
Aku adalah pengusaha muda Real Estate yang sukses dan berbakat. Tidak perlu kalian ragukan lagi ke geniusan ku di dalam mengelola 200 hektar tanah yang kini aku sulap menjadi lahan bisnis raksasa di bawah naungan PT. YUDHA PERKASA.
Sebenarnya perusahan ini aku teruskan dari orang tuaku dan aku mengembangkannya dengan totalitas tinggi. Di atas tanah ini aku mendirikan 5 buah Hotel bintang 5, lapangan Golf, New Rocky Bar di atas laut, Restoran Internasional dan Nasional, Sweet Beach Club, Water Boom, kebun binatang, pabrik masker, Rumah sakit, kebun Hidroponik serta Aquarium raksasa.
Aku terkenal tajir melintir, tudak kekurangan apapun, sayang di dalam kehidupan rumah tangga aku mengalami krisis kepercayaan kepada istriku, sehingga tekanan mental di bawah sadarku terjadi di luar nalar. Istri yang aku cintai dan sayangi tega menusukku dari belakang. Sehingga aku kehilangan kendali dan melampiaskan emosiku ke babuku.
Tapi ketika babu itu menghilang, disitu aku merasa kehilangan. Aku kehilangsn orang yang bisa nemuaskanku. Jika sekarang aku meyakini bahwa yang aku temui tadi adalah Luna, itu karena hasratku tiba-tiba melonjak ketika aku memandangnya. Tidak pernah aku punya hasrat besar dengan orang lain selain dengan Luna.
Aku memperhatikan dari jauh wanita yang menolak di sapa Luna. Wanita itu naik ke sebuah mobil Fortuner bersama seorang laki-laki dan Ibunya. Mungkin itu bapaknya, karena sudah tua. Aku mengikuti dari belakang seperti spionase saja.
"Derreettt...derreettt..." bunyi ponsel mengalihkan perhatianku dari mobil Fortuner di didepanku.
"Hallo...."
"Hallo Pak, client kita sudah pulang barusan, dia akan membeli hotel yang berada di Seminyak dengan harga yang di tawarkan, tapi pajak dan biaya notaris ditanggung penjual."
"Pak Agus, bikin formatnya dulu thermin dan MoU. Saat ini saya ada urusan keluarga. saya agak telat datang ke kantor."
"Ow pak tidak apa-apa, semoga lancar."
Telpon terputus bersamaan hilangnya mobil yang di buntuti Yudha, lampu merah menghadangnya. Mau marah kepada siapa, Yudha tetap melaju pantang mundur, baginya tidak ada kata menyerah. Harus ketemu, bagaimanapun caranya.
Jarum jam berputar terus, kini sudah pukul 12.15 wita. Aku membelokan mobil ke restoran Thailand, siang ini cukup ramai. Di dalam sudah penuh akhirnya aku duduk di luar. Tempatnya sama bedanya di dalsm memakai AC kalau di luar memakai kipas angin. Aku memesan Thae tea dan Thom Yam. Aku duduk sambil memikirkan Luna.
Pucuk di cinta ulam tiba. Ternyata Bali ini sempit sekali, wanita yang aku pikirkan datang bertiga. Hanya melihatnya saja otakku menjadi oleng. Dia menyeringai sinis ketika pandangan kami bertemu. Perasaan ini kegirangan. Aku tidak salah lihat, hanya Luna wanita yang memandangku dengan tatapan ingin membunuh.
"Boleh duduk disini? mejanya semua penuh."
"Silahkan pak, saya sendiri saja." jawabku bersorak dalam hati, kedua wanita yang berada di sampingnya hanya menurut dan ikut duduk semeja.
Aku tidak menyangka laki-laki yang diajak wanita inceranku itu duduk semeja. Senang, tentu saja.
"Sayank, disini panas tidak ada ac nya. Bagaimana kalau kita pindah tempat?" tante mulai membujuk suaminya.
"Disini saja, udaranya bagus. lagian di dalam penuh." om Albanino menolak mentah- mentah usul istrinya.
Aku bersyukur atas penolakan pria itu yang belakangan aku ketahui bernama Albanino.
__ADS_1
"Kenalkan ini istriku, Dessire dan ini anakku, Luna......" kata om Alba.
Senyumku mengembang penuh arti, apakah Tuhan menciptakan semuanya kembar? sampai ke namanya?
"Senang berkenalan dengan kalian, lain kali saya mau mampir kesana."
"Silahkan ...."
Jodoh tidak akan lari kemana. Apakah Luna jodohku, terus Hanun bagaimana? aku jadi bingung dengan pikiranku yang dangkal. Dengan penampilan Luna yang super modis pikiranku tambah berkelana. mesum!!.
