PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
MENIKAH


__ADS_3

Pagi-pagi aku sudah bangun, hari ini adalah hari bersejarah bagiku. Dari kemarin aku sudah berusaha tenang, tapi pikiranku tetap tidak tenang. Sekitar pukul 10.00 wita akad nikah akan dilangsungkan.


Upacara adat yang paling sederhana, itu pintaku. Tamu juga dibatasi. Aku minta yang sakral. Pak Lukas setuju, dia bilang saudara besarnya banyak. Tidak apa-apa kalau mereka datang.


Saat ini aku tetap tinggal di pavillion, karena belum sah menikah, jadi aku tidak mau tinggal di rumah pak Lukas walaupun terus di desak. Aku tidak tahu seberapa keseriusan pak Lukas ingin menanggung kebutuhanku. Apa yang dia inginkan dariku, hartaku atau pak Lukas benar-benar mencintaiku.


"Nona ada ibu dan bapak." bisik Heny ketika aku mulai bersiap berdandan.


"Aku segera keluar." jawabku sambil mencoel pipi Sean. Spontan Sean merengek memintaku. Aku memberi kode kepada Heny supaya Sean dibawa ke kamarnya.


Aku langsung keluar dan menyerbu ibu. Aku menangis di pelukannya. Ibu nampak kurus tapi lebih bersih. Bapak baru kelihatan kurus sekali dan tua.


"Ibu, pak De, aku kangen banget kepada kalian. Selama ini aku tidak diberi kesempatan untuk menengok kalian, jadi aku menahan diri."


"Tidak apa-apa, sekarang masalahmu sudah clear semua, semoga kedepan nya tidak ada yang mengganggu lagi."


"Pak De, bagaimana keadaanmu?"


"Sudah baik, bapak akan berhenti menjadi pengacara, biar Lukas saja yang melanjutkan."


"Jaga kesehatan pak De. Sehat itu mahal. Rasanya lama sekali kita tidak bertemu."


"Mari kita masuk ke dalam. Ibu akan ikut memasang sanggul." kata ibu.


Kami bertiga masuk ke ruang tamu, untuk sementara ruangan ini di pakai sebagai tempat berdandan. Aku memakai jasa MUA untuk merias wajahku. Aku ingin penampilanku saat ini sedikit glamour.


Pukul. 09.00 wita kami sudah di jemput oleh rombongan penganten pria. Dadaku deg-degan. Ketika aku melihat pak Lukas dadaku berdebar. Dia terlihat matang dan berwibawa. Sayangnya aku tidak mencintainya.


Dia tersenyum menawan ketika beradu pandang denganku. Aku menyambut senyumannya dengan tatapan nestapa. Pak Lukas tahu aku tidak mencintainya bahkan tidak tertarik untuk menikah. Namun dia percaya akan keajaiban, aku sendiri merasa ragaku sudah mati.


"Kau sangat cantik sayank, semua tamu akan pengling melihatku." puji pak Lukas menatapku kagum.

__ADS_1


"Pak Lukas juga menawan." kataku tersenyum tipis. Tidak tahu harus berkata apa.


Sekarang baru agak ramai, aku sendiri tidak punya saudara, yang membuat ramai adalah keluarga ibu swari dan keluarga pak Lukas. Pada saat itu pak De dan ibu Swari menjadi waliku, mereka sebagai pengganti orang tuaku.


Upacara adat diadakan di rumah ibu Swari dan semua keperluan upacara ibu dan bapak yang mengatur. Mereka menganggap aku sebagai anaknya. Kami mengikuti upacara adat, setelah itu aku baru diboyong ke rumah pak Lukas. Prosesi yang kedua di rumah pak Lukas, cukup lama menjelang sore baru selesai. Padahal aku minta pernikahan yang sederhana, tapi tamu yang datang membludak.


Hari ini sudah tiga kali berganti baju adat. Malamnya aku tidak sanggup lagi bertemu dengan siapapun, aku sudah capek dan tertidur. Mereka memaklumi dan membiarkan aku istirahat.


Pukul 08.00 wita pasca nikah aku terbangun dan kaget melihat pak Lukas tidur lelap di sampingku. Suara nafasnya yang halus terdengar jelas. Badanku seketika merinding disko melihat piyamanya yang tersingkap. Dadanya yang bidang ditumbuhi bulu halus. Serta...aku memalingkan wajah ketika mataku melihat kebawah. Hemm..


