PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
BERTEMU BIBI


__ADS_3

Berpacu dengan waktu, itu terjadi tiap pagi. Rasanya masih kangen memeluk Sean. Putraku sudah mulai bisa bicara satu dua. Lucu banget dan ngangenin. Aku bekerja hanya membantu ibu, jika suatu hari harta yang dikuasai Yudha dan kelompok saudara papaku bisa kembali padaku, mungkin aku akan tetap hidup bersama ibu. Aku kasihan melihat ibu dan pak De. Selama ini mereka cuma hidup berdua, lagipula mereka sangat sayang sama Sean.


"Heny, jika ada orang datang kesini ingin mengambil Sean jangan dikasi apapun alasannya." pesanku sambil menggendong Sean sebentar sebelum aku berangkat kerja.


"Disini banyak orang kost, mereka suka gemes melihat Sean, kadang ada yang suka memangku Sean."


"Tidak apa-apa kalau orang kost, kalau tamu luar baru tidak boleh."


"Ya nona, hati-hsti di jalan."


Aku mencium pipi Sean lalu pergi, aku berencana akan ke rumah ibu dulu, tapi sebelum masuk rumah aku melihat ibu dan Dimas serta rekan pengacara pak De mengangkat tubuh pak De ke mobil.


"Ibu ada apa, kenapa bapak?" tanyaku mengikuti ibu yang sedang menangis tanpa henti.


"Jangan berisik bapak sakit!!" bentak Dimas dengan marah. Seketika aku diam dan mengikuti mereka ke mobil ambulance. Aku buru-buru ikut naik ke mobil tapi Dimas menarik tanganku.


"Kau harusnya menjaga boutique ibu, ngapain ikut ke rumah sakit. Tidak ada gunanya." kata Dimas melotot kepada ku. Aku menoleh ke arah ibu, tapi ibu sibuk menangis.


"Lebih baik nona di rumah, kerjakan tugas nona dengan baik." pak Wirnano ikut berkomentar.


Aku berdiri terpaku ketika mobil yang mengangkut bapak berjalan dan meninggalkan diriku. Air mataku bergulir jatuh, seolah-olah mereka mengabaikan aku.


- Luna jangan sok sedih dan menangis bombay. Kau tahu bapak sakit gara- gara siapa? semua gara-gara kau. Pak De sampai malam-malam bekerja untuk menyelesaikan masalahmu. Belum lagi ancaman yang datang dari musuh-musuhmu. Kau hanya beban buat pak De dan ibu -


Aku terhenyak membaca chat dari Dimas. Tanganku gemetar memegang ponselku, berulang kali aku baca dan isinya tetap tidak berubah.


Semangatku hilang seketika. Aku melangkah ke mobil dengan pikiran kacau. Ya Tuhan, cobaan apa ini?


- Bingung kau membalas chat aku, karena kau adalah benalu - tulisnya lagi.


- Dimas, dari pertama aku sudah bilang sama ibu bahwa aku kontrak pavillion, aku akan bayar. Begitu juga jasa pak De, tidak ada niatku untuk mengelabui ibu dan bapak. Aku punya uang kenapa harus gratis - balasku.

__ADS_1


Aku menyandarkan punggung di jok mobil, menarik nafas panjang kemudian membuangnya kasar.


- Kalau punya uang bayar. Supaya karyawan pak De iklas bekerja - tulis Dimas.


Aku malas membalas chat Dimas lagi, Dimas juga tidak melanjutkan chat nya lagi. Aku menghapus air mataku dan perlahan mobil yang aku tunggangi keluar dari area parkir.


Pagi ini jalanan sangat ramai sehingga aku beberapa kali kena macet. Tidak ada gairah untuk mendengarkan lagu atau sekedar jelalatan sepanjang jalan. Aku down membaca chat Dimas yang jelas-jelas menuduhku. Kesan buruk melekat pada diriku, seolah akulah yang membuat pak De berada di UGD.


Sri baru saja datang bersama Putri dan Ida serta karyawan lain, ketika aku turun dari mobil, mereka tersenyum padaku.


"Pagi nona, saya banyak mendapat SMS ancaman dari nona Anna. Tadi malam dia juga vidio call dengan saya."


