PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
GUGATAN DICABUT


__ADS_3

Surat perjanjian pembebasan untuk Yudha sudah di pegang oleh pak Antonius pengacara Yudha. Sedangkan tersangka percobaan pembunuhan yang lain, sudah masuk dalam tahanan di polda menunggu putusan hakim. Mereka tidak bisa berkutik, karena para saksi semua memberatkan.


Aku sendiri tidak memberi ampun kepada paman, om dan tante Dewi walaupun dia mohon maaf padaku. Aku tidak perduli. Saat sidang aku sering bertemu Hanun juga, dia juga diminta keterangannya oleh polisi. Kami tidak pernah bertegur sapa, dia sangat membenciku dan akupun begitu.


Perbuatan saudara papa sungguh keterlaluan. Tanpa disadari mereka mengubah jalan hidupku. Aku muak dengan problem yang selalu datang silih berganti. Semoga kedepannya, hidupku lebih baik sesuai dengan harapankù.


Pernikahanku sudah dekat, aku diajak oleh pak Lukas ke kantornya. Tidak di sangka kantornya sangat megah dan besar. Kami masuk dari lobby depan. Dari sini aku sudah melihat dan merasa bahwa kantor lantai lima ini miliknya. Apakah pak Lukas menyembunyikan kekayaannya padaku? aku bukan wanita mata duitan, aku orang kaya yang biasa memakai barang branded. Salah kalau pak Lukas berpikiran begitu.


Karyawannya menyapa pak Lukas


dengan hormat. Seperti biasa pak Lukas hanya mengangguk dan berjalan dengan wibawa. Dia menggandeng tanganku seolah memamerkan kepada seluruh karyawan, this is my type of wife. Disitu aku mafhum, selama ini pak Lukas bukan tidak laku atau punya kelainan tapi dia mencari orang yang sesuai kriterianya dan hatinya.


Tentu aku bangga menjadi pilihannya, berjalan di antara karyawannya yang memandang kami penuh kagum. Aku tidak bisa mengekspresikan diri saat ini. Biarlah mereka yang menilai diriku aku menganggap diriku sebagai pajangan komoditi.


"Sayank ini karyawanku." kata pak Lukas menatapku. Aku mengangguk dan berkata,


"Selamat pagi semuanya, saya Luna." kataku tersenyum manis.


"Dia calon istriku, doain ya, supaya kami bisa hidup rukun." sambung pak Lukas gembira.


"Aminnnn..."


Akhirnya aku diajak ke ruangannya. Bau wangi dari pengharum calmic menyergap hidungku. Pak Lukas menatapku ketika mataku mengedar ke seluruh ruangan.


"Apa kau senang ruanganku."


"Elegan dan rapi, aku terbiasa dengan bau bunga lavender dari calmic. Aku suka. Kau pasti betah bekerja disini.


"Kau hanya suka ruangannya bukan orangnya." aku tersenyum saat dia mengatakan hal itu.


"Aku suka denganmu karena kau tidak jahat padaku. Sudah aku katakan aku punya kelainan. Aku bisa dikatagorikan sebagai orang monoton. Aku tidak bosan mencintai satu orang walaupun dia sering menyakitiku. Atau breakfast setiap pagi dengan sandwich. Sekali aku mencintai orang aku akan setia.


"Aku percaya denganmu, kau sangat mencintai Yudha. Aku ingin dicintai, seperti kau mencintai Yudha." katanya.

__ADS_1


Aku mengulum senyum. Rasanya harapannya zonk, karena percintaanku dengan Yudha masih hangat. Walaupun seminggu terakhir ini kami tidak pernah bertemu.


Pak Lukas telah memberi ultimatum kepadaku, maksud pak Lukas supaya tidak terjadi pertempuran dibawah selimut antara aku dan Yudha. Aku terpaksa menerima syarat itu, yang penting Yudha bisa bebas. Yudhalah yang seperti belut digarami, blingsatan dan terus merengek minta jatah.


"Jangan hatiku disakiti aku tidak akan bisa melihat dunia. Berhentilah menemui Yudha, aku tidak sanggup memikirkannya." lirih suaranya.


Aku spontan menoleh saat mendengar kata-kata yang di ucapkannya. Ya... ampun, aku tidak tega melihat matanya yang berkaca-kaca.


"Semoga aku bisa mengontrol diri dan menghargai pengorbananmu. Aku tidak jamin bisa mencintaimu, namun aku berjanji akan menyayangimu, don't cry, don't worry everything will be fine." kataku haru.


