
Malu? tentu saja. Heny tersenyum melihatku, aku salah tingkah. Dengan berbisik aku berkata,
"Ini perbuatan papanya Sean, aku tidak pernah selingkuh, aku type orang setia yang berlebihan....."
"Owh..ketemu lagi donk, bukannya dia selingkuh dengan wanita hitam manis itu?"
"Dhevalee sudah pulang ke negaranya. Orang seperti dia mana betah satu lelaki." kataku bimbang. Perkataan Yudha kadang zonk. Aku sudah sering gigit jari dibuatnya.
"Hati-hati saja nona, cinta saja tidak cukup untuk membangun rumah tangga, perlu uang, saling setia dan pengertian."
"Apa kamu pernah berumah tangga?" tanyaku menatap Heny.
"Hampir menikah, dia duluan ketahuan selingkuh. Walaupun hati saya sakit, setidaknya saya bersyukur ketahuan sifat aslinya sebelum menikah."
"Semoga kamu cepat mendapat jodoh yang baik dan setia."
"Saya tidak mau menikah, lagian tidak mungkin bisa punya anak. Dosa saya terlalu banyak, dulu pernah aborsi dua kali, sekarang saya tidak bisa hamil. Itu faktor utama yang menyebabkan dia mencari wanita lain. Saya kapok dipakai doank, tapi tidak pernah mau dinikahin."
Aku terhenyak tidak menyangka, ternyata Heny punya masa lalu kelam. Aku langsung meraba perutku. Apakah aku hamil? Jika aku hamil anakku tidak punya bapak lagi. Aku merasa kembali jatuh di lubang yang sama. Bisa saja Yudha memanfaatkan aku seperti pacar Heny. Astaga, aku baru menyadari.
"Benar juga, lebih baik hidup sendiri dari pada punya pacar selalu sakit hati." gumamku kepada diri sendiri.
"Begitulah nona." kata Heny mengambil Sean dari tanganku.
"Saya mau beri Sean makan, silahkan nona sarapan. Semua pesanan parcel hari ini sudah di kirim, mbak Tutik lagi ngerjakan parcel untuk besok."
"Kalau begitu aku mau ke Tutik dulu." ucapku bergegas ke ruang keluarga.
Tutik tersenyum saat aku datang. Dia adalah salah satu karyawan yang bisa diandalkan. Pekerjaannya sangat rapi.
"Pagi nona, parcel ini semua untuk besok, nanti saya dan Mery akan minta tolong kepada pak udin di antar ke rumah sakit
"Nanti aku bilangin pak Udin, kamu sarapan dulu aku yang ganti."
"Nona yang sarapan, saya sudah sarapan dirumah. Kebetulan hari ini ada saudara dari kampung datang, jadi kami masak besar."
"Bahagianya punya saudara banyak, aku kadang iri melihat orang lain bercanda ria dengan saudaranya."
"Biasa saja nona, kelihatannya saja di luar rukun, di dalamnya seperti magma gunung berapi."
"Ya sih dimana sama...." kataku tersenyum.
__ADS_1
Ponselku berdering, aku melihat nomer pak Lukas di layar. Kebetulan. pikirku.
"Hallo pak, ada apa?"
"Kamu ada di rumah sayank?"
"Ada, pak Lukas mau kesini, kebetulan sekali saya juga mau bicara."
"Tunggu aku dirumah, kamu mau nitip apa, aku lagi di Mall."
"Tidak ada, aku sudah kenyang."
Setelah berbasa basi sedikit aku lalu menutup ponselku. Aku harus mengganti bajuku yang berkerah supaya pak Lukas tidak melihat bekas merah di leherku. Kadang Yudha bikin kesal, selalu saja bikin merah-merah seperti drakula.
Dadaku spontan berdebar kencang ketika melihat pak Lukas datang. Aku mengajaknya ke ruang tamu.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya pak Lukas menatapku. Aku memalingkan wajah, wajahku seketika merah seperti kepiting rebus. Sulit sekali mengatakan mau menikah dengannya kecuali dia nawarin duluan.
"Aku baik-baik saja. Sebenarnya aku ingin bicara yang urgent kepada pak Lukas."
