain dan tidak semena-mena."


"Sayang sekali keinginanmu sulit aku penuhi." kata Yudha membalikan tubuhku menghadap dengannya. Aku mrnatap wajahnya dengan kebencian, dia menatap wajahku seksama. Ntah apa yang berada di pikirannya. Aku akui wajahnya ganteng idola para wanita, sayang dia sudah beristri.


"Jika kamu tidak membebaskan aku, belikan aku handphone." kataku kemudian.


"Gampang." jawab Yhuda pendek.


Yudha memakai kesempatan berdua dengan ku dengan baik, dia tidak memberi aku kesempatan untuk jeda. Seperti kuda liar saja layaknya, Yudha terus menggasak diriku tanpa henti. Tenaganya begitu besar dan kuat, mungkin juga karena dia suka naik gunung, adventure sejati.


Sore menjelang, aku turun dari tempat tidur dengan lutut gemetar, ada rasa kebas di inti kewanitaanku. Aku melangkah perlahan menuju kamar mandi, tubuhku oleng hampir jatuh, aku cepat memegang tembok.


"Mau kemana." Yudha menegurku dari atas tempat tidur.


"Mandi!!" jawabku pendek. Dia turun dan menggendongku ke kamar mandi.


"Aku tidak butuh pertolonganmu."


"Aku yang butuh pertolonganmu." katanya menghidupkan shower dan membalikan tubuhku. Kembali aku menuruti nsfsu liarnya dan aku menjadi bulan-bulanan Yudha. Sungguh luar biasa tenaganya, dia memanfaatkan sensasi mandi ini dengan gayanya.


"Kalau kamu lapar masak di dapur, aku mau beristirahat." kata Yudha membiarkan aku keluar dari kamar.


Aku tidak menjawab, pikiranku berkecamuk mau lari dari rumah ini. Aku juga tidak selera makan. Dengan dada berdebar aku kembali ke kamar dengan cara mengendap-endap.

__ADS_1


Yudha sudah tidur pulas, aku mencari ponselnya dan menemukannya di tas kerjanya. Aku cepat membuka ponselnya dan melihat banyak panggilan dari nyonya Hanun. Mungkin dia bingung mencari suaminya.


Aku diam-diam membawa ponsel Yudha ke kamar mandi dan menelpon Dhevale. Lama sekali telpon tidak di angkat.


"Nelpon siapa." aku terlonjak kaget ketika mendengar suara Yudha.


"Ti..tidak.." kataku cepat menghapus nomor Dhevale.


"Siapa kamu hubungi? serikat pembantu atau keluargamu di kampung."


"Tidak ada." jawabku lalu menaruh ponsel Yudha di nakas.


"Jangan coba-coba lari dari sini kalau ingin selamat." kata Yudha. Aku keluar dari kamar tanpa menghiraukan omongan Yudha.


Sampai di luar aku mencoba berlari ke depan, kepintu gerbang. Aku bersorak dalam hati, ternyata pintu gerbang tidak dikunci. Baru mau melangkah dua orang scurity telah memghampiriku.


"Nona masuk ke dalam jangan berkeliaran di luar. Kata tuan, nyonya sedang mencari nona kemana-mana."


"Aku mau ke toko sebelah, kalau tidak percaya ikuti aku." kata ku menolak kembali bertemu Yudha.


"Saya hanya menjalankan perintah, ikuti saja nona. Tuan bisa memecat saya kalau nona melawan."


"Aku juga bisa marah kalau kamu menghalangi aku."


"Tapi nona tidak menggaji saya, jadi saya tidak takut menolak perintah nona."


Busyett, benar juga. Akupun dengan terpaksa balik badan dan masuk ke dalam rumah. Ku lihat Yudha berdiri di teras depan dengan wajah cuek.


"Sudah sampai dimana berlari?" tanya Yudha mengejek. Aku diam menunduk menuju dapur. Ketika membuka kulkas aku kaget melihat isinya yang lengkap. Kalau bibi bisa saja mengolah bahan ini, tapi aku tidak mengerti.


Aku duduk di meja makan mencari solusi yang terbaik untuk bisa keluar dari rumah ini. Akhirnya aku punya ide supaya bisa keluar dari rumah ini. Nanti malam aku akan berpura-pura sakit supaya dibawa ke rumah sakit. Setelah di rumah sakit aku akan lari.


"Ngapain kamu mematung disini, apa mencari inspirasi supaya bisa lari dari sini."


"Aku akan berusaha mencari akal untuk lari, kemudian aku akan melaporkan kamu ke kantor polisi."


"Semoga kau berhasil." jawab Yudha pendek. Dia menaruh dua rice box dan minuman.


"Makanlah supaya kuat nanti malam."

__ADS_1


Aku mengambil rice box, kebetulan aku sangat lapar. Tanpa di komando dua kali aku membuka makanan itu dan menyuap. Aku tidak peduli pandangan Yudha.


*****


__ADS_2