Aku menyesal kenapa dulu aku sering menghinanya, memakinya. Dibalik itu semua aku bersyukur menjadi orang pertama yang membuka segelnya. Meneguk nikmat yang selalu menggoda imamku, setiap melihatnya hasratku bergolak. Apa lagi yang harus di buktikan?!.
"Aku mau ke toilet...," kata tante berdiri.
"Tunggu, barengan..." om juga berdiri. Mereka berdua pergi, tinggalah mangsaku. Seperti biasa matanya akan membulat menatapku. Bibir nya manyun tapi manis.
"Hemm...akhirnya aku bisa menelanmu, bersiaplah aku akan datang ke kamarmu." aku menekan kata-kataku.
"Sebelum datang telpon dulu supaya aku bisa menyiapkan pentungan untuk keprukk kepala kau." ketus Luna kesal.
"Aku yang nembawa pentungannya, jau tinggal terima dengan sukarela."
"Lihat hasil akhir, bisa bikin anak."
"Siapa yang hamil, ogah sama suami orang, yang muda banyak ngantre."
"Yang tua is the best, bisa bikin melenguh."
"Dasar buaya, awas kau dekati aku lagi."
Aku diam karena om dan tante sudah datang mereka menatapku dengan raut wajah tidak senang. Om yang tadi ramah berubah sikap, aku tahu mereka pasti membahasku waktu mereka berada di kamar mandi.
"Luna kita pulang." ajak om Abelino tanpa basa basi, dia tidak berkata padaku.
Luna mengangkat pantatnya dan mereka beranjak dari hadapanku. Aku seperti kambing congek, sangat terhina. Harapanku Luna berpaling padaku, tapi dia berjalan lurus ke depan. Ya Tuhan, aku mengusap wajahku dengan kedua tanganku. Ada rasa perih di hatiku.
Apa aku telah mencintai Luna? aku tidak tahu, karena hatiku juga ada nama Hanun.
__ADS_1
Setelah aku pikir dengan otak jernih mereka pantas berbuat begitu, aku telah merusak masa depan Luna. Untung aku tidak di laporkan ke polisi dan semoga saja tidak. Tiba-tiba hatiku ciut memikirkan penjara, masa depanku hancur.
Jika melihat dari penampilan mereka bertiga, mereka bukan orang miskin, Luna juga beda sekali, cantik, anggun dan sexy. Apa penyebab Luna menjadi gelandangan? aku harus tahu masalah ini.
Selera makanku lenyap seketika, aku keluar dari restoran dengan perasaan hampa. Rasanya ada yang hilang dari hidupku. Aku tidak mengerti apa yang aku alami sehingga aku seperti patah hati.
Suara 8 letters dengan Lagu Why Don't We mengalun menghibur diriku yang bersedih. Rasa ini menghimpit jiwaku, menyebabkan mataku berkabut. Aku tahan air mata ini dan berusaha tegar.
Hari sudah sore, mobil berbelok ke rumah besarku. Baru turun dari mobil aku sudah disambut oleh suara musik cadas yang menggelegar. Ada apa ini, seingatku Hanun tidak berulang tahun.
"Tuan, apa mau masuk kedalam?" bibi kaget melihat kehadiranku.
"Ada apa di dalam, sepertinya ada pesta akbar."
"Pesta beginian sudah biasa tuan, mereka pada gila. Apalagi nyonya, tidak bisa di bilangin."
Ini rumah besarku peninggalan orang tua, besar dan mewah. Nyesekk melihat halaman yang kotor pohon-pohon daunnya menjuntai lebat, musik terdengar sangat keras.
"Tuan jangan masuk, banyak orang." bibi menghalangi langkahku.
"Ini rumahku, aku harus tahu apa yang mereka lakukan. Masih sore begini, jangan sampai mereka melakukan yang tidak baik."
Aku naik ke lantai atas, dua orang laki-laki berperawakan kekar menahan langkahku.
"Tidak boleh ada yang masuk ke dalam, ini perintah dari nyonya."
"Aku suaminya!!" bentakku.
"Hahaha...aku tidak urus, kau siapa. Yang penting kau enyah dari sini." bentak kedua orang itu.
"Kau yang enyah dari rumahku!!" aku balik mebentak mereka. Rupanya mereka kesal dan mendorongku. Untung aku berpegangan ketat, terjadi tarik menarik.
"Nyonya Hanun...nyonya Hanun..." bibi berteriak kencang, tapi Hanun tidak keluar dari ruang pesta.
Aku masih bersabar untuk tidak memanggil polisi. Mereka bukan orang baik-baik, aku takut kalau rumahku dijadikan sarang narkoba.
Akhirnya Hanun keluar juga dengan pakaian yang tidak sedap di pandang mata. Aku tidak kuasa melihat tingkahnya yang sedang nge play. Seorang cowok memeluknya dari belakang dan melihatku dengan sinis. Bulat sudah tekadku untuk menceraikannya.
__ADS_1
******