"Ngomong apa?" tanyanya lalu pindah duduk di sampingku. Spontan pantatku bergeser, ada rasa takut, seolah pak Lukas mau menerkamku. Gara-gara pernah di perkosa Yudha, perasaanku terasa terancam kalau ada laki-laki asing di dekatku.
"Tidak bisa bebas. Dia kena pasal penggelapan."
"Aku mohon, kalau dia jatuh. Aku yang akan rugi."
"Aku dengar kamu tidak dikasi uang sepersenpun untuk hidup. Padahal uangmu banyak disana, berarti dia tidak peduli padamu, dia egois."
"Uangnya ada koq." kataku membela Yudha. Kesal aku kalau ada yang menjelekan Yudha.
"Mana ada begitu, income dari asetmu bisa kamu belikan aset baru. Pikir yang logis supaya kamu tidak terus di bodohi. Aku tidak mau menolongnya." kata pak Lukas tegas.
Hatiku langsung mencelos sedih, aku tidak ingin Yudha di penjara atau tersentuh hukum. Mataku berkaca- kaca dan dada sesak menahan sedih.
"Aku akan menikah denganmu...." suaraku terdengar parau.
"Menikah? Apa Yudha yang memaksa kau berkata begini?"
"Tidak, ini kemauanku sendiri." kataku menelan malu.
Aku tidak mau mengulur waktu dan berandai-andai lagi. Penjahat itu terus mengancamku lewat SMS.
__ADS_1
"Ada SMS jawab dong." kata pak Lukas membuat aku bingung, keringat dingin membasahi bajuku. Saat itu aku ingin berteriak saking takut dan tidak tahan.
"Dari pelanggan, nanti saja aku balas." kataku bohong.
"Aku tidak sekaya Yudha, apa kamu mau menjadi istriku?" tanya pak Lukas.
"Kaya miskin tidak menjadi tolak ukur, bagiku niat dan komitmen yang aku utamakan. Aku tidak mudah memutus kan sesuatu kecuali sangat mendesak dan diluar nalar."
"Apa kau merasa terpaksa menikah dengan ku?"
"Keputusan ini sangat berat, dengan sangat terpaksa aku ambil, demi masa depan anakku. Aku ingin ada sosok ayah di keluarga kecilku."
"Bukan karena Yudha?"
"Dalam penyerahan diriku kepadamu aku yakin Yudha akan bebas, itu salah satu tujuanku, tapi ada yang lebih urgent dari sekedar itu yang kau tidak akan mengerti."
"Kenapa kau berteka teki, apa kau ingin memanfaatkanku, kau kira aku bodoh."
"Kau sangat pintar bagiku? bukankah kita saling mengisi, siapa tahu nasib membawa kita kepada takdir yang kita belum ketahui."
"Semoga takdir kita menjadi suami istri dan saling mencintai. Saat ini aku mencintaimu sepihak, aku harapkan di kemudian hari kamu mencintaiku juga."
"Jika kau serius mau menyerahkan diri kepadaku kita akan segera menikah."
"Aku ingin bertunangan dulu."
"Sayank, kita bukan remaja lagi. Aku tidak ingin bertunangan, kita akan langsung menikah." jawaban pak Lukas hampir membuatku keselek.
"Aku belum mengenal sifatmu dan latar belakangmu. Kepercayaanku kepada pria kurang bagus, pak Lukas harus mengerti tentang aku."
"Helehh...omongannya mentah lagi. Padahal sudah pasrah menikah. Aku heran sama pikiranmu yang sukaujo berubah-ubah. Kamu sudah dewasa sayank, pasti sudah tahu mana orang yang serius mana yang modus."
"Aku takut ditipu, wajar aku hati-hati, siapa tahu kau sudah punya istri dari kampung." kataku cemberut.
Pak Lukas tersenyum melihat tingkahku. Dia mengeluarkan KTP dan menyerahkan padaku. Dalan hati aku kagum melihat gelar ke sarjanaan di belakang nama nya. Yang membuat aku lebih yakin menikah dengannya karena dalam KTP dia masih bujangan.
"Minggu ini kita akan menikah, sebelum menikah aku akan bicara dengan Yudha. Karena syarat dia bebas adalah penyorbanan dirimu."
"Tidak usah kita membawa-bawa Yudha. Aku minta pernikahan yang paling sederhana." kataku menatap pak Lukas.
*****
__ADS_1