Pak lukas mengalihkan pandangannya. Aku tidak tahu arti diamnya. Tarikan nafasnya terdengar berat, ingin aku menghiburnya, tapi aku tidak mau terlihat pura-pura manis untuk menyenanginya.


"Maafkan aku pak, aku butuh proses." hanya itu yang keluar dari mulutku.


"Kau jangan khawatir sayank, aku baik- baik saja. Cintaku berlabuh di tempat yang salah. Aku yakin suatu hari nanti kau akan mencintaiku." bisiknya.


Hanya senyum yang bisa mewakili perasaanku. Dia berdiri menuju kulkas dan mengambil air mineral. Mataku mengerling isi kulkasnya, ternyata ada Red wine dan black label.


"Kadang-kadang. Dirumah minuman lebih banyak, aku tidak pernah beli. Biasanya client yang membawakannya. Jika ada client bule minumannya itu baru keluar."


"Aku juga kadang-kadang minum kalau lagi gabut. Dulu waktu kerja kadang ke rock bar cari angin atau ke beach hotel. Tergantung suasana hati."


"Asal jangan menjadi peminum, tidak baik. Setelah kita resmi menjadi suami istri mungkin aku akan setiap hari minum dan berusaha mabuk."


"Kenapa bisa begitu, seharusnya kau bahagia karena sudah menikah dan menjaga kesehatan-."


"Mana aku bisa bahagia, kau belum bisa dimiliki seutuhnya. Seperti ikan yang berada di pantai, didepan mata ombak bergulung-gulung sangat indah, namun tidak bisa digapai."


"Aku setuju dengan perumpamaan itu sangat mengena di hati." kataku sambil minum air mineral.


"Kita akan mulai membuat perjanjian. Yudha sudah menelponku, mengatakan kau hamil. Aku kira kalian tidak pernah bertemu lagi, ternyata aku salah." ucap pak Lukas pelan mengusap wajahnya.


Aku menunduk dengan perasaan malu. Tidak tahu harus berkata apa. Semua yang aku lakukan atas perintah Yudha. Hatiku sedih dan kasihan melihat pak Lukas yang kini merasa di perdaya.

__ADS_1


"Pak, aku merasa tidak enak hati jika kau bersedih. Aku orang yang tidak tahu diri dan hina. Jika pak Lukas tidak ingin melanjutkan pernikahan ini aku akan maklum. Mungkin aku akan membiarkan Yudha di penjara.


"Tidak apa-apa sayank, keinginanku dari dulu hanya ingin menikahimu. Jika aku menyerah dan menjilat ludahku sendiri, itu pertanda jiwaku kerdil. Aku percaya keajaiban. Suatu hari nanti, pengharapanku akan terpenuhi."


"Semoga saja pak."


"Tookk...tookk...tookk..."


Ketukan pintu membuat pembicaraan kami terputus. Pak Lukas bangkit membukakan pintu. Mataku membulat ketika melihat siapa yang datang. Ibu Swari. Aku berdiri menghampirinya.


"Ibuuu...." aku memeluknya. Kami berpelukan.


"Ibu kangen denganmu nak, bagaimana keadaan Sean?"


"Sehat bu, bagaimana keadaan bapak?" tanyaku balik. Selama ini aku tidak boleh menelpon ibu dengan alasan keamanan.


"Sudah membaik, trimakasih atas doamu dan doa semua orang."


Kami duduk bertiga. Aku merasa ibu Swari sengaja datang saat mendengar aku mau menikah. Percakapan ibu dan pak Lukas langsung ke intinya.


"Sudah ready semuanya? Ibu tidak mau ada yang kurang. Ini bukan pernikahan akbar tapi ini pernikahan sakral." kata ibu membuka pembicaraan. Aku memandang mereka bergantian.


"Siap bu, aku dari dulu sudah siap, kendalanya ada di putri ibu."


"Luna, pernikahan itu sakral, Tuhan sebagai saksi. Ibu harapkan kau siap lahir bathin menerima pak Lukas dengan segala kelebihannya dan kekurangannya. Kau mulai hidup baru, melupakan masa lalu, menyongsong masa depan yang lebih menjanjikan."


Tanpa sadar aku menarik nafas dalam. Aku tidak tahu peran ibu Swari di dalam kehidupan Lukas. Hubungan apa yang ada antara mereka sehingga ibu Swari berani ikut campur urusan pernikahan kami.


****


PAK LUKAS


__ADS_1


__ADS_2