PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
KE BANDARA


__ADS_3

Untuk meyakinkan semua orang, seorang dokter kandungan dipanggil oleh Dhevalee. Aku menangis terharu melihat keikhlasan tante Dessire menolong aku. Dia ingin aku diam di rumahnya untuk selamanya dan menggantikan Valeria.


"Luna, dokter sudah memberitahu kami bahwa tidak ada harapan untuk Valeria. Dia hidup karena mesin saja." kata tante Dessire terisak.


Walaupun aku merasa bahwa Vale tidak ada harapan, aku ingin bisa menatapnya setiap saat. Valeria dan Dhevalee adalah teman baikku, suka duka kami jalani bersama. Jika Valeria pergi dari dunia ini aku tidak ikhlas. Sedih sekali hatiku.


"Asal tidak merepotkan tante, aku mau, masalahnya aku tidak punya apapun saat ini, sudah itu aku banyak masalah, yang lebih memalukan, aku hamil di luar nikah."


"Semua orang punya masalah, kita akan cari solusi supaya beban itu menjadi ringan."


"Aku hanya bisa mengatakan trimakasih kepada tante, aku mohon berikan aku tugas supaya aku juga bisa meringankan beban tante."


"Kau mau disini tante sudah bersyukur, nanti setelah aku semakin tua kau akan repot mengurusku. Sekarang ini tugasmu merawat dirimu menjadi sehat, bugar dan cantik. Kita akan perang bersama orang-orang yang menzalimimu.:9


"Oke tante..." sahutku tersenyum tulus.


Baru dua minggu disini aku sudah kelihatan berbeda tubuhku mulai glowing, begitupun wajahku. Aku dipermak habis-habisan oleh orang-orang salon. Rambut juga ditata rapi. Outfit branded semua. Pokoknya Luna yang dulu hidup lagi. Animoku untuk mengambil milikku kembali muncul. Aku percaya diri.


Pertama aku akan mengurus surat-surat ku dan membuka semua rekening bank. Lapor Polisi dan cari pengacara, tapi sebelumnya aku harus melahirkan dulu, supaya tidak menjadi tanda tanya public asal usul perutku melendung. Aku ingin masalah Yudha aku tutup dan menjadi single parent. Sungguh aku sangat bersyukur kepada Tuhan dan bertrimakasih kepada Dhevalee dan tante Dessire beserta jajarannya.


Hari ini aku diajak menjemput om Abelino ke Bandara. Aku yang akan menyetir, karena sopir pribadi berhalangan. Untuk menutupi penampilanku, aku memakai wig dan kaca mata hitam. Aku takut orang nengenaliku. Bali ini kecil, lebih baik menghindar dulu.


Sepanjang jalan ada saja yang diceritainuù tante, aku mendengarkannya tanpa menyela. Rupanya tante juga senang musik, dia menyetel playlist mobil. Suara Calum Scott, If Our Love Is Wrong mengalun sedih. Lagu ini ngena banget. Aku tiba-tiba ingat Yudha. Apakah dia mencari babunya?


"Oke tante kita sudah sampai." kataku menyadarkan tante dari lamunannya.


"Parkir disini, kita pergi ke Solaria." kata tante keluar dari mobil.


Turun dari mobil aku menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Lega rasanya. Suasana Bandara yang ramai membuat aku sedikit risih, aku takut kena Covid. Walaupun sudah Vaksin tetap saja waspada, apalagi aku dalam keadaan hamil. Aku tetap memakai masker.


Berjalan berdua sama tante seolah aku mengajak mamaku. Umur mereka juga sama, cuma tante lebih gemuk dan lebih lamban geraknya. Terlihat tante kurang sehat dan banyak beban. Siapapun akan sedih jika anaknya dalam keadaan kritis. Aku tidak kuat membayangkan jika sesuatu yang terburuk terjadi pada Valeria.


"Tante aku yang memesan, tante duduk saja di pojok sana. Tante minum apa?" tanyaku berdiri di kasir.


"Minuman ringan dan snack. Tante duduk di sana ya." katanya menunjuk tempat kosong.


Kami cuma membeli minuman ringan dan snack sembari menunggu om Abel. Untung Solaria agak sepi, biasanya ramai. Aku bisa lebih lama duduk disini. Sekitar sepuluh orang ada disini dan kebetulah setengahnya bule. Orang-orangnya tidak peduli juga, acuh dengan handphone masing-masing.

__ADS_1


"Minumlah tante?" kataku sopan meletakan dua gelas es lemonade dan snack.


"Trimakasih, tante mengantuk dan lelah. Malamnya sulit tidur." keluh tante.


"Tante banyak pikiran, harus banyak istirahat, apa tante mau aku antar ke SPA atau ke tempat pijat enak?"


"Aku akan istirahat di rumah saja." kata tante menyandarkan tubuhnya ke kursi.


"Pesawat delay lagi" kata pria di sebelahku kepada temannya yang baru datang.


