
(POV YUDA)
Apess!! aku terpaksa naik ke mobil, aku tidak menyangka kalau Luna akan menelpon, sungguh di luar dugaanku. Sayang sekali semuanya jadi kacau, gara-gara sikap Anna kepadaku. Aku yakin Luna berada di sakah sagu mobil
Aku mengambil tussue basah dan membersihkan wajah. Anna duduk diam disampingku, dia terdengar terisak. Aku menoleh kesamping, duhh drama apa lagi ini? nangis melulu, harusnya aku yang menangis bukan dia aku yang kehilangan.
Dengan kesal aku menghidupkan mesin mobil dan memberi lampu dim ke mobil pak De. Setelah memencet bell aku keluar dari kantor lawyer. Pak De mengikutiku dari belakang.
"Hapus air matamu, jangan menambah beban pikiran. Aku hampir bertemu dengannya, gara-gara tingkahmu yang lebay aku jadi kehilangan kesempatan." kataku emosi.
"Aku sedih menerima perlakuanmu yang kasar. Kau tidak punya perasaan dan tega sekali." kata Anna menghapus air matanya.
"Maaf, aku tadi bingung ketika pacarku menelponku. Belum lagi aku harus cepat pulang mencari flashdisk yang dikasi oleh Dirga."
"Apa? flashdisk dari Dirga? kapan kamu dikasi sama Dirga?" tanya Anna kaget. Dia sangat antusias menanyakan keberadaan benda itu. Sinar matanya berkilat ketika memandangku dari samping.
Aku heran dengan sikap Anna, kenapa tangis Anna hilang ketika menyinggung nama Dirga. Apa yang Anna tahu tentang Dirgan?
"Sekarang dimana flashdisk itu di simpan, jangan sampai hilang. Atau saya ikut mencarinya."
"Kau pulang saja, sepertinya pak De akan marah kalau aku mengajak mu kerumahku."
"Bos...saya ini karyawan, apa salahnya saya datang. Setidaknya saya bisa membantu ikut mencari."
"Kau harus pulang dimana alamat rumahmu. Hari ini banyak masalah, pulanglah."
"Turunkan saya disini bos jika anda terganggu dengan kehadiran saya."
"Anna!! Kau egois, tanpa pernah mau berpikir bagaimana perasaanku hari ini. Aku membuat Luna kembali terluka gara-gara kehadiranmu."
"Saya ingin berbakti kepada bos, saya mencintaimu secara diam-diam tanpa tuntutan dan pamrih."
"Diam mulutmu!!" bentakku kesel, aku dari tadi mutar-mutar mencari rumah nya tapi dia tidak mau memberitahu dimana rumahnya. Aku terpaksa mengajaknya pulang kerumahku.
Aku membelokan mobil ke rumah, pak made scurity membukakan plang. Aku langsung membawa mobil ke garase. Biasanya ada bibi, tapi bibi pulang kampung seminggu. Saat membawa tas kerja, Anna langsung mengambil dan dia membawanya. Nyess... hatiku terharu dan memandangnya seaat.
Di rumah sudah ada pak De dengan senyum masamnya melihat ke arah Anna. Aku tahu pak De tidak senang aku main-main dengan para wanita. Dia juga hanya kenal Hanun karena Luna tidak pernah aku ajak kemari.
"Mari masuk pak De." kataku sedatar mungkin.
__ADS_1
"Nona, tunggu disini kami ada urusan di dalam. Mau di mobil atau di teras terserah, asal jangan ngikutin kami ke dalam." pak De sudah mengeluarkan ultimatum.
Anna terdiam matanya berkilat marah memandang pak De.
"Kenapa wanita ini kamu bawa kesini Yudha, jangan mencari penyakit baru." perkataan pak De membuat aku tergagap. Aku mengusap wajahku dengan kasar.
"Pak De tidak usah ikut campur urusan saya dan Yudha. Saya berhak ikut kemana dia mengajak saya. Sebagai bawahan apapun dia minta saya akan lakukan."
"Anna!! berhenti bicara, keluar kau dari sini. Panggil gojek untuk mengantarmu pulang." bentakku tanpa kompromi.
Aku malu kepada pak De kelihatan cemen. Walaupun dalam hati tidak tega melihat seorang wanita yang dari tadi aku ajak terus tiba-tiba aku suruh naik gojek.
"Teganya bapak hiks...hiks....saya akan duduk di teras saja." Anna menangis, aku tidak tega, tapi aku biarkan dia keluar duduk di teras.
Baru saja kakiku malangkah, mobil grab sudah datang. Aku bingung siapa yang menanggil.
"Maaf nona silahkan naik grab pulang, saya tidak mengizinkan nona berada disini." pak De sudah bertolak pinggang mengusir Anna. Aku jadi serba salah. Anna terlihat marah, tapi dia terpaksa melangkah ke mobil grab.
