
"Hallo...hallo....tutt."
Ponselku lowbat. Aku sangat panik mendengar kabar Sean hilang. Siapa yang menelpon tadi? bibi atau Heny. aku berdiri bolak balik karena bingung, sedangkan Yudha tidak membawa ponsel. Mau minjam sama orang lain aku malu, semua orang yang berderet duduk di kursi tunggu asyik dengan ponselnya. Tidak mungkin aku datang ujug-ujug minjam ponselnya.
Untunglah Yudha sudah selesai di obati. Tidak begitu parah dan tidak perlu di jahit. Tangannya cuma di obati dan di perban.
"Ayo kita pulang." kataku mengajaknya pulang.
Aku berjalan dengan langkah lebar, sudah tidak sabar sampai di rumah. Saat ini aku tidak mau memberitahu Yudha tentang kekhawatiran diriku atas keselamatan Sean.
Aku kembali memacu mobilku dengan kencang. Pikiranku dipenuhi oleh bayangan Sean. Aku sangat takut jika dia benar-benar hilang.
"Jika kecocokan sudah tidak ada kenapa kita harus menyiksa diri untuk saling berdebat. Lebih baik kita putuskan sampai disini saja dan aku berdoa supaya kau mendapat pria yang lebih baik." kata Yudha bersamaan dengan bergulirnya air mata dari sudut mataku. Aku tidak menangisi perkataannya, aku menangis karena ingat Sean.
"Buat apa kau menangis, tangismu palsu, kau palsu dan cintamu palsu. Selama ini kau menipuku, kau hanya memperalatku." sambungnya lagi.
Dadaku bergetar menahan luka yang tiba-tiba menggores hatiku. Sakit, itu yang aku rasakan. Perkataannya membuat aku berjanji dalam hati tidak mau menyentuhnya lagi. Aku terhina!!.
Aku akan pergi dari rumahnya dan dari kehidupannya. Selama ini aku merasa baik-baik saja. Aku tidak menyangka orang yang sangat aku sayangi tega menghujatku, menghinaku sedemikian rupa. Aku merasa sedih, hancur seperti butiran debu yang tertiup angin.
"Perempuan sepertimu pasti murahan dan tidak punya akhlak." kata Yudha kembali setelah mobil berhenti di garasi.
Aku menghapus air mataku dan cepat-cepat turun. Saat aku mau mengikuti Yudha masuk, bibi datang dari belakang berboncengan dengan pak komang scurityku.
"Bibii...datang dari mana?" tanyaku berharap dia tahu keadaan Sean.
"Nona, maafin bibi. Kita harus lapor kepada tuan." kata bibi menangis. Kemudian Heny dan semua PRT serta scurity datang menghampiriku.
"Nona maafkan kami." mereka semua minta maaf. Air mataku terus mengalir, sampai dadaku terasa sesak. Kami semua duduk di teras depan. Aku menarik nafas panjang berusaha tenang.
"Kita ke kantor polisi, tuan tidak boleh tahu. Tuan lagi marah karena akan di sidang." kataku menatap mereka satu persatu.
"Tapi menurut peraturan, polisi tidak akan menerima laporan kita kalau belum 1x 24 jam."
__ADS_1
"Yang penting kita ke polisi, di terima tidak di terima itu urusan nanti. Aku sama bibi, Heny dan pak Komang ke kantor polisi. Jika ada sesuatu cepat telpon aku."
"Siap nona..." kata mereka serempak.
Aku naik ke mobil rubicon, walaupun sangat sedih aku tetap berusaha tegar. Sekarang aku memacu mobilku dengan kecepatan sedang, cendrung pelan. Mataku dan mata penumpang yang aku ajak jelalatan di sepanjang jalan untuk melihat- lihat, siapa tahu ada anakku.
Rasanya kaki tidak menginjak tanah saking sedihnya. Aku merasakan ketakutan yang luar biasa. Bayangan buruk terlintas di benakku, aku takut anakku di jual dan jadi gelandangan. Sampai di kantor polisi aku langsung di terima oleh seorang polisi jaga, dia mengajakku ke dalam ruangan. Ada dua polisi yang berada di belakang laptop.
"Silahkan duduk." kata polisi jaga itu menyuruh aku duduk di kursi yang telah tersedia. Biasanya ngantre, untung sekarang sepi.
"Mau melapor apa?" tanya polisi itu melongok dari balik laptopnya.
"Sore pak polisi, saya melaporkan bahwa jam 13 09 anak saya hilang....." kataku menyerahkan KTP.