Aku mengangkat wajahku, dadaku berdesir hebat melihat siapa yang datang, aku kaget, pria yang baru datang itu Yudha. Kami saling tatap sesaat, aku cepat menunduk dan memalingkan muka pura-pura mengambil ponsel. Takut sekali jika dia mengenal diriku. Untung aku memakai masker dan berkaca mata hitam.


"Apa aku mengenalmu?" tiba-tiba dia datang dan menghampiriku. Aku tidak menyangka dia se pede itu. Dia kelihatan berwibawa.


"Mana mungkin dia mengenalmu, dia baru datang dari luar negeri." tante menjawab tegas. Aku tidak menyangka tante sangat respek kepada nasibku.


"Maaf, saya kira dia teman yang hilang." kata Yudha terus memandangku. Temannya yang duduk di samping sana memandang heran kepada Yudha.


"Yudha sadarlah, mungkin temanmu itu sudah bunuh diri, jangan terus mengkhayal." kata temannya menarik tangan Yudha. Dia akhirnya duduk. Tapi matanya terus memandangku dengan sorot mata azelnya


Aku terpaksa membuka masker karena aku akan minum dan makan snack. Pertama aku ragu-ragu akhirnya aku buka juga. Mataku melirik kekagetannya, tentu dia hafal wajahku dan setiap inci lekuk tubuhku.


"Jaga etika, ini anak saya. Jangankan kenal sama kamu, berbahasa Indonesia saja dia tidak bisa." tante Dessire ikut berdiri. Owalah...tante tambah parah bohongnya. Tadi aku pakai bahasa Indonesia dengan kasir. Jadi mata kasir dan teman Yudha mencorong padaku.


"Can i get acquainted?" Yudha langsung bertanya padaku. Drama ini harus aku akhiri. Aku membuka kaca mataku menatapnya.


-


"I'm not your friend." jawabku mantap.


"Aku tidak percaya, kau adalah -Luna...." katanya memelas. Aku melihat matanya berkaca- kaca. Aku harus tegar.


"Up to you..." kataku cuek. Biar dia tahu rasa, dulu seenaknya nindih tubuhku, sekarang aku belagu supaya dia blingsatan.


"Jangan mengganggu kenyamanan kami, kami tidak butuh uang, tapi butuh tenang." tante kembali melindungiku.


"Maaf nyonya, siapa nama anak nyonya?" Yudha penasaran.

__ADS_1


"Sayank, kita pergi." kata tante menggamit tanganku. Aku berdiri, tidak lupa aku menatapnya sinis.


"Hee koq pergi, maaf saya tidak ganggu lagi silahkan kalian kembali duduk." serta merta Yudha duduk, takutlah dia kalau aku hilang dari hadapannya.


Tante kembali duduk, tangannya lincah mengirim chat kepadaku.


"Lun, apakah pria ini yang membuat kamu melendung?"


"Ya tante, ganteng khan."


"Macho habiss.... jangan-,jangan dia sudah kepincut denganmu. Kenapa dia masih mengingatmu, padahal terjadi banyak perubahanmu."


"Jelas dia hafal wajahku tante, setiap saat aku di genjot, setiap dia dekat dengan ku katanya yuniornya berontak. Aku tidak tahu, apa itu benar atau tidak, kalau tante ragu lihat aja tingkahnya yang gelisah."


"Hahaha...awas saja kau terpesona dengan pria itu. Dia sudah punya istri, jangan pernah masuk ke keluarga orang, biarpun kamu sangat mencintainya."


"Tidak bakalan tante, aku dendam kesumat dengannya. Dia telah menghancurkan masa depanku."


"Baguslah...mari kita pulang, om sudah menelpon." tulis tante, aku menutup ponsel.


Aku berdiri, tidak lupa aku menatapnya tajam. Dia ikut berdiri, menatapku dengan tersenyum mesra. Idiihh...dasar mesum.


Kami beranjak keluar, ketika melewati kasir dia sengaja menempelkan tubuhnya ke punggungku. Ada sesuatu menempel tadi di pantatku, aku langsung meriang. Ternyata senjatanya hidup. Bussyett....


"Burung tidak lupa sama sarangnya." bisiknya tiba-tiba. Aku kaget dan ingin lari dari sini untuk menghindar.


"Sarangnya yang lupa sama burungmu." kataku dalam hati. Takut nyeplos.


Siapa yang mau jatuh ke dua kali dalam lobang yang sama. Aku berani memastikan bahwa Yudha agak ragu terhadapku. Perubahanku banyak, Lebih baik aku tidak menanggapi omongannya dari pada salah.


Aku dan tante menuju tempat parkir, Yudha yang berada di belakangku tidak berkutik ketika tante melotot kepadanya.


"Kenapa anda mengikuti kami, aku sudah bilang bahwa anakku tidak kenal kau. Dia sudah menikah." kata tante agak sewot.


"Saya juga mau ketempat parkir." kata Yudha mendahului kami.


Tante dan aku lalu masuk mobil dan keluar dari tempat parkir menuju ketempat Om Albenino menunggu.

__ADS_1


****


__ADS_2