"Apa kau layani ke gilaannya?" tanyaku. Aku tidak ksget kalau Anna akan terus melabrakku. Type wanita seperti Anna tidak akan membiarkan Yudha lepas, bagaimanapun caranya.


"Saya hanya mengarahkannya supaya dia melawan nona. Buat apa dia ribut dengan saya, kalau berani lebih baik dia berhadapan dengan nona."


"Biarin saja jika dia kembali SMS atau VC, jangan tanggapi manusia model begitu."


Aku lalu masuk ke ruanganku dan Sri menuju ke ruangan masing-masing. Hari ini aku tidak bisa konsentrasi, terbayang pak De yang sakit. Bu Swari yang melengos ketika aku mendekati nya. Dan karyawan lain yang menatap ku dengan diam.


Pukul 12.15 wita aku mencoba chat ibu tapi ibu centang satu. Akhirnya aku mencari khabar dengan chat mbak Yuly sekretaris pak De.


- Maaf mbak Yuly bagaimana khabar pak De, aku terus kepikiran - tulisku.


- Nona, ibu dan bapak sudah bersiap akan di terbangkan ke Singapore. Maaf nona saya sedang sibuk. Kemungkinan Pak Winarno cs dan rekan melanjutkan gugatan nona. Saya sarankan supaya nona tidak banyak menuntut, kasihan pak De. Dia belum betul-betul pulih -


Tulis Yuly panjang lebar. Tidak tahu aku harus bagaimana, hanya bisa membalas dengan ucapan trimakasih.


Bagiku siapapun yang menangani kasusku tidak masalah, aku punya uang dan aset untuk membayar lawyer.


"Tookk...tookk...." Sri masuk dengan senyuman dibibir. Aku mendongak membalas senyumannya.

__ADS_1


"Nona, pria yang sama datang lagi, saya rasa dia ada hati dengan nona. Apalagi waktu itu dia melihat wajah dan body nona, saya yakin dia kepincut dengan nona."


"Aku tidak tertarik dengan laki-laki begitu, seleraku beda." jawabku asal.


"Tunggangannya Rubicon, mobil anti peluru. Pokoknya kren habis." kata Sri berapi-api.


"Dimana kau bertemu dengan pria itu atau kau cuma mengkhayal."


"Dia berada di lantai bawah dengan Ida dan Putri. Pria itu memesan pakaian prewedding, ntah untuk siapa."


"Siapa tahu dia memilih karyawan disini. Aku yang pertama akan memberi hadiah. Tapi dia sudah punya istri dan anak." kataku.


"Hadiahnya apa nona? semoga saja dia menembak saya, siapa tahu pria itu memilih saya dari pada pacarnya atau istrinya." kata Sri bercanda. Aku tertawa mendengar ocehan Sri. Kami saling meledek dan mentertawakan diri masing-masing.


"Selamat siang nona Luna, tuan Yudha mengirim makanan untuk nona." tertawaku tiba-tiba lenyap melihat bibi. Aku berdiri dan menghambur ke pelukan bibi. Ya Tuhan, aku bisa bertemu dengan bibi lagi.


"Bibi, aku kangen. Bagaimana keadaan bibi." kataku berurai air mata.


"Bibi juga kangen non." ucap bibi sedih sambil menangis. Kami saling bertangisan. Bibi aku peluk bertambah gendut, tidak sekurus dulu.


"Syukur kamu sehat, bibi sangat khawatir ketika itu. Setiap hari bibi berdoa untukmu."


"Bibi orang yang tidak pernah aku lupakan, aku sayang bibi."


"Bibi juga sayang dengan non Luna. Bibi mau kerumahmu, melihat si kecil pasti dia ganteng sekali."


"Aku belum punya rumah bi, masih kost di tempat ibu yang punya boutique ini, dan aku juga tidak bisa bebas karena diberi kepercayaan untuk mengelola boutique ini."


"Sekali saja nona, bibi ingin melihatnya. Kasihan tuan dia sangat sedih selama ini. Tapi syukurlah dia sudah berpisah dengan Hanun."


"Aku rasa selama aku pergi dia tidak ingin mencariku. Lagipula ngapain mencariku, dia sudah punya pacar." kataku datar. Bibi diam, tapi dia tetap membela Yudha.

__ADS_1


*****


__ADS_2