Aku yakin dia tidak melakukan apapun. Pakaianku masih lengkap, tidak ada yang mencurigakan. Perlahan-lahan aku turun dari ranjang menuju kamar mandi. Aku ingin cepat mandi ingin tahu dimana Sean berada.


Dari kemarin aku belum bisa bertemu dengan Sean. Aku berharap dia tidùr dengan Heny di salah satu kamar disini. Selesai mandi aku menuju walk in closet, berharap pakaianku ada disana. Tapi seluruh etalase hanya berisi pakaian pak Lukas.


Aku terpaksa masuk ke kamar dengan pakaian yang belum diganti. Pak Lukas telah bangun dan berdiri dekat jendela. Dia menarik tali tirai gulung membuka jendela kaca dengan cara menggeser. Kaca besar yang berukuran 3x2 meter itu terdorong kesamping. Sliding door,


Rupanya ada pemandangan indah di samping kamar. Kolam renang, gazebo taman bunga tropis yang sedang berbunga aneka warna.


"Sayank, kau mau berenang?" tiba-tiba pak Lukas menoleh ke arahku.


"Apa boleh aku keluar, aku mau mencari koperku dan sekalian mau menengok Sean."


"Sebenarnya kamarmu di sebelah dan pakaianmu juga, kamu salah masuk kamar."


"Jadi...kenapa kau tidak bangunin, aku bisa pindah kamar. Setidaknya kau tidak terganggu aku ada disini."


"Aku tidak terganggu malah berharap setiap hari kau salah kamar."


Mulutku langsung diam mendengar perkataan pak Lukas. Aku berdiri dekat pintu kamar mandi dengan wajah kaku. Aku tidak ingin ada "senggolan" yang mengarah ke perbuatan mesum.


"Dimana kamarku?" tanyaku berubah dingin dan kaku. Aku melihat pak Lukas terdiam melangkah kesamping. Dia menggeser pintu kaca dan terlihat kamar ukuran sama.

__ADS_1


"Ini kamarmu, masuknya lewat kamar ku. Semua milikmu sudah ditata rapi dengan pembantu."


"Astaga, tidak ada privasi. Aku bukan tahanan, aku ingin septy. Kenapa harus begitu, aku tidak mungķin kabur atau membawa cowok ke dalam kamarku."


"Kamu merasa tidak aman, kita tukar tempat tidur, kau disini aku disana." sahut pak Lukas tenang.


"Ihhh....aku tidak mau sama saja bohong, aku mau yang sendiri, punya pintu keluar sendiri. Tidak ada orang lain bolak-balik." bantahku kesal.


"Gampang, kau dan aku tidur bareng disini."


"Bilang saja kau tidak ingin melihat aku bebas. Kau mengurungku, membunuh karakterku secara perlahan-lahan."


"Sayank, aku berusaha yang terbaik untukmu. Kalau begitu aku pergi saja, tidur di kantor saja."


"Jangan, aku tidak mau di cap istri durhaka. Pasti banyak yang ingin tahu perkembangan pernikahan kita."


"Apa kau ingin berenang, matahari bersinar dengan terang."


"Tidak pak lain kali, aku sudah mandi." kataku masuk ke dalam kamar baruku. Aku bingung, ada saja ide pak Lukas untuk menjeratku. Tapi tidak mempan aku type one boy. Satu pria untuk selamanya.


Ternyata kamarnya kembar, semuanya sama. Aku menuju walk in closet dan seluruh pakaianku sudah rapi. semua sudah diatur. Aku mengganti bajuku dengan celana jean dan t-shirt. Berhias sedikit dan memakai parfum.


"Mau kemana sayank?" tanya pak Lukas mengalingi jalanku.


"Aku mau cari Sean. Minggir donk." kataku takut menyentuh badannya.


"Sebentar kita kesana, ibu dan bapak ngajak Sean pulang ke pavillion."


"Haa...aku kira mereka ada disini. Aku kasihan Sean, dia pasti nangis."


"Sean anak yang hebat, ibunya sering ninggalin dia dari dulu, Sean gapapa. Ibunya pacaran terus...." sindir pak Lukas.

__ADS_1


"Idiihhh...dasar tukang intip." kataku.


*****


__ADS_2