Aku masuk ke rumah bersama pak De, suasana hati jadi tidak enak gara-gara Anna. Aku mengerti ketegasan pak De. Dia tidak senang melihat aku membuat masalah, dia yang akan repot kalau aku bikin ulah, karena ujung-ujungnya pak De akan menyelesaikannya.
"Kita tidak tahu siapa Anna sebenarnya jangan lihat cover nya saja, dalam hatinya siapa tahu. Dia seperti wanita licit yang beracun."
Aku membuka kulkas mini di ruang kerja dan mengambil dua boyol air mineral.
"Minum pak De."
"Trimakasih..."
Aku mulai mencari flashdisk dan membuka satu persatu tas kerja, baru terlihat kedua flashdisk yang aku cari- cari. Aku berharap benda ini bisa menunjukan bukti-bukti dari kematian Dirga.
"Pak De sudah ketemu." kataku senang.
"Kita buka di laptop."
Sambil menggandakan rekaman aku menonton vidio pendek tentang penyiksaan terhadap Dirga. Kejadian itu sangat jelas, paman Randu dan Om Cakra yang menyiksa Dirga.
Aku tidak sanggup lagi menonton kesadisan paman dan om Cakra waktu menyiksa Dirga. Mataku berkabut menahan air mata yang mau jatuh. Aku seolah melihat Luna yang tersiksa, dan merasakan sakitnya.
Flashdisk kedua berisi curhatan hati. Dirga yang mengaku sangat mencintai Luna. Jika dia meninggal harapannya supaya aku dan Luna menjadi satu. Banyak curhatan hatinya yang merujuk kepada prilaku Hanun dan seorang wanita. Dan dia juga mengatakan telah diracun.
__ADS_1
Perasaanku mendadak tidak enak. Karena ada nama Hanun di vidio itu. Nama itu sering disebutkan oleh Dirga sebagai pengantar kematiannya. Aku tidak mengerti apa maksudnya, Dirga juga mengatakan disamping Hanun dia menyebutkan seorang wanita lain.
Sepanjang ingatanku Hanun dan Dirga, adalah teman baik, kami tiga serangkai yang saling mengisi. Aku tidak tahu dibalik keakraban Hanun dan Dirga ada masalah yang tidak pernah aku ketahui. Apa yang terjadi antara Hanun dan Dirga?, selama ini aku percaya kepada mereka. Jika Hanun dituduh satu kelompok dengan saudara papa Luna aku bisa memaklumi, Hanun pasti sakit hati karena aku memilih Luna. Untuk balas dendam Hanun memihak keluarga Luna apalagi Hanun dekat dengan tante Dewi.
"Mereka sumber yang menggiring kematian Dirga. Ini adalah bukti otentik yang bisa menjerat mereka." kata pak De berapi-api.
"Tapi ada nama Hanun di vidio itu, aku tidak tega kalau dia di penjara."
"Yudha, berpikirlah yang jernih, kamu harus legowo. Siapapun orang yang melakukan kejahatan harus kena hukuman. Kalau dibiarkan dia akan merusak dan bisa saja mengancam jiwamu."
"Terserah pak De, jika itu jalan yang terbaik aku akan ikut." kataku pasrah.
"Pak De akan menghubungi lawyer yang menangani kasus Dirga."
"Apakah kita tidak mengkaji ulang apa yang terjadi kepada Dirga, bisa saja maksudnya berbeda atau ada tekanan dari orang lain, aku heran siapa yang membuat vidio ini?"
"Kita pasti akan melakukan prosedur yang berlaku. Bapak juga akan sharing dengan pengacara Winarno cs yang menangani kasusnya Dirga."
"Ini sudah malam, bapak akan langsung ke kantor menaruh benda ini." kata pak De berdiri.
"Hati-hati di jalan pak De." kataku ikut mengantar pak De ke mobil.
"Bapak pergi." kata pak De naik ke mobil. Aku melambaikan tangan.
Aku melangkah menuju kamarku setelah terlebih dahulu menyimpan rekaman vidio tadi.
Aku ingat waktu paman Randu dan om Cakra mengusulkan kerja sama untuk melawan Luna dan mengambil asetnya Luna. Waktu itu Dirga ngotot dan menuduh paman Randu dan Om Cakra yang sengaja menanipulasi tanda tangan dan kematian Luna.
Suara ponsel terdengar nyaring, aku mengurungkan membuka baju dan mengambil ponsrlku.
"Hallo..."
"Maaf bapak yang bernama Yudha?"
"Ya pak saya sendiri ada apa pak?" tanyaku dengan perasaan tidak enak.
"Pak De, orang terakhir yang anda hubungi mengalami kecelakaan tabrak lari. Beliau sudah di UGD, silahkan anda datang untuk konfirmasi." hatiku langsung mencelos mendengar berita dari polisi. Aku bersandar di tembok beberapa saat.
****
__ADS_1