"Saya akan mengetik dan nyonya bercerita tentang kejadian itu." kata polisi itu singkat.
Aku mulai becerita atas kesaksian bibi dan yang lainnya. Sesekali bibi dan Heny menambahkan ceritaku. Tidak sampai sepuluh menit aku sudah mengantongi surat laporan kehilangan.
Dari kantor polisi aku langsung ke pavillion untuk mandi berganti baju dan mencari Dimas. Sepanjang perjalanan kami diam dengan pikiran masing- masing.
"Silahkan duduk bi, pak komang." kataku mengajak mereka langsung ke meja makan. Heny tolong masukan ke koper pakaian, aku akan memginap beberapa hari di rumah tuan."
"Siap nyonya..."
"Kalian makan dulu, bibi terlanjur masak." kataku.
"Nona juga harus makan, kita sama- sama berdoa supaya Sean cepat ditemukan dalam keadaan sehat, selamat." kata Heny.
"Aku mau ganti baju dulu, kalian duluan makan." kataku lirih.
Cobaan terberat bagiku adalah ke hilangan buah hatiku. Jiwaku rasanya ikut melayang. Air mata terasa sudah kering. Aku buru-buru mandi, memakai baju dan kembali ke ruang makan Sambil mengisi batere ponsel aku menunggu Dimas.
"Heny, tuan Dimas ada menanyakanmu tentang keberadaan kita?" tanyaku menatap Heny.
__ADS_1
"Maaf aku kurang sopan, aku mengganggu makan kalian."
"Tidak apa nona. Silahkan nona ikut makan, saya khawatir nona sakit."
"Tidak apa Heny, aku juga akan makan." kataku mengambil buah dan susu.
"Tadi pagi tuan Dimas menanyakan Sean, saya katakan ada di klinik. Dia tanya dengan siapa, saya bilang bersama tuan suami nona Luna, dia langsung menutup ponselnya."
Setelah ponselku penuh batere aku membukanya. Puluhan panggilan dari Yudha, ada juga SMS dari nya. Tapi aku tidak membukanya, aku fokus kepada Dimas. Aku punya prasangka buruk dengan Dimas dan Anna. Menurut bibi, Anna datang sama sopir, seperti biasa dia duduk di luar. Karena mereka sibuk membersihkan kamar Yudha, mereka tidak menghiraukan Anna.
Anna sering ke rumah Yudha, jadi bibi atau semua PRT tidak curiga. Mereka juga tidak tahu kapan Anna pergi dari rumah Yudha, atau Sean dibawa pergi. Mungkin cctv yang bisa menjawab semua ini. Setelah beberapa kali mengontak Dimas akhirnya dia datang, dia terkesan buru-buru.
"Maaf kerjaan banyak, ada apa say?" tanya Dimas menatapku.
"Kita bicara di luar saja." kataku mengajak Dimas ke lobby depan.
"Setelah polisi memeriksa cctv terlihat seorang wanita mengambil anakku dan membawanya kabur." kataku seolah menjebaknya.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu ini. Aku lagi sibuk." kilahnya.
"Kau tahu, Anna tadi ke rumah Yudha, aku sedang mengajak Yudha ke klinik. Tidak mungkin anakku lenyap dari tempat tidur kecuali ada yang iseng mengambilnya. Aku sudah melaporkan ke kantor polisi, jika dalam waktu 24 jam anakku tidak dikembalikan aku akan mengambil tindakan tegas."
"Coba aku telpon Anna, sstt..." katanya sambil menaruh telunjuknya di bibir pertanda aku disuruh diam.
"You stupid, you think it's funny!!"
Aku dengar Dimas mengumpat kepada Anna. Dan aku tengarai bahwa Anna lah yang mengambil putraku.
"Kau bisa bahasa inggris say?" Dimas bertanya sambil menatapku intens.
"Ng..gak.. begitu." jawabku terbata- bata. Semoga Dimas lupa bahwa di biodataku tertulis bahwa aku pernah hidup dan kuliah di Los Angeles.
"Say.. .kalau ada masalah jangan langsung lapor ke kantor polisi, apa gunanya aku disampingmu. Kau tidak menghargai itikad baikku selama ini. Kita sudah dewasa, kita bisa saling sharing." kata Dimas lembut.
__ADS_1
Manis banget cangkem mu Dimas. Bathin ku gregetan, ingin aku jahit mulut itu pakai benang woll supaya mingkem, dasar musang berbulu domba.
*****